NovelToon NovelToon
Setelah Benda-Benda Bicara, Seluruh Keluarga Berlutut Memohon Ampun

Setelah Benda-Benda Bicara, Seluruh Keluarga Berlutut Memohon Ampun

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:25.9k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Dibuang di tengah hujan oleh keluarganya sendiri, Keira Santoso nyaris mati — sampai sebuah lampu jalan BICARA padanya.

Sejak malam itu, dia bisa mendengar suara semua benda. Jantung yang mau mogok kerja. Kalung yang membisikkan rahasia. Berlian yang memanggilnya Tuan Putri.

Dan sentuhan seorang CEO tampan yang semua orang tak bisa menyentuhnya... adalah satu-satunya obat untuk keduanya.

Enam kakak yang dulu mengabaikannya? Sekarang rebutan memanjakannya.
Keluarga yang membuangnya? Berlutut memohon ampun.

Tapi Keira sudah menemukan rumahnya yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7

"Keira Santoso?!" suara Brandon naik tajam. "Kenapa kamu di sini?!"

Kalimat itu membuat kehangatan yang baru saja muncul di dada Keira berhenti di tengah jalan.

Mei Lin menoleh, alisnya langsung berkerut. "Brandon."

Pemuda itu seperti baru sadar bahwa bukan hanya Keira yang berdiri di sana. Ia menarik headset dari lehernya, lalu menatap Mei Lin dan Hendry bergantian.

"Ma, Pa, ini..." Ia menunjuk Keira, tidak sopan tapi terlalu kaget untuk memperhalus gestur. "Ini Keira Santoso."

Hendry menatapnya tenang. "Kami tahu."

"Tahu?" Brandon tertawa pendek, tidak percaya. "Kalian tahu dia siapa dan tetap bawa dia masuk?"

Keira memiringkan kepala sedikit.

Jadi ini Brandon.

Anak keenam keluarga Tanuwijaya. Mahasiswa Universitas S. Pro-gamer Nova Esports. Dalam cerita yang ia baca, Brandon adalah tipe anak bungsu yang berisik, impulsif, mudah percaya pada orang yang ia sukai, dan punya keberuntungan buruk dalam memilih teman.

Sekarang keberuntungan buruk itu berdiri di depannya dengan hoodie hitam dan wajah penuh prasangka.

Mei Lin melangkah maju. "Brandon, bicaramu tidak sopan."

"Ma, aku serius." Brandon menurunkan suara, tetapi nadanya tetap panas. "Dia satu kampus sama aku. Semua orang tahu kasusnya. Plagiat tugas desain, ngejar Gilbert sampai bikin malu, terus ngebully Seline. Seline itu adiknya sendiri."

Nama Seline terdengar di lorong besar Mansion Tanuwijaya seperti bau parfum murah yang tidak cocok dengan rumah ini.

Keira tidak menjawab.

Vas bunga di meja konsol dekat lorong tiba-tiba berbisik di kepalanya.

"Wah, anak bungsu ngamuk. Kayak bocil SD yang nggak dikasih jajan."

Lukisan dinding di sebelahnya ikut menyahut, suaranya tua dan aristokrat.

"Posturnya buruk. Emosinya juga buruk. Anak muda sekarang dramatis sekali."

Keira menahan sudut bibirnya agar tidak naik.

Brandon menangkap ekspresi itu dan salah mengartikannya. "Lo ketawa?"

"Aku sedang berusaha sopan."

"Nggak usah sok polos." Brandon maju satu langkah, lalu seolah sadar ada orang tuanya, ia menahan suara. "Gue nggak tahu kamu pakai cara apa sampai bisa masuk rumah ini. Tapi gue kasih tahu, keluarga Tanuwijaya bukan tempat buat drama murahan."

"Brandon," suara Hendry lebih rendah.

Pemuda itu berhenti, tetapi matanya masih menancap pada Keira.

Mei Lin berkata, "Keira akan tinggal di sini mulai hari ini."

Wajah Brandon berubah total. "Apa?"

"Dia putri Mama."

Untuk sesaat, Brandon tampak seperti game-nya lag di detik paling penting. Mulutnya terbuka, tertutup, lalu terbuka lagi.

"Putri... Mama?"

"Keira anak kandungku," kata Mei Lin. "Dia bagian dari keluarga ini."

Brandon menatap Keira seolah kata-kata itu tidak bisa masuk ke kepalanya. Lalu rahangnya mengeras lagi. Bukan karena mengerti, justru karena terlalu cepat menolak kenyataan.

"Kalau begitu justru makin parah."

Keira akhirnya bicara. "Parah untuk siapa?"

"Untuk rumah ini." Brandon mencondongkan tubuh, suaranya turun menjadi bisikan tajam. "Gue kasih waktu dua puluh empat jam. Pergi dari rumah ini. Jangan bikin malu keluarga Tanuwijaya."

Vas bunga langsung tersinggung.

"Halo? Rumah ini punya standar lebih tinggi dari anak kecil yang termakan gosip kampus."

Karpet lorong menguap. "Aku diinjak tiap hari saja tidak seheboh dia."

Keira menatap Brandon dengan tenang.

"Kalau aku mau pergi, bukan kamu yang menyuruh."

Brandon tersentak, mungkin karena ia terbiasa orang takut pada nadanya. "Lo pikir gue bercanda?"

"Aku pikir kamu terlalu mudah percaya cerita sepihak."

"Seline nggak mungkin bohong soal hal begini."

