Quen, gadis biasa penjaga toko. Ia tidak segaja mengijak kodok lalu terjatuh.
Quen tersadar dirinya berada disebuah kamar permaisuri suatu kerajaan. Dayangnya bernama Sri berkata"nona permasuri Quena anda sadar, syukurlah"
"Kamu siapa?kenapa aku disini?"tanya Quen.
"Nona saya dayang nona, namaku Sri. Nona permaisuri terpeleset kekolam, tuan pangeran ke2 sangat menghawatirkan keadaan nona"jawab dayang Sri.
"Apaaa aku permaisuri???"teriak Quen.
Penasaran kelanjutanya. Baca ya kisah seorang gadis biasa-biasa menjadi Ratu. bocah dibawah umur dilarang baca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juhridan Rambe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman Zaman dahulu.
Quen merasa sangat lega, karena mengerjai pengawal utama. Sedangkan, Azima yang baru bangun. Mencari Quen tapi sudah tidak berada disampingnya, ia berdengus kesal.
"Pengawal, kemana permaisuri" ucap Azima yang keluar kamar dengan muka Cemong.
" Permaisuri sedang bersama dayang Sri, Tuan." ucap pengawal penjaga didepan ruang belajar. Pengawal menahan tawa melihat wajah Azima yang dicoret-coret Quen.
"Kenapa kalian bermuka kentut begitu?apakah kalian fikir mukaku seperti badut sehingga kalian berani mengejekku??" Geram Azima.
" Ampun Tuan, kami tidak berani mengejek tuan. Tetapi wajah tuan sangat lucu."Pengawal pun membungkuk.
"Wajahku" Azima pun meraba-raba pipinya, lalu melihat telapak tangannya yang ada bekas tinta.
Azima langsung berbalik keruang belajar, sambil berkaca diruangan tersebut. Mata Azima pun melotot melihat wajahnya yang cemong, berkumis seperti doraemon.
"QUENA!!!!" TERIAK AZIMA. Mengelegar bagaikan petir, sehingga seluruh istana pun terdengar.
Awas kamu Quena, aku sepertinya terlalu memanjakanmu. Aku akan memberimu pelajaran. Ia fikir ini muka kertas. Aku akan membuatmu menangis hari ini.
Ketika Azima membersihkan wajah serta tubuhnya. Disisi lain Quen yang mendengar suara Azima, tidak ambil pusing. Malah ia sedang menikmati dipijat oleh dayang Sri serta dilulur.
"Nona, Suara Tuan sangat menakutkan. Sepertinya tuan sedang marah besar." ucap Dayang Sri.
"Biarkan saja, Nanti juga ia bakalan tidak marah lagi. Salah siapa membuatku seperti sapi ternak aja, sebelum aku hamil dia tidak akan melepaskanku. Dan bayangkan saja ia menginginkan 12 anak dariku. Ia fikir melahirkan itu gampang seperti diare." Eluh Quen.
" Nona, apakah nona tidak bahagia menikah dengan pangeran winata??." Telisik dayang Sri.
" Bahagialah, aku banyak uang. Suamiku tampan, bahkan ia sangat tergila-gila denganku. Tapi aku takut, jika dia jadi kaisar bukan aku satu-satunya istrinya. Aku tidak mau dimadu."Eluh Quen.
"Nona, jika Tuan sangat mencintai nona. Bujuk saja agar tuan tidak menikah lagi, jika tuan memang mencintai nona. Pasti nona lah satu-satunya wanita yang disampingnya." Saran Dayang Sri.
"Iya, aku akan membujuknya. Jika benar ia mencintaiku pasti hanya aku istrinya. Tapi pasti banyak para penjabat bahkan para raja negara sebelah, mengirim puterinya untuk mengoda Azima. Jika Azima jadi kaisar, aku tidak rela berbagi suami." Quen pun memikirkan sebuah rencana.
Setelah selesai dilulur dan dipijat, Quen pun mandi dan berdandan cantik. Quen menuju ruang makan, Azima sudah menunggunya. Quen tersenyum cantik, agar Azima luluh.
" Cepat duduk, makanlah. Setelah makan ikuti aku, aku ada sebuah pekerjaan." ucap Azima serius.
" Sayang, kamu masih marah ya? aku kan cuman bercanda. Maafkan aku ya" Quen pun tersenyum sambil memeluk Azima.
" Uhuk-uhuk" Azima pun tersedak.
