Willi, pria dengan pemikiran mendalam jatuh cinta dengan teman sekelasnya. Namun, semua tak akan dapat terjadi. Perempuan itu, adik dari pria jahat yang merenggut kebahagiaan tenteku.
Wanita yang terpaksa menikah dan sengsara, Alisya. Adik angkat dari ibunya Willi. Willi dan Alisya memiliki jarak umur yang tak begitu jauh. Cinta, bisa saja hadir diantara keduanya. Namun, pria jahat itu tak akan membiarkannya.
"Semua wanita adalah milikku." Damar, sang pria kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Modulo12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gak Akan Membiarkan Mereka Lolos
Keesokan harinya di rumah Damar, suasana terlihat tenang di luar, namun ada ketegangan yang menggantung di dalam dinding-dinding rumahnya. Matahari mulai mengintip dari balik jendela, memancarkan cahaya hangat yang seolah kontras dengan dinginnya hati yang menghuni rumah itu.
Damar bangun lebih awal dari biasanya. Pikirannya masih berputar soal kejadian semalam. Ia masih kesal dan frustrasi karena Alisya dan dokter Reza berhasil melarikan diri. "Bagaimana bisa aku lengah seperti itu?" gumamnya dengan geram. Ia berjalan menuju dapur, berharap secangkir kopi bisa meredakan amarah yang masih membara di dadanya. Setiap langkah kakinya terasa berat, seolah rasa kecewa menyusup hingga ke tubuhnya.
Sambil menyeruput kopinya, Damar memandang keluar jendela, menatap kosong ke arah jalan. "Aku harus menemukan mereka lagi. Aku nggak akan membiarkan mereka lolos begitu saja," katanya dalam hati. Dia tahu bahwa Willi pasti ada di balik ini, dan itu membuatnya semakin muak.
Sementara itu, di rumah yang berbeda, Intan sedang bersiap-siap menghadapi hari. Matahari baru saja naik tinggi, menerangi kamarnya yang luas dengan sinar keemasan. Intan bangun dengan semangat seperti biasanya. Sejak kecil, ia terbiasa menjalani rutinitas pagi dengan tenang dan teratur. Rumah mereka yang mewah, dilengkapi dengan berbagai fasilitas dan pelayanan dari para pelayan, membuat setiap pagi di rumah Intan selalu terasa seperti hidup dalam dunia yang sempurna.
Intan melangkah ke kamar mandi yang besar, lantainya berlapis marmer dingin, dengan shower yang mengeluarkan aliran air hangat sempurna. Ia menikmati setiap detik saat mandi, mencoba menenangkan pikirannya dari berbagai tugas sekolah dan masalah di sekelilingnya. Setelah selesai, ia mengenakan pakaian rapi yang disiapkan pelayan. Rambutnya yang panjang ia ikat dengan gaya sederhana tapi tetap elegan.
Di ruang makan, sarapan sudah disajikan oleh para pelayan. Kakaknya, Damar, belum terlihat. Intan duduk dan memulai sarapannya sendirian, menikmati roti panggang dan jus segar. Sambil makan, pikirannya melayang ke Willi. Entah kenapa, akhir-akhir ini Willi tampak lebih sering melamun dan tidak fokus di sekolah. Ia sempat berpikir untuk menanyakannya, tapi mengurungkan niat karena mungkin Willi hanya sedang lelah atau sibuk dengan urusan keluarganya.
Setelah sarapan selesai, Intan berdiri di depan jendela ruang makan, memandang keluar ke taman rumah mereka yang luas. "Aku penasaran apa yang terjadi dengan Willi belakangan ini. Dia terlihat nggak seperti biasanya," gumamnya pelan.
Namun, sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, ponselnya berdering. Itu dari Exa, asisten kakaknya yang selalu mengatur segala urusan bisnis Damar. "Halo, Kak Exa," sapa Intan.
"Intan, aku butuh bicara dengan Damar. Apakah dia sudah bangun?"
"Sepertinya sudah. Coba aku cek dulu, ya."
Intan berjalan menuju kamar kakaknya, mengetuk pintu beberapa kali. "Kak, Exa telepon. Dia mau bicara."
Damar yang sedang duduk di sofa dengan tatapan kosong segera tersadar dari lamunannya. Ia meletakkan cangkir kopi di meja dan berdiri, menghampiri pintu. "Aku akan bicara nanti. Bilang ke Exa untuk menunggu sebentar."
"Baik, Kak," jawab Intan, lalu kembali ke telepon. "Kak Damar akan menelepon nanti."
Setelah percakapan singkat itu, Intan kembali ke kamarnya. Pikirannya masih disibukkan oleh berbagai hal, termasuk tentang Willi dan apa yang terjadi pada Damar belakangan ini. Ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang ia rasakan tetapi belum bisa dijelaskan. Mungkin waktunya untuk mencari tahu lebih dalam, terutama tentang Willi, yang entah kenapa, makin sering berada dalam pikirannya.