Liam Casper telah melakukan percobaan bunuh diri sebanyak 99 kali dan semuanya gagal tak bisa membuatnya mati, hingga dia frustasi. Di tengah teriakannya kepalanya tiba-tiba terasa sakit seperti di hantam batu besar.
"Selamat, Host terpilih oleh sistem setelah melewati ujian hidup sebanyak 99 kali dan dipilih Sistem permainan takdir yang akan membantu host melihat masa lalu dan masa depan."
Tahap belajar, jika banyak kesalahan tolong di koreksi. Jika suka jangan lupa tinggalkan jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dina Auliya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Setelah menghabiskan Waktu Setengah hari, membuat Jessica lelah dan ia pun ingin istirahat. Liam menunjukkan Kamar yang bisa di tempati Jessica selama di Villa.
Arga pun akhirnya kembali setelah seharian Liam menunggu.
"Mana kekasihmu?" tanya Liam saat melihat Arga masuk sendirian.
"Gak jadi, aku sudah putus dengannya." jawab Arga yang lesu karena patah hati.
"Kok bisa?"
"Dia selingkuh di depan mataku. Aku tidak terima itu makanya aku putuskan. Liam tolong hibur aku, aku sedang sedih." Arga menyandarkan dagunya di pundak Liam dan melemaskan tubuhnya.
Seketika Liam mendorong tubuh Arga dengan kuat hingga Arga terjengkang kebelakang. Suasana haru berubah seketika. Liam benar-benar terkejut dengan apa yang ia lihat, sebuah penghianatan yang akan di lakukan Arga di masa depan, tapi Liam tidak tau pasti kepada siapa Arga melakukan penghianatan itu.
"Maaf, aku tidak sengaja " ucap Liam tapi juga tidak mau menolong, ia malah pergi meninggalkan Arga yang masih bingung dengan sikap Liam.
"Bos yang aneh." ucap Arga lalu berusaha bangun sendiri.
Liam kembali ke kamar dan menyendiri di balkon, Liam kembali mengingat saat ia masih di tempat kost. Liam rindu masa-masa itu, Saat ia bersama Sofi berangkat dan pulang bersama dengan berboncengan motor, Saat mengingat-ingat hal itu Liam senyum-senyum sendiri dan ingin sekali mengulangi saat itu.
Tiba-tiba ponsel di saku Liam bergetar dan segera Liam merogoh sakunya. Saat Liam memperhatikan layar ponsel Liam melihat nama Sofi sebagai pemanggil.
"Aneh, kenapa mbak Sofi tiba-tiba menghubungi di saat aku sedang memikirkannya. Ini hanya kebetulan atau otakku sudah di pasang chip oleh sistem." gumam Liam sampai panggilan ibu berhenti karena tak kunjung di angkat Liam.
"Tapi, ada apa mbak Sofi menghubungiku? apa ada sesuatu yang terjadi padanya? Apa aku harus menghubunginya balik?" Liam pun di buat dilema oleh pikirannya sendiri.
[ Ada apa Host?]
"Apa Sistem memasang chip pada setiap tuannya? Kenapa tiba-tiba Mbak Sofi menghubungiku di saat aku memikirkan dirinya."
[ Tidak Host, Sistem sudah menyatu dalam pikiran host itu artinya sistem tau apa yang host pikirkan dan ponsel host merespon apa yang di perintahkan sistem.]
Liam pun hanya menghela nafas dan melanjutkan menikmati Deburan ombak yang berkejar-kejaran.
Tiba-tiba Liam merasakan ada yang memeluknya dari belakang.
"Bagaimana kamu bisa masuk kamarku?" tanya Liam.
"Kan kamarmu tidak di kunci." jawab Jessica dan menyandarkan kepalanya di punggung Liam.
"Liam. Aku mau minta maaf."
"Minta maaf untuk apa?"
"Seharusnya aku sadar diri. Seharusnya aku tidak boleh bersikap egois padamu. Jika bukan karena kamu yang menyelamatkan aku waktu itu, mungkin aku tidak akan bisa merasakan kehidupan seperti sekarang ini. Aku sudah memaafkan semua kesalahanmu dan aku tidak akan melakukan sesuatu yang akan membuatmu marah. Aku akan belajar mengenalmu lebih dekat lagi." ungkap Jessica, dan Liam hanya tersenyum saja.
Liam berbalik dan kini menatap Jessica, Liam pun menangkup wajah ayu Jessica.
"Aku juga minta maaf kalau aku sudah menyakiti hatimu. Hanya saja aku tidak suka masalah pribadiku orang lain tau, cukup aku Sendiri yang merasakan dan kamu tidak perlu repot-repot ingin berbagi penderitaan denganku."
"Baiklah kalau itu mau mu. Aku tidak akan bertanya atau memaksamu untuk menceritakan masalahmu. Itu kan yang kamu inginkan. Aku akan wujudkan." jawab Jessica dan Liam mengangguk.
Setelah keduanya berbaikan, ponsel Liam berbunyi dan ternyata ada beberapa notifikasi masuk salah satunya poin Liam yang tidak lagi berkurang namun poin yang tersebut sisa separuhnya. Membuat Liam hanya bisa menghela nafas dan dia harus mengumpulkan lagi poinnya dari awal.
Liam pun membuka notifikasi pesan lainnya dan itu dari nomor asing.
Pergilah ke desa nelayan! Carilah sepasang kakek nenek yang sedang kesulitan selama satu Minggu dan kamu akan mendapatkan sepasang mutiara hitam yang akan kamu butuhkan nanti.
Pesan yang tertulis, namun masih membuat Liam bingung.
"Kamu kenapa Liam?" tanya Jessica yang memperhatikan.
"Aku ingin pergi ke desa nelayan untuk bertemu seseorang. Tapi aku bingung. bagaimana bisa aku meninggalkan kamu yang baru datang." Jelas Liam.
"Kamu mau pergi ke desa nelayan? kalau begitu aku ikut. Aku akan menemani kamu."
"Tapi ini sebuah misi, dan aku harus ada di sana selama satu Minggu dan setelah itu aku harus kembali ke kota." Jelas Liam namun Jessica tetap kekeh ingin ikut. Liam pun tak bisa menolak dan membiarkan Jessica menemani Liam menjalankan misi.
"Baiklah kalau begitu kamu keluar dulu dan bersiap aku juga ingin bersikap-siap dulu. "
"Baiklah." Jessica pun segera keluar dan Liam segera mengunci pintu kamarnya.
[Selamat, Host telah mengaktifkan Misi level tujuh, Membantu sepasang kakek nenek yang berada di desa nelayan selama satu Minggu. Jika berhasil menjalankan misi maka host akan mendapatkan sepasang mutiara hitam, yang akan berguna nantinya setelah host kembali.]
"Apa yang bisa aku bantu selama satu Minggu disana? dan seberapa penting mutiara itu?"
[Host akan tau setelah host mendapatkannya. kerjakan saja misinya dan jangan dijadikan beban agar cepat selesai. Alamat akan di tunjukkan saat host mengaktifkan GPS, host tinggal mengikutinya agar bisa menemukan rumah mereka.]
Liam pun mengangguk paham. Setelah itu ia pun bergegas untuk bersiap-siap.
To Be Continued ☺️☺️☺️
maaf author...
maaf author..