Karin mengira semuanya telah berakhir saat tubuhnya terjatuh ke dasar jurang. Namun ketika membuka mata, ia justru kembali menjadi gadis berusia dua puluh tahun dan mendapati kedua orang tuanya masih hidup.
Kesempatan kedua itu membuatnya bersumpah mengubah takdir. Ia harus menyelamatkan keluarganya dan menghindari pernikahan dengan Giorgino, pria yang kelak menghancurkan hidupnya.
Demi menggagalkan rencana perjodohan, Karin nekat mengaku telah memiliki kekasih. Masalahnya, pria itu tidak pernah ada.
Dalam kepanikannya, hanya satu nama yang terlintas di benaknya—Kai, mahasiswa berandal yang dingin, cuek, dan terkenal sebagai badboy kampus.
Namun semakin dekat dengannya, Karin menyadari bahwa kehidupan keduanya ternyata menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada sekadar kesempatan hidup kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhir Pekan Yang Sederhana
Bab 19
Sabtu pagi datang dengan langit yang cerah. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, Karin bangun tanpa dibayangi rasa cemas yang berlebihan.
Hari itu tidak ada kuliah. Ia meregangkan tubuhnya, lalu membuka jendela kamar. Angin pagi berembus lembut membawa aroma tanah yang masih basah sisa hujan semalam.
"Semoga hari ini tenang," gumamnya.
Di lantai bawah, aroma nasi goreng buatan Hesti sudah memenuhi rumah.
"Karin, sarapan dulu!" panggil Hesti.
"Iya, Ma."
Saat turun ke ruang makan, Pak Wirawan sudah duduk sambil membaca koran.
"Selamat pagi."
"Pagi, Pa... Ma."
Hesti meletakkan segelas susu di depan putrinya.
"Nanti jadi mengerjakan tugas?"
"Iya, Ma."
"Di mana?"
"Perpustakaan kota."
Pak Wirawan melipat korannya.
"Sama teman-teman?"
"Iya."
Karin menjawab dengan tenang. Ia memang tidak berbohong. Hanya saja, ia tidak menyebutkan bahwa salah satu teman yang dimaksud adalah Kai.
"Kalau pulangnya sore, kabari Mama."
"Iya."
-
-
-
Pukul sembilan pagi...
Perpustakaan kota belum terlalu ramai.
Karin datang lebih dulu. Ia memilih duduk di meja dekat jendela. Beberapa menit kemudian, Nia datang sambil membawa setumpuk buku.
"Untung aku nggak telat."
"Kamu memang selalu mepet."
"Hehehe..."
Tak lama berselang, Kai muncul dengan ransel hitamnya.
"Pagi."
"Pagi."
Nia langsung melambaikan tangan.
"Sini."
Kai duduk di hadapan mereka.
Hari itu mereka benar-benar fokus mengerjakan tugas. Sesekali Nia mengeluh karena materi yang cukup sulit, sementara Kai dengan sabar menjelaskan bagian yang ia pahami.
"Kamu ngerti semua ini?" tanya Nia kagum.
"Nggak semua. Cuma kebetulan pernah baca."
Nia menggeleng.
"Pantes nilai kamu bagus."
Kai hanya tersenyum kecil.
Karin diam-diam memperhatikan.
Kai memang bukan orang yang banyak bicara. Namun setiap kali menjelaskan sesuatu, ia selalu sabar dan mudah dipahami.
Tanpa sadar, Karin kembali tersenyum.
"Astaga..."
Nia menyenggol pelan kaki Karin di bawah meja.
"Kamu senyum lagi."
Karin langsung salah tingkah.
"Apa sih."
"Nggak apa-apa."
Nia terkekeh pelan.
Kai yang melihat tingkah mereka hanya menggeleng sambil kembali membaca buku.
-
-
-
Menjelang siang...
Tugas akhirnya selesai.
"Alhamdulillah."
Nia meregangkan tubuhnya.
"Akhirnya selesai juga."
"Kalian duluan saja."
"Aku harus ke rumah Bibi."
Ia buru-buru membereskan buku.
"Sampai ketemu Senin."
"Hati-hati."
Kini tinggal Karin dan Kai.
Suasana mendadak menjadi lebih sunyi.
"Kamu langsung kerja?" tanya Karin.
Kai melihat jam.
"Masih dua jam lagi."
