NovelToon NovelToon
Gadis Mungil Penghancur Gunung Es

Gadis Mungil Penghancur Gunung Es

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Beda Usia / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Trauma masa lalu / Tamat
Popularitas:91.9k
Nilai: 5
Nama Author: lee Yana

Di tengah kegaduhan mengenai rumor yang beredar bahwa putra tunggal penerus Winner Group berinisial EPW (Edwin Putratama William) ternyata seorang gay menjadi sorotan serta perbincangan hangat di kalangan pebisnis, hal itu tentu saja membuat orang tua nya murka berharap segera menemukan solusi yang tepat untuk memulihkan nama baik keluarga dan perusahaan. bagaimanakah kisah kelanjutan nya, apakah dia benar seorang gay atau sebalik nya ? nantikan kisah nya ya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee Yana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pulau pribadi Edwin

Sore itu Edwin mengantar keberangkatan istrinya kembali ke kota A, wakau sebenarnya ia sangat tidak rela jika harus berpisah dengan wanita mungil yang berhasil menaklukkan hatinya itu.

Tetapi Qiana berusaha menenangkan suaminya agar tidak perlu mencemaskan dirinya, apalagi ia juga ditemani oleh Sekretaris Hani dan juga pengawal Mega.

sepanjang perjalanan Edwin hanya termenung sembari mengusap pucuk kepala istrinya. Lelaki itu bahkan enggan melepas Qiana dalam pelukannya.

Nafasnya terdengar berat tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya, namun semua ayng menyaksikan bisa menafsirkan betapa gundahnya suasana hati Tuan muda.

Sikap Edwin yang demikian membuat Qiana semakin merasa bersalah dan meminta maaf berulang kali. Sejujurnya ia pun tidak ingin meninggalkan suaminya apalagi saat melihat wajah Edwin yang murung berkepanjangan.

Sementara di kursi pengemudi Sekretaris Jul tengan berusaha menahan menyembunyikan gelak tawanya.

("Drama macam apalagi ini ? Bukankah Tuan muda dengan gampangnya bisa menyusul nona kapanpun dia mau, begitu saja sedihnya sudah seperti terpisah antar planet")

Sedangkan pengawal Mega yang baru mengenal Tuan muda dan Nona Qiana dengan polosnya turut merasa prihatin melihat suasana tersebut. Apalagi setiap kata yang diucapkan Presdir seringkali membuat Mega salah paham.

"Jangan sampai kau macam-macam di sana ya Qia"

"Siap Tuan aku janji" sahut Qiana dengan senyum manisnya

"Jika macam-macam kau akan tahu sendiri akibatnya, kau harus mempertanggungjawabkan semuanya Qia, aku tidak akan segan menghukummu serta tidak akan mengampunimu meski kau memohon sekalipun !!"

"Cih...coba saja kalau berani"

"Waaahh kau benar-benar menantangku rupanya"

Terdengar gelak tawa Qiana saat Edwin memasang wajah kesalnya.

Sesampainya di bandara Sekretaris Jul kembali mengingatkan Mega tentang tugas-tugas yang harus ia kerjakan selama mengawal Nona.

Karena jika sedikit saja ada kesalahan maka Presdir pasti tidak akan segan-segan menjatuhkan sanksi kepadanya. Dan kemungkinan terburuknya adalah ia bisa diberhentikan dari tugas saat itu juga.

Belum sehari Qiana di kota A Tuan muda sudah sangat merindukannya. Lelaki tampan itu bahkan mulai seeing bicara sendiri sembari meratapi layar ponselnya.

"Aku ingin menjadi kain itu"

"Betapa beruntungnya dress yang dikenakan manusia mungil itu"

"Sial, aku sangat cemburu dengan sofa itu, bisa-bisanya Qiana kelihatan betah dan sangat nyaman berlama-lama di atasnya cih"

"Ya Tuhan, siapa laki-laki itu ? Beraninya dia mesuk ke ruangan istriku ?? kenapa pengawalnya tidak melarang huh ??"

Begitu seterusnya sampai sekretaris Jul merasa perlu memanggil Dokter untuk memeriksa keadaan Presdir yang nampak sangat memprihatinkan.

"Tuan ?"

"Hmmmm...."

"Apa anda baik-baik saja ?"

"menurutmu ??"

"(Hufffttt baiklah, untuk urat saraf bagian percakapan yang menyebalkan ini sepertinya dia masih waras)"

"Nampaknya anda kurang sehat Tuan ??"

