Di Kekaisaran Xuan-Mo, realitas adalah tinta, dan kekuasaan adalah keindahan goresan. Mereka yang bisa menulis hukum alam dengan kuas emas diperlakukan sebagai dewa, sementara mereka yang gagal hanyalah noda yang harus dihapus.
Ren Zexian lahir dengan kutukan "Mata Void"—ia tidak bisa melihat keindahan ilusi dunia, hanya kerangka rapuh di baliknya. Dianggap sampah oleh klan kaligrafer elit, ia bekerja sebagai penghapus buku terlarang, hidup dalam diam hingga suatu hari ia menemukan sebuah halaman kosong yang berdarah.
Saat "The Fade" mulai menelan desa asalnya, mengubah manusia menjadi hampa tanpa ingatan, Ren menyadari bahwa kekacauan ini bukanlah bencana alam, melainkan suntingan yang disengaja oleh Dewan Langit. Dengan kuas patah dan teknik terlarang yang memungkinkan ia "menghapus" keberadaan musuh, Ren memulai perjalanan berbahaya mendaki 9 Provinsi Mengambang.
Ia bukan pahlawan yang akan melukis dunia baru. Ia adalah editor yang akan memotong bagian-bagian busuk dari cerita ini,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tubagus Abidin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penghapus yang Melihat Retakan
Hujan di Provinsi Abbu tidak pernah terasa bersih. Ia turun bukan sebagai air suci yang menyucikan jiwa, melainkan sebagai tetesan tinta encer yang kelam, meninggalkan noda abu-abu pekat di setiap permukaan yang disentuhnya. Bau lembap kertas busuk dan besi berkarat menggantung tebal di udara, menusuk hidung siapa pun yang cukup bodoh untuk tetap bertahan di lembah sampah ini.
Ren Zexian menarik kerudung kain goni kasar lebih dalam ke wajahnya, melindungi matanya dari gerimis yang menyengat. Di tangannya, sebuah kuas bambu retak tergenggam erat. Ujung bulunya sudah botak, habis terkikis oleh ribuan jam pekerjaan membosankan, namun Ren memperlakukannya dengan kelembutan yang sama seperti seorang ibu memegang bayinya.
"Satu lagi," gumamnya pelan, suaranya serak karena jarang digunakan.
Di hadapannya, tergeletak tumpukan gulungan mantra sisa buangan dari Paviliun Awan di atas. Gulungan-gulungan itu dibuang karena dianggap "cacat"—gagal menampung Qi dengan stabil, atau mengandung goresan yang kurang estetis menurut standar kaum bangsawan. Bagi mereka, ini adalah sampah. Bagi Ren, ini adalah sisa-sisa kehidupan yang masih bisa diperas.
Ia mencelupkan ujung kuasnya ke dalam wadah kecil berisi cairan hitam kental—tinta daur ulang yang ia racik sendiri dari arang kayu bakar dan getah pohon besi. Dengan gerakan tangan yang hemat dan presisi, Ren mulai mengikis karakter-karakter rusak di permukaan gulungan tua. Tugasnya sederhana: menjadi Penghapus. Ia menghapus jejak kesalahan masa lalu agar kertasnya bisa digunakan kembali oleh para pelajar miskin yang tak mampu membeli perkamen baru.
Namun, ada sesuatu yang berbeda hari ini.
Saat Ren mengarahkan pandangannya pada gulungan yang setengah hancur itu, dunia di sekitarnya seolah kehilangan warnanya. Bagi orang normal, gulungan itu berwarna cokelat kusam dengan tulisan emas yang memudar. Tapi bagi Ren, dunia selalu tampak hitam, putih, dan abu-abu. Ia tidak pernah melihat keindahan warna-warni Qi yang dibanggakan para Kaligrafer Agung. Ia hanya melihat struktur. Garis-garis tipis yang membentuk realitas.
Dan saat ini, matanya menangkap sesuatu yang aneh.
Di sudut kiri bawah gulungan, di balik lapisan tinta yang tebal, ada sebuah retakan. Bukan retakan fisik pada kertas, melainkan retakan pada makna kata itu sendiri. Karakter "Kekuatan" yang tertulis di sana tidak utuh. Goresan vertikalnya terputus sepersekian milimeter, menciptakan celah mikroskopis yang mengalirkan energi liar keluar seperti darah dari luka terbuka.
