"Dia putriku, Sofia." Begitu kata Judan ketika banyak perempuan bertanya siapa gadis cilik yang sedang bersamanya. Ia tidak ingin banyak orang tahu bahwa sebenarnya gadis cilik itu adalah keponakannya. Hingga akhirnya ia bertemu Runi, seorang Perawat di rumah sakit tempat ia menghabiskan waktu karena ingin melepas trauma buruk karena kematian kakak laki-lakinya yang tak lain adalah ayah dari gadis cilik itu.
"Dia adalah keponakanku," ungkap Judan akhirnya karena tidak mau perempuan itu salah paham. Ini pertama kalinya ia mau membuka diri pada seorang perempuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 22
Judan melepas pelukannya. "Nanti papa akan belikan boneka beruang untuk kamu."
"Tidak, aku tidak ingin boneka beruang. Sofia hanya ingin Papa tidak capek saja. Jadi Papa bisa tidur dengan nyenyak kalau malam. Aku kasihan sama papa yang enggak bisa tidur," ujar Sofia dengan raut wajah iba.
"Hmm begitu ya ... Kamu khawatir sama Papa?"
Kepala Sofia mengangguk.
"Kalau begitu, Papa juga butuh perawat nih untuk memperhatikan kesehatan Papa," canda Judan seraya melirik Runi. Dia bermaksud membicarakan perempuan itu.
"Ada Tante Runi kok yang bisa bantu Papa, jadi Papa jangan khawatir," ujar Sofia seraya menunjuk ke arah Runi. "
"Oh, iya itu benar." Judan setuju.
"Tante, nanti kalau Papaku butuh perawatan karena capek berkerja, Tante harus membantu Papa ya ..." Sofia mengajukan permintaan.
"Ah, ya ..." Runi pasrah.
...****************...
Rumah Judan sore hari. Dokter Gio datang melakukan pemeriksaan rutin. Meski sebentar lagi dia akan menikah, dokter Gio tetap memeriksa kondisi Sofia dengan teliti.
"Apa Sofia sudah makan banyak tadi?" tanya Gio seraya memeriksa tubuh gadis cilik ini.
"Emm ... agak banyak dari kemarin," jawab Sofia jujur.
"Wah, itu bagus."
"Berarti Sofia cepat sembuh dan bisa kembali ke sekolah ya, Om."
"Iya ... asal Sofia mendengarkan nasehat Tante Runi ya ..."
"Tentu saja."
"Sofia sangat patuh, Dok," timpal Runi membenarkan pernyataan gadis ini.
"Bagus." Dokter Gio memberikan jempolnya untuk memuji gadis ini. Judan hanya berdiri di dekat dinding sambil melipat tangan melihat dokter Gio melakukan tugasnya. Tak lupa ekor matanya selalu menatap ke arah Runi yang berdiri di sisi ranjang menemani dokter Gio.
Setelah selesai melakukan pemeriksaan, dokter Gio menjauh dari ranjang. Judan melepas lipatan tangannya menyambut Dokter Gio.
"Kita bicara di luar," kata dokter Gio. Judan mengangguk. Mereka menuju ruang tengah dengan pemandangan taman di depannya. Bibi di dapur sudah menyediakan makanan dan minuman di sana untuk mereka.
"Bagiamana kondisi, Sofia? Apa ada kemajuan?" tanya Judan ketika mereka sudah duduk dengan tenang.
"Tidak."
"Bukankah Sofia makan lebih banyak hari ini?"
"Ya. Lebih banyak tapi masih kurang. Nafsu makannya masih belum membaik. Mungkin terlihat lebih baik karena dia tampak selalu gembira. Apa ada hal baru yang membuatnya begitu?"
"Hal baru ... " Judan tampak berpikir. "Aku rasa tidak ada, kecuali ... keberadaan Runi yang merawatnya di sini. Itu hal baru di rumah ini bukan?"
"Rupanya Sofia sangat senang dengan keberadaan perawat Runi ya ..."
