NovelToon NovelToon
I Hate You, But I Can'T Hate You

I Hate You, But I Can'T Hate You

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Tamat
Popularitas:107k
Nilai: 5
Nama Author: Kiky Mungil

Salsa mempunyai seorang kakak laki-laki bernama Fariz, yang paling menyebalkan semuka bumi, dan yang anehnya kakaknya itu mempunyai asisten sekaligus bodyguard yang tidak kalah menyebalkan, namanya Ares. Laki-laki yang selalu berpakaian serba hitam, jarang bicara dan beraura dingin. Berada didekat Ares selalu membuat Salsa seperti berada ditengah-tengah pemakaman.

Ares jauh dari tipe lelaki idaman Salsa. Tapi, sayangnya atau sialnya, perintah Fariz tidak bisa diganggu gugat ketika ia memerintahkan Ares untuk menikah dengan Salsa!

Peristiwa demi peristiwa yang membahayakan nyawa Salsa justru membuat Salsa dapat melihat sisi manis Ares. Sebuah sisi yang membuat rasa aneh tumbuh diantara keduanya.

Akankah rasa itu akan terus tumbuh dan berbunga? Ataukah mati berguguran ketika rahasia dari sebuah jawaban yang selama ini Salsa cari telah terungkap?
.
.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiky Mungil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisi Lain Ares.

Salsa tidak tahu kalau ternyata masakan rumahan seperti ini sangat nikmat dan lezat, apa lagi dimakan langsung menggunakan kelima jari tangan kanannya tanpa perantara sosok sendok dan garpu. Itu sungguh sensasi yang baru bagi Salsa. Ibu Ares pun terlihat senang melihat bagaimana Salsa lahap menyantap makan siangnya. Kecanggungan dan rasa kesal akibat ciuman tak langsung melalui buah kelapa tadi mendadak sirna.

Setelah selesai dengan makan siang mereka, Salsa pun tak ragu membantu Demia dan Ibu merapikan meja makan, tapi Demia dan Ibu melarang Salsa mencuci piring. Mereka tahu, siapa Salsa, yang sudah pasti akan mengkhawatirkan jika Salsa turun tangan untuk mencuci piring di belakang, tanpa wastafel.

Jadi, setelah makan siang, Salsa memutuskan untuk duduk di teras rumah, sementara Ares sedang menghubungi seseorang melalui ponselnya di dekat mobil. Cukup susah sinyal di dalam rumah.

"Gadis-gadis desa disini juga suka memperhatikan Ares." Suara Demia membuyarkan lamunan Salsa yang asik memperhatikan Ares. Dari gelagatnya yang mengangguk-angguk, Salsa yakin yang berbicara dengan Ares pasti adalah Fariz.

Demia ikut duduk bersila di atas lantai kayu teras rumah itu. Udara siang disana tetap terasa sejuk meski matahari bersinar cukup semangat.

"Jadi Ares punya banyak penggemar?" tanya Salsa.

Demia mengangguk. "Banyak, apa lagi dulu dia orangnya cukup humoris dan supel."

"Apa?!" Salsa sampai melebarkan kedua bola matanya, seakan-akan kedua biji bola mata itu akan menggelinding keluar dari tempatnya.

"Kenapa kamu kaget begitu?" tanya Demia sambil terkekeh.

"Tentu aja gu-eh, aku kaget, lah. Selama aku mengenal Ares, dia adalah lelaki dingin, pelit bicara, pelit senyum, pelit berekspresi. Auranya selalu muram, lihat saja pakaiannya bahkan disaat santai dan sedang tidak bertugas saja selalu hitam-hitam. Bagaimana bisa dia dikatakan humoris dan supel?"

Mendengar bagaimana Salsa menggambarkan sosok saudara kembarnya, membuat Demia tersenyum sedih kemudian mendesah berat. Dia menatap dalam kembarannya yang masih berteleponan.

"Dulu dia nggak seperti itu, Sal." kata Demia pelan. Nadanya sarat dengan kesedihan juga penyesalan. "Semua karena bapak kami. Ah, aku bahkan benci mengakui pria itu adalah bapak kami."

"Bapak kalian?" Salsa bertanya untuk menegaskan kembali.

Demia mengangguk. "Ares nggak cerita?"

"Ha! Dia itu pelit bicara, mana mungkin tiba-tiba jadi dermawan bercerita panjang tentang kisah hidupnya."

"Benar juga." Kekeh Demia pelan.

"Lagi pula, pernikahan kami... kalau saja kamu tau, aku dan Ares menikah karena..."

"Dijodohkan oleh kakak kamu? Atasannya Ares, ya kan?"

"Kamu tau?"

Demia mengangguk. "Ibu juga tau. Ares sudah cerita bagaimana kronologis bagaimana dia bisa menikah dengan adik dari atasannya."

"Apa Ibu setuju dengan perjodohan aku dan Ares?"