"Typo," bisik Ren, jiwanya merinding. "Realitas ini... bocor."
Ia tahu ia seharusnya mengabaikannya. Aturan Perpustakaan Terlarang jelas: jangan bertanya, jangan mengamati terlalu dalam, hapus saja. Tapi rasa ingin tahu—penyakit kronis yang telah menghancurkan banyak orang sebelum dirinya—mendorong jarinya untuk menyentuh celah itu.
Seketika, sebuah denyutan nyeri tajam menembus ujung jarinya. Tinta di gulungan itu mendesis, berubah menjadi asap hitam pekat yang membentuk wajah-wajah meringis sebelum lenyap ditelan hujan. Ren menarik tangannya mundur, napasnya tersengal. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena pengakuan. Ia baru saja menyentuh kebenaran yang disembunyikan oleh Dewan Langit. Dunia ini tidak sekuat yang mereka klaim. Ia sedang rapuh.
"Ren!"
Teriakan itu memecah lamunannya. Ren menoleh cepat, melihat sosok kecil berlari terhuyung-huyung melintasi genangan tinta hitam. Lin, adiknya yang berusia sepuluh tahun, wajahnya pucat pasi, mata besarnya berkaca-kaca menahan sakit.
"Lin?" Ren segera membuang kuasnya dan berlari menyambut gadis kecil itu. Ia menangkap tubuh ringkih Lin tepat sebelum gadis itu jatuh ke lumpur. Tubuh Lin terasa dingin, terlalu dingin, seperti es yang mulai mencair.
"Aku... aku lupa, Kakak," isak Lin, tangannya mencengkeram baju compang-camping Ren dengan kekuatan putus asa. "Aku lupa nama ibu. Aku mencoba mengingat wajahnya, tapi... yang ada hanya kertas kosong. Putih. Semua putih."
Darah Ren membeku. The Fade.
Kepudaran. Penyakit kutukan yang dikatakan para pendeta sebagai hukuman bagi mereka yang jiwanya kotor. Tapi Ren tahu itu bohong. Ini adalah gejala dari dunia yang kehabisan tinta. Dan Lin, adik satu-satunya yang ia miliki, yang ia lindungi dari kekejaman dunia dengan tubuhnya sendiri, kini mulai terhapus.
Rasa panas yang asing membakar dada Ren. Bukan Qi, bukan kemarahan biasa, tapi sesuatu yang lebih purba. Ia mengangkat kepala, menatap ke arah langit kelabu di mana Paviliun Awan melayang megah, jauh dari jangkauan orang-orang seperti mereka. Di sana, para Kaligrafer minum anggur dari cawan giok, tertawa sambil menulis takdir orang lain sesuka hati. Sementara di sini, di bawah, adiknya perlahan-lahan berhenti ada.
"Tidak," desis Ren, suaranya rendah namun sarat dengan ancaman yang membuat udara di sekitarnya terasa berat. "Aku tidak akan membiarkanmu hilang, Lin. Tidak hari ini. Tidak pernah."
Ia menggendong Lin dengan hati-hati, memastikan gadis kecil itu bersandar nyaman di dadanya. Langkah kakinya berat saat ia berbalik menuju gubuk reyot mereka di ujung lembah. Namun, di tengah jalan, sekelompok pria menghalangi rute pulang mereka.
Tiga orang. Preman lokal yang menyebut diri mereka "Penjaga Tinta". Mereka mengenakan jubah tiruan dari sutra murah, dengan lencana sekte palsu yang ditempel miring di dada. Pemimpinnya, seorang pria gemuk dengan wajah penuh bekas cacar, tersenyum licik sambil memainkan cambuk kulit di tangannya.
"Woi, Sampah," panggil si pemimpin, meludah ke tanah di depan kaki Ren. "Bayaran perlindungan bulan ini belum kau lunasi. Atau kau pikir karena kau bekerja untuk Perpustakaan, kau kebal?"
Ren berhenti. Ia tidak menurunkan Lin dari gendongannya. Matanya yang hampa menatap pria itu, bukan dengan ketakutan, tapi dengan analisis dingin. Ia melihat aliran Qi si preman—kacau, boros, dan penuh celah. Goresan teknik bela diri pria itu kasar, tidak memiliki fondasi. Sebuah lukisan buruk yang dipaksakan terlihat indah.
