Kiara Song, 21 tahun, reporter magang yang berjuang sendirian sejak kakaknya koma dan ayahnya kabur meninggalkan hutang. Hidupnya berubah saat ia menikah siri dengan Rayhan Tan — AKP kepolisian berwajah dingin, tubuh atletis, dan mulut tajam yang ternyata diam-diam memasak untuknya setiap malam.
Enam bulan tinggal bersama. Tidak ada ciuman. Tidak ada "aku cinta kamu." Hanya perhatian kecil yang membuat jantung Kiara tidak bisa tenang.
Kiara punya rahasia: ia menato setangkai mawar di pinggangnya sejak SMA — di tempat yang hanya bisa dilihat oleh orang paling dekat. Untuk laki-laki yang sama, selama enam tahun.
Dan Rayhan? Rayhan punya rahasia sendiri.
Ia sudah jatuh cinta pada Kiara jauh sebelum pernikahan ini dimulai.
Nikah dulu. Cinta kemudian. Tapi bagaimana kalau cintanya sudah ada duluan?
(148 kata Indonesia)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 009
Bukan Karena Janji
Pintu pengemudi terbuka.
Rayhan turun dari Fortuner hitam dengan langkah yang membuat udara di depan lobi mendadak berubah. Ia masih memakai kemeja hitam dari pagi, lengan digulung sampai siku. Tidak ada seragam. Tidak ada papan nama. Tetapi cara ia menatap Pak Song membuat semua orang tahu, pria itu bukan seseorang yang bisa diajak bermain.
Tangan Pak Song sudah terangkat.
Sebelum tangan itu turun ke wajah Kiara, Rayhan menangkap pergelangannya.
Gerakannya cepat, bersih, hampir tanpa suara. Pak Song terkejut, lalu mengumpat ketika Rayhan memutar pergelangannya ke bawah dan mendorong tubuhnya menjauh dari Kiara. Dorongan itu tidak terlihat berlebihan, tetapi cukup membuat Pak Song terhuyung sampai menabrak pilar dekat pintu.
Kiara tertarik mundur oleh Cici.
"Ki, lo nggak apa-apa?" Cici memegang bahunya dengan dua tangan.
Kiara mengangguk, tapi matanya tidak lepas dari Rayhan.
Rayhan berdiri di antara dirinya dan Pak Song. Punggungnya lebar, menutup pandangan pria itu sepenuhnya. Di belakangnya, Kiara untuk pertama kali merasa lobi kantor yang ramai bisa menjadi tempat aman.
Pak Song meluruskan tubuh, wajahnya merah padam. "Siapa kamu? Ini urusan keluarga!"
"Urusan keluarga tidak memberi hak untuk memukul, mengancam, atau memeras." Suara Rayhan rendah, tetapi tiap kata terdengar jelas sampai meja resepsionis. "Apalagi di tempat kerja orang."
"Dia anakku!"
"Dia orang dewasa. Dan dia sudah bilang tidak."
Pak Song menunjuk Kiara. "Kamu dengar? Sekarang kamu suruh laki-laki asing melawan bapakmu sendiri?"
Kata laki-laki asing menusuk dengan cara yang aneh.
Cici menoleh ke Kiara lagi, mata penuh pertanyaan, tapi Kiara tidak punya ruang untuk menjawab.
Rayhan maju setengah langkah. "Pak Song, saya beri peringatan pertama dan terakhir. Kalau Anda datang lagi ke kantor ini, ke rumahnya, ke rumah sakit tempat Kevin dirawat, atau mengirim orang untuk menagih uang, saya akan pastikan laporan pemerasan dan pengancaman masuk hari itu juga."
Pak Song tertawa kasar. "Kamu polisi?"
Rayhan mengeluarkan kartu identitas dinas dari dompet dan menunjukkannya sekilas.
Wajah Pak Song berubah.
Tidak banyak. Tapi cukup.
"Saya bukan satpam yang bisa Anda gertak," lanjut Rayhan. "Dan saya tahu riwayat utang judi Anda. Saya juga tahu Anda menghilang empat tahun lalu setelah meninggalkan tagihan pada dua anak Anda."
Orang-orang di lobi mulai berbisik.
Pak Song melirik sekeliling. Untuk pertama kalinya sejak datang, ia tampak sadar bahwa semua mata melihatnya, bukan Kiara.
Bu Ratna berdiri di dekat tangga, tangan terlipat. "Satpam, tolong antar Bapak ini keluar. Kalau kembali tanpa janji resmi, jangan izinkan masuk."
Satpam segera mendekat.
Pak Song menepis tangan satpam. "Aku bisa jalan sendiri."
Sebelum keluar, ia masih sempat menatap Kiara melewati bahu Rayhan. "Kamu akan menyesal mempermalukan bapakmu."
Rayhan menjawab sebelum Kiara sempat bereaksi. "Kalau kau berani datang lagi, aku akan pastikan kau masuk penjara."
