Ava Nandita adalah seorang remaja yang kaya dan cerdas namun terisolasi. Dia pecinta lolipop dan selalu membawa permen kesayangannya itu kemanapun dia pergi.
Suatu hari, Ava menemukan toko kecil di ujung jalan dekat tempat kursusnya. Dia membeli 2 toples besar berisi banyak sekali lolipop unik yang baru pernah dia lihat. Selain unik, lolipop ini ajaib. Setiap kali dia memakannya, dia bisa langsung pindah tempat dan waktu.
Awalnya, Ava terkejut dan bingung dengan apa yang terjadi padanya. Tetapi kesempatan ini dia gunakan untuk menggali pengetahuan tentang sejarah dan berpetualang menjelajah tempat-tempat eksotis.
Namun suatu hari, Ava menemukan seorang pria di abad ke-19 bernama Ethan yang membuatnya jatuh cinta. Ketika dia semakin terlibat dengan Ethan, hatinya terbelah antara cinta dan kewajiban untuk kembali ke waktunya sendiri.
Apakah Ava akan tetap bertahan di abad ke-19 atau kembali ke tempatnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon just.penelop3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman-temanku di tahun 2023
Perjalanan waktuku bersama Mama dan Papa di hari Minggu kemarin, sangat menyenangkan. Membuatku senang dan tentu saja lega telah mengungkapkan kenyataan.
Mama dan Papa tidak hanya mendengarkan dengan penuh perhatian tetapi juga menyatakan dukungan sepenuh hati untuk usahaku dengan Elisa dan James.
Aku sangat bersemangat dan gigih dalam menjalankan usaha baruku. Sifat ini aku dapatkan tentu dari mereka. Dan aku tidak akan pernah mengabaikan saran dan bimbingan yang mereka berikan.
“Papa akan carikan secepatnya uang untuk usaha kamu, sayang.” Ujar Papa sambil menyantap sarapan.
“Terima kasih, Papa.” Ujarku sambil tersenyum.
Tak lama bi Wina datang menghampiri kami yang berada di meja makan.
“Ada apa, bi?” tanya Mama saat melihat bi Wina.
“Ada temannya non Ava di depan, bu.” Ujar bi Wina.
Aku heran, siapa yang pagi-pagi datang.
“Siapa, bi?” tanyaku.
“Namanya El, non.” Jawab bi Wina.
“El?” tanyaku kaget.
“Iya, non. Boleh masuk?” tanya bi Wina memastikan.
“Siapa El, sayang?” tanya Mama.
“El itu teman sekelas Ava, Mah.” Jawabku. “Iya, bi. Suruh masuk aja. Dan tunggu Ava di ruang tamu.”
Setelah selesai sarapan, aku pun menghampiri El yang sedang duduk dan asik mendengarkan musik dari hpnya.
“Selamat pagi, El.” Ujarku tapi tak dijawab oleh El.
Aku pun menyentuh bahunya dan membuatnya terkejut.
“Ava.” Ujar El sambil melepaskan headset dari telinganya.
“Selamat pagi.” Ujarku sambil duduk.
“Selamat pagi, Ava.” Balas El.
“Ada apa pagi-pagi ke mari, El?” tanyaku.
“Aku baru dari rumah Siska, bawa kiriman dari mama buat mamanya. Mampir deh ke sini, sekalian berangkat sekolah bareng.” Jawab El.
“Kalau Siska?” tanyaku.
“Dia ijin hari ini. Mau ke luar kota sama orang tuanya.” Jawab El.
“Oh. Kalau gitu aku ambil tas dulu ya.” Ujarku.
“Ok.” Jawab El.
..._____...
“Bagaimana weekend kalian?” tanya Jordan.
Aku, Vina, Dea, Jordan, dan El sedang makan di kantin pada jam istirahat.
“Menyenangkan.” Jawabku.
“Aku hanya diam di rumah membantu Ibu.” Ujar Dea.
“Sepupuku menikah dan acaranya hingga tadi malam.” Jawab Vina. “Ingin sekali diam di rumah. Aku cape sekali. Tapi ada ulangan matematika tadi.”
“Bagaimana dengan kamu, Jordan?” tanya Dea.
“Hanya berlatih sepakbola untuk pertandingan bulan depan.” Jawab Jordan.
“Kalau kamu, El?” tanya Dea.
“Aku hanya maen game di rumah.” Jawab El.
“Ava?” tanya Dea. “Kamu hanya jawab menyenangkan. Jelaskan!”
“Aku mengunjungi temanku dengan orang tuaku.” Jawabku sambil terkekeh.
“Mengapa dengan orang tuamu, Ava?” tanya Vina.
“Mama dan Papa ingin kenal dan diundang oleh temanku.” Jawabku.
“Bolehkah kami duduk di sini?” tanya seseorang dari sampingku.
Aku menoleh ke arah suara itu. Ternyata Viona dan Ayu. Aku hanya melihat ke arah teman-teman.
“Silahkan saja.” Ujar Jordan.
..._____...
Sepulang sekolah, kami sudah berada di rumahku. Saat istirahat tadi, aku, El, Viona, dan Ayu menjadi satu kelompok belajar mata pelajaran Sejarah. Kami pun bekerja kelompok di rumahku. Dea, Vina, dan Jordan pun ikut karena aku yang mengajak mereka.
