Setelah 1000 tahun berlalu, Putri Amora yang merupakan putri dari kerajaan vampir telah terlahir kembali sebagai manusia biasa yang bernama Shania. Takdir juga mempertemukannya kembali dengan Pangeran Leon, pangeran dari bangsa serigala, yang bereinkarnasi menjadi Adrian.
Kisah cinta terlarang di masa lalu membuat keduanya terbunuh, dan pangeran Leon mendapat kutukan, dia tetap menjadi manusia serigala yang menjelma di tubuh Adrian dan begitu tertarik dengan jiwa murni Amora yang berada di tubuh Shania.
Kisah cinta merekapun terulang kembali. Akankah mereka bisa bersatu atau hubungan mereka akan berakhir tragis seperti sebelumnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Siang itu, sepulang sekolah Shania berjalan keluar dari gerbang sekolah sendirian. Dia berjalan menuju gang depan sekolahnya untuk mencegat angkot, karena dia tak mungkin lagi pulang bersama Adrian. Dia masih kecewa dengam Adrian.
Adrian memelankan laju motornya di belakang Shania. Dia melihat punggung Shania yang berjalan pelan itu. Rasanya dia tidak tega membiarkan Shania pulang sendiri. Akhirnya Adrian mempercepat motornya dan berhenti tepat di samping Shania.
Shania menghentikan langkahnya dan menatap Adrian. Mereka sempat beradu pandangan dalam kebisuan sampai beberapa detik.
"Bareng gue yuk." ajak Adrian pada akhirnya. Meskipun aroma tubuh Shania begitu menyengat di hidungnya tapi dia harus bisa menahannya agar terbiasa.
Shania menggeleng perlahan, "Gue mau ke toko buku dulu."
"Ya udah, yuk gue anterin." tawar Adrian lagi.
Shania masih terdiam tanpa mengiyakan ajakan Adrian.
"Lo marah sama gue?" tanya Adrian.
Shania lagi-lagi menggelengkan kepalanya. Dia kini menatap Adrian. Pertanyaan yang terselip dibenaknya akhirnya dapat dia utarakan. "Gue gak ngerti sama lo. Kenapa lo berubah?"
"Gue gak berubah Shan. Gue masih sama kayak dulu. Maafin gue kalau gue udah buat lo kecewa. Gue ingin kita kembali lagi kayak dulu. Please, lo naik ke atas motor gue sekarang, gue akan anterin lo kemanapun lo mau."
Shania akhirnya mengangguk. Dia naik ke boncengan Adrian dan beberapa saat kemudian motornya pun melaju.
Shan, gue ingin bercanda lagi sama lo kayak dulu. Maafin gue, mungkin gue sekarang sering buat lo kecewa. Apalagi tentang pernyataan cinta gue yang menggantung kemarin. Maafin gue Shan, gue yang sekarang gak bisa terlalu dekat dengan lo seperti dulu. Gue gak tahu bagaimana caranya agar lo bisa mengerti keadaan gue. Kalau lo tahu yang sebenarnya tentang gue, gue yakin lo pasti akan menjauhi gue.
Adrian menghentikan motornya secara tiba-tiba. Dia tidak sanggup lagi merasakan dadanya yang kian sesak memikirkan segala masalahnya. Dia tak bisa menahan kesedihannya lagi. Ingin dia menangis tapi air mata itu tidak bisa menetes.
"Kenapa berhenti Yan?" tanya Shania.
Tapi Adrian hanya terdiam.
"Yan, lo kenapa?" tanya Shania lagi.
Adrian menjagrak motornya lalu dia memutar duduknya.
Shania pun turun agar bisa melihat wajah Adrian. Dia memegang dagu Adrian agar mendongak. Dia tahu, Adrian sedang sedih saat itu.
"Lo kenapa sedih?" tanya Shania lagi yang hanya dijawab dengan gelengan pelan Adrian.
Mata sayu Adrian menatap Shania. Andai Shania bisa merasakan kegundahan Adrian saat itu.
"Shan.." Adrian ingin mengucapkan sesuatu tapi tertahan. Dia langsung memeluk Shania.
Shania bisa merasakan dada Adrian yang naik turun tak teratur seperti menahan sesuatu yang begitu mengganjal di hatinya. Shania tahu, Adrian pasti sedang menangis dalam hatinya. Masalah apa yang sebenarnya di hadapi Adrian? Pertanyaan itu terus mengitari pikiran Shania.
"Yan, lo cerita sama gue masalah lo, jangan lo simpen sendiri kayak gini."
Adrian masih terdiam dan semakin mempererat pelukannya. Meskipun dia tahu, bisa saja tiba-tiba dia keluar dari kesadarannya.
