Bagaimana jika kamu menyukai adik tirimu sendiri? Itulah yang di rasakan oleh Renzo pemuda tampan yang begitu menggilai adik tirinya yang begitu manis dan polos.
"Keluar selangkah lagi, besok kamu gak akan bisa berjalan lagi. Baby!"
Renzo mengendus leher adik tirinya yang sudah menangis ketakutan.
"No, Abang jangan lakuin itu ...,"
tangisan, permohonan adik tirinya begitu candu bagi Renzo, dirinya akan semakin dominan jika adik tirinya menangis memohon ampun di bawahnya!
"You're driving me crazy darling!"
. . .
"ini salah, kita saudara, kita tidak boleh seperti ini!"
Menghadapi fantasi gila Abang tirinya membuat Nazila hampir hilang arah, hidupnya merasa tidak tenang!
baca dulu 10 bab 😁 biar tau alurnya 🤓🥀🙃💐
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _yan08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter. 22
Malam harinya kedua kakak beradik itu, salah lebih tepatnya sepasang kekasih berkedok saudara tiri ini kini tengah menyantap makan malam mereka berdua, sebab Fathur dan Joana ada lembur di kantor tentang masalah Mulyadi yang kini tengah di buru oleh polisi karena telah kabur melarikan diri dengan uang hasil korupsi.
Nazila mendekat ke arah sang abang lalu. "Abang nanti Zila tidur di kamar Abang boleh kan?" bisik Nazila.
Lorenzo menyeringai kecil. "Of course baby, Abang tunggu!" bisik Lorenzo tak kalah sensualnya dengan suara berat miliknya. "Jangan lupa baju dinasnya!" bisiknya lagi.
Nazila menyerngit bingung 'baju dinas? Itu agak merepotkan, ngapain? Bingung Nazila dia pikir abangnya mau bekerja, tetapi tidak mungkin sih.
Dam! Dia baru ingat gadisnya ini sedikit polos dan agak kotor, jadi tidak terlalu mengerti dengan arti baju dinas. "Jangan terlalu di pikirin, ayo makan, tapi malam ini Abang mau keluar sebentar!" ucap Lorenzo membuat Nazila menghentikan acara makannya.
"Mau kemana? Zila boleh ikut gak?" tanyanya beruntun.
"Abang cuma pergi sebentar, kamu di rumah aja, nanti juga mommy sama Daddy pulang." Tolaknya, tak mungkin juga mengajak gadisnya untuk keluar.
Nazila langsung cemberut seketika. "Ya udah!" kesalnya, tetapi Lorenzo mana peduli, yang penting dirinya bisa keluar lagian terlalu suntuk di rumah, bukan dirinya sekali jika tak berkeliaran seperti kuyang di malam hari untuk mencari darah bayi, begitu juga dengan Lorenzo yang tengah mencari para wanita malam di klub.
"Apaan sih, Abang kok jadi gitu!" kesalnya mengunci pintu, mood untuk tidur bersama sang abang hilang entah kemana lebih baik dirinya tidur di kamarnya saja sambil di temani dengan suara Leo yang menelponnya.
"Besok mau gak berangkat bareng lagi?" tanya Leo di sebrang sana.
Nazila yang kepalang mengantuk tak sadar menjawab 'iya, membuat Leo senang. "Ya udah, good night cantik!" Leo langsung mematikan handphonenya.
* * *
Sedangkan di tempat Lorenzo berada dirinya kembali bersenang-senang di sebuah klub dengan di kelilingi banyak wanita kali ini Lorenzo tak menolak dengan sentuhan para tangan nakal itu, Veroza dan Liam sedikit terkejut dengan tak adanya penolakan dari Lorenzo.
"Pasti ada sesuatu," bisik Liam.
"Kalo gak ada masalah gak mungkin dia mau di sentuh sembarangan seperti itu!" timpal Veroza, Zex dan Damian sudah mabuk lebih tepatnya Damian saja untuk Zex dia hanya minum dua gelas kecil jadi tak mempan.
Dalam keadaan mabok Lorenzo hanya menggumamkan nama seseorang yang tak lain adalah Nazila, dirinya begitu pusing sekarang dia butuh pelampiasan, sehingga menarik salah satu tangan wanita itu ke dalam kamar untuk bermalam.
"Tuh kan!" seru Liam.
"Mungkin dia dah bosan sama adik tirinya!" kekeh Veroza.
“Udah longgar kali!" sergah Liam lalu tertawa terbahak-bahak.
Sial jika Lorenzo mendengar ucapan mereka barusan, mungkin sudah di banting hingga tak bernyawa, tetapi untung si empunya tengah mabuk parah, jadi aman.
Di dalam kamar Lorenzo menggauli wanita itu dengan menghayal bahwa dirinya tengah bercinta dengan Nazila lalu melakukannya dengan romantis, si wanita itu begitu merasa terhormat di setubuhi oleh orang tampan dan kaya raya, oleh Lorenzo, sebab setahunya lelaki ini tak mudah untuk di ajak tidur.
