Satrio Hartanto atau biasa di panggil Ario adalah seorang pemuda desa berusia 25 tahun, dia tumbuh di dekat pesisir pantai dengan penduduk tidak terlalu banyak. Dia dua bersaudara mempunyai adik bernama Anggoro yang baru lulus SMP.
Ibunya bernama Ropi'ah seorang penjual nasi di warung pinggir pantai, warung yang terbuat dari bambu dan kayu sangat sederhana sekali tapi rapih dan bersih.
Ayahnyanya seorang petani dan peternak bebek biasa hanya cukup untuk kebutuhan keluarganya saja.
Suatu hari kampung pesisir pantai itu di terjang tsunami setelah gempa besar, semua rumah di sana hancur dan terbawa arus tidak ada yang tersisa satupun dan hampir semua penduduk hilang terbawa arus tsunami, kecuali Ario dan keluarga karena sedang menghadiri acara perpisahan di sekolah Anggoro adiknya yang jaraknya satu jam perjalanan dari rumahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rorop, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang Tua Ario Ingin Kembali Ke Kampungnya
Ario sedang berkumpul dengan orang tuanya di rumah tidak ada adiknya, kebetulan Anggoro lagi camping pramuka di sekolahnya.
"maaf bang ibu lancang bertanya tentang hal pribadi... selama ini ibu dan bapak memperhatikan pengeluaranmu yang sangat banyak. Kalau beli rumah ini dan tanah yang dari bu Ida ibu tau, itu uang sumbangan dari bosmu dan teman kerjamu dari Jepang. Tapi pembelian tanah yang di belakang bengkelmu yang cukup luas dan pembangunan panti asuhan yang bisa menampung ratusan anak yatim itu dari mana dananya? Dan sekarang mau membangun resort di kampung kita, abang pinjam ke bank?" bu Ropi'ah bertanya dengan lembut kepada anak sulungnya sambil menggenggam tangan anaknya, beliau sengaja bertanya di waktu yang tepat selepas makan malam dan tidak ada anak bungsunya yang suka mengganggunya kalau lagi serius.
"maaf bu, maaf ayah, aku tidak cerita dari awal karena takut ada cicak putih yang mendengar dan menyebarkannya ke orang lain dan takutnya di tambah-tambahin dan jadi fitnah. Yang jelas uang itu bukan hasil pinjaman dari bank dan bukan sumbangan dari Jepang. Tapi ada yang menitipkan uang itu kepada Ario untuk di kelola, beliau minta di buatkan panti asuhan makanya aku membangunnya senyaman mungkin karena itu amanah dari beliau. Tapi orang yang memberikan uang itu sudah meninggal, bahkan beliau tidak punya lagi keluarga makanya uang itu di titipkan kepada Ario untuk membuat panti asuhan dan untuk masa depanku karena beliau sudah menganggapku cucunya katanya... Gitu bu, ayah" jawab Ario.
"nama beliau siapa bang? Baik banget menitipkan uang untuk membangun panti asuhan dan masa depanmu. Dan jumlahnya pasti sangat banyak itu" ayah bertanya dengan lembut juga.
"itu bu, yah, sebenarnya begini ceritanya....." Ario menceritakan penemuan uang itu di tanah orang tuanya di kampung, dan mimpinya bertemu kakek itu dia menceritakan semuanya kepada orang tuanya "sebenarnya begitu ceritanya bu, ayah" Ario mengahiri ceritanya.
"oooh seperti itu ceritanya, pantesan abang cepat sekali membeli tanah dan membangun panti asuhan yang cukup luas. Smoga berkah buat abang dan kita semua... Aamiin" ibu merasa terharu dan seperti mimpi mendengar cerita itu.
"aamiin... aku juga sudah daftarin umroh buat kita berempat... awalnya aku daftarin haji buat ayah dan ibu saja tapi nunggunya lama paling cepat 5 tahunan katanya, makanya aku daftar umroh aja buat kita sekeluarga nanti bulan juni sekalian jalam-jalan ke Turki dan Mesir" kata Ario.
"alhamdulillah ya allah, terima kasih bang smoga tambah berkah" ayah terharu mendengar penuturan anaknya, dia bangga memiliki anak yang baik, soleh dan dermawan.