Viona dan Ayu tidak keberatan akan hal itu. Lagi pula Dea, Vina, dan Jordan pun membantu kami dalam mengerjakan tugas.
“Bagaimana kalau kita mengangkat tema Inggris di tahun 1960an?” tanyaku memberi saran.
Kami duduk bersama mengelilingi meja sedang mendiskusikan materi apa yang akan kami angkat dalam kelompok kami.
Dan aku yang ingin mengangkat tema itu karena aku akan memiliki informasi yang akurat selain dari internet.
“Seperti kata ibu Shanty. Kita tidak harus mengambil tema tentang perang atau politik. Bisa juga dengan kehidupan di sana.” Ujarku meyakinkan mereka.
“Coba kita cari info dari internet.” Ujar El.
Kami pun mencari informasi tersebut dari hp kami masing-masing. Memang tidak terlalu banyak informasi yang kita dapatkan. Kebanyakan tentang politik atau pemerintahan.
“Mau coba cari yang lain?” tanya Ayu yang seperti putus asa.
“Kalian bisa kembangkan hanya dari sedikitnya informasi.” Ujar Dea memberi saran.
“Ya, aku pikir itu ide yang bagus.” Ujar El sambil tersenyum pada Dea. “Terima kasih, Dea.”
Dea hanya membalas senyuman El.
“Apakah ada ide lain?” tanya Viona.
“Mungkin kita bisa membahas tentang musik pada masa itu, seperti The Beatles dan musik pop lainnya yang populer di Inggris.” Jawab El.
“Iya, bagus juga kalau kita mengeksplorasi tren mode dan gaya berpakaian di era itu.” Ujar Viona.
“Kita juga bisa membahas peristiwa olahraga penting yang terjadi.” Ujar El.
“Kita tidak bisa melupakan literatur pada tahun 1960an. Banyak karya sastra hebat yang mungkin menarik untuk dijelaskan.” Ujarku.
“Kalian semua punya ide-ide yang bagus!” ujar Viona.
“Mungkin kita bisa menggabungkan semuanya. Jadi kita membahas kehidupan sehari-hari masyarakat di Inggris pada tahun 1960an dengan fokus pada musik, mode, olahraga, dan sastra.” Ujarku. “Bagaimana?”
“Ya, itu akan sangat menarik.” Ujar Ayu setuju.
“Jadi setuju ya dengan tema ini?” tanya Viona memastikan.
Kami mengangguk bersama-sama.
“Kita bagi-bagi tugas untuk mencari informasi dan referensi. Setelah semua kita dapat, kita akan berkumpul lagi untuk menyusunnya.” Ujar El.
“Kapan enaknya kita kumpul lagi?” tanya Viona. “Dan di mana?”
“Bagaimana kalau hari Kamis?” tanya Ayu. “Sepulang sekolah lagi”
“Aku ada latihan basket hari Kamis.” Ujar El.
“Hari Kamis juga aku ada les musik.” Ujarku.
“Kalau hari Jumat?” tanya Viona.
“Aku bisa.” Jawabku.
“Aku juga.” Jawab El.
“Ya udah hari Jumat saja sepulang sekolah.” Ujar Viona.
“Tapi di mana?” tanya Ayu.
“Di sini lagi juga tidak apa-apa.” Ujarku.
“Ya sudah di sini lagi aja.”
Kami pun membagi-bagi tugas untuk referensi yang harus kami cari.
“Aku punya teman yang memiliki info akurat tentang kehidupan di tahun itu. Aku akan menanyakan kepada dia untuk referensi kita.” Ujarku. “Bagaimana?”
“Itu lebih bagus lagi.” Ujar Viona.
Tak lama bi Wina datang dan memberi kode kepadaku. Makanan sudah tersedia untuk kami.
“Bi Wina udah nyiapin makanan. Makan dulu yu.” Ajakku.
“Kok jadi ngerepotin sih, Ava?” tanya Vina.
“Ngga apa-apa, Vin.” Jawabku. “Pada makan dulu ya.”
Kami pun makan bersama sebelum mereka pulang ke rumah mereka masing-masing.
Setelah mereka pulang dan aku yang baru saja masuk ke rumah setelah mengantarkan mereka ke depan.
“Non, sudah banyak teman sekarang ya.” Ujar bi Wina. “Bibi senang lihatnya.”
“Iya, bi. Semua sudah tahu kebenarannya.” Ujarku.
“Kenapa, Non?” tanya bi Wina.
Aku pun menceritakan semua kejadian yang telah terjadi setelah Siska kembali lagi ke sekolah sehabis masa skorsnya.
“Ya ampun, non. Cuma karena itu.” Ujar bi Wina. “Keterlaluan sekali ya non Siska.”
“Iya, bi. Tapi hari ini setelah kejadian itu, dia ngga masuk sekolah. Kata El, dia ke luar kota tadi pagi.” Ujarku.
“Malu pasti, non.” Ujar bi Wina.
“Kayaknya, bi.” Ujarku. “Tapi Ava jadi kasian sama Siska.”
bunga 🌹 untuk si lolipop😁