"Bisa dikatakan nggak setuju, tapi bukan karena Ibu nggak menyukai kamu, tapi karena Ibu khawatir kalau Ares nggak mampu untuk bertanggung jawab atas diri kamu. Apa lagi status sosial kita yang berbeda jauh."

Salsa mengedikkan bahu. Ia bukan tipe orang yang menilai seseorang hanya dari strata sosial. Jadi, sudah dipastikan, kebencian Salsa pada Ares dan penolakannya pada ide pernikahan mereka dulu bukan karena status sosial antara dirinya dan Ares.

"Tapi Ares memastikan pada kami, terutama pada Ibu kalau semua akan baik-baik saja."

Salsa tersenyum tipis. Apakah benar? Apakah semua akan baik-baik saja?

"Lalu apa yang terjadi sama Ares? Kenapa orang humoris dan supel bisa berubah drastis kayak gitu?"

Demia kembali mendesah berat. "Apa kamu tau Ares pernah masuk penjara?"

Ini baru! Salsa tidak pernah tahu kalau Ares adalah mantan narapidana. Bagaimana mungkin Fariz bisa menjadikan mantan narapidana menjadi tangan kanannya? Salsa jadi teringat saat Ares mengatakan bahwa dia akan menjadi preman jika tidak bekerja dengan Fariz. Apakah karena Ares pernah masuk penjara?

"Apa karena dia sering berkelahi sampai masuk penjara?" tanya Salsa.

"Ah, Ares dulu memang sering berkelahi, tapi keahlian dia itu selalu dia lakukan untuk membela orang." jawab Demia.

"Lalu? Apa yang membuatnya bisa masuk penjara?"

"Karena aku membunuh orang." jawaban itu keluar bukan dari mulut Demia, melainkan dari Ares sendiri. Pria itu sudah berada di dekat teras tanpa Salsa dan Demia sadari.

Demia menatap Ares dengan tatapan bersalah, sementara Salsa melihat Ares dengan tatapan yang sulit Ares gambarkan.

"Bisa tinggalkan kami berdua?" Ares menatap Demia tajam. Tanpa membantah, Demia bangkit dan meninggalkan tempatnya setelah menepuk bahu Salsa pelan.

"Apa kamu takut dengan saya setelah tau saya mantan narapidana kasus pembunuhan?" tanya Ares dengan nada datar dan sorot matanya yang tajam.

"Apa gue perlu takut?" tanya Salsa balik dengan nada menantang.

Ares mendengus, seraya memalingkan wajahnya.

"Apa Kak Fariz tau tentang latar belakang lo ini?"

"Tuan tau."

"Kalo begitu, gue nggak perlu takut kan sama lo." Salsa berdiri, ia mendekati Ares sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

"Jadi, apa yang terjadi? Apa yang lo lakukan ada hubungannya dengan orang tua lo? Bapak lo?"

"Tidak perlu kamu memusingkan isi kepalamu dengan mencari tau tentang masa lalu saya." jawab Ares sambil berlalu.

"Apa benar Bapak Lo yang membuat Lo menjadi seperti ini?" tanya Salsa lagi, tanpa putus asa ia masih ingin menggali tentang masa lalu Ares dari Areanya langsung. Entah kenapa, Salsa hanya ingin tahu segala sesuatu tentang Ares.

Ares berhenti berjalan. Ia kembali melihat Salsa.

"Kenapa kamu ingin tau? Bukan kah saya bukan siapa-siapa untuk kamu?" Pertanyaan Ares cukup mengenai hati Salsa.

Salsa lagi-lagi tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk mendebat Area sampai punggung pria itu menghilang di balik pintu.

Tapi ada yang mengganggu perasaan Salsa kali ini, kenapa ia ingin tahu tentang Ares? Kenapa? Bukan kah seharusnya dia tidak perlu mencari tahu penyebab Ares masuk penjara? Bukan kah seharusnya latar belakang Ares sebagai mantan narapidana bisa dia jadikan alasan untuk mengakhiri pernikahan mereka?

Tapi kenapa sekarang ada sebuah keraguan yang merayapi hati Salsa.

* * *

Lima hari sudah Salsa menginap di rumah keluarga Ares. Ia merasa betah-betah saja ternyata, ia bahkan memamerkan pada Mesya, Rere dan Sita bagaimana pemandangan disini sangat indah dan menenangkan, udaranya yang sejuk, airnya yang dingin, makanan rumahan yang lezat, dan Ares yang sering kali tampil tanpa kaus saat menguras kolam ikan yang berada di belakang rumah, saat membuat kandang ayam, saat mencuci mobil dan kembali memanjat pohon untuk memetik kelapa atau mangga.

Selama lima hari juga, setiap harinya, Salsa selalu terbangun belakangan, sudah tidak ada lagi Ares di ranjang setiap kali Salsa membuka mata. Meski setiap malamnya Salsa selalu membuat formasi yang sama dengan guling sebagai pembatas, tapi setiap paginya guling itu sudah pergi entah kemana. Tapi, tidurnya selalu nyenyak lima hari ini. Terlalu nyenyak malah.

