NovelToon NovelToon
Secangkir Kopi Tanpa Gula

Secangkir Kopi Tanpa Gula

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Atik's

Raka harus menikah mendadak dengan Laras setelah calon istrinya, Rara, kabur. Demi menjaga masa depan putrinya, ayah Laras mewajibkan surat perjanjian pranikah yang membuat Raka merasa tertekan dan membenci pernikahan ini. Meski Laras sangat mencintainya dan berharap membina rumah tangga, Raka tetap dingin, kasar, dan tak bisa melupakan Rara. Namun, Laras bertekad meluluhkan hati suaminya dan mengubah pernikahan yang bermula dari keterpaksaan ini menjadi penuh kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atik's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30

Di salon, ibu dan menantu itu sibuk merawat diri. Sari berpesan, sebagai wanita yang sudah bersuami, penampilan harus selalu dijaga agar suami tidak tergoda oleh wanita lain. Terutama bagi istri seorang pengusaha, yang setiap hari pasti bertemu banyak orang dan godaan.

Setelah selesai, mereka kembali ke mobil untuk pulang. Seharian penuh berkeliling membuat mereka lelah namun puas, terbukti dari banyaknya kantong belanjaan yang memenuhi kursi belakang.

“Nanti malam pakai gaun yang kita beli tadi ya, biar Raka makin terpesona melihatmu. Begitu sampai di rumah, segera ganti baju agar dia tidak sempat menoleh ke wanita lain,” pesan Sari sambil tersenyum penuh makna.

Laras memang sudah menceritakan rencana Raka mengajaknya jalan-jalan nanti malam. Sebagai mertua yang berpengalaman, Sari ingin membantu menantunya mengikat hati anaknya sepenuhnya. Ia tahu meski Raka sudah mulai menyayangi Laras, bayang-bayang Tari belum sepenuhnya hilang dari pikiran anaknya. Firasatnya kuat, wanita itu pasti akan kembali suatu hari nanti. Jika Raka sudah benar-benar jatuh cinta pada Laras, tidak ada lagi celah bagi orang lain untuk merusak rumah tangga mereka.

Sesuai janjinya, Raka pulang lebih awal sore itu. Ia sudah meminta Laras bersiap-siap agar begitu ia tiba, mereka bisa langsung berangkat.

“Ma, apa ini tidak berlebihan? Aku takut Kak Raka malah marah atau tidak suka,” tanya Laras ragu.

“Tidak ada yang berlebihan, sayang. Kamu cantik sekali seperti ini. Percayalah pada Mama, nanti kamu lihat sendiri,” jawab Sari meyakinkan.

Terdengar suara klakson mobil dari depan. Ibu dan menantu segera bergegas keluar. Sari ikut mengantar, ingin melihat reaksi anaknya.

Di sana sudah berdiri Raka di samping mobilnya. Ia menatap pintu rumah, dan seketika tertegun saat melihat istrinya berjalan mendekat dengan penampilan yang begitu mempesona.

“Cantik,” ucapnya tanpa sadar, cukup keras hingga terdengar oleh keduanya.

“Eh… awas, air liurmu sampai menetes lho,” goda Sari sambil tertawa.

“Mama ini ada-ada saja,” elak Raka sambil tersipu.

“Bagaimana pilihan Mama? Cantik kan?” bisik Sari.

“Cantik sekali, Ma. Terima kasih ya,” jawab Raka sambil terus menatap Laras tanpa berkedip.

“Sudah, sana berangkat. Katanya mau jalan-jalan, malah saling pandang saja. Ini bawa semua belanjaan menantuku,” ucap Sari sambil menyerahkan tumpukan kantong belanjaan.

Raka terkejut melihat jumlahnya, menatap ibunya seolah tahu siapa dalang di balik semuanya.

“Kenapa melihat Mama sampai begitu?” tanya Sari pura-pura tidak tahu.

“Pasti Mama yang menyuruh Laras belanja sebanyak ini, kan?” tebak Raka sambil tersenyum pasrah.

