Patah hati terhebat adalah, mencintai seseorang yang sudah tak ada lagi di dunia ini.
Walau 10 tahun telah berlalu, faktanya hati Luna belum mampu merelakan kepergian Evan, kendati 6 tahun sudah ia menjalin kasih dengan Nathan.
Ketika Luna sudah berpasrah dengan takdir diri dan cintanya, semesta seolah kembali berhasil mengaduk perasaannya.
Tiba-tiba ia kembali di pertemukan dengan pria dengan wajah dan suara menyerupai Evan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#22 •
#22
“Kamu masih ingin menjadi istriku, kan?” tanya Mike, namun pandangannya sengaja melirik ke arah Luna. Bermaksud memancing amarah Luna, karena Ia masih kesal dengan ulah sang istri pagi tadi, tak menyangka pula jika istrinya memiliki kemampuan bela diri yang tak bisa dianggap remeh.
“Tentu saja, jadi istrimu adalah impianku sejak lama," jawab Valerie manja.
Luna sungguh mual melihat kelakuan sepasang kekasih tersebut, ingin rasanya ia menyiram mereka dengan air bekas memandikan kuda-kuda kesayangan Opa Alex. 😜
“Kalau begitu, bantu aku mengambil kembali hatinya Pelangi.”
“Baiklah, kalau begitu aku akan di rumah saja bersama Pelangi dan … Luna.”
Ada jeda di kalimat Valerie, karena ia sungguh malas menyebut nama rivalnya tersebut.
“Oh, Iya … Lusa malam, bersiaplah untuk acara peluncuran produk baru," cetus Mike, ia menatap wajah Luna kala mengatakan hal tersebut. Namun justru yang menyambut hangat adalah Valerie, karena seketika wajahnya berbinar, ‘dimana ada pesta, disitulah saatnya aku berbelanja barang-barang baru demi menunjang penampilan’, begitulah pemikiran Valerie.
“Baiklah, aku pastikan tak akan membuatmu malu…” jawab Valerie senang.
Mike mengerutkan dahinya. “Bukan kamu, Tapi Luna….”
“WHAT!!!”
Tanpa rasa bersalah pada sang kekasih Mike meninggalkannya begitu saja, ia menghampiri Pelangi untuk berpamitan.
“Berapa nomor ponselmu?” tanya Mike usai berpamitan dengan Pelangi.
“Untuk apa?”
“Kamu lupa, jika sekarang aku bertanggung jawab padamu.”
Jawaban Mike membuat Luna ingin tertawa sekencang-kencangnya. “Bertanggung jawab?? Apa kamu lupa, jika aku hanya istri bayangan, istri diatas kertas, hanya ibu untuk anakmu??”
“Justru karena itu, aku merasa perlu menyimpan nomor ponselmu, siapa tahu saja kamu berbuat yang tidak-tidak pada putriku.”
Tak ayal lagi, jawaban Mike membuat Luna semakin meradang.
“YAAAK!!! aku bukan monster,” sembur Luna kesal.
“Karena itulah, katakan padaku berapa nomor ponselmu?? kenapa suka sekali memperpanjang masalah??” Imbuh Mike dengan gerutuan yang masih terdengar jelas ditelinga Luna.
Akhirnya Luna pun pasrah ketika Mike menyambar ponselnya, kemudian usai mendapatkan apa yang ia inginkan. “Pakailah ini untuk pergi ke butik,” Mike menyodorkan sebuah credit card berwarna emas.
Luna tersenyum remeh, “kamu pikir aku fakir miskin? aku bahkan punya kartu serupa, tapi berwarna hitam.”
Mendapat sindiran dari sang istri tentu membuat Mike merasa tertantang, hingga ia kembali mengeluarkan dompetnya, guna menukar gold card tersebut dengan black bard. “Ini kan, yang kamu inginkan?”
“Baguslah kalau kamu mengerti.” Jawab Luna, ia segera menyambar black card tersebut, sebelum Valerie mengambil alih. Bukan Luna serakah, bukan pula ia ingin memanfaatkan keuangan Mike. Tapi melihat pola hubungan Mike dan Valerie, sepertinya Valerie sudah terlalu banyak merampas hak pelangi atas Papanya. Sungguh malang Pelangi, entah seperti apa nasib Pelangi jika Valerie benar-benar menjadi Mama sambungnya.
Sepeninggal Luna, Mike pun berlalu pergi, “sayang, tunggu!!” Valerie membuntuti langkah kekasihnya.
“Ada apa lagi? aku sedang banyak pekerjaan, karena kemarin-kemarin sibuk dengan urusan Pelangi di Rumah Sakit.”
“Aku perlu penjelasan,” tuntut Valerie dengan rasa kesal yang membumbung tinggi.
“Penjelasan apa lagi?” tanya Mike tak sabar, secinta-cintanya ia terhadap Valerie, ini adalah salah satu sifat Valerie yang tak Mike sukai. Manja, dan kadang Valerie tak melihat situasi dan kondisinya yang sedang tak bisa bermanja-manja, karena Mike juga harus bertanggung jawab Pada perusahaan sang Papa yang susah payah Erland bangun kembali.
“Kenapa dia? Kenapa harus Luna yang kamu ajak ke acara perusahaan, bukankah selama ini kamu selalu mengajakku?” Valerie terus mencecar Mike dengan banyak pertanyaan, ia sungguh sakit hati, dan tak terima diduakan oleh kekasihnya sendiri.
