Kehilangan selamanya istri yang sangat dicintainya bukanlah hal yang mudah dihadapi oleh Dokter Danny. Ayah Dokter Danny selalu menyuruh Danny untuk menikah lagi.
Akankah Danny menikah lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ding-dong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kafe.
Dokter Serli menggigit bibir bawahnya dengan sangat senang. Se-senang itu bertemu dan berdekatan dengan orang yang disukai. Untungnya dia memakai masker sehingga tidak ada yang bisa melihat senyum kebahagiaan nya termasuk Dokter Danny.
Di pikiran Dokter Danny saat ini dia ingin operasi ini segera selesai dan pulang. Dia sudah janji pada Ayudia akan menjemputnya sore hari. Dia yakin pasti Ayudia merasa tidak nyaman di rumah Pak Arya. Karena itu dia ingin segera menjemput Ayudia dan Naufal untuk pulang ke rumah.
Setelah operasi selesai, Dokter Danny buru-buru mencuci tangan dan mengisi status pasien. Untungnya hari ini hanya mengoperasi satu pasien sehingga dia bisa segera pulang.
Namun, ketika Dokter Danny akan keluar dari ruang operasi dia mencium bau parfum yang sangat harum, saat dia keluar dari pintu ruang operasi Dokter Serli sudah menunggu nya di depan pintu, Dokter Danny pun terkejut.
"Selamat sore, Dok" sapa Dokter Serli dengan tersenyum ramah.
"So... sore" balas Dokter Danny dengan tergagap, dia terkejut karena tiba-tiba Dokter Serli ada di depan pintu dan menyapa nya.
"Mm... operasi nya sudah selesai?" tanya Dokter Serli berbasa-basi.
"Iya baru saja" jawab Dokter Danny seperlunya dengan sopan.
"Wahhh... kebetulan sekali Dok, tadi Papa saya bilang, oh maksud saya Dokter Stevan bilang kalau beliau ingin bertemu dengan Dokter Danny di kafe XXX" ujar Dokter Serli dengan sangat energik.
"Kafe? XXX?" ujar Dokter Danny seraya mengerutkan keningnya.
"Iya, Dok. Dokter bisa kan?" balas Dokter Serli dengan sedikit memaksa.
"Sekarang?" tanya Dokter Danny.
Dokter Serli menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.
"Kenapa tidak di ruangannya saja?" tanya Dokter Danny, dia merasa tumben Dokter Stevan mengajak nya bertemu di luar, biasanya kalau ada apa-apa Dokter Stevan akan memanggil nya ke ruang direktur.
"Mungkin sekalian menghirup udara segar, Dok" balas Dokter Serli dengan meringis.
Dokter Danny tampak berpikir, kemudian dia melihat jam di pergelangan tangan nya. Sebentar saja tidak apa-apa mungkin, pikir Dokter Danny.
"Baiklah kalau begitu, saya ambil tas saya dulu di ruang poli" ucap Dokter Danny lalu pergi meninggalkan Dokter Serli.
"Yes! berhasil!" gumam Dokter Serli senang seraya menarik kepalan tangan di depan dada. Dia pun segera pergi ke ruangan nya untuk memperbaiki riasan wajahnya kembali. Dia ingin tampil cantik di depan Dokter Danny. Setelah itu dia naik taksi yang sudah dipesannya sedari tadi. Dia memang tidak membawa mobil karena tadi pagi berangkat bersama Dokter Stevan.
Sesampainya di kafe XXX, Dokter Serli celingak-celinguk mencari sosok Dokter Danny. Dia pun tersenyum saat melihat Dokter Danny duduk di meja yang ada di pojok dekat taman. Di mata Dokter Serli, Dokter Danny terlihat sangat tampan, keren, dan mempesona. Meskipun duda baginya tidak ada masalah. Toh, perjaka dan duda tidak ada bedanya, sama-sama punya 'pedang'. Dia pun membenahi dan menyisir rambutnya dengan jarinya supaya rapi. Tidak lupa bercermin sekali lagi untuk memastikan riasannya sempurna.
Dokter Serli menghampiri Dokter Danny dengan berjalan se anggun mungkin. Senyum selalu dia sungging kan di bibir nya. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia nya.
Sedangkan Dokter Danny duduk di kursi kafe dengan menatap taman bunga di samping kafe. Tangannya menyatu di atas meja samping kopi yang dia pesan. Sinar matahari senja menyinari wajah nya semakin menambah kharisma ketampanan nya.