Demi cita-citanya untuk bisa kuliah di Jakarta, Sella menumpang tinggal di rumah sang kakak. Disya sang kakak selalu sibuk dengan rutinitasnya sebagai wanita karier. Dia meminta Sella untuk mengurus kebutuhan Bagaskara sang kakak ipar, menggantikan peranan sang kakak.
Seiringnya waktu rasa cinta hadir di antara Sella dan Bagaskara. Bagaskara merasa kagum dengan sosok Sella, di tengah kemelut rumah tangga dengan Disya. Hingga akhirnya kejadian di suatu malam, mengubah segalanya. Disya marah besar dan mengusir Sella dari rumahnya membuat hubungan Kakak dan Adik terputus.
Siapakah yang akan Bagas pilih? Ikuti kisah perjalanan cinta mereka dalam karya "Terjerat Pesona Sang Kakak Ipar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SyaSyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagas Vs Irwan
Disya perlahan membuka matanya, dan menatap sekeliling ruangan dimana dirinya kini berada. Dirinya tampak meringis saat memegang kepalanya.
"Dimana aku? Apa yang terjadi kepadaku?" Disya bermonolog sendiri.
"Ah, kakiku. Mengapa tak bisa digerakkan? Tidak! Aku tak mau lumpuh. Hiks ... hiks ... hiks. Pasti Adit akan pergi meninggalkan aku," ucap Disya.
Disya berteriak-teriak seperti orang yang tak waras membuat perawat yang berjaga akhirnya mendengar dan menghampiri dirinya.
"Suster, mengapa kakiku tak bisa digerakkan? Apa yang sebenarnya terjadi denganku? Jawab!" bentak Disya.
Air matanya akhirnya lolos juga, menetes satu persatu. Mendengar anaknya sudah sadar, Bapak dan Ibunya langsung bergegas menghampiri sang anak.
"Ibu," ucap Disya diiringi isak tangi. Ibu dan anak kini saling berpelukan.
"Sabar Nak, kamu sedang di uji kesabarannya! Kamu harus kuat!" ucap Bu Yati mencoba menguatkan sang anak, meskipun dirinya pun tak kuat melihat sang anak harus menderita seperti itu.
"Lebih baik aku mati saja Bu, dari pada aku harus menderita seperti ini," ungkap Disya membuat sang ibu pun ikut menangis. Dia bisa merasakan apa yang dirasakan anaknya saat ini. Sungguh bukanlah hal yang mudah untuk melewati cobaan yang dia alami.
Disya melepaskan pelukannya, dan kini menatap wajah ibu dan bapaknya secara bergantian. Dia berpikir dan akhirnya bertanya, mengapa kedua orang tuanya berada di sini. Siapa yang memberitahu, kalau dirinya saat ini berada di di rumah sakit.
"Bagas yang menghubungi Bapak, dia juga yang membelikan tiket kereta untuk Bapak dan Ibu ke sini," jelas Pak Susilo.
Disya menangis lagi, bahkan apa yang dia rasa saat ini begitu dalam. Sampai-sampai dia menangis sesenggukan. Kala mengingat pernikahan dirinya dengan Bagas yang harus kandas di tengah jalan.
"Aku sudah diceraikan Bagas, dia lebih memilih Sella. Terlebih kondisi aku seperti sekarang ini, tak mungkin dia mau kembali dengan wanita cacat seperti aku," ucap Disya lirih. Dadanya terasa sesak.
"Iya, Nak. Sabar ya! Ibu juga tak menyangka, mengapa Sella setega itu sama kamu. Padahal kamu adalah kakak kandungnya sendiri, dan selama ini kamu selalu baik kepadanya. Ibu jadi menyesal, tahu gitu dulu dia suruh mengontrak saja di luar. Benar-benar keterlaluan anak itu, bisa-bisanya dia merebut Bagas dari kamu," ucap Bu Yati, Ibu dari Disya dan Sella.
"Gara-gara dia kamu menjadi menderita seperti sekarang, sudah harus merasakan lumpuh. Kamu juga tak akan memiliki anak. Bagas juga pintar, dia tak akan mau kembali sama kamu," ujar Bu Yati membuat Disya bertambah histeris. Meraung-raung. Hingga akhirnya Disya jatuh pingsan.