Seperti pagi ini, Salsa mengucek mata, menguap, dan merenggangkan otot tubuhnya di atas ranjang. Guling pembatas sudah lenyap dan ditemukan tergeletak di atas lantai. Salsa begidik sebentar ketika telapak kakinya menyentuh permukaan lantai kayu yang dingin. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi, ketika Salsa memutuskan untuk keluar dari kamar dengan wajah bantalnya.

"Pagi, Sal!" Sapa Demia, lengkap dengan senyum lebarnya. "Yuk sarapan."

"Aku cuci muka sama sikat gigi dulu ya." kata Salsa pada Demia yang direspon dengan anggukan semangat.

Salsa menuju halaman samping, dimana kamar mandi dan sumur berada. Meski di sini semua serba tradisional, rupanya Salsa cukup menikmati. Ia bahkan sama sekali tidak keberatan untuk menimba air lebih dulu untuk mengisi bak, meski Ares akan langsung mengambil alih tugas itu jika ia melihatnya. Dan mumpung Ares tidak terlihat keberadaannya, Salsa ingin menikmati sensasi menimba air langsung di sumur.

"Apa yang kamu lakukan?"

Hah, baru juga dua kali menimba, suara tegas Ares terdengar, tangan besar itu langsung mengambil alih tali timbaan dari tangan Salsa.

"Ngambil air, gue mau cuci muka sama sikat gigi." jawab Salsa. "Sini, gue mau nimba sendiri."

"Diam disana, biar saya yang-"

"Kenapa sih gue nggak boleh nimba air sendiri, nggak boleh cuci piring, nggak boleh nyapu, nggak boleh ini itu?" Gerutu Salsa dengan bibirnya yang maju sampai sepuluh meter.

Ares menatap Salsa dalam dan lekat. Ia melihat bagaimana ekspresi kesal Salsa sungguh membuat Ares ingi sekali mencubit gemas pipi Salsa, tapi dia harus tahu diri.

Jadi yang Ares lakukan adalah apa yang paling ahli dia lakukan, yaitu diam dan tidak merespon ucapan Salsa. Ia hanya memindahkan tubuh Salsa menjauh dari sumur.

"Kamu diam disini."

"Tapi gue mau gue yang nimba air sumurnya ih!" Salsa masih dalam mode protest. Wajah bantalnya yang cemberut semakin menggemaskan dimata Ares. "Kenapa sih nggak boleh mulu!"

"Karena tangan kamu bisa terluka. Ini talinya kasar." jawab Ares sambil mengambil tangan Salsa dan melihat telapak tangan kecil milik Salsa yang lembut.

Brrrrrrrrr..... Kepakan-kepakan sayap kupu-kupu mulai kembali mengisi rongga perut Salsa. Salsa menatap tangan besar Ares yang memegang tangannya, ada sebuah rasa aneh merayap pada hatinya kali ini.

"Tuan Fariz akan menghukum saya jika kamu terluka." Ares melanjutkan seraya melepaskan tangan Salsa dari tangannya, seiring dengan hal itu, kenapa perasaan Salsa merasakan kecewa?

.

.

.

Bersambung ~

1
Idha Mamanya Afwa Idhan
🤣🤣🤣
Idha Mamanya Afwa Idhan
suit....suit....langsung gas....🤭
Idha Mamanya Afwa Idhan
loe sih Meisya...🤣
Idha Mamanya Afwa Idhan
seruuu
Idha Mamanya Afwa Idhan
agak sebel dngan sikap Salsa...
Idha Mamanya Afwa Idhan
aduh...cepat Ares Salsamu dalam bahaya...
Idha Mamanya Afwa Idhan
sedih yaa.... Ares mengsedihkan...
Idha Mamanya Afwa Idhan
👍👍
Idha Mamanya Afwa Idhan
Mantap Salsa...👍👍👍
Idha Mamanya Afwa Idhan
semangat Salsa....yakinkan Ares tentang persaanmu👍💪💪
Idha Mamanya Afwa Idhan
akhirnyaaa....😄
Idha Mamanya Afwa Idhan
iya deh yang lagi cemburu....🤭🤭
Idha Mamanya Afwa Idhan
nah loh...mkanua jngan asal ucap...🤭
Idha Mamanya Afwa Idhan
au...au...au...🤭
Idha Mamanya Afwa Idhan
😄😄
Idha Mamanya Afwa Idhan
nah loh nah loh...😄
Idha Mamanya Afwa Idhan
🤭🤭🤭🤭
Idha Mamanya Afwa Idhan
tenang Ares...Salsamu sdah mulai nyaman..🤭🤭
Idha Mamanya Afwa Idhan
sudah mulai tumbuh tuh benih²😄😄
ciwizay
2 kali baca karya othor ini ,ceritanya sangat bagus gak rugi marathon
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!