Follow IG : renitaria7796
Sequel dari Novel TERPAKSA MENIKAHI MANTANKU.
Maxim Sylvestone harus merendahkan dirinya jika ingin mendapati seorang gadis kecil bernama Liora Putri Alexander. Seorang wanita kaya yang membuatnya jatuh cinta, bahkan ketika gadis itu baru bisa berjalan.
Sayangnya, Liora sudah dijodohkan kepada anak sahabat orang tuanya. Apakah Liora menerima perjodohan itu? Lalu, bagaimana Maxim merebut kembali cintanya? Apa ia harus mengungkapkan siapa ia sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon renita april, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MEMBAWA LIORA
Paginya Maxim sudah berada di kantor. Dia tidak bersemangat untuk bekerja. Kekasih yang selalu menjadi penyemangat dalam dirinya, sudah tidak dapat di hubungi.
Semenjak Maxim mengutarakan hubungannya bersama Liora, saat itu juga, Alex memutus hubungan kerja sama antara perusahaan mereka.
Perusahaan Maxim tidak masalah akan hal itu. Karna perusahaan Alex yang menanggung kerugiannya. Hanya saja, akibat dari semua itu, berdampak pada perusahaan Max.
Perusahaan Max menjadi tercoreng namanya karna perusahaan besar milik Alex telah memutus kontrak kerja sama. Sebagian dari investor malah menganggap perusahaan Max yang bermasalah.
John, asisten Maxim masuk ke dalam ruang kerja setelah mengetuk pintu terlebih dahulu. Dia membaws berkas-berkas penting di tangannya.
"Tuan ... keadaan perusahaan sedikit krisis saat ini," tutur John.
John meletakan berkas-berkas yang dia bawa ke atas meja. Maxim membuka berkas serta membacanya. Dia menghela, sahamnya merosot turun.
"John ... kamu aktifkan kembali akun media sosial milikku. Sebarkan foto-foto dan buat berita jika aku sudah kembali," perintah Max.
"Apa Tuan yakin, dengan cara seperti ini bisa membuat para investor itu berdatangan?" tanya John.
"Kita coba saja, para fans pasti mulai mencari tahu tentang diriku. Buat berita jika aku telah menjadi pengusaha. Buat semenarik mungkin," titah Max.
John mengangguk. "Baik Tuan, akan saya laksanakan sekarang juga."
Maxim hanya mempunyai cara seperti itu saja. Dia berharap orang-orang akan mengenalnya. Lalu membuat berita heboh di media sosial.
Pastinya nama Max dan juga perusahaannya akan menjadi terkenal di mata orang-orang. Dengan sendirinya, para investor itu akan berdatangan.
Max meraih ponselnya di atas meja. Dia mengusap foto Liora yang dia jadikan sebagai wallpaper. Maxim melihat jam di pergelangan tangannya.
Satu jam lagi waktunya makan siang. Max beranjak dari duduknya. Dia meraih kunci mobil dan keluar dari ruang kerja. Max masuk ke dalam lift yang membawanya menuju lantai dasar.
Max melangkah menuju parkiran kantor. Dia menekan remote kunci dan bunyi bip terdengar dari mobilnya. Max membuka pintu dan masuk ke dalam mobil.
Max menghidupkan mesin dan berlalu dari gedung kantornya. Max melajukan mobilnya menuju kantor Alex. Dia ingin menemui Liora. Max ingin bicara mengenai masalah mereka berdua.
Maxim memarkirkan mobilnya di gedung perkantoran Alex. Dia keluar dari dalam mobil. Max berjalan masuk ke dalam perusahaan.
Dia menuju meja receptionist. Max membuka kaca mata hitam yang dia kenakan. Dua wanita yang melihat ketampanan Max, tidak berkedip sama sekali.
"Permisi, saya ingin bertemu dengan Nona Liora," ucap Max.
Kedua wanita itu masih tidak mengubris perkataan Maxim. Mereka terlena akan ketampanan yang di miliki Max. Seorang satpam penjaga menghampiri meja receptionist.
Dia menjentikan jari ke hadapan dua wanita penjaga meja receptionist itu. "Hei ... kalian jangan bengong. Ada tamu yang sedang bertanya pada kalian."
Satpam itu menundukkan sedikit kepalanya. "Maaf Tuan, atas ketidaknyamanannya."
Maxim tersenyum. "Tidak apa-apa."
Kedua wanita itu begitu gugup. Jantung mereka berdegup kencang. Mereka ketiban rezeki karna dapat memandang wajah Max.
