Aku dan kamu terikat dalam sebuah ikatan yang diwali dengan kata-kata, berbahan dasar Aksara.
Cinta yang berawal dari sebuah aksara itu, awalnya tidak saling mengenal dan memahami. Takdirlah yang seolah mempertemukan, mengikat, dan berakhir dengan kebersamaan. Lantas, mengapa takdir juga yang memberikan sebuah ujian penuh liku itu? Mengapa seolah akan ada hari dimana akan ada sebuah jarak yang memisahkan mereka dan berakhir menjadi sebuah peristiwa bertajuk ANTARA.
Lalu benci dan cinta itu beda tipis KATANYA. Kata yang awalnya tak ingin kenal mengenal, caci mencaci-caci, bahkan berang memerangi, mendadak ada rasa yang tumbuh bersamaan keluarnya warna-warni bunga yang bermekaran.
Cinta itu manis, hidup tak indah bila kita tak merasakan iramanya cinta, itu JELASNYA. Tetapi seutas kata Cinta tak ada artinya, jika tak mengandung sebuah keabadian yang menjelma. Anggap saja cinta kita perlu diuji untuk menumbuhkan kesetiannya. Dari hal itu kita hanya menemukan dua opsi setelah mendapat ujian itu, BERTAHAN UNTUK KEMBALI atau PERGI UNTUK SELAMANYA.
Percayalah dibalik cinta yang hampir terkoyak itu, akan ada kebahagiaan yang tak berujung sedang menunggumu.
[PLAGIATOR DALAM JENIS APAPUN DILARANG MENDEKAT!]
*****
@Copyright: Agustus 2019.
Move: 30 Agustus 2020.
Picture by: @Vaa_Morn
Story By: Vaa_morn.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaa_Morn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA PULUH DUA
Nadia menangis, mungkin hampir menangis. Tapi genangan air matanya tak kunjung keluar, meskipun sudah menumpuk penuh dipelipis matanya.
Ia keluar dari kantor setelah diceramahi panjang lebar oleh guru matematikanya. Lemas sudah dirinya, sehingga untuk melangkah lebih jauh lagi rasanya malas. Ia bersandar dipintu depan kantor, berharap rasa lemasnya sirna ditubuhnya.
Nadia memejamkan mata. Sampai kapan ia terlihat payah seperti ini. Bukan saja payah, memahami materi saja ia tidak bisa. Kacamatanya ia lepas, karena air matanya yang mulai keluar. Dari situ, dapat dipastikan bahwa Papahnya akan datang tak lama lagi. Tentu saja karena sebelum ini, guru matematika sempat menelepon Papahnya untuk datang ke sekolah.
"Ara, tangkap!" gema seseorang dari tengah lapangan. Membuat Nadia yang memejamkan mata langsung membuka matanya. Terlihat gerombolan di depan sana yang tengah menonton pertandingan basket yang tiap timnya hanya terdiri dari dua orang saja.
Namun yang menjadi daya tarik Nadia sendiri adalah Ara, Ara yang tengah bermain basket bersama beberapa anak laki-laki di sana. Tapi tunggu dulu? Nadia menyipitkan matanya sejenak, lalu melongo tak percaya dengan Ara yang ternyata akrab dengan anak-anak paling populer di sekolah.
Ada Dito Alfares, Elvino Adrian, lalu Anggara Widodo yang menjadi tim Ara. Iri pasti, pasalnya Nadia menjadi penggemar berat dari diri mereka semenjak dua tahun yang lalu. Namun sayang sekali, ia tidak pernah dilirik sedikitpun!
Terlihat dengan jelas, bahwa Ara sudah banjir keringat. Baju seragamnya pun sudah basah, akan tetapi dihiraukan oleh Ara sendiri. Lalu bagaimana perban ditangan kanannya? Lihatlah, Ara benar-benar ajaib.
Sekelebat bayangan, Ara itu multitalenta dimata Nadia. Jenius, cantik natural, punya banyak teman, hanya satu kekurangannya! Mulutnya kurang disekolahnya dengan benar. Ya, omongan pedasnya selalu saja membuat dia sakit hati. Namun tetap saja, Ara terlihat berbeda dimatanya.
"Aku iri sama kamu Ra." Nadia berucap pelan, kemudian berjalan gontai menuju kelasnya.
Selain payah dan bodoh, ia pun tak bisa membela diri. Mungkin itu kelemahan yang membuat dirinya sama sekali tak memiliki teman. Tapi ia termasuk yang paling beruntung, karena untuk pertama kali Ara datang ke sekolah, gadis itu sudah sangat bersedia untuk membantunya. Nadia menangis, sampai kapan ia terus-terusan seperti ini!
"Aku benci diri aku sendiri." Nadia menangis sesenggukan. Tak tahu harus apa untuk menjalani harinya agar lebih cerah sekarang. Ia memilih untuk berjalan ke kelasnya.
Ara yang memang hendak ingin ke kelas dan mendengar suara Nadia dari belakang, rasanya ada sekelebat bayangan yang membuatnya merasa iba. Apakah ia terlalu jahat selama ini? Ara ingin meminta maaf jika ia terlalu banyak menyakiti Nadia, tapi tentu saja ia sangat gengsi. Mau ditaruh dimana mukanya nanti.
Melihat Nadia yang sudah duduk di bangkunya lagi dan mulai menitikkan air mata, rasanya Ara menjadi tidak tega. Ara mungkin tahu jikalau gadis itu baru saja kembali dari ruang Guru dengan wajah sayu, seperti ada peristiwa buruk yang telah menimpanya. Tapi bodo amatlah, Ara selalu memiliki cara sendiri untuk melakukan sesuatu!
BrakkKKKK...
