Sania adalah seorang gadis cantik yang kaya. karena kekayaan keluarganya Sania menjadi sombong, Ia suka menghina dan meremehkan orang lain. Orang yang paling sering ia hina adalah Arlan, supir pribadinya sendiri. Hampir setiap hari Sania mencaci maki Arlan, walaupun begitu Arlan tidak pernah berpikir untuk berhenti bekerja karena diam diam Arlan sudah jatuh cinta pada Sania. Duniapun berputar berkat kerja kerasnya Arlan berhasil menjadi seorang yang sukses dan kaya sedangkan keluarga Sania jatuh miskin karena mereka mengalami musibah. Akankah Sania jatuh cinta pada Arlan setelah Arlan berubah menjadi kaya dan apakah Arlan masih mencintai Sania mengingat perlakuan buruk Sania dimasa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nety purbasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia bukan anakku
Arlan tidak suka Erika mengatakan sesuatu yang buruk tentang Sania, ia menatap Erika dengan wajah yang terlihat marah.
"Aku mengatakan ini bukan karena aku cemburu dan bukan karena aku membenci Sania. Aku cuma mengatakan yang sebenarnya, Sania kabur dari rumah selama dua minggu. pulang pulang dia hamil, kamu yakin anak yang dikandung Sania itu adalah anakmu?" Erika berusaha membuat Arlan percaya bahwa anak yang dikandung Sania bukannlah anak Arlan.
"Kamu juga harus ingat Sania kabur dengan Dennis. Arlan, aku tidak mau Sania menipumu." Erika menampakan wajah sedihnya agar Arlan tidak marah padanya.
"Kamu benar, sekarang pergilah. lebih baik kamu tidur, aku ingin bicara dengan Sania." Ujar Arlan membuat Erika jadi kesal.
Dengan kesal Erika berjalan seakan akan ia ingin pergi dari ruangan itu, tapi ia tidak benar benar pergi. ia bersembunyi dibalik tembok, ia ingin tahu apa yang akan Arlan bicarakan dengan Sania.
Beberapa saat setelah Erika pergi Sania tersadar dari pingsannya, ketika Sania membuka matanya orang yang pertama ia lihat adalah Arlan.
"Kenapa aku ada disini?" Seingat Sania tadi ia sedang bicara dengan Arlan dihalaman rumah.
"Tadi kamu pingsan, aku yang membawamu kedalam."
"Pingsan? jadi semua itu hanya mimpi? Aku mimpi, kamu bilang kamu sudah menikah dengan Erika. Arlan, semua itu tidak benar kan? kamu tidak mungkin menikah dengan Erika." Sania memegang tangan Arlan yang ketika itu sedang duduk disampingnya.
"Itu bukan mimpi Sania, semuanya kenyataan. aku sudah menikah dengan Erika, sekarang Erika dan ibuku tinggal dirumah ini." Arlan melepaskan pegangan tangan Sania.
Rasanya Sania ingin berteriak dan menangis namun untuk apa ia melakukan itu, sejak awal pernikahannya dengan Arlan hanyalah sebuah keterpaksaan.
"Kalau Erika dan ibumu tinggal disini, lalu bagaimana dengan nenek dan mamaku? dimana mereka?"
"Mamamu masih berada dikampungnya. aku pernah mencoba menelphone mamamu, tapi hpnya tidak aktif. Soal nenekmu, apa kamu tidak tahu kalau nenekmu ada dirumah sakit?"
Penjelasan Arlan membuat Sania jadi sedih. Sania tidak menyangka hanya dalam waktu dua minggu banyak hal yang telah terjadi dan banyak hal yang telah berubah.
"Kenapa nenekku bisa sakit? ini semua pasti gara gara kamu. gara gara kamu menikah dengan Erika, nenekku shock lalu sakit. benar begitu?" Sania menyalahkan Arlan karena neneknya masuk rumah sakit.
"Apa kamu bilang? Sania, kamu jangan asal bicara. nenekmu bisa masuk rumah sakit itu karena kamu." Arlan tidak terima Sania melimpahkan semua kesalahan padanya.
"Aku?" Sania tidak mengerti kenapa Arlan menyalahkan dirinya.
"Iya.. salahmu, kamu ingat saat kita mengantar mamamu kebandara? hari itu nenekmu Pergi kerestaurant dan disana nenekmu jatuh lalu ia koma. kalau saja, waktu itu kamu tidak ikut mengantar mamamu. nenekmu tidak akan pergi dan kecelakaan itu tidak akan terjadi."
Lagi lagi Sania harus menerima kabar buruk tubuh Sania kembali lemas, tanpa terasa air matanya berjatuhan.
