Dipa dan Gilang membuat resah tetua di keluarganya, karena sampai sekarang masih berstatus jomblo. Mereka pun berinisiatif untuk mencarikan jodoh yang tepat untuk keduanya.
Ternyata perjalanan mencarikan jodoh untuk kedua pria itu tidak semudah membalik telapak tangan.Butuh trik khusus dan rencana matang agar keduanya bisa mendapatkan jodoh sesuai keinginan masing-masing.
Seperti apakah jodoh yang akan menjadi pendamping hidup mereka? Sanggupkah calon jodoh mereka menghadapi tingkah keduanya yang ajaib dan terkadang membuat malu sampai ke ubun-ubun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kencan 24 Jam
“Habis tour ini kita langsung nikah aja, gimana?”
“Apa?” refleks Keira melihat pada Dipa.
“Kamu ngga budeg, kan? Kita nikah.”
“Otak kamu ngga korslet kan? Kita baru pertama ketemu loh, main ngajak nikah aja. Situ waras?”
“Waras dong, kalau ngga waras ngga mungkin ngelamar kam..”
Ucapan Dipa langsung terhenti ketika Keira memasukkan roti ke dalam mulut pria itu. Kepala wanita itu menggeleng pelan. Bisa-bisanya Dipa melamarnya di pertemuan pertama mereka.
Keira segera memakai kembali earphonenya dan memutar lagu kesukaannya. Sebelah tangannya ditempelkan di telinga kanannya, berjaga-jaga jangan sampai Dipa mengganti earphone-nya lagi. Melihat Keira yang memejamkan mata, Dipa tidak mengganggu lagi. Dia masih mempunyai banyak waktu di Bali nanti.
Setalah hampir dua jam mengudara, akhirnya pesawat yang mereka tumpangi mendarat di bandara Ngurah Rai. Udara panas langsung terasa ketika Dipa keluar dari pesawat. Keira kembali menghitung jumlah anggota turnya sesampainya di dekat pintu kedatangan. Setelah tidak ada yang tertinggal, dia segera mengajak anggota turnya mengambil barang bawaan.
Sebuah bus sudah menunggu mereka. Bus tersebut akan mengantar mereka menuju penginapan. Untuk acara tur selama tiga hari di Bali, mereka akan menginap di hotel yang ada di daerah Kuta. Lagi-lagi Dipa mengambil tempat di samping Keira. Sementara Poonam Dhillon duduk tak jauh darinya.
“Ssstt.. ssstt..”
Kepala Dipa menoleh ketika mendengar suara di dekatnya. Poonam melihatnya sambil mengedipkan sebelah matanya. Dipa menelan ludahnya kelat. Saking senangnya menggoda Keira, dia sampai lupa kalau sudah berjanji akan menjadi teman kencan wanita itu selama sehari.
“Siapa namamu?” tanya Poonam.
“Dipa.”
“Oke Dipa, jangan lupa janjimu.”
Poonam memajukan bibirnya yang dipoles warna merah membara, membuat Dipa bergidik. Keira yang melihat itu sebisa mungkin menahan tawanya yang hendak meledak. Poonam selain baik, banyak bicara dan sering tersenyum, dia juga sangat ramah alias rajin menjamah. Dari Kajol, temannya yang juga ikut perjalanan ini, lelaki seperti Dipa adalah yang disukainya.
Bus yang mereka tumpangi sudah sampai di hotel tempat mereka menginap. Keira segera menuju meja resepsionis untuk mengambil kunci. Dia juga akan memesankan kamar untuk Dipa.
“Kamu di kamar berapa?” tanya Dipa.
“Ngga usah kepo.”
“Kalau kamu ngga mau bilang, aku bakal bikin malu kamu di sini.”
“Jangan macam-macam.”
“Makanya, kamu di kamar berapa?”
“Kamar 5020.”
Mau tidak mau Keira menyebutkan nomor kamarnya. Jangan sampai Dipa mempermalukan dirinya. Pria itu tipikal orang yang tidak akan malu melakukan apa pun.
“Kalau begitu saya mau kamar 5021.”
“Maaf, sudah ada yang mengisi,” ujar sang resepsionis.
“Kamar 5022.”
“Sudah ada yang mengisi juga.”
“Kamar 2023, 2024.”
“2023 kosong. Apa bapak mau yang itu?”
“Oke.”
Setelah negosiasi mendapatkan kamar selesai, semuanya segera diantar menuju kamar masing-masing. Anggota tur Keira menempati kamar di lantai 5 dan 6. Ketika lift berhenti di lantai 5, Keira, Dipa, Poonam, Kajol dan empat orang lainnya ikut keluar. Poonam tentu saja senang saat tahu Dipa berada satu lantai dengannya. Bahkan kamar Dipa berada di samping kamarnya.
