NovelToon NovelToon
TAKDIR DI BALIK SORBAN

TAKDIR DI BALIK SORBAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:738
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Aurel Nathania tidak pernah percaya bahwa hidup harus berjalan sesuai aturan orang lain. Di usia dua puluh satu tahun, ia menikmati kebebasan, sahabat, perjalanan spontan, dan kehidupan yang jauh dari lingkungan pesantren. Sampai ayahnya tiba-tiba menjodohkannya dengan Rasyid, ustadz muda sekaligus putra seorang kiai. Bagi Aurel, Rasyid adalah simbol segala sesuatu yang ingin ia hindari: aturan, nasihat, dan kehidupan yang terkekang. Namun Rasyid tidak pernah berniat mengubah istrinya dengan paksaan. Ia hanya berusaha menjadi teladan sambil memberinya ruang untuk memilih. Pernikahan yang dimulai dengan penolakan perlahan mempertemukan dua manusia berbeda yang sama-sama menyimpan luka, rahasia, dan ketakutan tentang arti sebuah keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 — JANGAN PUJI AKU

Sore hari di Arunika Timur selalu membawa hembusan angin yang sejuk dan aroma khas dedaunan basah dari kebun kelapa sawit di belakang kompleks pesantren. Sinar matahari keemasan yang mulai melandai menerobos sela-sela atap teras kayu kediaman Kiai Abdul Faruqi, menciptakan pola-pola bayangan anggun di atas lantai ubin tanah liat.

Aurel duduk di atas kursi rotan teras samping, menyilangkan kakinya dengan santai.

Ia mengenakan celana kulot warna krem dipadu blouse katun hijau sage yang longgar. Di tangannya, terbentang sebuah buku novel terjemahan tebal yang sampulnya mulai sedikit lusuh. Rambut bergelombangnya dibiarkan terurai bebas, diikat ikatan pita longgar di bagian belakang.

Sejak menyelesaikan tugas revisi skripsinya tadi siang, Aurel memilih menghabiskan waktu sorenya di sini—menikmati ketenangan yang perlahan menjadi tempat favorit barunya.

Suara langkah kaki beratap halus di atas lantai ubin memecah keheningan teras.

Muhammad Rasyid Al-Faruqi melangkah mendekat. Pria itu baru saja menyelesaikan tugas mengajar kitab sore di madrasah. Ia mengenakan baju koko katun polos berwarna biru muda dan kain sarung tenun gelap. Peci hitamnya sudah ia lepas, memperlihatkan rambut hitamnya yang tertata rapi namun sedikit berantakan tertiup angin sore.

Melihat Aurel yang sedang begitu tekun dengan bukunya, Rasyid menghentikan langkahnya sejenak. Ada kurva senyum tipis yang terukir alami di bibirnya.

"Tumben," celetuk Rasyid pelan, suaranya jernih dan halus menyapa udara sore.

Aurel tersentak kaget. Secara refleks, ia langsung menepuk menutup buku tebalnya dengan bunyi plak yang cukup keras, menaruhnya di atas paha seraya menatap Rasyid dengan pandangan defensif yang mendadak bangkit.

"Kenapa?" tembak Aurel cepat, matanya memicing menatap suaminya.

Rasyid terkekeh pelan—suara tawa rendah yang amat renyah. Pria itu melangkah mendekat, menarik sebuah kursi rotan kosong yang berada satu meter di samping Aurel, lalu duduk di atasnya seraya menyandarkan punggungnya santai.

"Tidak apa-apa," jawab Rasyid tenang. "Saya hanya jarang melihatmu duduk tenang membaca di teras ini sore-sore begini."

Aurel berdehem kaku, membetulkan letak duduknya seraya mengusap sampul bukunya yang melengkung. "Ya... aku kan cuma lagi nyari angin. Di kamar agak gerah."

Rasyid menatap wajah samping istrinya. Cahaya matahari sore yang hangat memantul di netra cokelat terang milik Aurel, memperlihatkan binar kehidupan yang begitu murni. Rasyid menarik napas panjang, membiarkan keheningan sore mengisi jeda di antara mereka sebelum berbicara lagi.

"Aku senang melihatmu mulai nyaman di sini, Aurel," kata Rasyid tulus. Intonasi suaranya begitu lembut, dipenuhi rasa syukur yang amat dalam.