Sania merasa apa yang Arlan katakan memang benar, seandainya saja Sania tidak ikut mengantar ibunya. ia bisa menjaga neneknya dan neneknya tidak akan mengalami kecelakaan. Dengan tenaga yang tersisa Sania berusaha untuk berdiri.
"Mau kemana kamu?" Tanya Arlan ketika ia melihat Sania berdiri.
"Aku mau kerumah sakit, katakan dimana nenekku dirawat? aku ingin menemuinya." Sania menghapus air matanya.
"Ini sudah malam, kamu tidur saja. besok pagi aku akan mengantarmu."
"Kamu pikir aku masih mau tinggal disini? Aku akan keluar dari rumah ini, setelah itu aku akan mengurus perceraian kita. Semoga kamu bahagia hidup bersama Erika."
Tidak ada lagi yang membuat Sania ingin bertahan dirumah itu. Dulu ia terpaksa tinggal dirumah itu karena neneknya, tapi sekarang neneknya sakit. ibunya juga sudah pulang kampung sedangkan Arlan, suaminya itu menikah lagi dengan wanita lain.
"Sania kita tidak bisa bercerai." Ucapan Arlan membuat Sania menoleh padanya.
"Kenapa? kamu sudah menikah lagi, alasan itu sudah cukup untuk kita bercerai."
Walau hatinya hancur berkeping keping Sania sudah bulat dengan tekadnya yaitu berpisah dengan Arlan.
"Kamu sedang hamil. kalau ingin bercerai, tunggu sampai anakmu lahir."
Sania tidak tahu kesalahan apa yang pernah ia perbuat, dalam satu hari ia sudah mendengar begitu banyak berita yang mengejutkan dan sekarang harus ditambah lagi.
"Aku hamil? jadi kita akan punya anak?" Sania kembali duduk sambil memegangi perutnya.
"Anak itu, dia bukan anakku." Kata kata Arlan membuat Sania sakit hati.
"Kenapa kamu bicara begitu?" Sania tidak habis pikir, kenapa Arlan tidak mau mengakui anaknya.
"Kamu kabur dengan Dennis. bukan cuma sehari atau dua hari, tapi dua minggu. dua minggu Sania, Selama itu kalian tinggal bersama. aku yakin anak itu adalah anak Dennis."
Sania merasa sangat terpukul mendengar tuduhan Arlan, suaminya sendiri tidak percaya padanya. rasanya percuma jika Sania mengatakan kalau ia culik dan dikurung bersama Dennis.
Arlan tidak akan percaya padanya, Sania juga tidak ingin bersusah payah meyakinkan Arlan supaya Arlan mempercayainya.
Selama dua minggu Sania memang tinggal serumah dengan Dennis, tapi mereka tidak pernah melakukan apa apa. Mereka bahkan tidur dikamar terpisah.
Selama itu juga Dennis selalu bersikap sopan dan baik pada Sania, Dennis merasa kasihan pada Sania karena hampir setiap hari Sania menangis dan mengatakan kalau ia ingin pulang.
Sania mengira Arlan akan senang melihat dirinya pulang, ternyata Sania salah sikap dan perkataan Arlan justru membuat Sania kecewa.
Sania benar benar tidak mau menjelaskan apapun pada Arlan, ia membiarkan suaminya itu berpikir sesuka hatinya.
"Anak ini memang anaknya Dennis, apa puas kamu?"
Sania merasa tidak ada gunanya ia menyakinkan Arlan, kalau anak yang ia kandung adalah anak Arlan. Arlan sudah menikahi Erika dan sebentar lagi mereka akan berpisah jadi buat apa Sania harus repot repot meyakinkan Arlan.
Sania tidak perduli jika Arlan tidak mau mengakui anaknya, Sania sudah lelah menghadapi sikap Arlan yang selalu salah paham padanya.
"Aku pergi, aku mau kerumah sakit. kalau kamu tidak mau memberi tahu, dirumah sakit mana nenekku dirawat? aku akan mencari tahu sendiri. aku akan minta bantuan Dennis, Ayah dari anakku." Sania seakan sedang mengejek dan menertawakan Arlan. dihadapan Arlan, Sania mengelus elus perutnya.
Hati Arlan terasa terbakar kalau saja Dennis ada dihadapannya mungkin Arlan sudah menghajarnya. laki laki itu sungguh tidak tahu diri. beraninya dia menaman benih didalam perut istrinya.
"Berhenti Sani!" Sentak Arlan ketika Sania baru berjalan beberapa langkah.