"Berarti masih ada waktu."
Kai mengangguk.
"Iya."
Karin tersenyum. Ia melirik jam dari ponselnya, waktu baru menujukan pukul sebelas lewat. Ia menarik napas pelan. Rasanya sayang jika langsung pulang.
"Jalan sebentar, yuk."
"Kemana?" tanya Kai.
"Taman kota."
Kai tidak langsung menjawab.
Namun akhirnya ia mengangguk.
"Boleh."
-
-
-
Taman kota ramai oleh keluarga yang menghabiskan akhir pekan. Anak-anak berlarian mengejar gelembung sabun. Beberapa pedagang kaki lima menawarkan es krim dan jajanan.
Karin membeli dua es krim vanila.
"Nih."
Kai menerimanya.
"Terima kasih."
Mereka berjalan santai menyusuri jalur pejalan kaki.
"Aku baru sadar."
"Apa?"
"Kita sering ketemu."
Kai mengangguk.
"Iya."
"Tapi aku nggak tahu makanan favoritmu."
Kai berpikir sebentar.
"Apa saja."
"Itu bukan jawaban."
Kai tertawa kecil.
"Bakso."
"Nah, itu baru benar."
"Kamu?"
"Mie ayam."
Kai mengangguk pelan.
Percakapan mereka terus mengalir. Tentang makanan. Tentang pelajaran. Tentang film yang pernah ditonton.
Hal-hal sederhana yang sebelumnya tidak pernah mereka bicarakan.
Semakin lama, Karin merasa dirinya mulai mengenal Kai yang sebenarnya.
Bukan Kai yang dikenal kampus sebagai mahasiswa pendiam dan sering bermasalah. Melainkan Kai yang sederhana, pekerja keras, dan memiliki selera humor yang muncul sesekali.
-
-
-
Sementara itu...
Di sebuah kafe tidak jauh dari taman, Gio sedang bertemu dengan seorang pria paruh baya.
Pria itu adalah kenalan lama ayahnya yang kini membantu mengurus beberapa aset keluarga.
"Bagaimana keadaan perusahaan Ayah saya?"
Pria itu menghela napas.
"Tidak sebaik dulu. Ada beberapa investasi yang gagal. Beberapa aset juga harus dijual."
Gio terdiam.
Meski sudah mengetahui kondisi itu, mendengarnya langsung tetap membuatnya tidak nyaman.
Ia terbiasa hidup tanpa memikirkan uang.
Kini semuanya berubah.
"Kalau begitu, aku harus mulai membangun lagi."
Pria itu mengangguk.
"Kamu masih muda. Asal mau bekerja keras, semuanya bisa kembali."
Gio tersenyum tipis.
"Bekerja keras..."
Ia teringat ucapan Kai malam itu.
"Bukan berarti orang yang punya uang berhak merendahkan orang lain."
Tanpa sadar, rahangnya mengeras. Ia tidak ingin hidup susah. Dan ia tidak ingin kehilangan kesempatan mendapatkan masa depan yang lebih baik.
Dalam benaknya, keluarga Wirawan tetap menjadi jalan yang paling menjanjikan.
-
-
-
Sore hari...
Karin dan Kai duduk di bangku taman sambil menikmati angin sepoi-sepoi.
"Kai."
"Hm?"
"Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Karena beberapa minggu terakhir...aku jadi lebih sering tersenyum."
Kai menoleh.
"Aku nggak merasa melakukan apa-apa."
"Justru itu. Kamu selalu ada."
Kai terdiam.
Ucapan itu membuatnya sedikit salah tingkah. Ia menatap ke arah danau kecil di depan mereka.
"Lain kali..., aku juga boleh minta bantuan?"
Karin terlihat terkejut.
"Kamu?"
"Iya."
"Boleh. Kapan saja."
Kai tersenyum tipis.
"Kalau begitu, nanti aku pikirkan."
Keduanya tertawa pelan.
Tanpa mereka sadari, hubungan yang awalnya dimulai karena sebuah kebohongan perlahan berubah menjadi kenyamanan yang nyata.
Bukan karena kata-kata manis. Melainkan karena mereka mulai saling hadir dalam kehidupan satu sama lain.
Di kejauhan, langit sore mulai berwarna jingga. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada ancaman. Hanya dua orang yang perlahan belajar saling mengenal.
-
-
-
Bersambung...