Melakukan hubungan satu malam dengan wanita yang tak ia kenal. Hingga merenggut kesucian tanpa peduli dengan Isak tangis penolakan.
"Aku mohon jangan buang benihmu di rahimku!"
"Beruntunglah aku masih berbesar hati terhadapmu!"
Tapi di saat Bastian mulai mencari keberadaan wanita itu, dia harus menerima kenyataan jika wanita yang ia perkosa telah sah menjadi istri dari Ayahnya.
Akankah Bastian terima dengan pernikahan mereka?
Atau justru nekat berhubungan dengan Ibu Tirinya?
Ig weni0192
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon weni3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Kinara tercengang melihat Pria yang tadi ingin menggagahinya tiba-tiba berlari masuk menuju kamar mandi. Di susul juga oleh Bara yang menghentikan aktivitasnya kemudian menggedor pintu kamar mandi dengan tergesa. Bahkan tak hanya mereka, wanita yang tadi sempat mendesaah kenikmatan ikut turun dengan tubuh polos menuju tempat yang sama.
"Aku dulu!"
"Tapi Om, perutku juga sakit," keluh wanita itu dengan memegang perutnya yang begitu terasa melilit hingga keringat dingin bercucuran.
Kinara menatap bingung dengan apa yang terjadi, kenapa ketiganya berburu kamar mandi. Dia mulai curiga dengan penyebab yang mengakibatkan ketiganya menghentikan aktivitas.
Dalam ketakutan yang ia rasakan, Kinara memikirkan sesuatu. Matanya membola melihat beberapa gelas minuman yang ia yakin adalah penyebab utama mereka kesakitan. Lalu kembali memperhatikan Bara yang terus marah-marah meminta temannya segera keluar agar bergantian. Bara lupa jika di rumah ini tak hanya memiliki satu kamar mandi hingga dia rela bersusah-payah menunggu.
Suara pintu kamar yang terbuka menarik perhatian Kinara, setelah hampir sepuluh menit melihat perdebatan sepasang pria dan wanita tak berbusana berebut masuk ke dalam kamar mandi yang berpenghuni. Kini ia tercengang dengan kedatangan Bastian yang tiba-tiba lalu mengambil semua gelas minum dan menarik tangannya keluar kamar.
Bastian segera membuang isi dari minuman yang masih tersisa dan mencucinya dengan bersih agar tak meninggalkan bukti. Kinara mulai paham sekarang, siapa dalang yang menyebabkan ketiga orang di atas berburu kamar mandi. Kemungkinan besar Bastian lah yang telah memasukkan sesuatu hingga mereka menghentikan kegiatan panas yang membuat Kinara aman karena pria itu tak jadi berbuat lebih padanya. Bastian yang menyelamatkan dirinya dari pria-pria gila yang akan menjadikannya pemuas nafsu sesaat.
Bastian menatap wajah pucat Kinara dan mendekatinya setelah memastikan semua telah bersih. Ia menghela nafas berat saat melihat jelas raut kesedihan dan ketakutan yang masih tersisa.
Bastian segara menarik tubuh Kinara dan membawanya ke dalam pelukan. Mendekap erat memberi ketenangan agar wanita itu tak lagi ketakutan.
Kinara terisak di pelukan Bastian, ia mengingat apa yang terjadi tadi. Andai tak ada Bastian mungkin kini dirinya sudah di lahap habis oleh pria tua itu. Kinara membalas pelukan Bastian dengan begitu erat.
"Makasih kamu sudah menolong ku..." Lirih Kinara di sela-sela tangisnya.
"Sssttt.....sudah menjadi keharusan buat gue sayang. Sebisa mungkin gue akan melindungi loe apapun yang akan terjadi. Udah jangan nangis lagi," Bastian mengusap lembut air mata Kinara kemudian mengecup kening, kedua mata dan turun ke bibir.
Bastian mengantar Kinara ke kamar agar wanita itu segera beristirahat, ia pun tak tega melihat wajah takut itu belum kunjung hilang. Dan membuat relung hati Bastian seperti tercubit. Namun Kinara menolak saat ia memintanya untuk segera masuk kamar. Kinara tak ingin di tinggal sendiri dengan segala kecemasan yang menghantui.
