NovelToon NovelToon
Pria Manis Yang Ku Benci

Pria Manis Yang Ku Benci

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda
Popularitas:186
Nilai: 5
Nama Author: ScarletWrittes

Alia merupakan wanita yang cantik dan lugu dulunya dirinya, hanya wanita polos yang mungkin bisa di bilang hanya wanita biasa dengan paras yang biasa dan tidak tertarik sama sekalia, karena alia hanya tertuju kepada keinginanya yaitu belajar, sampai dirinya bertemu dengan arnold pria yang kakak kelas tingkat 3 di banding dirinya, kakak itu sma 3 dan alia smp 3, alia menganggumi arnold layaknya pasangan sayangnya cinta alia tidak di balas melainkan hanya di permalukan di depan umum, sampai akhirnya 4 tahun sudah mereka bertemu kembali, di tempat perjodohan arnold awalnya tidak tahu siapa wanita cantik itu, sampai akhirnya dia tahu dan kaget.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ScarletWrittes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22

“Yaudah, ayo. Boleh dari tadi dong ajak ke kantin, gimana sih, Tobi.”

Tobi tersenyum melihat Alia. Tak lama, Alia merasa senang karena masa SMA-nya tidak terlalu membosankan berkat Tobi.

Kantin

“Mau makan apa, toh?”

“Keliling aja dulu biar bisa cari. Kalau kamu sendiri mau makan apa?”

“Bingung, ya. Semua makanan enak.”

Seketika Alia teringat bahwa mie ayam adalah makanan kesukaan Arnold.

“Tob, makan apa ya yang enak?”

“Mie ayam, gimana?”

“Tidak kenyang.”

“Dih, perut karet. Masa makan mie ayam nggak kenyang? Makan apa yang kenyang, makan?”

Alia hanya mencubit kecil lengan Tobi. Tak lama, Alia memutuskan membeli nasi ayam.

Setelah selesai pesan, akhirnya Alia menemani Tobi. Tobi yang masih berkeliling mencari makanan terlihat bingung mau makan apa, sampai akhirnya membeli mie ayam.

Saat makan, mata Alia tidak fokus dengan makanan yang dipilihnya.

“Kenapa sih lihatnya begitu banget?”

“Emang kenapa?”

“Nggak suka gue ngelihatnya. Lu mau? Kalau mau, gua kasih. Udah pada kayak gitu kan, aku jadi takut. Katanya gue congkel mata lu.”

“Kagak, makanan lu itu mengingatkan gue sama seseorang. Tapi seseorang itu nggak mau gue ingat.”

Tobi merasa bingung dengan sikap Alia. Namun bagaimanapun, tetap saja Alia itu temannya—aneh, tapi ada.

“Yaudah, daripada lo nggak suka, lewat rumah kamu aja kalau saat gua makan. Gua takut mata lu keluar dari tempatnya.”

“Mana ada kayak gitu, kocak. Yaudah deh, makan deh. Aku mau coba untuk melupakan juga orang itu. Semoga bisa lupa, ya.”

“Emangnya orang itu penting banget buat hidup lo, Al? Sampai-sampai lu benci banget kalau lihat gua makan mie ayam? Atau gua tuh mirip sama dia?”

Alia tidak bisa menutupi bahwa memang Tobi sangat mirip dengan Arnold. Tapi Alia tahu bahwa mereka berdua adalah orang yang berbeda.

Setelah selesai makan, akhirnya Tobi dan Alia pergi ke kelas bersama. Sampai suatu ketika ada guru matematika yang memanggilnya.

“Alia, boleh ke ruangan ibu sebentar? Ada yang mau ibu bicarakan sama kamu. Tenang aja, ibu sudah izin kok sama guru kamu, jadi kamu aman kalau mau izin.”

Tobi meninggalkan Alia sendirian. Namun bila ada apa-apa, Alia harus menghubungi Tobi agar tidak tersesat.

Alia mengangguk, lalu ikut guru matematika itu, seorang guru wanita.

“Ada apa, Bu Lia?”

“Jadi gini, di sekolah kita ada lomba matematika se-kabupaten. Kamu mau ikut nggak?”

“Kenapa harus saya, Bu? Kan banyak yang lebih pintar. Bukannya menurut Ibu, saya kurang pintar ya?”

“Bukan permasalahan pintar atau nggaknya. Tapi menurut Ibu, kamu memiliki potensi di matematika. Kalau seandainya kamu memang mau ikut lomba, Ibu akan mencoba mengurus dan mendaftarkan kamu. Menurut kamu gimana?”

Alia berpikir sejenak, lalu tersenyum ramah.

“Boleh saja, Bu, kalau saya ikut. Tapi kalau saya tidak menang, saya tidak menjamin, ya. Karena saya juga nggak tahu gimana bentuk soalnya.”

“Nggak apa-apa. Yang penting kamu ikut partisipasi. Lagi pula menang dan kalah itu tergantung keberuntungan. Jadi menurut Ibu, kamu ikut aja dulu. Kalau misalkan kamu menang, ya berarti memang rezeki kamu. Kalau nggak menang, ya berarti bukan rezeki kamu. Seenggaknya kamu sudah ikut partisipasi.”

