NovelToon NovelToon
PENAKLUK SEMESTA

PENAKLUK SEMESTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Arman A

Di benua tempat langit dan bumi saling menyatu, kekuatan sejati bukanlah tentang seberapa tajam pedang yang kau genggam atau seberapa tinggi tingkatan kultivasimu melainkan seberapa murni hatimu dan seberapa tulus kasih sayang yang kau berikan kepada dunia.

Lin Mo seorang pemuda yang lahir tanpa bakat istimewa di mata orang lain memulai perjalanan panjangnya menembus kabut tebal yang menyelimuti langit dan bumi. Ia menghadapi petir surgawi yang menggetarkan jiwa saat menerobos setiap tingkat kekuatan. Ia menembus hutan purba yang dijaga makhluk purba yang tak pernah menampakkan wujudnya kepada siapa pun. Ia mendaki puncak salju abadi yang membekukan jiwa bahkan sebelum membekukan tubuh.

Dengan hati yang tetap murni dan rendah hati meskipun kekuatan di tangannya semakin dahsyat Lin Mo mengumpulkan kembali empat kekuatan suci yang telah terpisah ribuan tahun. Cahaya api yang membakar kejahatan. Cahaya kehidupan yang menyembuhkan luka. Cahaya keheningan yang melatih kesabaran. Cahaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 KEMENANGAN YANG TAK TERDUGA

Ledakan energi gelap yang meluap dari tubuh Lin Tian terus mengguncang seluruh aula utama. Cahaya kelabu kehitaman berputar liar bagaikan badai dahsyat yang menyapu segala yang ada di hadapannya. Para murid sekte berlarian berhamburan menjauh sambil menutupi wajah mereka dari debu dan hembusan angin kencang yang memekakkan telinga. Tetua Qing berteriak keras memerintahkan mereka untuk mundur ke tempat yang aman sambil berusaha menahan gelombang kekuatan itu dengan perisai cahayanya sendiri. Namun energi yang meledak dari tubuh Lin Tian itu begitu kasar dan tak terkendali hingga bahkan Tetua Qing pun terdorong mundur perlahan dengan kening berkerut penuh kekhawatiran.

Di tengah kekacauan yang melanda itu, Lin Mo tetap berdiri tegak di tempatnya. Cahaya keemasan yang memancar lembut dari tubuhnya membentuk selubung pelindung yang tak terlihat namun kokoh bagaikan tembok batu raksasa. Angin kencang dan puing-puing batu yang beterbangan berhenti seketika begitu menyentuh batas cahaya itu, jatuh melayang ke tanah seakan tak memiliki kekuatan apa pun. Lin Mo melangkah maju perlahan menembus badai energi gelap itu, sepasang matanya menatap tajam ke arah Lin Tian yang kini berdiri gemetar di atas panggung, dikelilingi oleh pusaran energi yang semakin lama semakin tak dapat dikendalikan.

Lin Tian menatap Lin Mo yang berjalan mendekat dengan wajah yang bercampur antara ketakutan dan kebencian yang membara. Matanya yang merah menyala menatap tajam seakan ingin menelan hidup-hidup pemuda yang berdiri tenang di hadapannya itu. Energi gelap di sekelilingnya terus berdenyut liar, seakan menolak untuk tunduk kepada pemilik tubuh yang memaksanya berpindah secara paksa. Setiap kali Lin Tian berusaha mengerahkan kekuatan itu untuk menyerang, tubuhnya sendiri justru ikut bergetar hebat seakan sedang dihantam dari dalam oleh kekuatan yang menolak diperintah oleh tangan yang penuh dosa.

"Minggir! Jangan mendekatiku!" teriak Lin Tian dengan suara yang serak dan berubah nada karena amarah yang meluap-luap. "Aku adalah pewaris sah Sekte Cahaya! Kekuatan ini adalah milikku! Siapa pun yang berani menghalangi jalanku... akan kuhancurkan menjadi debu tak bersisa!"

Lin Mo berhenti melangkah tak jauh dari tangga panggung. Ia menatap Lin Tian dengan pandangan yang tenang namun tajam dan tak tergoyahkan.

"Kau menyebut dirimu pewaris sah?" ucap Lin Mo pelan namun suaranya terdengar jelas menembus deru angin badai. "Pewaris yang meracuni saudaranya sendiri, mencuri hak milik orang lain, lalu melemparkannya ke jurang maut? Kekuatan yang kau pegang itu bukanlah milikmu. Ia adalah darah dagingku yang kau rampas dengan tangan penuh kejahatan. Maka wajar jika ia menolak tunduk kepadamu. Kekuatan yang lahir dari pengkhianatan tak akan pernah bisa menjadi kekuatan yang sejati."

