NovelToon NovelToon
Anak Pembantu Hamil Anak Duda Kaya

Anak Pembantu Hamil Anak Duda Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Percintaan Konglomerat / Hamil di luar nikah / Duda
Popularitas:41.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fitren

Kedua orangtuanya Clara meninggal, ayahnya meninggal karna sakit-sakitan. Setelah dua bulan kepergian ayahnya, Ibunya Clara pun meninggal dunia karna sakit kanker. Karna kedua orangtuanya meninggal Clara harus menggantikan kedua orangtuanya bekerja sebagai pembantu, namun saat Clara sedang menunggu bus di halte untuk pergi ke rumah tujuannya, tiba-tiba Clara diculik dan dibawa ke sebuah hotel hingga dirinya diperkosa oleh orang tak di kenal hingga hamil diluar nikah.

Saat tau dirinya hamil, Clara mencari pekerjaan lain dan tidak jadi ke rumah bos orang tuanya. Di sana Clara bertemu dengan seorang pria tampan yang akan menjadi majikannya, namun banyak keanehan dengan sikap tuan majikannya terhadap dirinya, majikannya seperti tengah menyembunyikan sesuatu darinya.


Rahasia apakah yang disembunyikan tuannya Clara?
Akankah Clara bakal bertemu dengan pria yang telah memperk*sanya? Dan apakah setelah bertemu dengan pria itu, Clara akan pergi jauh dari pria itu dengan membawa anaknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitren, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebongkar

"Apa yang kamu bicarakan Sesil!" geram Devan, yang membuat Clara semakin mengeratkan pelukannya pada Devan.

"Clara, aku yakin kamu akan menyesal memeluk Devan seerat itu, jika kamu tau semua kebenarannya."

"Hentikan perkataanmu Sesil!" ucap Devan dengan nada mengancam.

Sesil tersenyum devil. Seorang Sesil tidak akan takut dengan ancaman Devan. Jika dirinya tidak bisa mendapatkan cinta Devan lebih baik ia hancurkan saja pria itu.

"Para hadirin mohon maaf di sini ada sedikit masalah, jadi dengan berat hati acara hari ini kita akhiri saja, bapak dan ibu boleh meninggalkan aula," ucap Rio dengan menggunakan mic.

Para tamu dan semua karyawan pun bubar dari aula, dan sekarang diaula tersebut hanya ada Devan, Rio, Sesil dan Clara

"Clara. Pria yang sedang di peluk oleh kamu itu, dia adalah pria yang sudah merenggut kesucianmu!"

**Deg**

Pelukan Clara mulai mengedur, membuat Devan semakin mengeratkan pelukannya pada Clara.

"Jangan dengarkan dia Clara, dia wanita licik," ucap Devan sambil mengusap punggung Clara.

"Kamu yang licik Devan, kamu sudah memperkosa dan membuatnya hamil dan kamu juga membohongi Clara selama ini."

"Kamu jangan asal tuduh Sesil! Mana buktinya!" tantang Devan, ia yakin Sesil tidak memiliki bukti apapun, yang memiliki bukti hanya Vero. Dan Vero tidak mungkin berada di sini dia sedang ada di Singapura bukan.

"Aku punya buktinya jika kamu ingin melihatnya."

"Putar!" perintah Sesil pada salah seorang yang menjaga sound system di acara ini.

***

"Rio saya baru saja memperkosa seorang gadis," ucap Devan.

"Astaga bos, kamu gila bos!"

"Gua nggak sadar saat melakukannya, gua dalam pengaruh obat perangsang."

"Terus gimana kalau orang-orang tau kalau bos udah berbuat pelecehan terhadap seorang gadis. Gua nggak bisa membayangkan bagaimana nasib Lo bos kedepannya."

"Itu juga yang sedang gua pikirkan, Rio. Gua rasa wanita itu gadis desa."

"Terus dimana gadis itu, Lo harus bertanggung jawab bos."

"Gua nggak tau dia udah pergi sebelum gua bangun tidur, tapi gua masih ingat wajahnya."

"Yaudah kita cari gadis itu bos agar bos bisa bertanggung jawab karna udah ngejebolin anak orang," celetuk Rio.

"Nggak! Lo gila hah! Dia pasti hanya gadis desa dari kalangan rendah dan miskin, mana mau gua bertanggung jawab dan menikahi gadis desa itu."

"Astaga bos, Lo bener-bener brengsek jadi laki-laki."

Rekaman suara itu pun di matikan. Clara meremas jas yang di gunakan Devan, air matanya sudah meluruh membanjiri wajahnya. Ia mendengar dengan jelas jika yang berbicara di rekaman itu adalah suara Devan.

"Bagaimana Devan? Aku rasa bukti ini sudah cukup bukan?" tanya Sesil dengan senyum miringnya.

"Kamu liatkan Clara, seorang Devan Fernandes yang terkenal berwibawa ternyata pria yang pengecut."

"Hentikan perkataanmu Sesil! Bos Devan bukan pria pengecut dia sudah bertanggung jawab dengan menikahi Clara," ucap Rio dengan tegas.

