Pernah merasa goblok saat mencintai seseorang?
Tenang, kalian tidak sendirian! Karena aku juga masuk dalam antrian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi Artikasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Tanpa disadari kaki ini melangkah mendekat dan duduk di sampingnya. Ia masih terisak dengan deraian air pilu yang membanjiri kedua pipinya.
"Rasa cemburu itu masih menghujam telak ulu hatiku, Ru. Tadi, aku sempat lewat di depan rumah Melly, dan aku tak sengaja melihat mobilmu terparkir di sana. Dan kamu tau? Dadaku panas, Ru. Hiks ... hiks ...." Ia meluapkan seluruh isi hatinya.
Aku masih bergeming, seraya menatap serius ke arahnya. Sungguh, aku merasa tersanjung sekaligus terluka. Mendengar penuturannya, aku benar-benar merasa sangat dicinta, tapi berbanding terbalik dengan kenyataannya. Ia ... sudah ada yang punya.
"Aku sadar aku sudah menjadi istri orang, tapi hatiku tidak bisa dipaksakan, Ru. Hatiku masih terpaut padamu," lanjutnya menegaskan bahwa takdir ini bukanlah seperti apa yang dia inginkan. Dan ia juga tidak berdaya akan cekalan kuat sebuah perasaan.
Namun ada satu hal yang membuatku heran. Apa suaminya tidak memperlakukannya dengan penuh kesungguhan? Jika begitu, tidak mungkin ia masih mengingatku dalam masa baru-barunya pernikahan. Hal itu semakin membuatku menaruh kecurigaan.
"Apa semuanya baik-baik saja?" Kuberanikan bertanya di sela-sela isakan. Ia tampak mendongak dan pandangan kami pun saling bertautan. Namun, sejurus kemudian ia kembali tertunduk dalam mode sesegukan.
"Aku ... tidak bisa menceritakannya, Ru." Akhirnya ia bersuara juga. Aku mengernyitkan dahi, lalu lanjut bertanya.
"Apa ... kalian sudah melakukannya?" Dengan nada ragu kuutarakan pertanyaan konyol itu. Aku sungguh terdorong untuk mencetuskan pertanyaan tersebut, walaupun jawabannya mungkin akan mengoyak telak serpihan hatiku.
Ia kembali terisak sembari mengangguk lemas tanda mengiyakan pertanyaanku. Dan benar dugaanku, hatiku perih bagai disayat sembilu. Namun, untuk apa aku tidak terima akan hal itu? Mereka memang berhak melakukan apa pun di luar kuasaku.
"Tapi ... aku tidak suka caranya memperlakukanku, Ru."
DEG DEG
Apa maksudnya?
Perlakuan yang seperti apa?
Aku bahkan tidak bisa menerka!
Bagaimana caranya untuk membuat ia sedikit terbuka?
Kucoba beringsut mengikis jarak di antara diriku dan dirinya. Ia tidak menolak bahkan tidak menjauh sama sekali dari posisi awalnya. Kuraih pundaknya, lalu membuat kami memadukan kedua netra.
"Apa ia memaksamu untuk melakukannya?" tanyaku semakin penasaran. Jika memang iya, sungguh aku tidak suka, bisa-bisa saat ini aku mengambil alih peran.
Untungnya Anis menggeleng tegas. Berarti bukan itu masalah yang harus diberantas. "Lalu?" Aku kembali mengerutkan dahi ke atas. Ia tertunduk kembali setelah melirik ke arahku sekilas.
"Aku hanya tidak suka," responnya dengan suara lirih.
Baiklah!
Akan kusimpulkan sendiri. Dengan percakapan yang berbelit-belit ini, bisa kupahami bahwa ini hanyalah masalah intim yang tidak bisa Anis ungkapkan sama sekali. Kuraih sebelah telapak tangannya untuk menenangkannya saat ini.
"Apa yang bisa aku lakukan untuk menolongmu? Haruskah kita melakukan hal itu? Sehingga kamu tidak lagi merasakan sakitnya?" Aku ... dengan mode kesetananku yang kembali menggebu-gebu.
Anis mendongak dan menatapku penuh tanya. Mungkin ia berpikir bagaimana aku bisa menerka isi kepalanya. Dan aku, hanya tersenyum tipis, menanggapinya.
"Itu gak bener, Ru." Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Menolak telak akan tawaranku yang mengandung unsur dosa.
Aku rasa, ia hanya ingin menyelamatkanku saja. Secara ... aku ini masih perjaka.
Dalam jarak pandang yang cukup dekat, bisa kulihat tatapan sayunya. Ia benar-benar membutuhkan pertolongan sebenarnya. Namun, apa boleh buat jika ia tidak menghendakinya. Aku sendiri bahkan sangat siap menanggung dosanya jika memang hal itu sangat berguna baginya.
***
Untuk beberapa saat kami sama-sama bergeming. Situasi ini benar-benar membuat aku dan Anis bergulat dengan pikiran masing-masing. Aku bahkan tak bisa berpikir jernih dalam putaran waktu yang terasa semakin genting. Kali ini ... aku benar-benar merasa pusing.
