Erlyn tidak pernah memilih untuk jatuh cinta pada kakak tirinya.
Saat ibunya menikah lagi dan membawanya pindah dari Pulau Belitung ke rumah kolonial tua di Surabaya, Erlyn bertemu Yu Chisen — pewaris keluarga Yu yang dingin, tampan, dan tidak banyak bicara. Dia pelukis. Dia lebih tua dua tahun. Dan mulai hari itu, mereka tinggal satu atap sebagai "kakak-adik."
Tapi Chisen bukan kakak yang biasa. Dia diam-diam melindunginya dari gosip sekolah, mengajarinya bahasa Inggris setiap malam, dan memasak untuknya saat tidak ada orang. Di balik pintu loteng yang selalu terkunci, dia menyimpan ratusan lukisan — semuanya adalah wajah Erlyn.
Saat ibunya meninggal, Chisen menjadi satu-satunya tempatnya bersandar. Saat ayahnya masuk penjara, Erlyn menjadi satu-satunya alasannya bertahan. Perasaan yang seharusnya tidak ada perlahan tumbuh di antara mereka — terlalu dalam untuk diabaikan, terlalu terlarang untuk diakui.
Pada malam badai itu, Erlyn memakai sepatu kristal pemberian Chisen dan mengetuk pintu kamarnya.
Dia yang duluan jatuh cinta. Dan dia yang duluan melangkah.
Empat tahun kemudian, badai datang lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 18
Ajakan
Chisen benar-benar makan nasi goreng Erlyn lagi.
Sabtu pagi, Jing sengaja tidak turun tangan terlalu banyak. Ia hanya berdiri di samping kompor, sesekali mengingatkan api jangan terlalu besar, sementara Erlyn mengaduk nasi dengan wajah serius seperti sedang mengerjakan ujian nasional.
Chisen lewat di belakang mereka sekali, mengambil air, lalu berhenti.
"Kecapnya?"
"Setengah dari kemarin," jawab Erlyn cepat.
"Garam?"
"Sedikit."
"Percaya diri?"
"Sedang dibangun."
Chisen menatap wajan, lalu mengangguk kecil. "Lanjut."
Jing tersenyum di belakang mereka.
Hasilnya lebih baik. Warna nasi tidak terlalu gelap, udangnya tidak keras, dan Om Changli menambah setengah porsi saat sarapan. Chisen tidak memuji, tentu saja. Tetapi piringnya kosong lagi. Erlyn mulai curiga bahwa dalam bahasa Chisen, piring kosong setara dengan tepuk tangan berdiri.
Di sekolah, kabar bahwa Erlyn bisa menjelaskan fisika menyebar lebih cepat daripada kemampuan masaknya.
Bukan gosip buruk kali ini. Beberapa teman mulai bertanya soal. Ada yang datang benar-benar ingin belajar, ada juga yang hanya mencari alasan untuk mendekat karena masih penasaran tentang rumahnya, keluarganya, dan kakak tiri yang pernah membuat gerbang sekolah sunyi. Erlyn mulai bisa membedakan keduanya.
Kevin termasuk yang pertama.
Ia selalu membawa buku. Selalu bertanya jelas. Selalu tahu kapan harus berhenti. Itulah yang membuat Erlyn tidak merasa lelah berbicara dengannya.
Pada hari Rabu, mereka duduk di perpustakaan bersama Angie. Di atas meja ada tiga buku latihan, satu bungkus roti cokelat, dan minuman teh botol yang sudah berkeringat.
"Kalau kamu terus begini, Erlyn bisa buka les privat," kata Angie.
"Aku bayar roti cokelat," jawab Kevin.
"Itu bukan bayar. Itu sogokan kecil."
Kevin tertawa. "Kalau begitu aku harus naikkan tarif?"
"Minimal es kopi."
Erlyn menutup buku. "Aku belum setuju membuka les."
"Tidak perlu setuju. Pasar sudah terbentuk," kata Angie.
Percakapan itu ringan, tetapi Erlyn sadar Kevin beberapa kali tampak ingin mengatakan sesuatu. Ia menunggu sampai Angie pergi mengembalikan buku ke rak.
"Erlyn," kata Kevin, suaranya sedikit lebih hati-hati. "Sabtu kamu ada acara?"
Tangan Erlyn berhenti memasukkan pensil ke tempatnya.
"Belum tahu. Kenapa?"
