NovelToon NovelToon
HOPE

HOPE

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:157.3k
Nilai: 5
Nama Author: Irma

Kecelakaan mengerikan membuat Sakalingga Ibra lumpuh, membuatnya kehilangan semangat hidup. Ia pesimis akan pulih kembali dan menolak semua bentuk terapi yang disarankan.

Sebagai terapis andal, Jenaka Tatjana yang ditawari pekerjaan untuk membantu memulihkan kondisi pria itu merasa tertantang. Meskipun awalnya kesulitan menangani sikap Lingga yang penuh amarah, perlahan-lahan pesona Jenaka mulai membuat Lingga membuka diri.

Namun, ketika Lingga menyatakan cinta, akankah Jenaka percaya itu bukan sekadar rasa terima kasih dari sang pasien kepada terapisnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22

Keesokan harinya, ketika sarapan, Jenaka berniat meminjam mobil Lingga. "Bolehkah aku meminjam mobil? Aku butuh berbelanja hari ini.”

Lingga terkejut dan menaikkan tatapan, matanya menyipit serius. “Apakah kau melakukan ini karena kata-kataku kemarin malam?”

“Bukan, tentu saja bukan,” dusta Jenaka dengan kelancaran yang mengagumkan. “Aku hanya ingin berbelanja kebutuhan pribadiku."

“Apa yang kau tahu tentang Bandung?” tanya Lingga sambil meraih gelas susu yang sekarang dia minum tanpa protes tiap kali makan.

“Tidak ada,” Jenaka mengaku dengan riang. "Tapi aku bisa menggunakan GPS, mengikuti rambu lalu lintas dan papan penunjuk jalan.”

“Aku tidak ingin mengambil resiko kau kesasar, aku akan menelepon Tari. Dia suka berbelanja, apalagi akhir-akhir ini hidupnya berantakan.”

"Hei, aku bukan anak kecil. Aku pandai membaca map," protes Jenaka.

Lingga tak menghiraukan kicauan Jenaka, ia tetap menghubungi adiknya untuk mengantar Jenaka berbelanja. Awalnya, ide berbelanja ditemani Mentari mengempiskan semangat berbelanja Jenaka, tapi ia sadar jika mungkin saja ia membutuhkan pendapat wanita lain, jadi Jenaka membiarkan Lingga menghubungi Mentari.

Dan ternyata Mentari juga menyetujuinya. “Dia dalam perjalanan kemari.” Lalu senyum Lingga digantikan tatapan menyelidik yang tajam. “Kau tidak kelihatan bersemangat,” komentarnya. “Apakah kau tidak ingin di temani oleh adikku?”

“Tidak, aku justru membutuhkan pendapatnya tentang beberapa hal.”

Tatapan menyelidik itu hilang. digantikan rasa penasaran yang riang. “Pendapat seperti apa?”

“Kau ini mau tau saja urusan wanita, ini tidak ada hubungannya denganmu,” jawab Jenaka.

Lingga selalu ingin tahu jawaban dan alasan untuk semua hal. Mungkin waktu kecil Lingga sering memereteli semua mainannya, dan sekarang dia ingin melakukan hal yang sama kepada Jenaka. Dia mungkin melakukan itu kepada semua orang, dan itu salah satu sifat yang membuat Lingga menjadi teknisi yang sangat inovatif.

Disaat Jenaka pergi bersama Mentari, di saat itu pula Lingga tengah berbicara serius dengan Dante di telepon. Akhir-akhir ini Lingga menunjukkan tanda-tanda kembali tertarik pada pekerjaannya, sehingga ia sering menghubungi Dante, selain itu hampir setiap malam setelah makan malam, Lingga membuat coretan-coretan misterius di notes ruang kerjanya, gambar-gambar acak yang tidak menyerupai benda apa pun yang pernah Jenaka lihat.

Hari itu Mentari yang menyetir, karena Jenaka tidak tahu apa pun tentang kota Bandung. Cadillac biru pucat itu meluncur mulus tanpa suara sedikit pun melewati deretan rumah mahal milik miliuner yang menghiasi komplek perumahan tempat tinggal Lingga.

“Kata kakakku, kau perlu berbelanja,”ucap Mentari sambil mengemudikan kendaraannya. “Berbelanja apa?"