"Cih... Apa maksudmu Jul ? Aku ini sedang merindukan istriku ! Bukan gila !!"

"(Waahhhh sepertinya dia sadar kalau aku menganggapnya tidak waras)"

Namun diluar dari itu Sekretaris Jul lagi-lagi dibuat kagum pada Presdir, bagaimana bisa ia menjalani hari dengan perasaan yang campur aduk. Ditengah kerinduannya yang tak terbendung, namun Lelaki itu tetap sangat stabil dan profesional dalam bekerja.

Hanya saja terkadang Jul mendapati Edwin tanpa sadar meminum gelas kosong yang ada di depannya.

Bahkan selain Sekretaris Jul para staff dan karyawan lain di perusahaan tidak akan ada yang menyadari bahwa pimpinan mereka sedang dalam kondisi setengah gila.

Selama berada di kota A Qiana menjadi lebih santai, sesuai dengan syarat yang diberikan Edwin kepada istrinya untuk tetap tinggal di Hotel miliknya. Dikarenakan jarak tempuhnya yang sangat dekat dari sentral plaza.

Dengan begitu Qiana tidak perlu membuang waktu untuk segera beristirahat saat pekerjaannya selesai. Dengan begitu pengawal Mega juga bisa lebih mudah mendampingi Nona muda.

Qiana juga tidak keberatan dengan keputusan suaminya karena Edwin tidka pernah melarangnya untuk berkunjung ke kediaman orangtuanya kapanpun ia mau. Bahkan dari kejauhan pun Qiana tetap bisa merasakan betapa besarnya rasa cinta Tuan muda terhadap dirinya.

Selain seorang suami, sebagai sosok yang lebih dewasa Edwin tidak ingin keegoisannya membuat Qiana merasa terbebani setelah menjalani pernikahan dengannya.

Meski rindu yang dirasakannya sangatlah menyiksa, Edwin sangat mengerti bagaimana sibuknya Qiana hanya dari laporan yang diberikan pengawal Mega secara berkala.

.

.

.

Tanpa terasa beberapa hari telah berlalu, akhir pekan pun terasa sama melelahkannya dengan hari-hari biasa bagi seorang Qiana.

Lagi-lagi wnaita cantik itu pulang larut malam. Seperti biasa Mega mengantar Nona sampai ke depan pintu, setelah dipastikan aman barulah gadis dengan perawakan tinggi itu bisa beristirahat di kamarnya yang letaknya berseberangan dengan kamar Nona muda.

Qiana yang merasa lelah dengan aktivitasnya seharian penuh mencoba beristirahat sejenak sebelum membersihkan diri. beberapa kali wanita cantik itu mengecek layar ponselnya namun tetap tidak ada balasan dari Edwin.

Qiana tampaknya mulai kesal, apalagi saat ia bertanya pada Mega dan ternyata gadis itu juga tidak tahu pasti dan hanya menyampaikan pesan dari Sekretaris Jul bahwa Presdir sedang dalam perjalanan menuju perbukitan, kemungkinan beberapa saat akan kesulitan mendapat sinyal.

Qiana yang sedari tadi sudah kesal kini menjadi bertanya-tanya dan mencoba mengingat apakah Winner Group memiliki proyek barudi area perbukitan ? Kalau memang ada kenapa harus kesana di akhir pekan ?

Merasa tidak ada kabar Qiana semakin gusar, karena lelah wanita cantik itu tertidur. Saat hari semakin larut tanpa sadar seseorang sudah berada di atas tempat tidurnya sembari membelai lembut kepalanya.

Perlahan Qiana membuka mata, samar-samar ia melihat sosok tampan yang sangat familiar Qiana juga bisa mencium aroma tubuhnya.

"Kak Edwin ?? Apa ini benar kak Edwin ? Atau aku sedang bermimpi ?" ucap Qiana menggosok-gosok matanya perlahan.

Selang beberapa saat Qiana benar-benar terbangun dari tidurnya ketika lelaki itu berbisik dan mencium lembut keningnya.

"Aku sangat merindukanmu Qia sayang"

"Jadi ini alasan kak Edwin sengaja tidak membalas pesanku ?" Ucap Qiana dengan wajah cemberut

"Hihi bukankah sudah ku katakan kalau aku sedang dalam perjalanan menuju bukit ?" sahut Edwin sembari matanya tertuju pada dua bukit kembar yang tanpa di sadari sudah terekspos dari piyama yang dikenakan Qiana.