"Ada toko buku baru di dekat Tunjungan. Katanya buku latihan SNBT-nya lengkap, meski kita masih kelas sepuluh. Aku mau cari buku fisika yang kamu bilang kemarin. Kalau kamu mau, kita bisa pergi bareng. Setelah itu makan di food court. Angie juga boleh ikut kalau mau."
Ia mengucapkannya cepat, mungkin agar terdengar seperti rencana belajar biasa.
Erlyn memandangnya.
Kevin tidak menatapnya dengan cara yang membuat tidak nyaman. Justru karena itu, Erlyn menjadi bingung. Ajakan itu bisa saja benar-benar soal buku. Bisa juga lebih dari itu. Atau mungkin dua-duanya, dan ia belum tahu harus menaruhnya di kotak mana.
Angie kembali sebelum Erlyn menjawab.
"Apa yang aku lewatkan?"
Kevin langsung berkata, "Aku ngajak kalian ke toko buku Sabtu."
Angie menatap Kevin, lalu Erlyn, lalu tersenyum terlalu lebar. "Kalian?"
"Kamu juga," kata Kevin cepat.
"Sayang sekali, Sabtu aku ada acara keluarga."
"Angie," desis Erlyn.
"Apa? Aku belum selesai. Minggu aku kosong."
Kevin menggaruk tengkuknya, agak salah tingkah. "Minggu juga bisa."
Angie menopang dagu. "Erlyn, kamu bisa?"
Erlyn ingin menendang kaki Angie di bawah meja. "Aku tanya Mama dulu."
Itu jawaban paling aman.
Namun sepanjang sisa hari, pertanyaan itu mengikuti Erlyn. Sabtu. Toko buku. Food court. Kevin. Angie yang tiba-tiba mungkin tidak bisa. Dalam hidup lamanya di Belitung, keluar dengan teman laki-laki bukan hal besar selama jelas tujuannya. Tetapi sekarang, setiap hal yang melibatkan laki-laki terasa seperti harus melewati pemeriksaan tidak tertulis.
Pemeriksaan itu bernama Chisen.
Sore, saat les privat, Erlyn beberapa kali salah menghitung soal mudah.
Chisen mengetuk kertas. "Pikiranmu di mana?"
"Di kepala."
"Tidak terlihat."
"Koh bisa fokus ke soal?"
"Aku fokus. Kamu tidak."
Erlyn menekan pensil terlalu keras sampai ujungnya patah.
Chisen mengambil pensil lain dari kotak dan memberikannya. "Ada masalah di sekolah?"
"Tidak."
"Kevin?"
Nama itu keluar dari mulut Chisen terlalu cepat.
Erlyn mengangkat kepala. "Kenapa langsung Kevin?"
"Karena wajahmu begitu."
"Wajahku tidak punya nama orang."
"Hari ini punya."
Ia ingin menyangkal, tetapi menyangkal justru membuatnya tampak lebih jelas. Jadi Erlyn menunduk kembali pada soal.
Malam itu, saat makan, Kevin mengirim pesan.
Kevin: Kalau Sabtu tidak bisa, Minggu juga boleh. Tidak usah dipaksa.
Erlyn membaca pesan itu di bawah meja. Jing sedang berbicara dengan Om Changli tentang belanja mingguan. Chisen duduk di seberangnya, satu tangan memegang sendok, tangan lain membuka ponsel. Cahaya layar memantul samar di wajahnya.
Erlyn mengetik:
Aku tanya Mama dulu.
Kevin membalas:
Oke. Kalau tidak boleh juga tidak apa-apa.
Tidak apa-apa.
Kalimat itu seharusnya membuat Erlyn lega. Tetapi ia justru mengangkat mata, tanpa sadar mencari Chisen.
Chisen sedang melihat ponselnya.
Wajahnya tidak berubah.
Tidak bertanya.
Tidak melarang.
Tidak melihat ke arahnya.
Seolah nama Kevin tidak pernah membuatnya berhenti mengetuk pintu loteng, tidak pernah membuat kuasnya menghantam kanvas, tidak pernah membuatnya berkata jangan terlalu dekat.
Sendok di tangan Erlyn terasa lebih berat. Nasi di piringnya mendadak sulit ditelan, padahal tidak ada yang berubah di meja makan.
Erlyn menatapnya beberapa detik.
Chisen tetap menunduk ke layar ponsel, tanpa ekspresi.