Kata-kata itu bagaikan paku yang menghantam dada Lin Tian berkali-kali lipat. Ia meledak seketika. Dengan teriakan yang mengerikan, Lin Tian melesat meluncur turun dari panggung sambil mengepalkan kedua tangannya yang diselimuti energi gelap pekat. Ia melancarkan serangan dengan segenap tenaga yang ia miliki, tanpa peduli apa pun yang akan terjadi di sekitarnya. Dalam pikirannya yang telah gelap dan penuh dendam itu, hanya ada satu keinginan — menghancurkan Lin Mo hingga tak ada satu pun sisa yang tersisa.

Lin Mo tidak mundur. Ia tidak melangkah menjauh. Saat kepalan tangan Lin Tian yang memancarkan cahaya gelap itu hampir menyentuh dadanya, Lin Mo akhirnya mengangkat satu telapak tangannya ke depan. Cahaya keemasan yang lembut namun murni dan dahsyat memancar keluar dari telapak tangannya, menyambut hantaman kepalan tangan Lin Tian dengan tenang dan mantap.

Terdengar suara dentuman dahsyat yang mengguncang tanah hingga bergetar hebat. Cahaya keemasan bertemu dengan cahaya gelap di udara seketika. Namun alih-alih saling menolak dan meledak bersama, cahaya keemasan itu justru dengan mudah menembus lapisan energi gelap yang kasar dan memburuk itu. Cahaya keemasan itu menyapu bersih kekuatan gelap bagaikan air bersih yang membasuh debu kotoran. Energi yang dipaksakan dan dicuri itu seketika melemah dan hancur berantakan seketika.

Mata Lin Tian melotot tak percaya. Ia merasakan kekuatan yang melaluinya tiba-tiba tersedot keluar dengan cepat dan tak tertahankan. Cahaya keemasan itu seakan memanggil pulang apa yang menjadi miliknya sejak semula. Inti sari kekuatan darah yang dipindahkan secara paksa dari tubuh Lin Mo ke tubuh Lin Tian kini kembali mengalir keluar dari tubuh Lin Tian, ditarik masuk kembali ke dalam telapak tangan Lin Mo dengan lembut namun tak tertahankan. Lin Tian melengkungkan tubuhnya ke depan sambil memegangi dadanya dengan kedua tangan. Wajahnya yang merah padam seketika berubah menjadi pucat pasi. Tubuhnya yang tadinya bertenaga kini perlahan melemah dan terkulai tak berdaya di hadapan semua orang yang menyaksikan dengan napas tertahan.

"Apa... apa yang terjadi... Kekuatanku... kekuatanku..." Lin Tian bergumam tak percaya sambil menatap kedua tangannya sendiri yang kini tampak lemah dan keriput seketika. Ia merasakan sesuatu yang berharga telah ditarik paksa keluar dari tubuhnya. Sesuatu yang ia curi dan banggakan ternyata baru saja kembali ke pemilik aslinya dengan sendirinya, seakan tak pernah sekalipun mengakui Lin Tian sebagai tuannya.

Lin Mo perlahan merapatkan tangannya. Cahaya keemasan yang baru saja kembali menyatu ke dalam tubuhnya membuatnya merasa semakin kuat dan utuh. Ia menatap Lin Tian yang terhuyung-huyung dan hampir jatuh berlutut di tanah.

"Kekuatan itu kembali karena ia tahu siapa pemiliknya yang sejati," ucap Lin Mo pelan namun tegas. "Kau mencuri milikku dengan cara yang paling kejam. Namun kekuatan sejati tak akan pernah tunduk kepada orang yang hatinya penuh kejahatan dan keserakahan. Hari ini... di hadapan seluruh orang yang hadir di sini... kebenaran akhirnya terungkap dengan sendirinya."

Keheningan mendadak menyelimuti seluruh aula. Semua orang yang hadir menatap pemandangan di hadapan mereka dengan napas tertahan. Tidak ada lagi yang meragukan ucapan Lin Mo. Fakta bahwa kekuatan itu kembali dengan sendirinya ke dalam tubuh Lin Mo adalah bukti yang paling nyata dan tak terbantahkan. Lin Tian yang berdiri gemetar dan lemah tak berdaya itu kini tampak hina dan menyedihkan di mata semua orang. Bahkan Xu Yao yang berdiri mematung di tangga panggung pun tampak pucat dan tak berdaya, seakan kakinya tak mampu lagi menopang tubuhnya.