Devan hanya diam menunduk sembari memeluk tubuh Clara dan semakin erat karena tangan Clara sudah tidak memeluk punggungnya lagi. Devan takut kalau Clara mempercayai perkataan Sesil.

"Devan, kenapa kamu diam saja hah!?" tanya Sesil dengan senyum kemenangannya.

Devan menghela nafas panjang, semuanya sudah terbongkar. Tidak mungkin lagi dirinya melakukan pembelaan.

"Baiklah, Clara aku memang pria yang sudah merengus kesucian kamu, aku memang pantas disebut pria pengecut. Yang di bilang oleh Sesil memang benar, aku yang udah memperkosa kamu," ucap Devan.

Setelah mengucapkan itu, tubuh Devan terdorong begitu kuat dan itu di lakukan oleh Clara.

Plak...

Clara menampar pipi Devan sebelah kanan dengan begitu keras, ia menatap Devan dengan mata berkaca-kaca dan nafas naik turun menahan emosi, di matanya terlihat sekali jika Clara begitu marah dan kecewa pada Devan.

Devan yang ditampar oleh Clara bukannya marah, ia hanya diam dan terus menatap lekat wajah Clara.

"Aku pikir ini menjadi awal kebahagiaan aku mas, karena kita sudah sama-sama saling mencintai. Tapi ternyata sebuah kebenaran yang begitu menyakitkan terungkap sekarang."

"Sesuai perkataan aku selama ini, jika aku sudah mengetahui siapa pria yang sudah memperkosa aku, maka pria itu tidak akan pernah bisa melihat anak aku dan aku akan pergi jauh dari hidup kamu."

"Clara, aku mohon maafkan aku, jangan pisahkan aku dengan anak-anak aku."

Clara tersenyum miris. "Sekarang aku tau, mas menikahi aku karena mas menginginkan anak ini benar kan? Mas hanya menginginkan anak ini bukan aku!"

"Iya! Memang benar aku dulu hanya menginginkan anak-anak aku, tapi sekarang berbeda Clara, aku juga menginginkan kamu."

"Menginginkan aku sebagai apa mas? Sebagai budak seks yang harus siap melayani mas kapan pun mas mau? Iya begitu mas?" tanya Clara dengan tersenyum getir.

Devan terdiam, dulu memang seperti itu tapi sekarang sudah berbeda, ia menginginkan Clara dalam hidupnya sebagai istri yang akan menemaninya sampai ia tua nanti.

"Aku menginginkan kamu sebagai istri aku selama-lamanya Clara. Aku bersumpah jika aku sudah benar-benar mencintai kamu," ucap Devan dengan wajah melas.

Clara memilih memalingkan wajahnya dari Devan dan menatap kearah lain.

"Nyonya bawa aku pergi dari sini nyonya, Clara mohon." pinta Clara dengan suara lirih pada Mira yang baru saja datang. Hatinya begitu sakit rasanya, ia tidak tahan melihat wajah Devan, pria yang sudah memperkosanya dan membuat dirinya hamil.

"Sekarang kamu gak boleh panggil nyonya, sekarang kamu panggil mamah juga ya sayang, terus kamu mau pergi kemana nak?" tanya Mira.

"M-mamah, aku pengen pergi jauh agar mas Devan nggak bisa mencari aku. Maafkan aku, tapi aku sudah begitu benci pada anak mamah," ucap Clara.

"Mamah tidak akan ijinkan kamu pergi Clara, kamu itu menantu mamah dan sedang mengandung cucu mamah juga..."

"Seharusnya yang pergi adalah Devan." Lanjut Mira.

Devan menoleh ke arah Mira, dia tidak percaya mamahnya mengatakan kalimat itu.

"Mamah ngusir aku?" tanya Devan tak percaya.

"Iya, mamah mengusir kamu Devan. Kamu pergilah kemanapun kamu mau, tanpa membawa sepersenpun harta yang kamu punya," ucap Mira dengan air mata mengalir.

"Dan kamu gak boleh bertemu sama Clara dan anak kamu sebelum papah, mamah atau Clara yang menginginkan kembali kamu bertemu sama istri kamu," tambah Arga.

"Mah, papah sama mamah gak boleh seperti itu, biar Clara aja yang pergi dari kota ini. Clara akan kembali lagi ke kampung," ucap Clara tanpa menatap Devan.

"Tidak sayang, keputusan mamah dan papah Arga sudah bulat, Devan yang akan pergi dari rumah ataupun dari kota ini, mamah dan papah malu punya anak pengecut," ucap Mira.

Jika boleh jujur hatinya sakit saat mengatakan ini, apalagi saat melihat wajah anaknya. Sejujurnya Devan adalah anak yang begitu Mira banggakan dia adalah anak laki-laki satu-satunya.

"Apa tante tidak memikirkan nasib anak tante nanti di luaran sana. Bagaimana jika anak tante jadi gelandangan atau bahkan mungkin meninggal karena kelaparan, apa tante tega melihat itu?" tanya Rey yang sedih melihat nasib sahabatnya itu.