“Sepertinya kita memang berjodoh,” ujar Poonam sambil tersenyum.
“Dia sangat menginginkan kamar di lantai ini. Sepertinya dia tahu kalau kamar ibu di lantai ini,” sambung Keira sambil tersenyum.
Dipa memicingkan matanya. Dia melihat curiga pada Keira, pasalnya wanita itu berbicara dengan Poonam menggunakan bahasa Hindi. Pria itu terjengit ketika tiba-tiba Poonam memeluk lengannya.
“Apa menurutmu kami ini pasangan serasi?” tanya Poonam pada Keira menggunakan bahasa Inggris.
“Tentu saja.”
Mata Dipa melotot. Keira tersenyum senang berhasil mengerjai Dipa. Wanita itu segera masuk ke dalam kamarnya. Dipa pun bermaksud masuk ke dalam kamar, namun Poonam menahannya.
“Nanti kita akan keluar makan malam. Ingat, kamu harus kencan denganku selama 24 jam. Tapi jam tidur tidak dihitung, oke?”
“Maksudnya?” untuk sesaat Dipa masih belum mengerti perkataan Poonam.
“Jadi, waktu 24 jam itu dihitung hanya waktu kencan kita saja. Misalnya malam ini kamu menghabiskan waktu dua jam denganku, maka kamu masih berhutang 22 jam lagi kencan denganku. Oke baby..”
Poonam mengusak puncak kepala Dipa, lalu membela pipinya. Setelah melakukan itu, dia segera masuk ke dalam kamar. Dipa masih bergeming di tempatnya. Kemudian pria itu mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi. Kalau waktu 24 seperti yang disebutkan Poonam, itu artinya butuh beberapa hari untuk menyelesaikan waktu kencannya dengan wanita itu.
“Haiisshh.. sial.. bisa-bisanya gue dikadalin sama tuh emak-emak,” sungut Dipa.
Pria itu menempelkan keycard ke panel yang ada di pintu, kemudian membukanya. Dia menaruh asal kopernya lalu membaringkan tubuhnya di kasur. Kembali terdengar teriakannya setiap dia mengingat ucapan Poonam.
“Apes.. apes.. sial beneran gue.”
🌵🌵🌵
Pukul tujuh malam, semua anggota rombongan termasuk Keira dan Dipa keluar dari kamar hotel masing-masing. mereka berkumpul di lobi. Untuk kegiatan pertama di Bali, mereka akan makan malam di luar, setelah itu dilanjutkan dengan berjalan-jalan di sekita Kuta. Salah satunya adalah mengunjungi tugu peringatan bom Bali.
Keira sudah memesan tempat makan yang letaknya tidak terlalu jauh dari hotel. Mereka memilih berjalan kaki ke sana. Poonam langsung memeluk lengan Dipa. Wanita itu berjalan sambil bergelayut manja pada Dipa. Pria itu menarik kaos yang dikenakan Keira, meminta wanita itu menemaninya.
“Kamu jangan jauh-jauh,” ujar Dipa.
“Aku ngga mau ganggu yang lagi kencan,” jawab Keira sambil tersenyum geli.
“Aku terpaksa janji sama dia karena kamu, demi kamu.”
“Masa?”
Poonam yang tidak mengerti pembicaraan antara Keira dan Dipa tidak mempedulikan keduanya. Hatinya senang bisa bertemu dengan pria muda yang menarik perhatiannya.
“Kei.. kamu harus nolong aku. Masa dia minta waktu kencan 24 jam. Hitungannya jam bukan hari loh.”
“Resiko tanggung sendiri, bos. Hahaha..”
“Kei.. apa kamu mengenalnya?” tanya Poonam pada Keira. Dia bisa melihat bagaimana akrabnya pemandunya itu dengan Dipa.
“Aku baru pertama bertemu dengannya. Tapi keluarga kami sudah saling mengenal,” jawab Keira jujur.
“Dia sepertinya menyukaimu.”
“Itu tidak benar. Tentu saja dia menyukaimu. Bukankah kamu yang memeluknya erat?”
“Dia mau berkencan denganku karena ingin duduk bersamamu. Sepertinya dia menyukaimu. Kamu beruntung sekali.”
Sebuah senyuman tercetak di wajah Keira. Poonam ternyata cukup jeli melihat gelagat Dipa padanya.
“Apa kamu menyukainya?” tanya Poonam lagi.
“Aku baru bertemu dengannya, bagaimana mungkin aku langsung menyukainya?”
“Dia pria yang baik. Sepertinya kamu cocok dengannya. Tapi kamu tidak keberatan kalau dia menjadi teman kencanku selama 24 jam?”
“Tentu saja,” jawab Keira sambil tersenyum.
🌵🌵🌵
Selamat ya Dipa🤣
tetap semangat dan terus berkarya 😘