Sehabis ini dia akan menyombongkan dirinya bahwa dia berhasil tidur dengan Lorenzo, sungguh miris harga diri wanita ini jatuh tak tersisa demi sensasi haus akan pujian sehingga rela merusak diri!
.
.
Keesokan paginya Nazila bangun lalu dengan cepat pergi memeriksa kamar abangnya, kosong dan masih rapi, dan itu tandanya abangnya tak pulang sedari tadi malam, tangan mungil itu mengepal erat, rasa kesal dan kecewa hinggap di dada Nazila.
"Abang bohong!" gumamnya lalu berlari sebelum Joana melihatnya, tetapi naas Joana sudah melihatnya sedari tadi bahkan sempat melihat mata sang putri berair.
"Apa mereka sudah sedekat itu?" batinnya lalu pergi membangunkan suaminya, mereka berdua pulang sedikit larut tadi malam sehingga membuat Fathur dan Joana sedikit kelelahan.
Joana senang kedua anaknya akur tetapi di sisi lain dirinya di buat gelisah tak karuan, dengan keanehan sang anak gadis akhir-akhir ini.
"Lorenzo mana kok belum turun?" tanya Joana entah kepada siapa.
"Abang kemarin malam gak pulang mom, dad, mungkin pergi menginap," jelas Nazila memakan roti yang sudah di lapisi selai.
Joana mengangguk, sekarang dia mengerti kenapa sang anak mengecek kamar putra sulungnya itu. "Nanti berangkat sama siapa?" tanya Fathur mengelap bibirnya.
"Kan ada sopir dad, jadi aman ..." cengirnya menghabiskan makanannya lalu berangkat ke sekolah, setibanya di depan sudah ada sebuah motor hitam dengan sang pemilik yang sudah stay di sertai senyum manisnya.
"Pagi cantik?" sapa Leo, ya dia Leo dia begitu antusias untuk ke sekolah bareng Nazila.
Nazila menggaruk tengkuknya tak gatel. "Kok kak Leo ada di sini, padahal Nazila gak ada minta di jemput," ringisnya membuat Leo bingung.
"Loh bukannya kamu udah setuju ya kalo kakak bakalan jemput kamu," bingung Leo, sedikit resah.
Nazila mengangguk bingung. "Oh .... Ya udah ayo kita berangkat, mungkin Zila lupa kali ya!" cengirnya lalu menerima helem dan naik. Nazila tak mau memperpanjang masalah, bisa saja abangnya pulang lalu memarahi dirinya dan di beri hukuman.
Di lain tempat Lorenzo baru saja terbangun di sebuah kamar dengan keadaan telanjang. "Sial, gue tidur sama siapa!?" kesalnya lalu mengambil semua pakaiannya dia mengecek dompetnya semuanya masih lengkap, dirinya akan mencari tahunya nanti yang terpenting dirinya ingin pulang, kepalanya terlalu sakit, bahkan perutnya terasa di putar-putar, sebuah pesan dengan nomer asing masuk ke handphonenya.
'thanks baby, yang tadi malam enak banget.
"Sial! Awas kau jal*ng sialan!" desisnya meremas handphonenya. Lalu tak lama sebuah pesan dari Liam masuk.
'udah pulang bro? Hari ini Lo gak usah masuk gue izinin Lo kok!
"Liam dan Veroza pasti tau, habis Lo kali ini jal*ng!" Lorenzo bergegas pulang dari klub yang sudah sepi bahkan beberapa pegawai tengah membersihkan ruangan kotor itu dengan banyaknya sampah mulai minuman bersoda dan bir hingga alat kontr*sepsi yang tergeletak begitu saja, hingga air percintaan mereka yang menempel di sopa.
Sungguh menjijikan para manusia yang mencari kesenangan duniawi ini.
.
.
"Cih sok polos banget sih!" sinis salah satu seorang siswi perempuan yang menatap Nazila benci. "Mana murahan lagi, kemarin sama ketua KKN sekarang malah sama kak Leo pun yang di embet!" lanjutnya.
"Bener gak tau diri banget sih, semua siswa di sini di embetnya!" sahut yang satunya.
"Rakus banget jadi cewek."
Liana menatap rumit pada Nazila dari kejauhan, dirinya begitu gundah dengan ucapan sang mami kemarin malam 'apa benar Nazila melakukan itu. "Argh ..., bingung banget sih! Tapi terserah dia sih mau ngapain yang penting bukan gue yang ngelakuin!" dengusnya merutuki kebodohannya sendiri.
Nazila hanya menatap bingung pada para siswi yang tak suka terhadapnya, dirinya malah menerima gandengan tangan dari Leo dan itu membuat sebagian perempuan di sekolah itu semakin tak terima.