"Ya. Kamu tahu kisah mereka bukan? Bahkan Sofia menyebutnya Tante Malaikat." Judan tersenyum simpul setelah mengatakannya. Gio melirik.
"Lalu kisahmu dengan dia bagaimana?" celetuk Dokter Gio. "Jangan mengelak. Aku bisa membaca semuanya dari cara kamu menatap Runi. Katakan saja."
"Kamu terlihat memaksa."
"Benar." Dengan tegas Dokter mengatakan rasa ingin tahunya.
Judan tersenyum. "Jika aku sudah sangat terlihat begitu, apalagi yang bisa aku sembunyikan. Ya, aku menyukai perempuan itu." Dia tidak bisa bersembunyi lagi.
"Sudah ku duga."
"Kamu memperhatikan aku rupanya." Judan merasa terharu.
"Bukannya itu sudah wajar ... Lalu, apa kalian sudah mau meresmikan hubungan ini ke depannya? Seperti menyusul aku untuk menikah?"
"Hahaha ... Tidak, tidak. Hubungan kita bukan dalam tahap itu." Judan merasa geli mendengar pertanyaan itu.
"Maksud kamu?" Dokter Gio mengerutkan keningnya.
"Aku memang jatuh hati pada Runi, tapi hubungan kita belum sampai pada tahap memikirkan untuk menikah. Karena resmi menjadi kekasih saja, kita masih belum."
"Benarkah? Jadi kalian tidak dalam hubungan asmara?" Dokter Gio terlihat heran.
"Ya." Judan mengangguk seraya tersenyum dengan kebenaran ini. Dokter Gio paham.
"Artinya cintamu bertepuk sebelah tangan?"
"Hei, ini masih dalam proses. Tidak bisa langsung di sebut seperti itu. Aku juga belum mengungkapkan perasaanku, jadi belum kelihatan hasilnya."
"Kamu berpikir ini akan berjalan baik?"
"Ya."
"Optimis sekali," ledek Dokter Gio.
"Harus. Ini pertama kalinya aku ingin membuka hati pada perempuan setelah kematian kakak. Jadi aku ingin melakukan yang terbaik."
Dokter Gio melihat kesungguhan dalam sorot mata Judan. Dalam hal ini dia bersyukur pria ini mau membuka hati. Itu perubahan baik, tapi jika itu berhubungan dengan Runi ... Dokter Gio seakan sedikit ragu.
"Jadi kamu bersungguh-sungguh untuk mendapatkan hati Runi?" tanya Dokter Gio.
"Benar. Aku serius ingin mendapatkannya." Raut wajah Judan tidak main-main. Dokter Gio menghela napas pelan. "Ada apa dengan helaan napas itu? Kamu tidak merestui aku untuk mendekati Runi?" protes Judan.
"Aku bahagia dengan perubahan ini Judan. Sungguh, tapi ... apa kamu tahu soal siapa Runi?"
Mata Judan melebar. "Runi? Apa maksud kamu?"
"Apa kamu belum dengar sama sekali tentangnya?"
"Tentang apa, Gio? Katakan saja jangan memutar-mutar. Bicara langsung pada intinya." Judan sedikit gusar dan kesal.
"Oke, aku akan bicara langsung pada intinya. Karena kamu berniat serius mendekati Runi, sebaiknya aku katakan langsung tentang dia." Dokter Gio memberi jeda sebentar pada kalimatnya. "Dia adalah seorang janda, Judan."
Seketika suasana hening. Dokter Gio tahu ini akan mengejutkan untuk Judan. Setelah begitu lama ia menutup hati untuk seorang perempuan demi fokus pada keponakannya, sekarang ia mulai berani membuka hatinya. Namun perempuan yang membuat tertarik justru seorang Janda. Paling besar kemungkinan seperti ini, tapi Gio tidak tahu pasti apa yang ada di dalam pemikiran adik sahabatnya.
Judan tampak menunduk sejenak. Ia pasti berpikir panjang lagi. Gio diam seraya memperhatikan.
...----------------...
.. jangan sampai mengacaukan hasil tes DNA