Terbunuh tepat saat ingin mengubah hidupnya, seorang pemuda reinkarnasi ke Dunia "Astral" dunia raksasa berisi 10 benua. Berbekal kekuatan, ingatan, dan wujud Uchiha Sasuke, ia diberi satu misi suci oleh Dewa Agung: memburu 'Eternity', satu-satunya pemilik 'System' yang mengancam tatanan dunia.
Namun, perburuannya berubah rumit saat menembus lantai 100 sebuah dungeon. Bukannya monster, ia justru bertemu Saviera, seorang Demigod, dan Elaina, anak malaikat kecil yang tiba-tiba memanggilnya "Papa".
Di antara misi memburu sasaran misterius dan ikatan keluarga baru yang mengisi kehampaan jiwanya, jalan mana yang akan ia pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shodiq Daryanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 : Mata yang Menyala
Detik-detik itu terasa memanjang tanpa batas. Sasuke tetap diam sepenuhnya, setiap otot dalam tubuhnya siaga namun terkendali, menganalisis situasi dengan kepala dingin alih-alih panik.
**Jika dia benar-benar melihat kami\, dia sudah akan bergerak\,**Sasuke berpikir\, matanya tetap terpaku hati-hati dari sudut reruntuhan\, tidak berani mengintip lebih jauh dari yang diperlukan. *Diam adalah pilihan terbaik sekarang.*
Dua titik merah itu tetap tertuju ke arah mereka selama beberapa detik yang terasa seperti waktu yang tak berujung. Namun kemudian, tanpa suara, tanpa tergesa, kepala berkerudung itu perlahan berputar kembali ke posisi semula, kembali menunduk diam seperti sebelumnya—seolah apa pun yang tadi menarik perhatiannya sudah tidak lagi dianggap penting.
Sasuke menghitung dalam hati hingga tiga puluh sebelum akhirnya mengizinkan dirinya sendiri untuk bernapas lebih lega, meski tetap tidak sepenuhnya rileks.
"Dia tidak melihat kita," Sasuke berbisik, suaranya nyaris tak terdengar. "Atau setidaknya, tidak menganggap kita cukup penting untuk direspons."
Saviera masih mencengkeram lengannya erat, jemarinya sedikit gemetar—bukan dari ketakutan akan bahaya fisik, melainkan dari intensitas momen yang baru saja mereka lewati. "Kita harus pergi sekarang," bisiknya. "Kita sudah melihat cukup."
Sasuke mengangguk setuju, meski matanya sekali lagi melirik ke arah sosok diam di tengah aula sebelum akhirnya mereka mulai mundur perlahan, langkah demi langkah, menjauhi celah tembok itu dengan gerakan sehalus mungkin.
Setiap langkah terasa seperti menahan napas—Sasuke memastikan berat tubuhnya terdistribusi merata di atas puing-puing agar tidak ada batu kecil pun yang terlepas dan menimbulkan suara, sementara Saviera mengikutinya persis di belakang, matanya sesekali melirik ke belakang bahu untuk memastikan tidak ada yang mengikuti. Mereka baru benar-benar melepaskan ketegangan di bahu masing-masing setelah melewati tiga blok bangunan kosong, cukup jauh sehingga tembok istana sudah tidak terlihat lagi di antara reruntuhan rumah-rumah di sekitar mereka.
---
Mereka tidak berbicara sepatah kata pun hingga cukup jauh dari tembok istana, berlindung di balik deretan rumah kosong di distrik luar sebelum akhirnya berhenti untuk mengatur napas.
"Kau baik-baik saja?" Sasuke bertanya, memperhatikan wajah Saviera yang masih sedikit pucat.
"Ya," Saviera menjawab, meski suaranya belum sepenuhnya stabil. "Hanya... aku belum pernah merasakan sesuatu seperti itu. Bahkan dari jarak sejauh itu, rasanya seperti berdiri di depan sesuatu yang jauh lebih besar dari yang bisa kupahami."