Pak Song berhenti satu detik, lalu pergi dengan langkah kasar.
Baru setelah tubuhnya menghilang di balik pintu kaca, Kiara menyadari tangannya gemetar.
Bu Ratna langsung menoleh ke satpam. "Simpan rekaman CCTV lobi dari pukul satu tiga puluh sampai sekarang. Jangan tertimpa otomatis. Kirim salinannya ke email kantor dan satu salinan ke saya."
Satpam mengangguk cepat. "Baik, Bu."
"Kalau Bapak itu kembali, jangan debat di depan. Hubungi saya, lalu panggil polisi." Bu Ratna lalu menatap Kiara. Nada suaranya turun, tetapi tetap tegas. "Ini bukan gosip kantor. Kalau ada yang menyebarkan cerita tanpa izinmu, laporkan ke saya."
Kiara menelan rasa panas di tenggorokan. Perlindungan itu sederhana, tidak memeluk, tidak menghibur berlebihan, tetapi membuatnya bisa berdiri sedikit lebih tegak.
Cici memeluknya cepat. "Ki, itu bapak lo? Yang selama ini lo nggak pernah cerita?"
Kiara menutup mata sebentar. "Nanti, Ci."
"Lo selalu bilang nanti."
"Aku tahu." Suara Kiara pecah sedikit. "Tapi sekarang aku belum bisa."
Cici menatapnya lama, lalu mengangguk meski jelas tidak puas. "Oke. Tapi gue ikut lo sampai mobil."
Rayhan menoleh. Tatapannya turun ke lengan Kiara yang tadi dicengkeram Pak Song. "Sakit?"
"Nggak."
"Kiara."
"Sedikit."
Bu Ratna mendekat. "Ambil cuti sore ini. Jangan debat. Galih bisa mencatat rapat untukmu."
"Tapi, Bu..."
"Saya bilang jangan debat."
Kiara mengangguk. "Terima kasih, Bu."
Di luar kantor, Cici masih memegang tas Kiara seolah takut temannya mendadak diculik lagi. Rayhan membuka pintu penumpang, tetapi tidak langsung menyuruh Kiara masuk. Ia menatap Cici.
"Saya antar pulang."
Cici menyipitkan mata. "Ke rumah saudara?"
Kiara menahan napas.
Rayhan menjawab tanpa berkedip, "Ke tempat yang aman."
Jawaban itu tidak menjelaskan apa pun, tetapi entah bagaimana membuat Cici diam. Ia menyerahkan tas Kiara, lalu berbisik, "Chat gue. Kalau nggak, gue datang ke cluster itu dan nyari sendiri."
Kiara hampir tersenyum. "Iya."
Perjalanan pulang berlangsung lebih sunyi daripada perjalanan setelah Brandon. Bukan karena tidak ada yang bisa dikatakan, melainkan karena terlalu banyak yang akan pecah jika salah satu dari mereka membuka mulut.
Di rumah, Rayhan langsung mengambil kotak obat. Kali ini Kiara tidak membantah ketika ia membersihkan bekas merah baru di lengannya. Sentuhannya sama hati-hatinya seperti semalam, tapi wajahnya lebih gelap.
"Dia tahu alamat," kata Kiara pelan.
"Aku akan minta security cluster memperketat akses. Nama Pak Song masuk daftar larangan tamu."
"Kalau dia datang ke rumah sakit?"
"Aku hubungi pihak RS Harapan juga."
Kiara mengangguk. Seharusnya ia merasa lega. Namun rasa malu datang lebih dulu. Malu karena masa lalunya muncul di kantor. Malu karena Rayhan melihat Pak Song mencengkeramnya. Malu karena Cici akhirnya melihat bagian hidup yang selama ini ia lipat rapat.
"Maaf," katanya.
Rayhan berhenti menutup kotak obat. "Untuk apa?"
"Karena merepotkan."
Wajah Rayhan mengeras. "Jangan minta maaf karena dilukai orang lain."
Kiara menunduk.
Malam itu, setelah memaksa Kiara makan bubur ayam yang dipesan lewat aplikasi, Rayhan menerima telepon di balkon ruang keluarga. Kiara sebenarnya hendak mengambil air di dapur. Ia tidak bermaksud menguping.
Tetapi suara Rayhan terdengar rendah melalui pintu kaca yang sedikit terbuka.
"Iya, Opa. Pak Song muncul di kantor."
Kiara berhenti.
"Sudah saya urus. Security cluster dan RS Harapan akan diberi nama serta fotonya."
Hening sebentar.
Rayhan menghela napas, sangat pelan.
"Aku akan menjaganya. Bukan karena janji."
Jantung Kiara berdetak sekali, keras.
"Tapi karena aku..."
Kalimat itu berhenti.
Rayhan menoleh ke dalam.
Tatapannya bertemu dengan Kiara yang berdiri membeku di dekat meja makan, memegang gelas kosong.
Untuk beberapa detik, tidak ada suara selain angin malam dan detak jantung Kiara sendiri.