"Mungkin masalah lo terlalu pribadi buat lo ceritain sama gue. Gak papa, tapi gue ingin selalu bersama lo, Yan. Gue mohon jangan jauhin gue. Gue akan selalu ada buat lo."
Adrian melepaskan pelukannya lalu memegang kedua pundak Shania. "Makasih lo udah bisa ngertiin gue."
Shania mengangguk sambil tersenyum menatap Adrian. Mereka pun kembali naik ke atas motor dan beberapa saat kemudian motor Adrian kembali melaju melanjutkan perjalanan mereka.
Tak butuh waktu lama mereka pun sampai di toko buku. Setelah Adrian memarkir motornya, mereka segera masuk ke dalam toko buku.
"Shan, lo mau nyari buku apa?" tanya Adrian sambil mengikuti Shania.
"Gue mau nyari buku tentang peradaban kuno, siapa tahu gue punya fantasi buat tugas mengarang." kata Shania sambil memilih buku yang cocok.
Adrian pun ikut melihat-lihat buku di sana. Tak disengaja dia menemukan buku yang sangat menarik perhatiannya. Adrian segera mengambilnya dari jajaran buku yang tertata rapi. Setelah didapat, segera Adrian menuju kasir untuk membayarnya agar Shania tidak melihatnya. Selesai membayar dia membalikkan badannya, tapi ternyata tepat dibelakangnya ada Shania yang sedang berdiri dan nampak memperhatikan Adrian.
"Yan, lo beli buku apaan sih? Kenapa disembunyiin dari gue?" tanya Shania sangat penasaran.
"Gak, gue beli buku khusus buat cowok." jawab Adrian mencari alasan yang tepat.
"Buku apaan sih? Sini gue mau lihat." Shania merebut buku yang telah dibungkus itu dari tangan Adrian tapi Adrian berhasil menghindar.
"Gak boleh!"
"Jangan-jangan lo beli buku 18+ yah." Tebak Shania asal.
Adrian tersenyum nakal sambil menaikkan alisnya. "Iya, lo mau lihat. Ntar lo teriak-teriak histeris lagi dan lebih bahayanya ntar lo minta lagi sama gue, kan gue belum siap." Goda Adrian pada Shania agar Shania berhenti merebutnya.
Shania menginjak kaki Adrian karena dia kesal dengan kata-katanya. "Ih, dasar otak mesum! Udah gue mau bayar dulu." Shania membayar bukunya di kasir yang ternyata si mbak kasirnya sedang melihat mereka dari tadi sambil tersenyum.
"Kalian lucu yah, jadi ingat waktu aku pacaran di SMA dulu." kata kasir itu.
Shania hanya tersenyum sambil mengambil buku yang sudah dibungkus dan membayarnya.
Mendengar hal itu Adrian juga tersenyum dan merangkul Shania. "Kita cocok gak mbak?" tanya Adrian.
"Cocok kok. Serasi banget malah. Yang satu cantik dan yang satunya ganteng. Cuma kalian sama-sama lucu, pasti seru pacaran kayak kalian."
Shania menyungirkan bibirnya sambil melepaskan tangan Adrian yang ada di pundaknya karena dia malu dilihat orang. Segera Shania menarik jaket Adrian agar dia mengikutinya keluar dari toko. "Ian, apaan coba tanya gitu. Emang kita pacaran?"
Adrian tahu apa maksud pertanyaan Shania. Dia sengaja memancingnya untuk memastikan hubungannya. Tapi kali ini Adrian pura-pura tidak tanggap, walau sebenarnya dia ingin memiliki Shania. Seharusnya dia bahagia cintanya sudah terbalas, tapi lagi-lagi cintanya terhalang karena dia tidak mau memiliki Shania dengan keadaannya seperti sekarang ini.
"Shan, kita beli es krim yuk." ajak Adrian mengalihkan pembicaraan lalu dia menggandeng tangan Shania dan menuntunnya menuju kedai es krim yang berada di sebelah toko buku.
Shania duduk dan menunggu Adrian memesan es krim. Beberapa saat kemudian Adrian sudah datang dengan membawa dua es krim kesukaan mereka.
"Makasih, Ian." kata Shania lalu mencomot es krimnya.
Adrian tersenyum sambil menatap Shania. "Kebiasaan deh kalau makan es krim selalu belepotan." Adrian mengusap sisa es krim yang ada di ujung bibir Shania dengan lembut.
Shania terpaku sesaat menatap Adrian, sebelum akhirnya dia melihat gelang yang ada di pergelangan tangan Adrian. Shania memegang tangan Adrian dan memperhatikan gelang itu. "Sejak kapan lo pakai gelang kayak gini?" tanya Shania.
jgn lupa mampir jg ke karyaku "faith"
ayok kita saling dukung😁