"Aku merasakannya juga," Sasuke mengakui, meski nadanya tetap tenang dan terkendali. "Tapi yang lebih mengganggu pikiranku adalah keheningannya. Dia tidak mengeluarkan tekanan apa pun secara aktif—apa yang kita rasakan tadi mungkin hanya kebocoran kecil dari kekuatan yang jauh lebih besar yang sengaja ia tahan."
Saviera menatapnya, sedikit ngeri dengan implikasi kata-kata itu. "Kau pikir dia bisa jauh lebih kuat dari yang kita rasakan barusan?"
"Aku tidak tahu pasti," Sasuke menjawab jujur. "Tapi aku lebih suka berasumsi begitu, daripada meremehkannya dan menyesal kemudian."
Saviera duduk di atas sebuah batu reruntuhan, masih berusaha menenangkan detak jantungnya sendiri. "Waktu kau bilang ingin memeriksa istana, aku membayangkan reruntuhan biasa. Bangunan kosong, mungkin beberapa jejak kehancuran. Aku tidak pernah membayangkan akan benar-benar melihat... itu."
"Aku juga tidak sepenuhnya siap," Sasuke mengakui, duduk di sampingnya, menatap ke arah menara-menara istana yang masih terlihat samar dari kejauhan. "Meski aku sudah pernah melihat citra yang menunjukkan seberapa besar kekuatan yang ada di dunia ini, melihatnya secara langsung, sedekat itu, tetap terasa berbeda."
"Citra?" Saviera bertanya, mengingat kembali percakapan mereka yang sempat menyinggung soal ini di malam-malam sebelumnya.
"Cerita untuk lain waktu," Sasuke menjawab, tidak sepenuhnya siap membuka topik tentang klon Eternity dan segala yang menyertainya. "Yang penting sekarang, kita sudah tahu ancamannya nyata, dan levelnya jauh di luar jangkauan kita untuk saat ini."
Saviera mengangguk, tidak memaksa lebih jauh, meski rasa penasaran masih tersisa di matanya. "Jadi, apa selanjutnya?"
"Kita cari informasi lebih banyak," Sasuke menjawab. "Tanpa mendekat lagi, untuk sekarang."
---
Dalam perjalanan kembali ke penginapan, mereka melewati sebuah bangunan kecil yang sebelumnya luput dari perhatian mereka—sebuah kuil kecil di sudut distrik, pintunya sedikit terbuka, berbeda dari bangunan-bangunan lain di sekitarnya yang tertutup rapat.
"Tunggu," Sasuke berkata, berhenti sejenak. "Ada seseorang di dalam."
Mereka mendekat dengan hati-hati, menemukan seorang pendeta tua duduk bersila di depan altar sederhana, matanya terpejam dalam doa yang sunyi. Ia tidak terkejut sedikit pun ketika Sasuke dan Saviera memasuki kuil itu, seolah sudah menduga kedatangan mereka.
"Kalian berhasil kembali," pendeta tua itu berkata tanpa membuka matanya, suaranya tenang meski serak dimakan usia. "Tidak banyak yang bisa mengatakan hal yang sama akhir-akhir ini."
"Anda melihat kami mendekati istana?" Sasuke bertanya, sedikit waspada.
Pendeta itu akhirnya membuka matanya, menatap mereka berdua dengan pandangan yang jauh lebih tajam dari yang seharusnya dimiliki seseorang seusianya. "Aku merasakan kalian, bukan melihat. Aku sudah lama tinggal di kuil ini, mengabdikan diri mempelajari energi-energi yang mengalir di dunia ini. Dan sosok yang bersemayam di istana itu... energinya sangat berbeda dari apa pun yang pernah kurasakan sepanjang hidupku."
"Anda tahu apa itu?" Saviera bertanya, duduk berlutut di dekat pendeta itu.
