Gwen Itzayana 27 tahun, gadis cantik yang berprofesi sebagai pengacara muda di kota New York. Harus berurusan dengan kartel narkoba di Meksiko setelah ayahnya seorang polisi yang sedang menyamar di dalam organisasi itu.
Penyamaran Eduardo berhasil di ketahui anggota kartel, menyebabkan pria itu di bunuh secara kejam.
Gwen menangisi kepergian Eduardo, hingga gadis itu nekat bertolak ke Meksiko dan menyusup ke dalam organisasi yang paling di takuti seantero negeri Sombrero tersebut.
Bagaimana nasib Gwen, mampukah ia bertahan hidup di antara penjahat-penjahat kejam itu. Apakah penyamaran nya akan di ketahui?
Terlebih Gwen di hadapkan pada pimpinan kartel di luar dugaannya. Apakah itu?
Ikuti kelanjutan kisah ini ya. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian setelah membaca 🙏🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENCURI KESEMPATAN
Keesokan harinya...
Gwen menyusuri jalan tanah menuju kebun anggur. Melihat para petani panen anggur yang sudah matang di distrik selatan. Cukup jauh dari hacienda. Karena tempat panen, ada di ujung La Padre.
Gwen melihat para petani sudah sibuk memanen anggur-anggur segar.
Gwen langsung melompat dari atas kuda. Ikut membantu memetik anggur. Gadis itu begitu antusias.
Salah satu petani memberikan gunting khusus pada Gwen. Tidak boleh mematahkan tangkai secara langsung. Bisa merusak kualitas buah dan pohon anggurnya.
Gwen berbaur dengan para petani-petani itu. Ia begitu antusias. Sesekali gadis itu mencomot anggur dan memakannya secara langsung.
Gwen terdiam. Untuk pertama kalinya ia memakan anggur La Padre. Ternyata rasanya sangat manis.
"Wow... manis sekali", ucapnya kembali memasukkan anggur ke dalam mulutnya.
"Kau di larang mengambil anggur yang sudah di petik nona. Itu akan merusak kualitas anggur yang akan di produksi menjadi wine".
Gwen melebarkan kedua matanya. Dan langsung menghentikan perbuatannya. Ia tahu itu Aleandro yang menegurnya.
"Oh ya? Maafkan aku Ale, aku tidak tahu", jawab Gwen menolehkan wajahnya menatap laki-laki itu.
Ale tersenyum mendengarnya. "Kemari lah, ikut aku".
Aleandro mengajak Gwen ke tempat pohon anggur yang di tanam terpisah. Sepertinya pohon-pohon anggur tumbuh menyendiri di tempat khusus. Buah-buahan berwarna ungu tua sudah mendekati hitam dan berukuran lebih besar dari pada ukuran anggur biasanya.
Aleandro menggunting dompol anggur yang sudah berwarna pekat.
"Cobalah. Ini anggur terbaik dan termahal. Berhasil kami budidayakan di La Padre", ujar Aleandro.
"Anggur Ruby Roman?", ujar Gwen mengambil dompol anggur dari tangan Aleandro
"Iya, kau benar sekali. Ternyata kamu paham tentang anggur terbaik, Gwen?", jawab Ale sedikit kaget mendengar Gwen tahu anggur mahal itu.
"Anggur kesukaan ku, Ale. Rasanya sangat manis", ucap Gwen dengan santai. Dan langsung melahap buah anggur yang ada padanya.
Aleandro mengernyitkan dahinya. Menatap tak percaya gadis di hadapannya. Ia menatap tajam Gwen.
Mengingat Gwen bukan berasal dari kalangan atas tentu saja Aleandro kaget ternyata gadis itu tahu anggur Rubi Roman. Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu membelinya. Satu dompol anggur berharga kisaran 167 juta, artinya satu biji anggur berbandrol kisaran 6 juta. Wajar kalau Ale kaget mendengar perkataan Gwen yang mengatakan anggur terbaik dan termahal itu adalah buah kesukaannya.
"Apa kamu sudah mencicip sebelumnya Gwen? Orang seperti kita mana mampu membeli buah semahal itu kan? Dan kamu harus berhenti memakannya. Kau sudah memakan lima biji. Cukup untuk mu. Aku harus membagi dengan yang lainnya", ujar Aleandro segera mengambil anggur yang tersisa di tangan Gwen.
Gwen terdiam di tempatnya. "Shitt. Hampir saja aku membuka jati diri ku".
"Ale.. Tunggu!", teriak Gwen berlari mengejar laki-laki itu. Dan berhasil menyusul Aleandro. Gwen berjalan mundur.
"Beri aku sebiji lagi ya. Aku mohon Ale, rasanya jauh lebih enak dari anggur yang aku makan pertama tadi", ujar Gwen membuka tangannya di hadapan mandor itu.
Aleandro tidak menggubrisnya.
"Huh kamu ini pelit sekali, Aleandro. Teman mu minta satu saja tidak kau beri", ketus Gwen mencebikkan bibirnya kesal.
Gwen sengaja bertingkah seperti itu, agar Aleandro tidak curiga padanya. Karena beberapa saat yang lalu menunjukkan ia mampu membeli anggur Rubi Roman.
