Di saat suasana yang kurang baik akibat kena PHK, seorang gadis bernama Alena malah melihat orang yang hendak bunuh diri.
Namun, bukannya berhasil menyelamatkan malah Alena terjun bebas dari atas gedung tersebut. Alena pasrah saat merasakan dirinya yang sudah tidak berdaya, namun ternyata Alena malah masuk ke dalam sebuah Novel yang sangat dia sukai.
Meski dia tidak suka akhir dari novel itu, tapi dia sangat menyukai sosok antagonis yang berakhir mengenaskan itu. Yah mungkin karena namanya dan nama antagonis itu sama.
Tunggu! Alena kini tersadar dalam tubuh antagonis? Bagaimana bisa? Sedangkan akhir mengenaskan kini berada di hadapannya.
Bagiamana Alena bisa lolos dari maut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Kawah gunung nampak meletup-letup dengan magma yang sangat panas, Alena tak dapat lagi berfikir jernih saat darah mulai membasahi daerah gunung itu.
Ingatan Alena melayang pada saat beberapa hari lalu, dirinya bertemu dengan Anna salah satu pelayan yang dia bawa dari keluarga Daisy.
"Anna, apa kau tahu kenapa para penyihir sangat ketakutan pada naga?" Alena saat itu baru bangun tidur.
"Karena para penyihir nyatanya adalah bagian dari para naga, hanya saja beberapa penyihir menggunakan sihir hitam dan menjadikan tubuh mereka sendiri sebagai tumpuan kekuatan baru yang datang." Jawab Anna, Anna sendiri adalah salah satu penyihir dari menara sihir yang di tugaskan keluarga Daisy untuk melindungi Alena.
"Apa kau tahu siapa pemimpin menara sihir?" Tanya lagi Alena, dia sama sekali tidak tahu siapa pemimpin menara sihir. Selain itu, dari novel yang di tulis Mattias sosok tersebut tak pernah di ceritakan.
"Beliau adalah seseorang yang luar biasa, anda juga mengenal beliau dengan baik." Alena tertegun dan menatap Anna dengan perasaan bimbang.
"Siapa dia Anna?" Tanya Alena semakin penasaran, Anna terkekeh dan menggelengkan kepalanya.
"Lebih baik, anda bertemu langsung dengan beliau." Alena mengangguk, pasti sangat sulit bagi Anna menceritakan sosok pemimpinnya sendiri.
"Aku ingin sekali bertemu dengan pemimpin menara sihir, aku berharap dia dapat melindungi tanah Altair." Ucap Alena.
.
.
.
"Kakak?" Alena tertegun melihat Elektra dengan wajahnya yang angkuh, tongkat besar bercahaya keemasan.
DING!
Suara dentuman keras terdengar saat seekor monster hendak menyerang Alena, monster itu tak dapat menembus pembatas yang di buat oleh Mattias.
"Salam kepada pemimpin menara sihir." Semua penyihir menunduk tak kala Elektra datang, Alena merasa pusing dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Dia?" Alena menghela nafas berat, sebuah panah yang ringan sudah di siapkan oleh Mattias untuk di gunakan oleh Alena.
"Adikku sayang!" Teriak Elektra hendak memeluk Alena yang masih syok, Alena menghindar dari serangan sang kakak yang suka pelak-peluk itu.
Bugh!
Elektra terjatuh di atas rumput, namun dia cepat berdiri karena sekarang dia adalah pemimpin para penyihir.
"Aku butuh penjelasan mu kakak!" Alena membuang muka seraya mulai bersiaga, jarak dua naga itu masih jauh.
"Bagaimana keadaan Altair?" Tanya Mattias memasang kuda-kuda dengan dua pedang di tangannya.
"Jangan khawatir, dua kakek tua saja sudah cukup membunuh mereka, darah muda seperti kita harusnya bertarung seperti ini." Ucap Elektra, sosok yang di maksud Elektra adalah Kakeknya sendiri dan pemimpin manusia suci.
Tring!
Tring!
Sebuah sayap muncul di punggung Mattias dan Alena, sayap berwarna keemasan itu berasal dari tongkat Elektra.
"Selamat berjuang!" Ucap Elektra memberi semangat, Mattias mengangguk dan begitupun Alena yang telah melepaskan gaunnya dan berganti dengan pakaian yang lebih nyaman.
Seekor kadal berukuran sangat besar hendak menyerang Alena, Mattias langsung menyerang kadal besar itu tanpa ampun. Ekor kadal yang memiliki kekuatan hingga puluhan kuda itu di tebas oleh pedang Mattias.