"Apa lagi?" Sania membalikan tubuhnya, ia pura pura tersenyum meskipun sebenarnya ia ingin menangis.
"Kamu kira setelah kamu membuat kekacauan, kamu bisa pergi begitu saja? aku tidak mengijinkan kamu pergi."
"Aku akan tetap pergi dengan atau tanpa seijinmu."
"Pergilah, tapi begitu kamu keluar dari rumah ini. aku akan menghentikan biaya pengobatan nenekmu." Arlan mengancam Sania karena hanya dengan cara itu Sania mau menurutinya.
"Kamu mengancamku?"
"Terserah kamu mau bilang apa, biaya pengobatan nenek sangat mahal. apalagi nenek sudah aku pindahkan kerumah sakit terbaik, kalau kamu berani keluar dari rumah ini. aku tidak akan membayar uang pengobatan nenek."
Nenek, selalu saja nenek yang Arlan jadikan alat untuk mengancam Sania.
"Arlan, aku mohon. jangan hentikan biaya pengobatan nenekku." Sania rela memohon mohon pada Arlan karena ia tidak punya uang untuk membiayai pengobatan neneknya.
"Aku akan tetap membiayai pengobatan nenekmu, asalkan kamu tidak pergi dari rumah ini." Arlan mengajukan syarat.
"Sebenarnya apa maumu? kamu sudah menikah dengan Erika. untuk apa kamu menahanku disini? kamu ingin menunjukkan kemesraanmu dengan Erika?" Sania sudah pasrah, hidupnya tidak bebas lagi. ia hanya bisa menuruti keinginan Arlan.
"Kamu jangan banyak tanya, bagaimanapun kamu istriku. jadi kamu harus tetap tinggal disini." Arlan juga sebenarnya tidak tahu, mengapa ia merasa berat berpisah Sania.
Karena tidak ingin bertengkar Sania memilih untuk diam, ia lalu pergi kekamarnya. melihat Sania keluar dari ruangan itu Erika cepat cepat bersembunyi.
Setelah Sania naik kelantai dua untuk pergi kekamarnya barulah Erika keluar dari persembunyiannya. Sebelum Arlan melihatnya, Erika buru buru pergi meninggalkan tempat itu.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Sania masuk kedalam kamarnya. Ia senang karena kamarnya masih tetap sama, tidak ada yang berubah sedikitpun.
"Akhirnya aku bisa tidur dikamarku." Sania langsung membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur, tidak lama kemudian Saniapun tertidur pulas.
Sania bangun dari tidurnya ketika jarum jam menunjukan pukul enam pagi, Sania terbangun karena ia merasa lapar.
Sania pergi keruang makan, dimeja makan sudah tersedia banyak makanan.
"Ya ampun, siapa yang menyiapkan makanan sepagi ini?" Sania kegirangan, tanpa berpikr panjang Sania memakan makanan itu.
"Sania, apa yang kamu lakukan?" Suara bentakan seseorang membuat Sania hampir tersedak, Sania buru buru mengambil minuman lalu ia meminumnya.
"Ibu tidak lihat? aku sedang makan." Ternyata yang membentak Sania adalah Ibu Eva, orang tua Arlan.
"Aku sudah meminta Arlan mengusirmu, kenapa kamu masih ada disini?" Ibu Eva kelihatan tidak suka pada Sania.
"Ibu tanya saja Arlan, dia yang melarangku pergi." Jawab Sania santai, ia sama sekali tidak terlihat takut pada ibu Eva.
"Kamu.. " Ibu Eva ingin menampar Sania, tapi karena Arlan dan Erika datang ia tidak jadi melakukannya.
"Ibu, Ada apa ini? pagi pagi kalian sudah ribut?"
Arlan dan Erika baru saja keluar dari kamar mereka. Melihat ibunya ingin menampar Sania, Arlan segera menghampiri Sania dan ibunya. Sedangkan Erika, wanita itu mengikuti Arlan dari belakang.
"Ini Sania, dia makan makanan yang ibu masak."
Memang ibu Evalah yang memasak makanan yang Sania makan. ibu Eva memasak untuk Arlan dan Erika juga untuk dirinya sendiri, tapi Sania malah memakannya membuat ibu Eva kesal.
"Ibu... ini cuma makanan, lagi pula makanannya masih banyak." Ucap Arlan yang seakan membela Sania.
"Kamu kenapa membelanya? Arlan, kenapa kamu belum mengusir Sania?" Ibu Eva tampak marah.
"Maaf bu, aku tidak bisa mengusir Sania." Arlan membuat Ibu Eva bertambah marah.