*
Menjelang sore hari, Gwen hendak kembali ke hacienda. Ketika melihat Aleandro dan Beto bersiap-siap dengan mobil double cabin. Gwen memilih mendekati laki-laki itu.
"Aleandro, kalian mau ke mana?".
Laki-laki itu tidak menjawab pertanyaan Gwen.
"Mereka akan mengantar bibi belanja ke kota Guerrero, Gwen", jawab Maria tiba-tiba muncul dengan keranjang di tangannya.
"Apa aku boleh ikut bibi? Aku akan membantu mu berbelanja", ujar Gwen tersenyum manis.
"Tentu saja. Kebetulan sekali ada yang membantu membawakan belanjaan ku", jawab Maria.
Aleandro berkacak pinggang, sepertinya tidak setuju dengan ide Maria.
Dengan santai Gwen menyusul Maria masuk ke mobil. Berhenti sejenak di dekat Aleandro. Gwen menjulurkan lidahnya meledek Ale. "Laki-laki pelit!" ketusnya.
Aleandro hanya menggelengkan kepalanya menyikapi tingkah Gwen seperti anak kecil itu.
"Kamu jangan kemana-mana, Gwen. Jangan coba-coba menjauh dari Maria. Jangan membuat ku dalam masalah", tegas Aleandro mengingatkan gadis itu.
"Tenang saja. aku akan menjaga bibi Maria", jawab Gwen yang memeluk pundak Maria sambil melambaikan tangan pada Ale.
*
Memang benar Gwen membantu Maria berbelanja. Namun di otaknya mencari cara bagaimana bisa lolos sesaat saja, agar bisa menghubungi Rodriguez.
Gwen membawa barang belanjaan Maria ke dalam mobil. Aleandro berjaga di sana. Sementara tak nampak Beto, mungkin laki-laki itu ada pekerjaan lain. Karena saat di mobil Ale meminta Beto ke toko bangunan membeli perlengkapan.
"Gwen..
"Iya?"
"Beri tahu Maria untuk cepat. Sebentar lagi gelap. Jalanan menuju La Padre sangat rawan di waktu malam", ujar Aleandro.
"Iya Ale", jawab Gwen kembali masuk ke dalam pasar yang semakin ramai orang berbelanja.
Namun Gwen bukannya menyusul Maria, gadis itu malah ke tempat lain. Ia menawarkan uang bayaran pada seorang pemuda agar meminjaminya handphone.
Akhirnya usaha Gwen berhasil. Ia mencari tempat aman. Segera menghubungi Rodriguez. Sebelumnya Gwen mengambil kertas kecil dalam saku celana yang selalu ia bawa kemanapun pergi. bertuliskan nomor private Rodriguez yang aman.
"Paman..
"Gwen? Demi Tuhan nak, kenapa kamu baru menghubungi ku–
"Aku tidak banyak waktu. cukup paman dengarkan saja Aku. Aku sudah masuk ke sarang La Quintana. Aku belum bisa memberi informasi, sampai aku memastikan mereka lah yang membunuh papa ku".
"Gwen. Kamu jangan ragu. Mereka lah yang menghabisi nyawa Eduardo!"
"Aku harus pergi, paman!"
"Gwennn jangan di matikan!!".
Gwen tetap memutus telpon itu.
Dengan langkah cepat Gwen mengembalikan handphone pada pemiliknya. Kemudian gadis itu pura-pura menawar pakaian dalam pada penjual di sekitar sana. Dari sudut matanya, Gwen melihat Aleandro dan Beto sudah mencarinya.
Dari kejauhan Aleandro melihatnya dan segera menghampiri Gwen.
"Aku memberi bra dan panties, Ale. Kamu ingin melihatnya? Warnanya cerah dengan motif lucu", ujar Gwen terdengar konyol. Gwen Mengambil satu panties dan melebarkan di hadapan Aleandro dan Beto.
Panties berwarna pink dengan motif princess Elsa frozen. "Lucu ya", ujar Gwen.
"Hentikan kekonyolan mu itu. Kita harus segera kembali ke perkebunan", ucap Aleandro yang tidak berminat menjawab pertanyaan gadis itu.
Sementara Beto tidak bisa menahan tawanya, pemuda itu tertawa cekikikan melihat tingkah Gwen.
*
Mobil yang si kendarai Beto masuk ke gerbang utama La Padre. Ternyata jalanan menuju perkebunan memang menyeramkan di waktu malam. Wajar saja Ale mengingatkan untuk cepat kembali ke La Padre.
Gwen membantu mengangkat belanjaan ke dalam dapur.
"Sayang sebaiknya kamu segera ke kamar, bersihkan diri mu. Seharian kau sibuk di ladang. Sekarang tugas Lucia dan Matilde yang membersihkan semua belanjaan ini", ucap Maria bicara lembut seperti biasanya pada Gwen yang tengah minum melepas dahaga.
"Iya bibi Maria. Terima kasih karena sudah mengajak ku berbelanja. Aku sangat senang melewati hari ini", jawab Gwen.
...***...
To be continue
👍👍😍