Mike menghela nafas, “dengar, sayang, saat ini situasinya berbeda, karena aku tak mungkin mengorbankan citra baik perusahaan. Bukan aku tak ingin membawamu ke acara peresmian itu, tapi sekali lagi, ini proyek penting, banyak kolega dan Investor besar yang akan hadir. Kamu tahu sendiri kan betapa berpengaruhnya keluarga Istriku, walau tidak ada perayaan besar di pernikahan kami, tapi aku yakin berita pernikahanku sudah tersebar. Yang kedua, kamu tentu belum lupa kan? Siapa Brand Ambassador produk unggulan perusahaan? Darren dan istrinya," Mike mengakhiri penjelasan panjangnya.
“Aku tak ingin Image baik yang sudah menempel di produk unggulan perusahaan menjadi rusak, hanya karena keegoisan pribadiku.”
Kedua mata Valerie berkaca-kaca, ia tak menyangka lagi-lagi Luna menyingkirkannya dengan mudah. Dulu Evan, dan sekarang Mike. “Apakah selama ini aku sudah menjadi kekasih yang egois bagimu?” tanya Valerie.
“Tidak, bukan begitu maksudku, aku hanya …”
“Jahat, kamu benar-benar jahat padaku.” Valerie memotong perkataan Mike, kemudian pergi dengan menghentakkan kedua kakinya. Ia pergi, menggunakan senjata lawasnya, berharap Mike mengejar dan merayunya seperti biasa. Namun Mike hanya diam mematung melihat kepergian sang kekasih.
Mungkin sesekali Valerie harus mengerti kondisinya, bukan hanya dirinya yang mengalah pada sang kekasih. Mike pun menaiki mobilnya sendiri, di sela-sela kegiatannya menguasai bundaran stir, ia menyempatkan diri menghubungi Sandi, Asistennya.
“Halo, Pak.”
“Sudah sampai mana penyelidikanmu?”
“Saya sedang mencari-cari bukti rekaman CCTV, karena informasi dari sejumlah warga yang tinggal di lokasi tersebut, sama persis seperti informasi yang disampaikan oleh Istri anda. Sebagian besar CCTV di sana terbengkalai.”
“Baiklah, lanjutkan terus pencarianmu.”
Mike mengakhiri panggilannya, semoga keputusannya yang mencoba mempercayai Luna saat ini, tak sia-sia. Yah demi Pelangi ia akan melakukan apa saja, termasuk menyetujui pernikahan yang diinginkan oleh Orang Tua Luna.
…
Sesuai dengan permintaan Mike, Luna pun akhirnya membawa Pelangi ke Butik langganannya, ia akan memberikan beberapa gaun cantik untuk gadis kecilnya Mike tersebut.
Mbak Yuli dengan sigap menurunkan kursi roda untuk Pelangi, sementara Luna membantu Pelangi keluar dari mobil. Setelah Pelangi duduk dengan nyaman, Luna mendorong kursi roda memasuki Butik. “Selamat siang, Nona,” sambut salah satu pramuniaga.
Luna hanya mengangguk ramah pada Pramuniaga tersebut, kemudian membawa Pelangi ke sofa yang ada di ruangan tersebut. “Apa Aya sudah datang?”
“Belum, Nona.”
“Ya sudah, sambil menunggu, aku ingin melihat gaun terbaik di Butik ini.”
“Baik, Nona, akan saya bawakan koleksi terbaru kami untuk anda.” jawab Pramuniaga tersebut dengan sopan.
“Bukan untukku, tapi untuk Putri cantik ini," pinta Luna sembari menoel hidung Pelangi, mendapat pujian dari ibu perinya, tentu Pelangi sangat bahagia.
“Maaf, Nona?” pramuniaga kembali mengulang pertanyaannya.
“Ah, aku lupa menjelaskan, aku sudah menikah dan ini putri sambungku.” Luna menjawab pertanyaan Pramuniaga tersebut tanpa ragu apalagi malu.
“Ahh … Nona, kenapa tak mengabarkan pada kami tentang pernikahan anda, kami pasti akan mengirimkan hadiah jika anda mengabarkan pada kami. Karena anda adalah pelanggan eksklusif Butik ini.”
“Ahahaha … tak perlu seperti itu, karena satu dan lain hal, pestanya memang belum diselenggarakan, jadi tunggu saja kabar dariku.”
Mendengar perkataan Luna, Pramuniaga tersebut nampak bernafas lega. “Syukurlah kalau begitu, kami menunggu kabar dari anda Nona.”
Luna mengangguk, tanpa ia sadari Mbak Yuli menatap majikan barunya tersebut dengan mata berkaca-kaca. Seandainya yang ada di hadapannya saat ini adalah Valerie, wanita itu pasti hanya menatap Pelangi dengan pandangan jijik, seolah Pelangi adalah kotoran yang harus disingkirkan.
…
Sementara itu di Apartemen Valerie, wanita itu sedang mondar mandir di ruang tamu. Sejak satu jam yang lalu, ia berusaha menghubungi Nyonya Bimantara, namun belum juga berhasil mendapatkan jawaban. Valerie tahu jika calon Ibu Mertuanya tersebut adalah Dokter spesialis bedah jantung, jadi hanya ada dua kemungkinannya kenapa nyonya Bimantara tak jua mengangkat teleponnya. Jika tidak sedang di ruang operasi, pastinya sedang istirahat pasca melakukan operasi dalam jangka waktu lama.
Kendati tahu bahwa calon Ibu Mertuanya adalah orang sibuk, tak membuat Valerie mengerti, ego benar-benar sudah mengalahkan segalanya.
“Aku tak boleh menyerah, Ibu pasti tak akan tinggal diam, jika tahu Mike sudah menikah tanpa mengabarinya. Dan yang lebih parahnya lagi, istrinya bukan diriku," gumam Valerie seorang diri.
baru runut ke semua nya