"Kenapa, hhmm? tenanglah...nggak akan terjadi apa-apa. Percaya sama gue, mereka nggak akan ganggu loe malam ini. Jadi istirahat karena besok kita harus berangkat kuliah." Bastian mengusap air mata yang sejak tadi masih saja mengalir.
Kinara begitu sakit setiap mengingat nasibnya yang buruk, memiliki suami pun hanya menambah beban dan ketakutan. Bahkan dengan tega menjualnya sebagai jalaang pemuas nafsu pria hidung belang. Sungguh tak berperikemanusiaan dan begitu tak berperasaan.
Takdir pun seperti mempermainkannya dan ia tak dapat bertindak gegabah karena keluarganya pun akan ikut susah jika ia membuat ulah. Dan kini, apa yang Bastian lakukan memang semata-mata untuk membantunya, tapi ia yakin jika Bara tak akan diam dan pasti akan mencari tau penyebab sakit yang mereka alami.
Sungguh Kinara takut jika harus sendiri, ia pun menggenggam tangan Bastian dengan erat. Dan memasang wajah permohonan.
"Aku takut, jangan pergi Tian."
Bastian menyeringai mendengar ucapan Kinara, niat hati ingin kembali memeluk dan menenangkan justru ia mendapat ide jahil di dalam otaknya. Tak apa intinya tujuan utama adalah membuat Kinara lupa akan ketakutan yang tak kunjung reda.
"Pengen banget ya tidur sama aku lagi? mau mengulangnya? sepertinya pesona si Tom mulai membuat kamu ketagihan. Memang ia sich, akui saja jika adikku ini lebih maco dari pada milik kedua pria tua itu."
Dan benar saja, ledekan Bastian merubah raut wajah Kinara. Wajah Kinara merona dengan sedikit kekesalan di dalamnya. Bastian di buat gemas melihatnya, membuat ia ingin kembali mengecup bibir itu namun Kinara memukul dadanya dengan kuat. Bukan marah, Bastian justru menahan tawa dan senang melihat Kinara yang melupakan rasa takutnya.
"Kamu ngeselin!" celetuk Kinara.
"Ngeselin tapi ngangenin kan? bikin makin cinta lagi. Hayo ngaku....makin cinta kan kamu sama aku, hhmm?" Ledeknya lagi. Bastian begitu senang melihat Kinara semakin kesal dan mendorongnya dengan sekuat tenaga. Kemudian segera masuk ke dalam kamar dengan menutup rapat lalu menguncinya dari dalam.
Bastian bernafas lega melihat Kinara sudah masuk ke dalam kamar tanpa harus membujuknya lebih. Ia tak akan kuat menahan jika sudah berdua, apa lagi semalam baru saja mengulang penyatuan yang membuatnya sangat ketagihan.
Sudah tentu jika di beri kesempatan satu ruangan bersama, hal itu pasti akan terulang. Tak ingin di kira memanfaatkan keadaan, Bastian lebih memilih mengawasi Kinara dari pada menjamahnya di kala hati wanita itu tak karuan.
Bastian segera melangkah menuju kamar, namun di pertengahan tangga ia melihat kedua teman Papahnya di usir dengan kasar. Bara begitu kesal karena semuanya tak sesuai rencana dan kini ia harus bolak balik kamar mandi dengan berebutan.
"Pulanglah kalian dan cari toilet umum di luar sana!" Sentaknya dan kembali merintih. "Aduh sakit lagi ini perut." Bara pun masuk dan menutup pintu.
Bastian hanya mengulum senyum melihat pemandangan yang membuatnya puas. Obat yang ia masukan ke dalam minuman mereka bekerja dengan baik dan membuat ketiganya tak mengganggu Kinara lagi malam ini. Memang obat itu bekerja sedikit lambat, tetapi jika sudah kena di jamin tak tidur seharian.
"Ini nggak seberapa dengan niat kalian yang keji, andai bukan Papah mungkin udah gue habisin malam ini juga." Bastian kembali melangkah menuju kamar setelah memastikan Papahnya benar-benar tak lagi keluar mengganggu Kinara.
agar bisa gitu jd teman istrinya pak yuda, setdknya dia aman
racuni bokap Lo atau rusak mobilnya biar cepat²koid dan Lo berdua buru nikah deh,seblm dosa Lo berdua byk