Alena mulai bersiaga, beberapa manusia suci juga membentangkan sayap mereka hingga aliran energi mengalir bagi para prajurit.
Para manusia suci yang di berkati kekuatan menyerang juga tak tinggal diam, mereka melawan tanpa kenal ampun.
Wajah para prajurit telah berada dalam proses palung marahnya, senjata pamungkas yang di miliki para penyihir belum mereka keluarkan. Hingga seekor naga mendekat.
Clep!
Alena berhasil memanah naga berwarna hitam itu di dadanya hingga nampak cahaya keunguan.
Bayangan di bawah sinar matahari membentuk kekuatan besar. Alena tertegun dan mengerti kekuatan apa yang di miliki mahluk tersebut.
Dengan gesit Alena terbang ke tempat yang jauh lebih tinggi hingga kepalanya terasa panas, Alena menatap ke arah sang naga.
Clep!
Satu panah lagi mengenai sayap kiri sang naga, seorang prajurit yang memimpin panah raksasa sudah memberi isyarat.
Alena menelungkupkan sayapnya hingga membentuk menyerupai kepompong. Alena turun ke arah tanah dengan kecepatan tinggi, Naga tersebut mengikuti gerakan Alena.
Clep!
Panah berukuran raksasa itu berhasil mengenai dada naga hitam tepat sasaran, suara tali terdengar terseret kemudian saat naga itu mulai memberontak.
Elektra nampak mengentakkan tongkatnya ke tanah dan sebuah tanah menahan tali itu.
Roar!
Naga mengamuk dengan kekuatan yang tersisa, tak lama kemudian naga itu hancur dan menyisakan bayangan di angkasa yang perlahan menghilang dan kabut keemasan mulai muncul.
"Hidup tanah Altair!" Teriak salah seorang prajurit, beberapa orang yang mendengar itu terbakar jiwa semangat juangnya.
"Hidup tanah Altair!" Teriak lagi para manusia suci yang di ikuti para penyihir, seekor naga biru mulai merasa tidak aman akan posisinya.
Sring!
Kelopak bunga jatuh di antara para monster, seorang wanita cantik seorang turun dari kayangan laksana bidadari. Semua orang bersiaga bersama pedang mereka.
"Adik, anda telah kembali?" Ya, dia adalah Evelin. Mattias menatap Alena yang murka.
"Siapa yang memerintahkan suami ku untuk berselingkuh! B*ngs*at si*alan!" Umpat Alena merasa sangat murka pada Evelin.
"Ck, dasar manusia hina!" Umpat Evelin memberi energi penekanan pada seluruh orang di bawahnya.
Bugh!
Tekanan itu tak mempan pada Alena, Mattias terkikik geli dan menatap ke arah dua naga itu dengan tatapan benci.
"Tak aku sangka, naga yang sudah membunuh seluruh paman ku akan memiliki keberanian muncul di hadapan ku!" Ucap seseorang dengan suara lembut.
Tring!
Tring!
Suara langkah kaki yang terdengar begitu anggun, hingga sebuah mata merah terbuka.
Kulit putih dan wajah manisnya seolah memberikan kekuatan menakutkan, para manusia suci dan penyihir menunduk di hadapannya. Kecuali Alena dan Mattias yang belum mengetahui sosok tersebut.
"Siapa dia?" Bisik Alena, Mattias menggelengkan kepalanya. Selama ribuan tahun Mattias hidup, dia belum pernah bertemu sosok gadis tersebut.
Mata merah terang yang di milikinya hampir sama dengan mata Mattias, wajah manis dan bentuk wajahnya sangat mirip dengan Alena. Rambut hitam bergelombang yang indah seolah memancarkan kecantikannya sendiri.
Semua orang seolah tersihir oleh sosok tersebut, mata semua orang berubah putih seolah tak dapat melihat termasuk Elektra kecuali Alena dan Mattias.
"Siapa kau!" Bentak Evelin tak terima, sebuah singgasana besar nampak di belakang punggung gadis itu.
Gadis itu duduk dengan sombongnya, wajahnya seolah menghina keberadaan Evelin dan saudaranya. Mattias kembali berusaha mengingat, namun sosok gadis itu tak pernah dia ingat sekalipun.
Trak!
Gadis itu menjentikkan jarinya hingga dua singgasana kembali muncul di belakang gadis itu. Sebuah tangga keemasan muncul di depan kaki Mattias dan Alena.
Keduanya saling bersitatap dan tak dapat mengerti maksud dari gadis manis itu, beberapa saat kemudian gadis itu menunduk dan tersenyum sangat manis.