Jenaka melemparkan lirikan kebingungan ke arah Mentari. “Gaun, p*kaian d*lam, pakaian tidur, dan bik*ni renang.”

Mentari melengkungkan alis hitamnya yang ramping dengan heran. “Hah kau mau belanja itu? Kau mau berkencan dengan pria? Apa kau punya kekasih orang Bandung?"

Jenaka hanya tersenyum tak begitu menanggapi, meski tak mendapatkan jawaban yang memuaskan, Mentari berhenti bertanya, ia tak ingin terlalu dalam mencampuri urusan pribadi Jenaka.

Hingga tiba di salah satu pusat perbelanjaan yang paling hits di Bandung, mereka masuk ke begitu banyak toko hingga Jenaka tidak tahu di toko apa saja yang sudah ia sambangi, tapi itu tidak penting, yang penting adalah tumpukan kantong dan bungkusan yang perlahan tapi pasti terus bertambah, yang membuat mereka berhenti berbelanja dan berjalan ke bagasi mobil.

Sesampainya di rumah, Jenaka mencoba semua barang belanjaanya, ia membeli rok yang memiliki belahan samping yang tinggi supaya bisa memamerkan kakinya yang jenjang dan ramping, ia juga membeli kaus kaki sutra asli dan sepatu lembut. Gaun-gaun malam yang ia pilih tembus pandang, berbahan transparan, ia juga membeli c*lana dal*m dan b*a s*ksi, p*kaian d*lam menggoda, celana pendek dan kaus pas badan, serta dua b*kini yang menutupi puncak bagian sensitifnya.

Mentari memperhatikan semua itu dengan keheranan yang tidak disuarakan, ia hanya menyampaikan pendapat tiap kali Jenaka meminta karena Jenaka tidak bisa memutuskan dengan yakin apakah pakaian yang ia beli tergolong kategori s*ksi tanpa memberi kesan norak, jadi ia mengandalkan selera Mentari. Mentari-lah yang memilihkan bik*ni itu, satu berwarna merah muda lembut dan satu lagi biru cerah, keduanya berkilau seindah permata di kulit Jenaka yang putih mulus.

“Tahu tidak,” ucap Mentari saat memperhatikan Jenaka memakai p*kaian d*lam sewarna kulit yang kelihatan seperti tidak memakai apa pun, “rasanya ini seperti mau perang.”

"Ya aku mau berperang dengan kakakmu," ucap Jenaka, akhir mengatakan bahwa ia menggunakan pakaian s*xy itu untuk membangkitkan hasrat Lingga.

Mentari menganga tak bisa berkata-kata. "M-maksudmu?" tanyanya terbata-bata.

Jenaka mencondongkan tubuhnya, kemudian melihat sekeliling memastikan tidak ada Lingga di sekitarnya. "Ini rahasia jadi tolong jaga rahasia ini baik-baik," ucap Jenaka dengan serius, ia kemudian menceritakan soal Lingga yang mengalami impoten sejak kecelakaan itu. "Dia tidak akan mungkin menceritakan ini padamu karena dia pasti akan malu," imbuh Jenaka. "Tapi kau tenang saja, aku tidak akan sampai benar-benar tidur dengannya, ini hanya sekedar membuat bagian tubuhnya bangun." ia tak mau Mentari menganggapnya wanita murahan.

"Wow..." cetus Mentari. " Aku sungguh tak menganggap negatif perbuatanmu, aku malah berterima kasih karena kau mau menolong kakakku. Jenaka, menurutku kau seperti prajurit yang berusaha tanpa syarat. Apakah kau jatuh cinta pada kakakku hingga mau berbuat ini kepadanya?”

Jatuh cinta? Tentu tidak! Itu mustahil. Lingga pasiennya, jatuh cinta pada Lingga berarti melanggar etika profesional yang ia pegang teguh. Bukan hanya itu, bagaimana mungkin ia jatuh cinta pada Lingga? Apakah Mentari tidak melihat itu mustahil terjadi? Jenaka membatin.