"Apakah rasanya benar-benar sakit?" Aku kembali memulai dialog pertamaku, setelah hanyut dalam mode termangu.
Anis mengangguk dengan wajah bersedih hati. Air matanya kembali berlinang di kedua pipi. "Ia bahkan melakukannya di saat aku belum siap, Ru." Menyeka air lukanya sekali lagi. "Bahkan ia melakukannya tidak seperti yang kamu lakukan padaku."
Baiklah!
Sekarang aku mengerti ...!
Abdi tak sesabar aku dalam hal ini. Mungkin Anis tidak enak untuk berdiskusi. Namun, sampai di sini aku sudah cukup memahami.
Bagaimana dengan kalian?
Haruskah aku perjelas lagi?
Baiklah!
Sepengetahuanku Abdi itu tipe lelaki pendiam dan tidak banyak bicara. Berbeda dengan Anis, yang merupakan kebalikannya. Faktor selanjutnya, bisa aku simpulkan bahwa kepasifan Abdi juga berlaku di atas ranjang mereka. Ini baru terkaanku saja, dan aku harus menemukan jawaban pastinya, agar Anis bisa mengatasi permasalahan mereka.
"Begini, sebaiknya hal ini kamu diskusikan bersama-sama. Karena hal tersebut adalah kebutuhan biologis dan sangat berpengaruh besar dalam keharmonisan rumah tangga. Kamu juga berhak merasakan nikmatnya, bukan hanya dia saja. Kalian harus saling terbuka," saranku kemudian yang membuatnya kembali berkaca-kaca.
Tolong!
Berhentilah menangis, wahai kesayangan!
Aku sungguh tidak tahan!
Sejurus kemudian ia menggeleng dengan mimik putus asa. Sepertinya ia sudah berusaha mengkomunikasikannya. Hanya saja, belum ada perubahan yang terasa.
"Oke, mungkin kamu harus memberinya waktu dan mintalah dia untuk memahami keinginanmu dalam hal ini." Aku kembali memberinya saran, yang membuat ia mengangguk tanda mengiyakan.
"Makasih ya, Ru. Makasih karena kamu selalu bersedia menjadi sandaran. Mendengarkan semua keluh-kesahku yang mungkin hanya menambah beban pikiran. Aku harap setelah ini kamu bisa menemukan wanita yang benar-benar perhatian. Tolong, ikhlaskan kepergianku ke rantauan. Semoga kamu selalu hidup dalam keberkahan."
Anis bangkit dari duduknya, lalu menyampir tas selempangnya pada bahu.
"Aku tidak akan bisa melupakanmu," ucapku dalam tunduk. Bisa kurasakan bahwa ia kembali dalam posisi duduk.
"Kamu juga berhak bahagia, Ru. Aku percaya jika kamu masih ingin menunggu jandaku. Tapi aku mohon menikahlah terlebih dahulu. Agar aku tidak merasa bersalah sama kamu. Tolong jangan siksa dirimu, karena takdir di depan tidak ada yang tahu." Ia merangkum wajahku ke dalam genggamannya.
"Tidak bersama bukan berarti tidak setia. Hanya saja, kita berusaha untuk saling menerima. Biarlah waktu yang selama kita tidak bersama, menjadi bukti bahwa kita memang saling terluka. Aku mohon, menikahlah, Ru. Berjanjilah padaku?!" lanjutnya dengan hembusan napas yang memburu.
Aku tidak tahu. Setan atau malaikat yang sedang berada di hadapanku. Yang jelas, ia masih memikirkan tentang kebahagiaanku. Oh, Anisku! Bisa apa aku tanpamu?!
Tanpa mengangguk atau pun menggeleng, aku tak menjawab sama sekali. Ia yang merasa tidak adanya respon dariku, lalu mendongakkan wajahku sekali lagi.
"Percayalah, jika takdir memang milik kita, kapan pun itu, kita pasti akan berjumpa. Dan jika jodoh mempertemukan kita, aku yakin kita pasti akan kembali bersama."
Oh, tidak!
Kalimat terakhirnya itu benar-benar terdengar begitu mujarab. Aku bahkan tak bisa menggerakkan lidahku untuk menjawab. Hanya anggukan tipis yang bisa aku lontarkan dengan kedua netra yang bersitatap.
***
Keesokan harinya, aku bersama teman-teman dan beberapa kerabatnya ikut mengantar mereka berdua hingga ke bandara. Tidak ingin kusia-siakan kesempatan terakhirku untuk melihatnya. Walaupun hanya sekejap mata, paling tidak aku bisa menatap senyuman Anis untuk yang terakhir kalinya.
Setelah ini, aku tak tahu kapan lagi kami bisa bertemu. Apalagi jarak yang terbentang kian menjauh, dan aku tak ingin menjadi pengganggu. Keutuhan rumah tangga Anis, kuanggap juga sebagai tanggung jawabku. Karena jika terjadi sesuatu, maka akulah orang pertama yang akan maju.