“Kamu sepertinya keberatan istrimu belanja sebanyak ini. Jangan pelit sama istri, Nak. Perlu Mama ingatkan dulu, dulu kamu sangat murah hati pada wanita yang dulu kamu cintai, padahal belum jadi istrimu saja sudah sering menghabiskan uangmu. Ingat, Laras ini istrimu, jadi dia berhak sepenuhnya atas uang suaminya. Lebih baik uang itu dipakai olehnya daripada habis di tangan wanita lain begitu saja,” sindir Sari sambil tersenyum penuh makna.

Raka menarik napas panjang, sadar menghadapi ibunya memang butuh kesabaran ekstra. Bukan masalah pelit, ia hanya heran karena selama menikah, Laras belum pernah belanja sebanyak ini. Meski berasal dari keluarga terhormat, biasanya istrinya hanya membeli apa yang benar‑benar dibutuhkan, berbeda dengan hari ini.

Raka mulai memasukkan semua kantong belanjaan ke bagasi mobil, sementara Sari segera menyuruh menantunya masuk ke dalam kendaraan. Setelah selesai, Raka menyalami tangan ibunya untuk berpamitan.

“Kalau begitu kami pamit dulu, Ma,” ucapnya.

“Hmmm, kalau kamu tahu apa saja yang ada di dalam tas belanjaan itu, kamu pasti akan berterima kasih sama Mama. Jangan lupa, cepat berikan Mama cucu nanti,” ujar Sari berbisik.

Raka semakin penasaran dengan ucapan itu, lalu melirik Laras yang duduk manis di sebelahnya. Ia pun memberanikan diri bertanya.

“Bagaimana tadi belanjaannya sama Mama? Senang tidak?”

“Senang, Kak, tapi agak capek. Maaf ya, banyak sekali belanjaannya sampai menghabiskan uangmu,” jawab Laras dengan wajah bersalah.

“Tidak apa‑apa, jangan merasa begitu. Uangku juga milikmu. Terus, kalian belanja apa saja sampai sebanyak ini?” tanya Raka penasaran.

“Itu… anu…,” Laras terdiam ragu, pipinya mulai memerah karena malu menceritakan barang yang dibelinya.

Melihat istrinya yang makin bungkam, rasa ingin tahu Raka makin memuncak. Ia mendesak pelan.

“Anu apa, Laras? Jangan bikin penasaran begini.”

“Tapi janji jangan marah ya, Kak?” pinta Laras menatapnya.

“Iya, janji. Cepat katakan saja apa yang kamu beli?”

“Aku beli pakaian dinas, Kak,” jawab Laras pelan, wajahnya sudah merah padam menahan malu.

“Pakaian dinas? Pakaian dinas apa? Kamu kan tidak sedang bekerja di kantor mana pun,” tanya Raka makin bingung.

“Maksudku… pakaian dinas untuk menyenangkan hati suami,” ujar Laras hampir tak terdengar.

Seketika Raka paham sepenuhnya, senyum misterius muncul di bibirnya. Dalam hati ia tertawa bahagia, ternyata ucapan ibunya benar semua. Ia langsung membayangkan betapa mempesonanya istrinya saat mengenakan pakaian itu, dan keinginan untuk segera pulang ke apartemen makin kuat.

“Maksudmu pakaian seksi?” tebak Raka.

“Iya, Kak. Tapi Mama yang menyuruhku membelinya. Katanya biar Kakak tidak melirik wanita lain lagi. Sebenarnya aku sempat menolak, tapi Mama memaksa terus,” adu Laras.

“Bagus, aku suka. Nanti begitu sampai di rumah, langsung coba pakai. Aku ingin melihatnya,” perintah Raka lembut namun tegas.

Laras menelan ludah, lalu mengangguk patuh meski masih malu. Ia berjanji akan berusaha, seperti pesan mertuanya agar suaminya tetap terikat padanya. Tak terasa perjalanan mereka sampai di depan sebuah restoran mewah. Raka segera turun dan membukakan pintu mobil untuk istrinya.

“Ayo kita masuk, makan malam romantis dulu sebelum pulang,” ajaknya.

1
helena
lanjuttt thor😍
Atik's: baik kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!