"Tidak sepenuhnya," pendeta itu mengakui, menggelengkan kepala pelan. "Tapi aku tahu satu hal—energi itu bukan berasal dari dunia ini. Bukan chakra, bukan mana, bukan kekuatan elemental mana pun yang kukenal dari kitab-kitab kuno yang kupelajari selama puluhan tahun. Sesuatu yang benar-benar asing."
Sasuke dan Saviera bertukar pandang, sesuatu yang tidak terucap mengalir di antara mereka.
"Aku juga merasakan sesuatu yang lain," pendeta itu melanjutkan, suaranya merendah, "meski aku tidak yakin bagaimana menjelaskannya dengan tepat. Sosok itu... tidak terasa jahat, jika itu masuk akal bagi kalian. Tidak ada kebencian, tidak ada haus darah. Hanya... kekosongan yang menunggu."
"Menunggu apa?" Sasuke bertanya.
Pendeta tua itu menggelengkan kepala lagi, kali ini dengan raut wajah yang menyiratkan ia sendiri tidak yakin dengan jawabannya. "Itu, Tuan Petualang, adalah pertanyaan yang bahkan para dewa mungkin tidak bisa jawab dengan pasti."
"Berapa lama Anda sudah merasakan kehadirannya?" Saviera bertanya.
"Sejak malam kejadian itu," pendeta tua itu menjawab, menutup matanya sejenak seolah mengingat kembali momen itu. "Aku sedang bermeditasi di sini, seperti biasa, ketika tiba-tiba seluruh energi di kota ini terasa berubah—seperti seseorang menuangkan setetes tinta ke dalam air jernih, dan warnanya menyebar perlahan ke seluruh penjuru. Aku merasakan ratusan kesadaran menghilang dalam hitungan detik, namun anehnya, aku tidak merasakan kematian di antaranya. Hanya... ketiadaan."
"Ketiadaan?" Sasuke mengulang, mengerutkan dahi.
"Sulit dijelaskan dengan kata-kata," pendeta itu melanjutkan. "Bayangkan sebuah lilin yang tidak dipadamkan, namun dipindahkan ke ruangan lain yang tidak bisa kau lihat. Nyalanya tidak hilang, hanya tidak lagi berada dalam jangkauan pandanganmu. Seperti itulah yang kurasakan dari ratusan orang yang lenyap malam itu."
Sasuke dan Saviera bertukar pandang, mengingat kata-kata sosok berjubah hitam yang samar-samar mereka lihat—meski pendeta itu tentu tidak tahu bahwa mereka sempat melihatnya langsung.
"Apakah menurut Anda mereka semua bisa dikembalikan?" Saviera bertanya, suaranya penuh harap.
"Aku tidak tahu," pendeta itu menjawab jujur. "Tapi jika lilin itu memang belum padam, seperti yang kurasakan, maka selalu ada kemungkinan untuk membawanya kembali ke ruangan semula. Pertanyaannya adalah, apakah entitas yang melakukan ini bersedia melakukannya, atau bahkan mampu, ketika saatnya tiba."
Ia membuka matanya sepenuhnya sekarang, menatap Sasuke dengan tatapan yang tiba-tiba terasa jauh lebih tajam dari sebelumnya.
"Kau punya niat untuk kembali ke sana, bukan?" pendeta itu bertanya, bukan pertanyaan biasa—lebih seperti pernyataan yang sudah ia duga sejak awal.
Sasuke tidak menjawab segera, sedikit terkejut dengan ketajaman intuisi pendeta tua itu.
"Aku bisa merasakannya darimu," pendeta itu melanjutkan, senyum tipis dan lelah muncul di wajahnya yang keriput. "Energimu berbeda dari kebanyakan petualang yang pernah kutemui. Kau tidak datang ke sini murni karena ketakutan atau keserakahan akan hadiah. Ada sesuatu yang mendorongmu untuk memahami, bukan sekadar menghindar."
"Apakah itu keputusan yang bodoh?" Sasuke bertanya, sedikit penasaran dengan pendapat pendeta itu.
