Hanya karena suara mirip, Erine dipaksa menjadi pengantin pengganti Sadam, seorang CEO Buta. Erine terpaksa bersedia karena harus membayar biaya rumah sakit sang ayah.
Hari demi hari Erine mulai menjalani perannya sebagai istri Sadam. Meski seringkali mendapat kecurigaan, dia bisa bertahan karena bantuan sekretaris pribadi Sadam. Erine bahkan jatuh cinta pada sosok Sadam. Sampai suatu hari, Sadam tak sengaja mengetahui sandiwara Erine. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah perasaan cinta Erine akan terbalas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22 - Seperti Bulan Madu
Sadam sengaja memesan kamar termahal yang ada di hotel. Selain mahal, kamar itu juga mewah dan luas. Sering disebut sebagai kamar suit.
"Kenapa kau memesan kamar yang mahal. Itu tidak perlu sama sekali," ujar Erine.
"Itu perlu. Bukankah kau suka kamar suit? Kau selalu memesannya saat hari anniversary kita," sahut Sadam. Dahinya sedikit berkerut. Ia kembali merasa istrinya berbeda.
"Ah, tentu saja. Aku hanya terpikirkan uangmu. Kau harus mengiritnya," tanggap Erine. Ia menggandeng lengan Sadam. Keduanya baru saja tiba di depan kamar suit yang mereka pesan.
"Kau tidak perlu memikirkan uangku. Kau tahu aku punya banyak uang." Sadam terkekeh hambar. Dia lagi-lagi merasa aneh. Sebagai orang yang sangat mengenal Aylin, dirinya tahu bagaimana perempuan itu. Sadam tahu betul Aylin lebih boros menggunakan uang di bandingnya.
'Apa yang terjadi kepadamu, Aylin? Apa ini benar kau?' Sadam membatin.
Pelayan hotel membukakan pintu kamar suit untuk Sadam dan Erine. Kedua insan itu lantas melangkah masuk ke sana.
Erine berdecak kagum ketika menyaksikan kamar suit tersebut. Sebagai gadis yang sejak kecil terbiasa hidup sederhana, kemewahan seperti itu tentu adalah hal luar biasa baginya.
"Ini luas sekali," komentar Erine. Dia lagi-lagi menyebutkan kalimat yang akan memancing kecurigaan Sadam.
"Ini seperti pertama kalinya kau datang ke tempat begini," balas Sadam.
Erine sedikit kaget dengan pernyataan Sadam itu. Dia berdehem dan menjawab, "Aku berkata begitu karena sudah lama sekali kita tidak ke tempat seperti ini."
Sadam terdiam dalam sepersekian detik. Seingatnya baru satu bulan yang lalu dia dan Aylin pergi ke kamar suit seperti sekarang. Semua itu dilakukan dalam rangka perayaan ulang tahun Aylin.
"Ya, tentu saja." Sadam mengangguk. Untuk sekarang, dia tidak mau asal berspekulasi.
'Ini baru beberapa hari aku merasa Aylin bersikap aneh. Mungkin dia jadi berbeda karena kecelakaan itu.' Meski banyak keanehan yang sudah ditemukan, Sadam berusaha berpikir positif.
'Lagi pula kalau gadis yang bersamaku bukan Aylin, orang-orang disekitarku pasti akan memberitahu,' batin Sadam. Kembali meyakinkan diri. Dia juga berpikir ingin fokus saja menikmati momen bersama istrinya sekarang.
"Duduklah! Kau pasti lelah." Erine menuntun Sadam untuk duduk ke tepi ranjang. Lelaki itu terlihat tersenyum miring.
Ketika Erine sudah mendudukkannya ke ranjang, Sadam menarik gadis itu. Lalu mendorongnya hingga telentang ke ranjang. Dengan cepat Sadam menindih tubuh kurus Erine.
Erine yang tak menduga dengan serangan Sadam itu, tidak sempat melakukan perlawanan. Apalagi dia tak bisa bergerak lagi saat Sadam memegangi kedua tangannya.
"Sadam! A-pa yang kau lakukan?" timpal Erine terbata.
Sadam tersenyum. "Apa lagi? Tentu saja mengulang masa bulan madu kita," jawabnya.
'Apa? Bulan madu?' Erine menjerit dalam hati. Jika dia memberontak, pasti Sadam akan curiga. Terlebih tadi dirinya juga sudah mengucapkan kalimat yang membuat Sadam curiga. Erine juga ingat kalau Haris sudah memperingatkannya untuk lebih hati-hati. Dia otomatis langsung teringat dengan sandiwara kegugurannya.
"Tapi kau tahu aku baru saja keguguran. Aku masih mengalami pendarahan," kata Erine berkilah.
"Tidak masalah. Aku hanya akan melanjutkan ciuman kita di taman tadi. Di sini kita bisa lebih leluasa melakukannya," kata Sadam.
"Tapi--" Erine tak berucap lagi saat telapak tangan Sadam meraba mulutnya. Setelahnya, Sadam segera memagut bibir Erine.
Mata Erine membulat sempurna. Dia merasakan darah disekujur badannya berdesir hebat. Anehnya Erine menyukai itu.
'Sial! Kenapa perasaanku jadi begini?' batin Erine tak mengerti.
buat otor terimakasih sedikit saja karena harisnya meninggal😅
kok ada yang meninggal si tor
kenapa gak ada yang lain saja yang donorin biar semua senang
😍😍