Keira hampir kasihan.

Hampir.

"Kalau kamu yakin, simpan saja keyakinan itu baik-baik. Nanti saat pecah, suaranya pasti menarik."

Brandon menunjuknya lagi. "Lo..."

"Cukup," Hendry memotong.

Satu kata saja, tetapi cukup membuat lorong diam.

Hendry tidak menaikkan suara. Ia hanya menatap Brandon dengan tenang yang berat. "Keira baru tiba. Engkong masih di rumah sakit. Ko Darren belum pulang. Kita tidak membahas gosip kampus di depan pintu."

Brandon mengepalkan rahang.

"Masuk kamarmu," kata Hendry.

"Pa."

"Sekarang."

Brandon menatap Mei Lin, berharap ibunya membela. Mei Lin hanya memandangnya dengan kecewa yang pelan tapi jelas.

Akhirnya Brandon berbalik dengan langkah keras. Saat melewati Keira, ia berhenti sebentar dan berbisik, "Dua puluh empat jam."

"Jam digital atau analog?" tanya Keira.

Vas bunga hampir menjatuhkan dirinya karena tertawa.

Brandon pergi dengan wajah gelap.

Mei Lin menghela napas. "Maaf, Kei. Brandon..."

"Termakan cerita Seline," Keira menyelesaikan dengan datar. "Saya tahu."

Hendry menatapnya. "Kamu tidak perlu membuktikan apa pun malam ini. Istirahat dulu."

Ia sendiri yang mengantar Keira ke kamar di lantai dua.

Kamar itu luas, tetapi tidak terasa seperti kamar pameran. Sprei putih bersih, meja kerja kayu dekat jendela, rak kosong yang sengaja disiapkan, dan jendela besar menghadap taman belakang. Di sudut kamar ada kursi baca kecil dengan lampu lantai hangat. Di meja, sudah ada pakaian baru yang masih berlabel, perlengkapan mandi, obat dari Dokter Jason, serta kotak kecil untuk menyimpan bagian Lampu Gantung.

"Mei Lin bilang kamu suka desain perhiasan," kata Hendry. "Kalau meja ini kurang besar, besok kita ganti. Kalau butuh alat, tulis daftar. Jangan sungkan."

Keira menyentuh tepi meja.

Tidak ada yang pernah menyiapkan ruang untuknya di rumah Santoso. Di sana, kamarnya selalu terasa seperti tempat sementara yang bisa diambil kapan saja.

"Terima kasih," katanya.

Hendry tersenyum. "Anggap saja ini rumahmu. Kalau ada apa-apa, bilang Papa."

Kata itu lembut. Terlalu lembut untuk langsung diterima.

Keira menunduk sesaat. "Saya akan bilang kalau ada apa-apa."

Hendry tidak memaksa. Justru karena itu, tenggorokan Keira terasa sedikit penuh.

"Istirahat," katanya. "Makan malam bisa diantar ke kamar kalau kamu belum siap turun."

Malamnya, setelah Mei Lin datang memastikan suhu tubuhnya normal dan setelah suara langkah di rumah mulai tenang, Keira membuka laptop lamanya.

Ada beberapa goresan kecil di casing, peninggalan rumah Santoso. Namun perangkat itu masih menyala.

Begitu email terbuka, pesan terbaru dari Kairin muncul di paling atas.

Subjek: Koleksi Baru Lumina.

Keira membukanya.

Liora, aku butuh tiga konsep baru untuk lini semi-formal bulan depan. Kalau bisa, tetap dengan signature kamu, struktur tajam tapi emosional. Investor suka koleksi terakhir, tapi aku tahu kamu bisa lebih gila.

Keira membaca nama itu tanpa reaksi besar.

Liora.

Di luar sana, nama itu milik desainer misterius Lumina Fine Jewelry, masuk industri usia delapan belas, tidak pernah muncul di publik, dan membuat banyak desainer senior penasaran sampai susah tidur.

Di kamar baru Mansion Tanuwijaya, Liora hanyalah Keira yang duduk dengan rambut setengah kering, piyama rumah baru, dan satu keluarga yang belum sepenuhnya bisa ia percaya.

Ia membalas email itu dengan singkat.

Kai, konsep baru bisa aku kirim minggu ini. Tapi aku butuh bantuanmu untuk satu hal. Tolong kumpulkan semua portofolio lamaku dari usia sepuluh sampai delapan belas, termasuk sketsa mentah, foto dengan timestamp, file revisi, dan catatan tanggal pembuatan. Semuanya.

Beberapa menit kemudian, balasan Kairin masuk.

Ini soal Seline?

Keira menatap layar.

Ia mengetik:

Ya. Sudah waktunya aku berhenti membiarkan pencuri memakai namaku sebagai bayangan.

Setelah mengirim email itu, Keira bersandar di kursi.

Di luar jendela, taman Mansion Tanuwijaya gelap dan tenang. Di dalam layar laptop, arsip masa lalunya mulai dipanggil kembali satu per satu.

Seline mungkin mengira semua karya yang ia curi sudah kehilangan jejak.

Sayangnya, Keira tidak pernah menggambar tanpa meninggalkan tanggal.

1
lin sya
kluarga gk tahu malu, stlh tau kbnarannya ngomong ttg kluarga. pdhl dulu kei anak yg diabaikan dan disakitin. skrg dtg dgn tmpg gk brsalah🤭
Dey77
baru awal baca,
semangat thor💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!