Ara menggebrak meja, yang kemudian membuat Nadia langsung menghapus air matanya walau masih sedikit sesenggukan. Jurus ampuh bagi Ara dalam melakukan sesuatu, dan itu terjamin sekarang. Ia mengambil botol minuman dalam tas nya, kemudian menenggakknya secara habis.
"Ara ngagetin Nadia aja. Kalau Nadia jantungan gimana?"
Bukan Ara jika ia tak suka jahil. Ia membanting botol minumnya kemudian pergi meninggalkan Nadia yang masih terbengong-bengong. Tapi sebelum itu, Ara mengucapkan sesuatu yang membuat Nadia sedikit tak percaya.
"Sore nanti, lo harus ke rumah gue. Kalau nggak tahu arah rumah gue, tinggal tanya aja sama Mamah gue. Gue tahu kok, lo kan yang udah jadi mata-matanya selama gue berada di sekolah ini? Gue tunggu lo sampai jam lima, setelah itu kesempatan emas lo bakal buyar saat itu juga."
Itu tadi Ara? Yang menawarinya untuk datang ke rumahnya? Apakah ini nyata? Nadia mencubit pipinya berharap itu bukan hanya mimpi. Ternyata benar, Nadia tidak sedang mengkhayal sekarang.
Mimpi apa ini Tuhan...
_______
Ara bermain gamenya yang baru saja diunduh dari laptopnya. Sambil menunggu cupu itu datang, Ara mengambil beberapa camilan dari dalam kulkas dan dibawanya ke dalam kamar.
"Nggak sia-sia gue unduh game ini." puji Ara sesekali meng-klik mousenya secara lincah.
Tok... Tok...
Ara menoleh sekilas, kemudian fokus kembali ke arah mainannya. Sebelum itu, ia membuka bungkus jajanannya terlebih dahulu, baru setelah itu memakannya.
"Masuk." perintah Ara yang sudah tahu siapa yang mengunjunginya. Sedikit melirik jam, waktu baru menunjukkan pukul 4 sore. Good! Bisa menghargai waktu juga dia.
Nadia dengan kepala menunduk, mulai berjalan perlahan menuju kamar Ara. Ia berdiri, menunggu perintah sang pemilik yang memintanya duduk. Ara sendiri hanya menggelengkan kepalanya tak percaya. Ia menelisik tampilan Nadia lebih detail, barangkali ada yang sedikit berbeda dengan tampilannya di sekolah.
Tapi jelas tidak ada yang berbeda, semuanya sama dan begitu mendetail. Ara jadi meringis jijik, ia bisa saja jadi fosil lantaran terus berdekatan dengan Nadia dalam jangka waktu yang begitu lama.
"Lo mau berdiri aja gitu, duduk kali. Santai aja sama gue." Ara menetralkan wajahnya, lalu kembali fokus dengan laptopnya.
Nadia tersenyum. Meskipun kamarnya tak sesuai dengan interior kamarnya yang berwarna pink, nyatanya kamar ini lebih menarik dan sangat nyaman untuk di tempati.
"Kamar Ara bagus ya." Nadia memuji, membuat sang pemilik kamar langsung memuji dirinya sendiri dengan penuh bangga.
"Iyalah, emang kamar lo yang semuanya serba pink. Kayak nggak ada warna lain aja, dasar cupu!"
Sindiran keras, Nadia sudah cukup tahu jika Ara tak menyukai warna kesukaannya. Ia duduk di samping Ara yang memperlihatkan game baru yang barusan ia install lagi.
"Aku pikir, kamu lagi belajar."
Ara menoleh, kemudian tersenyum sinis. "Otak gue bisa meledak kalau digunain buat belajar mulu. Lagian di sekolah udah belajar juga kan? Mending main game kayak gini, biar ngehibur diri dari cupu kurang kerjaan kayak lo. Jauh-jauh sana, nanti gue kena bakteri gimana hah!"
Sepertinya mulut Ara minta dihajar, harus ada yang berani menghajarnya sekarang iniJika tidak, bisa mati rasa hati Nadia karena terus-terusan mendapat perkataan pedas dari Ara.
"Aku di suruh sini, ngapain Ar?" to the point Nadia. Ia tak mau mendengar kalimat pedas dari mulut Ara lagi.
"Lo ambil buku matematika dimeja belajar gue." jawab Ara memerintah lagi.
"Kenapa?" tanya Nadia bingung.
Ara mendengus. "Lo bodoh atau gimana? Ambil buku ya belajar, mau apa lagi sih!"
Sabar Nadia! Sabar! Nadia mengambil buku matematika yang sudah terpampang rapi didepan matanya.
"Terus aku ngapain Ar?"
Hampir saja Ara akan membanting laptopnya, jika ia tak mengingat bahwa laptopnya masih terbilang baru untuk dibanting secara percuma.
"Buka, baca, tulis, terus jawab tuh soal! Kalau nggak ada yang bisa, tanya sama gue." Ara memerintah, emosinya entah dari kapan sudah naik keubun-ubun.
Nadia menggaruk-garuk rambutnya tak gatal. "Aku yang belajar?"
Ara mengepalkan tangannya kuat-kuat, itu kenapa Ara ingin jauh-jauh dari Nadia. Emosinya selalu saja naik melihat Nadia yang terlampau bodoh seperti itu.
"Lo yang belajar! Kalau nggak ada yang bisa, tanya sama gue. Lo dapet nol kan tadi, terus besok disuruh remidial. Awas aja kalau lo masih tetep nanya gue. Bisa gue sledding muka lo lama-lama!"
Nadia hampir saja sesenggukan, jika Ara tidak bergegas menutupi mulutnya. "Lo nangis, gue pites beneran tau rasa!"
*****
1162 Kata.