NovelToon NovelToon
Titik Nadir: Menyesal Setelah Kau Buang

Titik Nadir: Menyesal Setelah Kau Buang

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Tiga tahun lamanya Andini mencurahkan seluruh pengabdiannya sebagai istri saleha, namun ia justru dihempaskan ke titik terendah dalam hidupnya. Ia diusir tanpa membawa uang sepeser pun oleh Reno, suaminya sendiri, yang lebih memilih Siska karena pengakuan kehamilannya. Setelah kenyang menerima hinaan sebagai perempuan mandul yang sekadar menumpang hidup, Andini bersumpah untuk bangkit dari puing-puing kehancurannya.

Saat Andini akhirnya berhasil bertransformasi menjadi sosok wanita karier yang mandiri, elegan, dan sulit digapai, Reno datang kembali sambil merangkak penuh penyesalan. Namun, sebuah map cokelat yang telah disiapkan Andini siap meruntuhkan sisa-sisa kesombongan pria itu. Sebuah rahasia medis yang mencengangkan akhirnya terungkap: Reno sebenarnya mandul, dan anak yang selama ini ia puja-puja hanyalah buah dari pengkhianatan Siska. Inilah saatnya karma instan mulai bekerja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

​BAB 22: Jawaban dari Atas Takhta

Reno bangkit perlahan dari posisi setengah berlutut, mengusap sisa air mata di pipi dengan ujung lengan kemejanya yang sudah kusut. Tatapannya tertuju pada Andini dengan binar penuh harap. Ia mengira bahwa kisah pilu mengenai ibunya yang terserang stroke telah berhasil meruntuhkan dinding pertahanan sang mantan istri. Dalam pikirannya yang sempit, Reno meyakini bahwa semua perempuan—termasuk Andini yang kini telah menjadi sosok terpandang—pasti akan luluh jika dihadapkan pada alasan kemanusiaan dan bakti seorang anak kepada orang tua.

Namun, Andini Larasati tetap berdiri tegak sambil melipat kedua tangan di depan dada. Blazer putih gading yang ia kenakan tampak sempurna tanpa cela, seolah menjadi tameng yang memantulkan kembali seluruh energi negatif dan kepalsuan yang dibawa Reno ke ruangan itu.

"Reno," Andini mulai berbicara, nadanya terdengar begitu tenang, dingin, namun jernih. "Sebagai sesama manusia, saya turut prihatin mendengar kondisi kesehatan Ibu Ratna yang saat ini sedang diuji dengan penyakit stroke. Sungguh, tidak ada satu pun orang yang ingin melihat kesehatan orang tuanya menurun."

Reno langsung mengangguk dengan cepat, wajahnya mulai tampak semringah. "Iya, Ndin! Benar sekali! Ibu sangat terpukul. Kalau bukan karena terdesak biaya rumah sakit dan obat-obatan, aku tidak akan mungkin berani mengusik kehidupanmu yang sudah bahagia sekarang. Jadi, apa kamu bisa membantu—"

"Tetapi," Andini memotong pembicaraan itu dengan lugas. Ia menatap lurus ke dalam manik mata Reno, sebuah tatapan yang seketika mencekik kalimat pria itu di tenggorokan. "Secara personal, hukum, maupun moral, saya tidak lagi memiliki kewajiban apa pun untuk memikul beban finansial keluarga kalian."

Senyum di wajah Reno mendadak membeku. "Ndin... apa maksudmu? Ini soal nyawa Ibuku. Di mana hati nuranimu yang dulu?"

Andini menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman yang tidak menunjukkan amarah, melainkan ketegasan yang mutlak. "Hati nurani saya tetap ada pada tempatnya, Reno. Namun, hati nurani saya kini memiliki logika dan batasan yang jelas. Kamu meminta saya mengingat masa pernikahan kita dulu sebagai alasan agar saya memberikan uang? Mari kita ingat bersama, agar ingatanmu tidak melenceng dari kenyataan."

Andini melangkah satu jengkal lebih dekat ke arah meja. Aura yang ia pancarkan membuat Reno secara refleks mundur selangkah.

"Mari kita ingat saat Ibu Ratna menuduh saya mandul di depan seluruh keluarga besar, sementara kamu hanya diam menikmati penghinaan itu tanpa peduli betapa hancurnya mental saya sebagai istrimu. Mari kita ingat saat kamu mengusir saya di tengah malam, menghapus nama saya dari rumah, dan memperlakukan saya seolah-olah saya adalah sampah pembawa sial bagi bisnismu," tutur Andini dengan sangat lancar. Tidak ada getaran emosi atau tetesan air mata; Andini memaparkan semua luka masa lalunya seperti sedang membacakan laporan audit tahunan perusahaan.

Wajah Reno yang semula tampak merana perlahan berubah menjadi pucat pasi. Urat-urat di lehernya menegang karena rasa malu yang teramat sangat.

"Itu... itu kan masa lalu, Ndin! Aku sudah mengaku salah dan meminta maaf!" bela Reno dengan nada suara yang naik satu oktav karena panik.

"Kamu meminta maaf bukan karena tulus menyesali perbuatanmu, Reno. Kamu meminta maaf karena saat ini kamu sedang jatuh miskin, rekeningmu diblokir, dan kamu butuh uang saya," Andini memberikan skakmat tanpa ampun. "Jika saat ini perusahaanmu masih berjaya dan kamu masih bergelimang harta, apakah kamu akan sudi menginjakkan kaki di lobi kantor Nadir Label ini hanya untuk meminta maaf? Jawabannya adalah tidak."