"Benar itu tante, saya juga takut bos Devan menjadi sasaran orang-orang jahat yang selama ini menjadi saingan bisnisnya."

"Saya tidak peduli, saya hanya ingin anak pengecut saya ini menyadari kesalahannya selama ini dan lebih menghargai orang yang berada di bawahnya. Saya ingin melihat seberapa kuat Devan menjadi orang miskin yang jauh dari limpahan harta."

"Baiklah mah, aku turuti semua keinginan mamah dan papah. Tapi aku titip Clara dan anak-anak Devan ya?"

Mira memilih memalingkan wajahnya dari anaknya itu, ia benar-benar tidak tahan jika melihat wajah Devan, rasanya ia ingin menangis.

Devan lalu menoleh ke arah Clara, dan ia langsung bersimpuh di depannya.

"Maafkan aku sekali lagi Clara, sebelum aku pergi. Aku pengen kamu memaafkan aku dulu."

"Aku akan memaafkan mas Devan kalau mas Devan pergi dari kehidupan aku," ucap Clara.

Devan tersenyum tipis. Semua orang ternyata menginginkan dirinya untuk pergi, maka ia akan kabulkan itu.

"Apa kamu masih mencintai aku?" tanya Devan.

"Entahlah, aku merasa sudah mati rasa mas, di dalam hati aku hanya ada kebencian buat mas," ucap Cla tanpa menatap Devan, hanya air matanya saja yang terjatuh.

"Devan, papah akan menitipkan kamu tinggal dikampungnya Clara, tapi kamu disana gak boleh tinggal dirumah Clara. Kamu cari saja rumah atau apa buat kamu tinggal. Dan untuk makan, kamu cari uang sendiri disana, kamu paham?" ucap Arga dan Devan hanya mengangguk pelan.

"Aku akan pergi sesuai keinginan kamu, tapi aku mohon jaga anak-anak kita ya. Aku akan pergi dan aku akan kembali jika kamu meminta aku untuk kembali lagi," ucap Devan lalu ia pergi dari aula tersebut dan diluar aula sudah ada supir yang sudah ditugaskan oleh Arga untuk mengantar Devan ke kampung Clara.

Clara menutup mulutnya sendiri menahan tangisnya yang rasanya ingin meledak. Ia lalu berjalan cepat meninggalkan aula dan semua orang di susul oleh Rey yang takut jika Clara kenapa-kenapa.

"Sekarang anakku sudah jatuh miskin, apa kamu masih mau menikah dengan anakku Sesil?" tanya Mira yang terlihat begitu marah.

Sesil menggeleng. "Ck, mana mau aku menikah sama anak Tante yang udah miskin itu. Anak Tante memang rendahan, masa punya istri pembantu, coba aja dari dulu anak kalian nikahnya sama aku, pasti Devan nggak bakal ngalamin hal ini, sekarang nyesel kan anak Tante sama om Arga?"

"Anak saya bakal lebih nyesel jika menikah dengan wanita murahan seperti kamu, Sesil!" ucap Mira.

Sesil menatap Mira dengan wajah marah lalu ia pergi meninggalkan semua orang, ia sudah tidak menyukai Devan apalagi sekarang Devan sudah jatuh miskin.

1
A'N
bukannya mrasa brslah eh ini Mlah menylahkn Clara
A'N
loh ko Devan tiba² tanya seperti itu,apa seblumnya Clara udh crita kalo dia diperkosa
A'N
ko kesannya Devan itu tau kalo Clara adlh cwe yg dia nodai,pa mgkin Devan emg SDH tau ya
A'N
bukannya Clara kekota buat gantiin ortunya kerja ditmpat majikannya y..apa ortunya gak ksh tau sp nma majikan ortunya
A'N
apa Devan tidak ingat aroma tubuh Clara,ato sebaliknya Clara juga tidak ingat aromanya
A'N
mampir nih thor
zhelfa_alfira
akhirnya singa jantan mengamuk juga
zhelfa_alfira
bagus
zhelfa_alfira
seru lanju²
Cucu Suryamah
Siapa itu
Cucu Suryamah
seru banget plis
Cucu Suryamah
lucu banget Sagara🥰
Cucu Suryamah
aaa seru
Cucu Suryamah
seru banget plis ceritanya
Faidt Azzahra.
gimana istri g curiga Kalo suami g jujur di awal Salah devan juga
Nikma: Permisi kak Author ..

Halo kak reader, kalau berkenan mampir juga karya aku 'Kesayangan Tuan Sempurna' yaa
Terima kasih😊🙏
total 1 replies
yana
lnjt thor semangat
Anita Rahayu
buat devan lihan sifat busuk adeknya rio yg sesungguhnya thor ...
𝕗𝕠𝕣𝕣𝕫𝕒𝟘𝟝𝟘𝟡
kayaknya bibit" pelakor nih
𝕗𝕠𝕣𝕣𝕫𝕒𝟘𝟝𝟘𝟡
lanjuttt....
semangat author
JenieSya
Iya ditambah bayi besar🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!