Tetua Qing perlahan melangkah turun dari panggung mendekati Lin Tian yang terhuyung-huyung. Ia menatap pemuda itu dengan pandangan yang sedih sekaligus tegas.

"Lin Tian... Semua yang dikatakan Lin Mo ternyata benar adanya..." ucap Tetua Qing pelan namun berat. "Kau telah berbuat dosa besar kepada saudaramu sendiri. Kau meracuninya, mencuri kekuatannya, lalu melemparkannya ke jurang maut. Dan bahkan setelah semua itu, kau masih berusaha menutupi kejahatanmu dengan kekerasan dan kepalsuan. Apa yang hendak kau katakan sekarang?"

Lin Tian mengangkat wajahnya perlahan menatap Tetua Qing. Matanya yang tadi penuh kebencian kini tampak kosong dan putus asa. Ia menoleh menatap Xu Yao yang berdiri terpaku di tangga panggung, lalu menatap kembali ke arah Lin Mo yang berdiri tenang namun penuh wibawa di hadapannya. Tiba-tiba Lin Tian tertawa keras. Tawanya terdengar kering dan penuh kepahitan yang luar biasa.

"Benar... Semua yang dikatakannya memang benar..." ucap Lin Tian dengan suara yang parau dan penuh kepahitan. "Aku memang meracuninya. Aku memang mencuri kekuatannya. Aku memang melemparkannya ke jurang maut karena aku tak pernah mampu menandinginya dengan cara yang jujur. Selama ini aku selalu hidup dalam bayang-bayangnya. Selama ini semua orang hanya melihat Lin Mo yang hebat dan berbakat. Tak ada satu pun orang yang melihatku! Tak ada satu pun orang yang menghargaiku! Maka aku mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku dengan cara apa pun yang kubisa!"

Lin Tian menunjuk Lin Mo dengan tangan gemetar.

"Namun aku gagal... Bahkan kekuatan yang kucuri pun menolak tunduk kepadanya... Lin Mo... Katakan padaku... Mengapa?! Mengapa kau bisa memiliki segalanya?! Mengapa dunia ini begitu tidak adil kepadaku?!"

Lin Mo menatap Lin Tian yang tampak hancur lebur di hadapannya. Tidak ada kemenangan yang berlebihan di wajahnya. Tidak pula ada rasa kasihan yang berlebihan. Lin Mo hanya berdiri tegak dan menjawab dengan suara yang tenang namun tegas dan menyentuh hati setiap orang yang mendengarnya.

"Dunia ini tidak pernah tidak adil kepadamu," ucap Lin Mo pelan namun jelas. "Kau yang memilih jalan kelam dengan tanganmu sendiri. Kekuatan sejati tidak lahir dari kejahatan dan pengambilan hak orang lain. Ia lahir dari ketulusan hati, dari keteguhan tekad, dan dari kemauan untuk menempuh jalan yang terang meskipun penuh rintangan. Kau memilih jalan pintas yang kelam. Maka hancur pula kau di ujung jalan itu."

Lin Tian terdiam. Ia menatap tanah di kakinya sendiri dengan pandangan yang kosong dan hancur sepenuhnya. Tak ada satu pun orang yang hadir yang berani membela dirinya. Semua orang kini menatapnya dengan pandangan yang penuh kekecewaan dan kemarahan. Kejahatannya telah terbukti dengan sendirinya di hadapan mata seluruh sekte.

Namun tiba-tiba, di tengah keheningan yang berat itu, Xu Yao yang sedari tadi diam tiba-tiba melesat bergerak dengan cepat ke arah Lin Mo. Sebuah pisau kecil berkilau tajam muncul di tangannya, dan dengan wajah yang penuh keputusasaan sekaligus kebencian, ia menghantamkan pisau itu ke arah dada Lin Mo sambil berteriak dengan suara melengking penuh keputusasaan.

"Jika bukan karena kau... semuanya tidak akan berakhir seperti ini! Matilah kau! Matilah kau bersama kami!"

Seluruh orang yang hadir berseru kaget. Tetua Qing berusaha melangkah maju namun terlambat. Pisau tajam itu sudah berada tepat di depan dada Lin Mo. Namun Lin Mo sama sekali tidak terkejut. Ia seakan telah mengetahui gerakan itu sejak jauh sebelumnya. Dengan tenang dan perlahan, Lin Mo mengangkat tangan kirinya dan menangkap pergelangan tangan Xu Yao yang memegang pisau itu di udara. Cahaya keemasan samar memancar dari telapak tangannya, dan seketika itu juga, pisau tajam di tangan Xu Yao bergetar hebat lalu patah menjadi dua bagian jatuh ke tanah.