"Maaf Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu dari dua penjaga meja receptionist itu.
"Saya ingim bertemu dengan Nona Liora," jawab Max.
"Apa Tuan sudah buat janji?" tanyanya lagi.
Maxim mengeleng. "Tidak ... katakan saja padanya. Maxim ingin bertemu."
Mereka lalu menelepon asisten Liora. Terlihat wanita itu mengangguk-anggukan kepalanya. "Tuan ... mohon maaf. Nona Liora tidak ingin bertemu."
Maxim sudah menduga jika Liora tidak ingin menemui dirinya. "Baiklah ... terima kasih."
Maxim keluar dari gedung perkantoran Alex. Dia kembali masuk ke dalam mobil. Maxim menyalakan mesin dan berlalu dari sana.
Maxim hanya menepikan mobilnya di pinggir jalan dekat gedung perkantoran Alex. Dia memang sengaja membawa mobilnya keluar dari area parkiran kantor.
Max membuka jas serta dasi yang melekat di tubuhnya. Dia juga membuka tiga kancing serta mengulung lengan kemejanya. Max mengambil topi dan juga masker untuk menutupi wajahnya.
"Jika tidak bisa secara halus, itu artinya akan aku lakukan secara kasar," gumam Max.
Max keluar dari dalam mobil. Dia berjalan perlahan sambil melirik jam di pergelangan tangannya. Max akan menunggu Liora keluar dari kantornya.
Max berjalan masuk ke dalam tempat parkiran mobil. Dia bersembunyi di balik mobil-mobil yang berjejer itu.
Terlihat beberapa karyawan telah keluar dari gedung perkantoran. Max sembunyi di belakang mobil Liora. Dia masih menunggu pujaan hatinya itu keluar.
"Apa Liora tidak makan siang di luar?" gumam Max.
Maxim menunduk saat Liora berjalan menuju mobilnya. Terlihat Liora berjalan sambil menelepon seseorang. Dia menekan remote kuncinya. Dengan perlahan Max membuka pintu mobil belakang.
Dia bersembunyi di sana. Liora mematikan sambungan teleponnya. Dia membuka pintu mobil dan masuk.
"Liora .... "
Liora kaget bukan main saat terdengar suara pria dari dalam mobilnya. Dia menoleh ke belakang. Matanya membulat melihat Max sudah berada di dalam mobil.
"Pa-paman ... kenapa bisa di sini?"
Max mencengkram tangan Liora. "Berhenti memanggilku Paman." Max beralih posisi ke kursi depan. Dia mengambil kunci mobil yang melekat di dekat stang kemudi.
"Pindah posisi," perintah Max.
Liora mengangguk dan hendak menuju ke kursi belakang. Namun pergerakannya di cegah oleh Maxim.
"Pindah di sini, jangan di belakang." Maxim menunjuk kursinya.
"T-tapi kamu berada di situ," jawab Liora.
Maxim mengangkat tubuhnya untuk saling berpindah tempat. Tubuh mereka sempat bersentuhan. Maxim sudah berada di kursi kemudi.
"Kamu mau apa?" tanya Liora.
"Kamu diam saja. Jangan banyak bicara," ucap Max.
Liora terdiam dan membiarkan Max mengendarai mobilnya. Liora mengernyit saat Max menghentikan mobilnya di tepi jalan.
"Mana ponselmu? Berikan padaku," pinta Max.
"Buat apa?"
"Berikan saja," kesal Max.
Liora memberikan ponselnya kepada Max. Terlihat Max mengotak-atik ponsel milik Liora lalu mematikan ponsel itu.
Max keluar dari dalam mobil. Dia sedikit berlari menuju pintu sebelahnya. Max membuka pintu mobil Liora.
"Keluarlah," pinta Max.
Liora keluar dari dalam mobil. Max menutup pintu dengan keras. Dia mengeret tangan Liora menuju mobilnya. Max membuka pintu dan menyuruh Liora untuk masuk.
Max masuk ke dalam mobil. Dia menghidupkan mesin dan melajukannya ke jalanan raya. Liora tidak ingin bertanya kemana Max akan membawanya.
Dia sudah takut melihat wajah Max yang berubah menjadi dingin. Max melajukan mobilnya menuju luar kota. Dia sengaja mematikan GPS di ponsel Liora.
Liora menguap karna mengantuk. Sudah setengah jam perjalanan, tapi mereka belum juga sampai. Liora memejamkan matanya lalu tertidur.
Max membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia ingin segera sampai di tempat yang hendak dia tuju.
TBC
Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.