Aurel yang sedang memilin ujung lengan bajunya mendadak menghentikan gerakannya. Dahinya berkerut rapat. Ia menoleh cepat, menatap Rasyid dengan raut wajah yang mendadak menegang kaku.

"Jangan dipuji," cetus Aurel tegas, nada suaranya ketus dan penuh nada peringatan.

Rasyid menaikan sebelah alisnya, agak terkejut dengan reaksi cepat dan tajam dari istrinya itu. "Kenapa?"

Aurel membuang pandangannya ke arah taman melati di depan teras, meremas sampul bukunya sedikit lebih erat.

"Nanti aku merasa harus berubah," bisik Aurel pelan. Suaranya tidak lagi bernada ketus, melainkan menyisakan keraguan yang amat jujur dari dalam dadanya. "Kalau kamu puji-puji terus karena aku makin betah di pesantren atau karena aku bantuin Salma tadi pagi... nanti aku malah kepikiran. Nanti aku ngerasa semua hal yang aku lakuin itu bukan karena kemauanku sendiri, tapi cuma demi memenuhi ekspektasi kamu atau demi dapet pujian kamu."

Keheningan melayang sejenak di teras kayu tersebut. Hanya ada suara gesekan daun mahoni yang tertiup angin sore.

Rasyid menatap Aurel dalam-dalam. Binar matanya yang jernih tidak memancarkan kekecewaan, melainkan rasa takjub dan pemahaman yang begitu mendalam atas kedewasaan batin yang sedang diperjuangkan istrinya.

Rasyid membetulkan posisi duduknya, menatap lurus ke arah matanya Aurel yang kini kembali menatapnya penuh tanya.

"Aurel..." panggil Rasyid halus. "Kalau kamu melakukan sesuatu hanya karena ingin dipuji orang lain... berarti kamu belum melakukannya untuk dirimu sendiri."

Aurel tertegun di atas kursi rotannya. Lidahnya yang sudah bersiap menyusun amunisi perdebatan mendadak kaku.

"Pujian orang lain—termasuk pujian dariku—itu hanyalah angin lalu," lanjut Rasyid dengan intonasi rendah yang tenang dan menembus dada. "Yang paling penting adalah bagaimana hatimu merasakannya. Jika kamu membantu Salma, membaca buku di teras ini, atau tersenyum pada anak-anak santri karena hatimu merasa tenang melakukannya... maka itu adalah kebaikanmu sendiri. Bukan demi aku, bukan demi Pak Hamdan, dan bukan demi siapapun."

Aurel menatap pria di sampingnya itu tanpa berkedip.

Setiap patah kata yang keluar dari bibir Rasyid selalu punya cara ajaib untuk meruntuhkan benteng pertahanan dirinya, bukan dengan paksaan, melainkan dengan logika dan kedamaian yang tak terbantahkan. Pria ini tidak pernah mencoba mencuri kredit atas perubahan dirinya. Rasyid justru membentengi kebebasan niat Aurel agar tidak terkontaminasi oleh rasa ingin menyenangkan orang lain.

Aurel mengembuskan napas panjang, menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi rotan seraya menatap Rasyid dengan raut wajah antara jengkel dan takjub.

"Kadang kamu nyebelin banget tahu nggak," gumam Aurel polos tanpa filter.

Rasyid tersenyum tipis—kurva senyum manis yang membuat matanya sedikit menyipit. "Aku tahu."

"Tapi..." Aurel memiringkan kepalanya, bibirnya mengukir senyum kecil yang tak sanggup ia tahan, "...kadang omonganmu masuk akal juga."

Rasyid menatap binar jenaka di mata istrinya. "Apakah itu sebuah pujian?"

"Jangan besar kepala!" sergah Aurel cepat seraya melemparkan pembatas buku kain dari atas mejanya ke arah paha Rasyid.

Rasyid menangkap pembatas buku itu dengan sigap, lalu tertawa pelan—suara tawa renyah yang amat lepas.

Di bawah pendar pudar sinar matahari sore Arunika Timur, dua manusia dari dunia yang semula teramat asing ini duduk berdampingan di teras kayu, saling melempar canda dalam rasa nyaman yang kian berakar kuat di dalam dada mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!