Tumben ia mengodaku, ia fikir aku tidak akan balas dendam. Aku akan mengerjai balik, sampai nangis. Tapi ia sangat imut jika penurut seperti ini. Seperti kucing.
" Ai ya, pelan-pelan dong sayang. Kan jadi tersendak begitu, Biar aku menuangkan teh untukmu" Quen pun menuang teh lalu memberikan pada Azima.
" Makanlah, nanti aku akan membawamu untuk melihat pembunuh tadi malam" Ucap Azima.
" Hah, maksudmu mengintrograsi. Asyik aku ingin melihat cara kalian membuatnya berbicara." Quen pun bersemangat, ia pun memakan daging serta nasi sehingga membuatnya kenyang.
Mereka pun nampak menikmati hidangan tersebut. Setelah selesai makan, Azima pun mengajak Quen untuk memasuki tahanan tempat pembunuh itu di intrograsi.
Quen melihat kearah kanan serta kiri menatap setiap lorong yang menuju tahanan.
" Kalau kamu takut, kamu bisa bilang padaku"Tawar Azima.
" Takut??? aku tidak takut apapun kecuali aku miskin dan tidak punya uang aku baru takut." Ucap bangga Quen.
" Aku sudah memeringatkanmu, aku tidak suka sebelum pekerjaanku selasai kamu merajuk ingin pergi. Harus berada disana sampai aku selesai. Bagaimana??" tanya Azima.
" Baik, aku akan menemanimu sampai selesai hingga sang pembunuh itu memberi tahu siapa yang menyuruhnya" jawab Quen percaya diri.
Azima pun tersenyum, melihat keberanian Quen. Sesampainya di tahanan.
" Apakah ia sudah mengaku siapa yang menyuruhnya??"tanya Azima kepada Algojonya.
" Belum tuan, padahal saya sudah mencambuknya beberapa kali tapi ia tetap membisu" jawab Algojo.
" Permaisuriku ayo kita masuk" Ajak Azima, Quen pun mengikutinya kedalam. Pintu tahanan pun ditutup hanya ada pembunuh, algojo, Azima serta Quen.
" Katakan, siapa yang menyuruhmu?" tanya Azima.
" Cuih, aku tidak akan memberitahumu. Kamu sangat kejam serta sadis. Aku bersumpah tidak akan bilang siapa yang menyuruhku" jawab Pembunuh.
Azima diludahi pembunuh.
"Tuan, sungguh kamu berani meludah ketuan pangeran" Geram Algojo.
" Azima, kamu tidak apa-apa?"Quen pun mengusap wajah Azima yang diludahi oleh pembunuh. Quen pun mendekati pembunuh. Ia memicingkan matanya.
" Beraninya meludahi wajah cantik suamiku. Kamu bosan hidup" Ancam Quen.
pembunuh itu menyeringai lalu mengadu jidatnya ke jidat Quen, hingga berbentur keras.
DUKKK
" Aduh" rintih Quen, hampir saja Quen terjatuh tapi sudah ditangkap Azima. Darah segar keluar dari hidung Quen.
" KAU!!!beraninya melukai istriku" Azima pun melotot tajam kearah si pembunuh.
" Azima aku mimisan" Rengek Quen. Azima pun Geram.
" Sayang duduklah disini. Aku akan memberinya pelajaran" ucap Azima.
" Ha haaaa, aku tidak takut dengan gertakan mu" Ucap pembunuh.
" Oh ya, kita lihat masih bisakah kamu tertawa nanti. Ini balasanmu telah melukai istriku" Ancam Azima.
Azima pun mengiris daging, pada tubuh pembunuh itu, sedikit lalu memberi lukanya garam.
" AAAAAaaaaaa!!!" teriak pembunuh.
Sungguh pemandangan yang mengerikan, pembunuh itu diberikan hukuman Picis.
Quen pun bergidik ngeri melihat Azima secara kejam dengan tangannya sendiri, mengiris dikit demi sedikit daging pada tubuh pembunuh itu. Lalu memberinya garam.
Akhirnya pembunuh itupun mengaku. Bahwa ia disuruh oleh Raja Kalajengking.
Azima pun membawa Quen keluar dari ruang intrograsi. Quen bermuka pucat pun memutahkan makanan dari perutnya. Ia merasa ketakutan serta ngeri melihat Azima yang sangat tega memberi hukuman pada si pembunuh.
lama tau kak nungguin anda