"Mungkin," pendeta itu menjawab jujur, tanpa berusaha menghaluskannya. "Atau mungkin itu satu-satunya cara dunia ini akan mendapatkan jawaban yang sebenarnya. Aku tidak akan melarangmu, Tuan Petualang. Aku hanya akan berdoa agar keberanianmu tidak berubah menjadi penyesalan."
---
Mereka kembali ke penginapan Griffin Compass tepat sebelum tengah hari seperti yang dijanjikan, disambut Elaina yang berlari menyongsong mereka begitu pintu terbuka, memeluk kaki mereka berdua bergantian dengan penuh kelegaan.
"Papa! Mama! Elaina kangen!" serunya riang, meski hanya beberapa jam berlalu sejak mereka berpisah. "Elaina tadi bantu Paman Aldous masak sup! Mau coba?"
"Tentu saja," Saviera menjawab, mengangkat Elaina dan memeluknya erat, menghirup dalam-dalam aroma rambutnya seolah untuk meyakinkan diri sendiri bahwa dunia normal masih ada, terlepas dari apa yang baru saja mereka saksikan.
Aldous, yang berdiri tidak jauh dari sana, menghela napas lega melihat mereka kembali dengan selamat, tangannya masih berlumur tepung dari kegiatan memasak bersama Elaina pagi itu. "Syukurlah kalian baik-baik saja. Apa yang kalian temukan?"
Sasuke berlutut untuk menyambut pelukan Elaina, mengangkatnya sedikit sebelum menjawab pertanyaan Aldous dengan hati-hati, memilah informasi mana yang pantas dibagikan di depan seorang anak kecil.
"Cukup untuk tahu bahwa ini bukan sesuatu yang bisa kami tangani sendirian, untuk sekarang," Sasuke menjawab jujur. "Kami perlu waktu, dan mungkin lebih banyak informasi, sebelum bisa berbuat lebih jauh lagi."
Aldous mengangguk pelan, tidak memaksa untuk tahu lebih detail, meski matanya menyiratkan ia mengerti ada lebih banyak cerita yang belum diceritakan. "Kalau begitu, istirahatlah dulu. Kalian sudah melakukan lebih dari cukup untuk kota kecil yang nyaris terlupakan ini. Sup buatan Elaina sudah menunggu—meski kuakui, dia menambahkan cukup banyak garam tanpa sepengetahuanku."
"Elaina suka asin!" Elaina membela diri, membuat Saviera dan bahkan Sasuke tanpa sadar tertawa kecil, kehangatan sederhana itu terasa seperti obat penawar setelah pagi yang begitu berat.
Malam itu, sambil menyantap makan malam sederhana bersama—sup buatan Elaina yang memang agak terlalu asin, namun tidak ada satu pun dari mereka yang mengeluh—Sasuke memikirkan kata-kata pendeta tua itu berulang-ulang dalam benaknya: “kekosongan yang menunggu”, dan pertanyaan sang pendeta yang seolah membaca isi hatinya sendiri: “kau punya niat untuk kembali ke sana, bukan?”
Ia menatap Elaina yang tertawa riang menceritakan pengalaman memasaknya pada Saviera, dan Saviera yang mendengarkan dengan penuh kasih sayang, cahaya lilin di meja makan menerangi wajah mereka berdua dengan hangat.
“Aku harus Kembali” Sasuke memutuskan dalam hati, meski ia tahu keputusan itu akan sulit ia jelaskan pada mereka berdua. “Tapi tidak dengan cara yang akan membahayakan mereka.”
Bertanya-tanya, entah berapa lama lagi sebelum dunia ini mengetahui apa yang sebenarnya ditunggu oleh sosok itu, ia menyelesaikan makan malamnya dalam diam, sudah merencanakan langkah selanjutnya yang akan ia ambil sendirian, jauh setelah tengah malam nanti.
---
*Bersambung ke Bab 17: Percakapan di Tengah Malam*