"Aku tidak punya uang," jawab Ren datar. Suaranya tidak bergetar.
"Kalau begitu, kami ambil barang ganti," kata si preman, matanya jelalatan mengarah pada kuas retak yang terselip di ikat pinggang Ren. "Kuas tua itu masih punya sedikit residu Qi kan? Serahkan, atau kami ambil paksa. Dan mungkin... kami akan 'membantu' adikmu lupa lebih cepat."
Ancaman itu menyentuh saraf paling sensitif dalam diri Ren.
Waktu seolah melambat. Ren merasakan detak jantung Lin yang lemah di dadanya. Ia merasakan dinginnya hujan. Dan ia melihat celah itu. Bukan hanya pada gulungan tadi, tapi pada stance kuda-kuda si preman. Ada celah selebar rambut di antara kaki kiri pria itu, titik di mana keseimbangannya bergantung sepenuhnya pada ego, bukan pada struktur tulang.
Ren tidak berpikir. Ia bertindak.
Dengan tangan kanan yang masih menggendong Lin, tangan kirinya bergerak cepat meraih kuas retaknya. Ia tidak membutuhkan tinta. Ia menggunakan sisa energi vitalnya sendiri, darah yang mengalir di meridiannya yang terbalik, sebagai medium.
Di udara, Ren menggoreskan satu karakter sederhana. Bukan karakter "Api" atau "Angin" yang umum digunakan para pemula. Ia menulis karakter "Hapus" dalam dialek kuno yang telah dilarang selama seratus tahun.
Goresan itu tidak indah. Itu kasar, patah-patah, dan gelap seperti lubang tanpa dasar.
"Xiao." (Hilang)
Tidak ada ledakan besar. Tidak ada cahaya menyilaukan. Hanya suara desis halus, seperti kertas yang disobek perlahan.
Cambuk di tangan si preman tiba-tiba kehilangan wujudnya. Bukan patah, bukan terbakar, tapi terhapus. Dari pegangan hingga ujungnya, cambuk itu berubah menjadi debu abu-abu yang hanyut terbawa angin. Si preman terbelalak, matanya membelot keluar karena ketidakpercayaan. Ia mencoba menyerang dengan tinjunya, namun Ren hanya melangkah satu kali ke samping, menghindari serangan itu dengan efisiensi minimum, lalu menempelkan ujung kuasnya ke pergelangan tangan pria itu.
Goresan kedua. Lebih cepat. Lebih kejam.
Jari-jari tangan si preman menghilang. Digantikan oleh kehampaan putih yang mengerikan. Pria itu menjerit, bukan karena sakit fisik semata, tapi karena horor eksistensial melihat bagian dari dirinya tidak lagi ada di dunia ini. Dua anak buahnya panik, mundur dengan wajah pucat pasi, melihat Ren bukan sebagai manusia, tapi sebagai monster.
"Bawa dia pergi," perintah Ren dingin, matanya menatap tajam ke arah dua preman lainnya. "Dan katakan pada tuan kalian. Jika satu tetes hujan saja menyentuh adikku karena kelalaian kalian, aku akan datang ke rumah kalian. Dan aku tidak akan hanya menghapus jari kalian."
Para preman itu lari. Mereka lari tanpa menoleh, meninggalkan pemimpin mereka yang meringkuk kesakitan, memegangi tangan yang terluka parah.
Ren tidak merasa puas. Ia tidak merasa bangga. Ia hanya merasa lelah. Sangat lelah.
Ia menatap kuas di tangannya, yang kini mengeluarkan asap tipis berwarna hitam. Teknik terlarang. Kutukan. Ia tahu ia baru saja membuka pintu yang seharusnya tetap tertutup. Tapi saat ia menunduk dan melihat wajah Lin yang tertidur gelisah di pelukannya, Ren tahu ia tidak punya pilihan.
Dunia ini adalah lukisan yang salah. Dan jika tidak ada yang berani membersihkannya, maka Ren Zexian akan menjadi noda yang merobeknya dari dalam.
Dengan langkah mantap, ia menerobos hujan tinta, membawa adiknya menuju kehangatan gubuk mereka, sementara di kejauhan, langit di atas Paviliun Awan bergemuruh pelan, seolah menyadari bahwa seorang penulis baru telah lahir. Seorang penulis yang tidak bermaksud menciptakan keindahan, tetapi kebenaran.