Lin Mo menatap Xu Yao yang gemetar hebat di hadapannya. Tatapan itu begitu tenang namun begitu dalam hingga membuat Xu Yao tak mampu menahan pandangan itu dan akhirnya menunduk sambil menangis tersedu-sedu karena takut dan putus asa.

"Xu Yao... Kau pernah berjanji setia kepadaku..." ucap Lin Mo pelan suaranya terdengar lemah namun penuh kepahitan yang tak terlukiskan. "Namun kau memilih mengkhianatiku demi kekuatan dan kekuasaan yang semu. Dan saat semua itu hilang... kau justru berusaha merampas nyawaku juga. Katakanlah... Apakah hatimu memang sedingin itu sejak awal?"

Xu Yao tak mampu menjawab. Ia hanya mampu menangis sambil berlutut di tanah dengan tubuh yang gemetar hebat. Di hadapan pemuda yang pernah ia khianati dan coba bunuh itu, ia merasa begitu kecil, begitu hina, dan tak berharga sedikit pun.

Lin Mo melepaskan pergelangan tangan Xu Yao perlahan. Ia melangkah mundur menjauh dari wanita itu, seakan tak sanggup lagi berdiri terlalu dekat dengan seseorang yang hatinya telah begitu jauh berbeda dari yang ia kenal dulu. Lin Mo menatap Tetua Qing dengan pandangan yang jernih dan tegas.

"Tetua Qing... Kejahatan mereka telah terbukti..." ucap Lin Mo pelan namun tegas. "Serahkanlah mereka kepada pengadilan sekte sesuai dengan aturan yang berlaku. Biarlah mereka menerima hukuman yang pantas atas perbuatan mereka sendiri. Namun untuk saat ini... aku mohon izin untuk pamit sementara waktu. Aku butuh waktu untuk menenangkan diri dan memahami kekuatan yang kini mengalir di dalam tubuhku."

Tetua Qing mengangguk perlahan dengan pandangan yang penuh hormat sekaligus rasa iba.

"Baiklah... Segala permintaanmu akan kami penuhi. Mereka akan kami tahan sementara waktu untuk diadili sesuai aturan sekte. Dan kau... Lin Mo... Kembalilah saat kau telah siap. Sekte Cahaya masih membutuhkanmu. Karena kini semua orang telah paham... bahwa kaulah pewaris yang sesungguhnya."

Lin Mo mengangguk perlahan. Ia melirik sekali lagi ke arah Lin Tian yang masih berdiri terpaku penuh keputusasaan, dan ke arah Xu Yao yang masih berlutut menangis tanpa suara. Lalu tanpa menoleh sekali pun, Lin Mo berbalik dan melangkah keluar dari aula utama yang luas itu. Cahaya keemasan samar perlahan meredup dan menyembunyi kembali di dalam tubuhnya. Namun wibawa yang ditunjukkannya hari ini akan terus terukir di hati setiap orang yang menyaksikannya seumur hidup.

Namun di saat Lin Mo melangkah keluar meninggalkan aula, di dalam hatinya muncul satu perasaan yang tak terduga. Ia merasa kekuatan yang baru saja pulih itu hanyalah permulaan. Di luar sana, di tempat yang jauh lebih tinggi dan jauh lebih berbahaya, seakan ada sesuatu yang sedang menantinya. Sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar urusan di dalam sekte ini. Dan petualangan sesungguhnya yang melibatkan darah Naga Abadi yang mengalir di nadinya... baru saja benar-benar dimulai.

1
Predi Siswanto
katanya mau memahami kekuatan yg baru di dpat kan kok malah prgi lagi ...AQ jadi curiga jangan jangan kepala Ator nya lagi eror🤣🤣
Arman: maaf jika ada cerita/alur yg kurang memuaskan tapi ini cerita yg bertahap kakak baru baca awal bab jadi wajar jika tokoh utama Masi lemah
total 1 replies
Predi Siswanto
tu kan makin letoy
Predi Siswanto
tambah letoy
Predi Siswanto
tu kan mulai letoy
Predi Siswanto
Alang kah hebat nya oi..jangan jangan begitu keluar langsung keok keok🤣🤣🤣
Alia Chans
ceritanya keren thor/Smile/
Arman: terima kasih pujian mu semangat ku💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!