"aamiin... Tapi cerita ini hanya kita bertiga yang tau ya, Anggoro juga jangan di kasih tau ya bu, ayah... Takutnya ke ceplosan cerita kepada orang lain, dia kan kalau ngomong suka asal" jawab Ario.
"tenang bang, ayah dan ibu bukan orang lemes. Akan kita simpan cerita itu sampai akhir hayat kami, iya kan bu?" kata ayah.
"iya" jawab ibu singkat
Setelah selesai cerita ini itu Ario pamit kepada orang tuanya untuk pulang ke rumahnya, Ariopun pulang dan orang tuanya istirahat masuk ke kamarnya karena sudah malam.
Seminggu kemudian jam 5 pagi Ario pergi ke kampung Pesisir lagi membawa sekarung beras dan bahan makanan lainnya, karena hari ini peletakan batu pertama pembangunan resort dan rumah persinggahannya.
Perjalanan yang sungguh menyegarkan melewati pegunungan dan perbukitan di tumbuhi pohon-pohon yang rindang membuat udaranya bersih dan menyehatkan.
Ario menjalankan mobilnya dengan agak lambat dan penuh ke hati-hatian, karena jalannya masih gelap karena jalan ke kampungnya sangat jarang sekali rumah dan tidak ada lampu jalan.
Ketika jalan tepat di atas bukit matahari mulai menyingsing di ufuk timur, Ario menepikan mobilnya dan membuka kaca mobilnya lebar-lebar. Pemandangan sungguh sangat indah memanjakan matanya, tak lupa dia mengabadikan pemandangan itu dengan kameranya.
Setelah merasa cukup beristirahat, Ario melajukan mobilnya lagi menuju kampung Pesisir.
Sampai di sana kebetulan pekerja dan pemborong juga baru tiba di sana, mereka membantu Ario menurunkan beras dan makanan lainnya buat para pekerja di sana. Mereka membawanya ke rumah kecil terbuat dari bilik bambu untuk tempat bahan bangunan dan tempat menyimpan bahan makanan karena di sana sudah di sediain kulkas, kompor, peralatan masak dan reskuker yang Ario bawa kemarin, mereka membangun bilik bambu itu dari seminggu yang lalu dan baru selesai kemarin.
Sebetulnya makanan para pekerja di tanggung pemborong, tapi Ario ingin menyediakan juga supaya para pekerja semangat bekerja.
"bismillah smoga lancar dan berkah, aamiin" kata Ario ketika meletakan batu pertamanya.
"aamiin" jawab semuanya.
Ario semangat sekali membantu dan mengawasi para pekerja, sampai jam empat sore dia baru hendak pulang.
"pak, besok aku gak ke sini. Aku percayakan sama bapak untuk mengawasi dan memimpin pembangunan ini" kata Ario kepada pemborongnya.
"baik, kami akan melakukan yang terbaik sesuai keinginan nak Ario" jawab pak Sudjana itu selaku pemborongnya.
"baiklah aku pamit pulang ya pak, mungkin minggu depan baru ke sini lagi" Ario menjabat tangan pak sudjana dan yang lainnya yang hendak pulang ke rumah masing-masing, tapi ada tiga orang yang menginap di bilik bambu untuk menjaga bahan-bahan bangunan di sini.
Ario naik mobilnya begitupun pemborongnya, para kuli bangunan juga banyak yang membawa motor banyak juga yang nebeng mobil pemborong dan motor temannya.
Ario menjalankan mobilnya bersama pemborong dan para kuli bangunan, ada yang searah dengannya ada yang berlawanan arah. Mereka meninggalkan lokasi pembangunan resort menuju rumah masing-masing.
Setelah hari hampir gelap Ario baru sampai ke rumah orang tuanya, dia langsung mandi dan makan malam bersama keluarganya.
"bagaimana bang pembangunan resortnya?" tanya ayah Andi.
"seru yah banyak sekali pekerjanya, masing-masing grup menggarap satu bangunan" jawab Ario semangat.
"memangnya satu grupnya berapa orang bang?" tanya ayah lagi.
"6 orang yah, tiga orang tukang dan 3 orang lagi laden" jawab Ario.
"wah bisa cepat selesai itu, kalau pekerjanya banyak" kata ayah Andi.