“Yaudah, Bu. Kalau memang Ibu mengizinkan, saya juga merasa senang. Jadinya saya punya kesempatan yang sama dengan teman-teman yang lain.”

Ibu guru matematika sangat senang berbicara atau berkonsultasi dengan Alia. Baginya, berbicara dengan Alia seperti memecahkan masalah dengan ringan.

Akhirnya Bu Lia hanya tersenyum setelah mendapat jawaban dari Alia. Namun Alia tidak memahami apa maksud dari senyum Bu Lia itu.

“Yaudah, Alia. Kalau begitu kamu boleh keluar dari ruangan saya dan lanjut pelajaran. Terima kasih ya sudah mau jadi partisipan.”

“Baik, Bu.”

Alia keluar dari ruangan Bu Lia sambil menghela napas. Tak lama, ia kaget melihat Tobi sudah menunggunya di depan.

“Loh, Tobi? Kok ada lu di sini? Kenapa lu nggak ke kelas?”

“Gimana mau ke kelas, gue khawatir sama lu. Jadi gua ke sini deh. Nggak apa-apa, kan?”

“Makasih deh lu udah temenin gua. Tadi gua takut banget sama Bu Lia. Tapi karena ada lu, gue jadi nggak takut lagi.”

“Emangnya Bu Lia apain lu sampai lu takut gitu? Kayaknya dia baik-baik aja orangnya. Nggak aneh-aneh kayak lu. Tapi kenapa lu takut sama dia?”

Alia merasa kesal mendengar itu, tapi entah kenapa tetap saja ada rasa takutnya pada Bu Lia.

“Nggak tahu. Dia kalau melihat gue tuh kayak penuh harapan gitu loh. Padahal gua nggak merasa gua kayak memenuhi harapan dia. Orang tua gua aja nggak ngerasa gue memenuhi harapan mereka, apalagi dia.”

“Ya bagus dong kalau misalkan bisa memenuhi harapan dia. Lagi pula menurut gua, nggak ada salahnya kalau kalian saling memenuhi harapan.”

“Nggak tahu ah. Ke kelas aja yuk. Males gua bahasnya. Nanti aja di kelas ngomonginnya, sekalian kita ada bahan obrolan biar nggak bete.”

“Yaudah deh, ayo ke kelas.”

Akhirnya mereka kembali ke kelas. Setelah sampai, mereka duduk di bangku masing-masing. Tobi terus menatap ke arah Alia tanpa bisa berkata apa-apa, sampai akhirnya jam pelajaran selesai dan mereka pun pulang ke rumah masing-masing.

Alia tidak dapat dijemput oleh kedua orang tuanya karena sedang sibuk. Sampai akhirnya, Tobi mengantar Alia pulang dengan selamat. Namun sebelum pulang, Alia berkata:

“Lu mau nggak nemenin gua ke mall bentar? Ada yang mau gua beli. Tapi kalau lu nggak bisa, nggak apa-apa, gua bisa sendiri.”

“Emang lu mau beli apa di mall? Lagian kalau emang ada barang yang mau dibeli, yaudah ayo gua temenin.”

“Beneran nggak apa-apa lu temenin gua? Gua ngerasa nggak enak sih sama lu. Soalnya gua udah repotin lu, jadinya tambah repot.”

“Nggak apa-apa, santai aja. Lagian gua nggak merasa lu ngerepotin kok. Malah gua ngerasa ada baiknya juga kalau gua bantuin lu, si cewek ribet.”

Alia memukul pelan punggung Tobi. Tobi pura-pura kesakitan, membuat Alia khawatir.

“Kenapa, Tob?”

“Nggak apa-apa kok, aku bercanda doang. Nggak sakit beneran, deh.”

“Ada-ada aja. Hidupku bikin gue khawatir.”

“Dih, kasar. Padahal cuma bercanda doang. Tapi lu kasar banget sama gua. Yowon, cowok mana ada yang mau sama lu?”

Alia hanya diam mendengar itu. Tobi pun merasa tidak enak.

“Al, gue salah bicara ya? Maafin gue. Emang sekarang menurut gua ini nggak bisa dikondisikan. Lain kali gua bakal lebih hati-hati deh kalau ngomong sama lu.”

“Enggak sih. Gue cuma ngerasa apa yang lu bicarain bener. Tapi kadang-kadang gue suka berpikir, mungkin nggak ya ada cowok yang suka sama gua?”

Padahal Tobi sudah memberi kode bahwa dia mencintai Alia apa adanya. Tapi sepertinya Alia tidak peka.

“Suatu saat juga lu bakal tahu kok, ada yang mencintai lu apa adanya. Lagian ngapain cari-cari kalau orang itu belum ada, atau belum peka juga.”

“Makasih ya, Tobi. Selalu ada buat gue. Walaupun gue suka ngerepotin, tapi gue bersyukur punya sahabat kayak lu.”

Tobi hanya bisa tersenyum mendengar perkataan Alia. Ia tidak bisa marah, hanya bisa sabar kepada Alia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!