"Cih... Lalu ??"

"Lalu aku kan turun perlahan menuju tempat yang lebih dalam lagi" jawab Edwin dengan nada setengah berbisik sembari tangannya terus beraktivitas tanpa batas.

Malam itu menjadi malam yang panjang bagi sepasang suami istri yang terpisah jarak setelah beberapa hari.

Rupanya Tuan muda itu sudah tidak mampu lagi membendung rasa rindunya hingga ia memutuskan terbang langsung menuju kota A sesaat setelah merampungkan semua urusannya.

Sekian lama Edwin tidak menjelajah pulau kecil miliknya, pulau cantik dengan ukuran yang tidak terlalu besar namun di dalamnya terdapat pegunungan serta lembah hangat yang ditumbuhi rerumputan kecil nan hijau, dengan aneka ragam spesies bunga beraroma wangi yang sangat khas.

Surga kecil yang mampu mengobati seluruh kegundahannya.

Bagai sang lebah yang terbang jauh menuju sarangnya, ia memulihkan tenaga dengan menikmati tiap isapan madunya hingga puas.

Bagian demi bagian ia susuri, presdir itu memeriksa proyek perbukitan dan sekitarnya dengan sangat teliti sebelum akhirnya ia memberikan stempel kepemilikan pada pulau kecil kesayangannya.

Di tengah hasrat keduanya yang saling bergejolak, tiba-tiba terdengar isak tangis dari Qiana, sontak membuat Edwin menghentikan aktivitasnya.

Dengan nafas terengah lelaki itu mengusap wajah cantik istrinya.

"Ada apa Qiana sayang ? Apakah aku menyakitimu ??" tanya Edwin khawatir

Sementara tidak ada jawaban dari Qiana, ia hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil mencoba menahan isak tangisnya.

"Apa sebaiknya kita tidur saja ??"

Lagi-lagi Qiana menggelengkan kepalanya.

"Aku sangat merindukan kak Edwin" ucapnya pelan dengan sura terbata-bata Nona mungil itu menjawab sambil sesenggukan yang membuat Edwin tersenyum dan langsung memeluk tubuh istrinya.

"Hmmmm jadi sekarang bagaimana ??" Tanya Edwin dengan senyum penuh arti

"Ahhhh begitu saja masih bertanya, kau sengaja kan menggodaku ciihhh kalau begitu aku mau tidur saja !!"

"Hahaha coba saja kalau kau bisa"

Berbeda dengan Edwin yang menggila, tangisan Qiana di malam itu merupakan sebuah bentuk dari rindu yang selama ini ia tahan. tanpa menunggu waktu lama tangisan itu kini berubah menjadi desahan tiada henti sepanjang malam.

1
partini
so cute love
partini
good story
Sen Sin
kok lama up nya
ani sumarni
cerita nya bagus suka sy
murni l.toruan
Sibucin akut lagi lihat mangsanya Qian
murni l.toruan
Aku galfok Botique saja...keren dan mewah, kenapa nga di cekik saja tuh si Ed
Evi Lusiana
tunggu sj edwin kau yg membuat srt kesepakatanny kau jg yg akan menghapusny,ku do'akan kau akn jd suami bucin
Sumiyati oo
waduh gegara kado qiana marahan ma paksu ...yg akibatnya banyak kejutan

qiana ngambek ke edwin sepertinya bawaan orok, hamil yg belum disadari

lanjut kak
Sumiyati oo
upnya jangan kelamaan kak

sabar ya ivana yg cantik.....sekertaris jul pasti akan ungkapin cintanya
tapi nanti saat acara syukuran kehamilan istri edwin/Frown//Frown/

lanjut kak
Sumiyati oo
nah loh jul dan alina harus tanggung jawab jelasan pada duta salahpaham kalau ga pengen dimarahin bos edwin/Facepalm//Facepalm/

sambil membawa paperbag yg ada di depan pintu tuh

lanjut kak
Sumiyati oo
alur ceritanya asyik, mudah dipahami konfliknya ga ribet
Aman Wijaya
lanjut terus Thor semangat semangat
Armin Arlert
Duh, kalau dikasih pilihan 1 antara jalan-jalan atau baca cerita ini, pasti saya milih ini 😍
Ryoma Echizen
Pembaca baru, tapi saya sudah suka sekali dengan cerita ini ❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!