"iya ayah, di perkirakan enam bulan selesai semua termasuk taman dan juga kolam renangnya. Karena pekerjanya semua sudah ahli, waktu membangun panti asuhan juga pemborongnya dan pekerjanya orang itu juga dalam waktu lima bulan lebih sudah selesai dengan tamannya karena mereka sudah terbiasa memborong bangunan" jawab Ario.
"kalau resort sudah selesai di bangun bolehkah ibu dan ayah tinggal di sana? Ibu mau buka rumah makan juga di sana dan mau jualan makanan dan buah-buahan juga kebutuhan lainnya. Dalam jumlah kecil aja bang asal lengkap, supaya tamu resort gak susah cari makanan dan kebutuhan selama menginap di sana" ibu Ropi'ah menyampaikan keinginannya dan keinginan suaminya.
"baiklah kalau itu keinginan ibu dan ayah, dari sekarang latihlah para karyawan untuk memasak supaya rumah makan yang di sini tetap berjalan kalau ibu dan ayah pindah nanti" jawab Ario.
"tentu saja bang, malah masakan teh Yeti persis seperti masakan ibu rasanya walaupun kadang-kadanf terlalu matang. Jadi ibu sudah tak ragu lagi mempercayakan masakan kepada mereka apalagi masih lama. Kalau 6 bulan lagi pasti mereka sudah mahir semuanya, ibu juga nanti sebulan sebelum pindah mau menambah karyawan dua orang untuk bantu-bantu bersih-bersih untuk mengganti mereka yang naik posisi jadi tukang masak kalau bahasa kerenna mah chef kata Anggoro" kata ibu sambil terkekeh mengingat kata anak bungsunya yang sering menyebutnya chef profesional.
"bagus itu bu, ideu ibu dan ayah sangat brilian makanya nurun kepada anak-anaknya suka berusaha dan bekerja keras juga berbisnis. Dan semua itu sangat menyenangkan" Ario bersemangat.
Anggoro keluar dari kamar dia baru selesai belajar selepas makan malam tadi, dia ikut bergabung di ruang keluarga dan ikut nimbrung karena tadi dia mendengar percakapan orang tuanya juga kakaknya walaupun agak samar.
"ayah dan ibu mau tinggal di kampung Pesisir lagi ya?" tanya Anggoro.
"iya dek, tapi nanti kalau resortnya udah jadi" jawab ibu.
"terus aku di sini berdua sama abang?" kata Anggoro.
"iya dek, gak apa-apa kan? Lagian adek bisa ke sana tiap hari libur atau seminggu sekali nginap di antar abang, ayah juga pasti sering ke sini mengunjungi kalian" kata ayah.
"gak apa-apa sih yah, cuma gimana gitu... kalau ngumpul lebih asik" jawab Anggoro.
"lah waktu sebelum ada gempa dan tsunami, kamu tinggal di sini berdua sama abang biasa-biasa aja" Ario menepuk tangan adiknya.
"iya sih bang, tapi gimana gitu sudah biasa di sini makan malam ngumpul jadi berjauhan pasti ada yang kurang" jawab Anggoro.
"ya kalau awal-awal pasti gitu, tapi kalau udah lama pasti biasa lagi. Kita harus saling mendukung dan penuh semangat, kita sama-sama berjuang untuk kehidupan kita yang lebih baik dan bahagia kedepannya" kata Ario
"dan smoga tuhan selalu memperlancar jalan kita dan melindungi kita semua. Aamiin" sambung ibu.
"aamiin" jawab semua
Setelah itu mereka masuk kamar masing-masing, hari ini Ario tidur di rumah orang tuanya karena sudah ngantuk makanya dia langsung tidur di sana.
Keesokan harinya setelah sarapan Ario pulang ke rumahnya untuk membuka bengkelnya, dan Anggoro nerangkat sekolah menggunakan sepedanya. Ibu dan ayah juga pergi ke rumah makan, mereka melakukan kegiatan masing-masing.
yang genit itu.gimana reaksinya..
tidak hanya ario saja tapi ibunya juga bisa kembali bertemu dengan saudara kandungnya.tentu makin bahagia dan sejahtera saja keluarga besar ario
semangat ya ditunggu kelanjutannya..
semoga awet bisa menua bersama
hingga maut yang memisahkan
moga bahagia terus sampai menua bersama hingga maut yg memisahkan