Lingga pasien yang sangat menuntut, susah payah ia memahat Lingga dari pria lemah menjadi kuat dan bugar. Sekarang Jenaka tidak bisa membiarkan pria itu kembali menyerah, tidak bisa membiarkan semua peluh dan jerih payah mereka terbuang sia-sia, hanya karena masalah bagian dari tubuhnya yang tak bisa berfungsi.

Tetapi, kemudian tiba-tiba saja Jenaka berpikir bagaimana caranya bisa memikat Sakalingga Ibra secara fisik? ia tak tahu bagaimana cara melakukannya.

Jenaka merosot di kursi sambil merem*s pakaian dal*m sewarna kulit di pangkuannya. “Tidak ada gunanya,” gumam Jenaka. “Takkan berhasil."

Mentari menatap pakaian dal*m itu. “Jika dia manusia, pasti berhasil.”

“Semua sarana penunjang ini tidak berguna kalau yang memakai tidak mahir beraksi,” ucap Jenaka dengan jijik terhadap diri sendiri. “Aku tidak tahu cara merayu siapa pun, terutama pria dengan pengalaman sebanyak Lingga.”

Mata Mentari melebar. “Kau serius? Dengan penampilanmu ini, kau tidak harus merayu siapa pun. Kau hanya perlu berdiri seperti patung dan biarkan dia mendatangimu.”

“Terima kasih atas semangat yang kau berikan, tapi itu tidak mudah,” Jenaka mengelak, tidak mampu menceritakan kisah masa lalunya pada Mentari. “Sebagian pria menyukai penampilanku, tapi bukankah Lingga menyukai wanita pirang yang feminim. Aku bukan tipenya.”

“Tidak usah merisaukan rambutmu yang tidak pirang," ucap Mentari. “Penampilanmu… sangat menggoda. Biarkan pakaian ini yang akan bekerja, setelah itu biarkan keadaan berjalan secara alami. Aku sama sekali tak keberatan kau tidur sungguhan dengan kakakku, jika memang miliknya bisa berfungsi kembali aku akan memintanya untuk menikahimu. Kau layak untuk di nikahi, bukan hanya sekedar pembangkit gairahnya saja.”

Jenaka sama sekali tak berpikir tentang pernikahan, ini hanya sebuah profesionalitasnya bekerja.

"Oh iya ngomong-ngomong di mana ya kakakku? Tumben dari tadi tidak kelihatan."

"Mungkin masih di ruang olahraga," ucap Jenaka menduga -duga.

" Jenaka, apakah kau keberatan kalau aku tetap di sini sampai makan malam? Aku tahu kau mungkin ingin memulai aksi merayu kakakku, tapi tadi pagi Dante memberitahuku dia pulang larut malam ini, dan aku tidak punya tujuan.”

Dengan senang hati Jenaka mengizinkan Mentari tetap di rumah Lingga, agar kalau Lingga sampai kelewat batas akan ada Mentari yang menolongnya.

1
RithaMartinE
luar biasa
Ersa
yakin aka selesai malam ini??
Ersa
jgn terus bermonolog dg pikiran & asumsi mu sendiri Jee, bicarakan saja dg lingga
Ersa
melting aku Bang
Ersa
jian ngeyel mrengkel tenan Jenaka ki🤲🏻
Ersa
jantung & hatiku berasa gak aman🤭
Ersa
cinta at first sight 🥰
Ersa
ya Allah aku sempet feeling klo mrk menikah krn kasus rudap*ksa Aya Selama menikah cakra merudap*ksa Jenaka
Ersa
lingga jadi ahli Terapi meraba🤣
Ersa
typo ya 🤭
Ersa
Jee...Sayang... aahh meleleh..
Ersa
simbiolisme mutualisme sama2 saling menguntungkan... jenaka perlahan sembuh dari trauma dekat dg lelaki ,lingga sembuh dari kelumpuhan
Ersa
Modus🤣
Ersa
usil apa medium tuh😁
Ersa
🤣
Ersa
jenaja butuh Terapi mental & sentuhan ketulusan hati
Ersa
atokah mrk menikah krn kejadian rudap*aksa
Ersa
🥰🥰
Ersa
cakra mantan Suami Jenaka ?? rudap*ksa??..🤔
Ersa
lalu bgmn saat menikah dg cakra, apakah tdk pernah disentuh?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!