Reno terbungkam seribu bahasa. Kata-kata Andini bak pisau bedah yang menelanjangi motif busuk di kepalanya hingga tak tersisa sedikit pun.

"Mengenai pengobatan Ibu Ratna, Indonesia adalah negara hukum yang memiliki jaminan kesehatan sosial bagi masyarakat kurang mampu. Uruslah BPJS untuk Ibumu, bawalah beliau ke rumah sakit daerah yang difasilitasi pemerintah. Sebagai anak, itulah bentuk bakti nyata yang bisa kamu lakukan dengan tenagamu sendiri, bukan dengan mengemis modal ratusan juta kepada mantan istri yang sudah kamu buang," lanjut Andini, memberikan solusi rasional yang sekaligus menampar telak ego Reno sebagai mantan direktur kaya.

"Andini! Kamu keterlaluan! Kamu sudah jadi istri konglomerat, uangmu ada di mana-mana! Membantu beberapa ratus juta saja tidak akan membuatmu miskin! Kenapa kamu jadi begitu sombong dan kejam?!" bentak Reno yang akhirnya kehilangan kendali atas topeng "merana"-nya. Sifat aslinya yang temperamental dan egois kembali mencuat saat permintaannya ditolak.

Reno melangkah maju, hendak menggebrak meja kaca di hadapan Andini. Namun, sebelum tangannya sempat menyentuh permukaan meja, pintu ruang pertemuan itu mendadak terbuka dengan sentakan keras.

Brak!

"Siapa yang kamu sebut sombong dan kejam di dalam gedung milik istri saya, Reno?!"

Suara bariton yang berat, menggelegar, dan penuh otoritas itu menggema di seluruh ruangan, seketika menciutkan nyali Reno yang sempat tersulut.

Farhan Al-Fatih melangkah masuk dengan langkah lebar dan berwibawa. Setelan jas formal Al-Fatih Group yang ia kenakan memancarkan aura kekuasaan yang sangat dominan. Di belakangnya, dua orang kepala sekuriti berbadan tegap langsung mengambil posisi di sisi kiri dan kanan Reno, siap melumpuhkan pria itu jika berani melakukan gerakan tambahan.

Farhan berjalan lurus menuju Andini, menempatkan tubuh tegapnya di depan sang istri, menjadi perisai hidup yang kokoh untuk memisahkan Andini dari jangkauan Reno. Mata tajam Farhan menatap Reno seolah-olah pria di depannya hanyalah serangga kecil yang mengganggu.

"Far... Farhan..." cicit Reno. Tubuhnya mendadak lemas dan gemetar melihat kehadiran penguasa Al-Fatih Group secara langsung. Perbedaan karisma di antara kedua pria itu bagaikan bumi dan langit.

Farhan membenarkan letak jam tangan mewahnya perlahan, sebelum memberikan tatapan yang sanggup membuat darah Reno berdesir dingin.

"Petugas keamanan, bawa pria ini keluar dari gedung Nadir Label sekarang juga. Pastikan wajah dan identitasnya masuk ke dalam daftar hitam (blacklist) di seluruh properti milik Al-Fatih Group dan Nadir Label. Jika dia berani menginjakkan kakinya lagi dalam radius seratus meter dari istri saya... pastikan tim pengacara kita langsung menjebloskannya ke sel tahanan atas pasal perbuatan tidak menyenangkan dan pengancaman."

"Baik, Pak Farhan!" jawab kepala sekuriti dengan tegas.

Tanpa menunggu perintah dua kali, kedua petugas keamanan itu langsung mencengkeram lengan Reno dengan kuat, memitingnya ke belakang, dan menyeretnya keluar menuju lift barang. Reno tidak lagi mampu memberontak; ia hanya bisa menunduk dalam dengan rasa malu, kehancuran, dan kekalahan mutlak yang membebani pundaknya.

Ruangan kembali senyap. Farhan segera berbalik membelakangi meja, lalu meraih kedua tangan Andini. Gurat wajahnya yang tadi menyeramkan bak singa yang mengamuk seketika berubah menjadi sangat lembut dan penuh kecemasan.

"Kamu tidak apa-apa, Sayang? Dia tidak sempat menyentuhmu, kan?" tanya Farhan dengan suara yang sangat empuk, sambil memeriksa kedua lengan istrinya dengan saksama.

Andini tersenyum manis, mengusap punggung tangan Farhan untuk menenangkannya. "Aku tidak apa-apa, Mas. Mas Farhan kok bisa tahu dan langsung datang ke sini?"

Farhan mengembuskan napas lega, lalu membawa Andini ke dalam dekapannya yang hangat. "Sarah langsung meneleponku begitu pria itu memaksa masuk. Aku sedang ada rapat di dekat kawasan ini, jadi aku langsung membatalkannya dan bergegas ke sini. Aku tidak akan pernah membiarkan masa lalu mana pun berani mengusik ketenangan benteng kita, Andini."

Andini memejamkan mata di dalam pelukan hangat Farhan, merasakan detak jantung suaminya yang teratur. Di dalam hati, ia merasa bersyukur luar biasa. Hari ini ia tidak hanya berhasil membuktikan pada diri sendiri bahwa ia telah lepas dari trauma masa lalu, tetapi ia juga kembali disadarkan bahwa ia memiliki seorang pelindung sejati yang tidak akan pernah membiarkannya berjalan sendirian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!