"Ibu ini aneh sih, anak baru sadar udah di kasih tekanan. Begini 'kan jadinya," umpat Pak Susilo.
Sella terlihat gelisah, sejak tadi pikirannya tak karuan. Sejak tadi dirinya mondar mandir tak jelas, wajahnya terlihat tegang.
"Sebenarnya, apa yang terjadi sama lo? Lo bisa cerita sama gue, mungkin saja gue bisa bantu lo. Daripada lo simpan sendiri masalah lo, dan jadinya seperti ini. Sorry, bukannya gue mau ikut campur urusan lo. Tetapi, beberapa hari lo di sini. Gue merasa nyaman dekat sama lo. Ternyata lo itu benar-benar menyenangkan ya? Pantas saja, banyak cowok yang tergila-gila sama lo. Selama ini gue menutup mata dan telinga gue, karena gue tak percaya pernikahan. Gue tak percaya suatu hubungan. Kenangan gue tentang pernikahan sangat buruk, sampai membekas di hati gue," ungkap Irwan dan Sella hanya menatap dan menyimak ucapan Irwan.
"Kedua orang tua gue bercerai, sejak gue masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Dua tahun setelah perceraian, Nyokap gue nikah lagi dan nitipin gue sama kedua orang tuanya. Karena suami barunya tak menginginkan gue, bahkan nyokap gue ninggalin gue. Sekarang dia tinggal di Singapura, dan pulang hanya sesekali saja. Dia tak peduli kehidupan gue sama sekali. Bokap gue pun gitu, dia lebih memilih bersenang-senang dengan istri barunya yang lebih mudah lima tahun dari dia."
"Bisa dikatakan ibu tiri gue usianya tak beda jauh dari gue. Untungnya kakek dan nenek gue orang berada, dia bisa sekolahin gue sampai sekarang. Bahkan dia juga memberikan fasilitas untuk gue. Makanya gue tak mau mengecewakan mereka. Meskipun tampang gue urakan, nakal, dan sejenisnya. Gue tetap memprioritaskan kuliah. Gue juga bukan pecandu narkoba, gue hanya melampiaskan kejenuhan gue ke motor. Gue sering ikut balapan motor hingga pagi,
agar gue bisa melupakan beban pikiran gue," ungkap Irwan.
Sella terkejut mendengar cerita dari Irwan. Ternyata dia memiliki masalah yang cukup berat, tetapi dia bisa melewatinya dan bersikap biasa seperti dirinya tak memiliki masalah.
"Aku salut sama kamu, kamu masih memiliki motivasi untuk tidak mengecewakan nenek dan kakek kamu. Jadi, selama ini kamu tak pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun? Bukannya kamu seorang playboy. Kamu bohongin aku 'kan?" tanya Sella menyelidik. Hal itu membuat Irwan terkekeh.
"Kata siapa aku playboy? Aku itu tak pernah berhubungan dengan wanita manapun. Bagi gue wanita itu bikin gue pusing. Karena gue butuh kebebasan. Lagi pula, gue masih trauma saat itu. Wah, diam-diam ternyata lo memperhatikan gue ya? Jangan-jangan lo satu dari sekian banyak wanita yang naksir gue. Kalau iya, sorry ya," ujar Irwan cengengesan. Gaya Irwan memang tak pernah serius, urakan. Tetapi ternyata anaknya baik, asyik, dan perhatian.
"Huh geer aja, enggak dong. Aku mana tertarik sama cowok model kamu. Baru lihat sudah ilfeel," sahut Sella dengan wajah yang sudah terlihat memerah.
"Tuh 'kan wajah kamu merah. Itu tandanya kamu malu, ketahuan sama aku," goda Irwan.
Sella berniat untuk mencubit perut Irwan, dirinya justru masuk dalam pelukan Irwan. Jantung keduanya berdegup sangat kencang. Sepersekian detik netra mereka saling bertemu.
"Lo tahu tidak? Wanita yang pertama kali buat gue jatuh cinta dan membuat gue ada kehidupan baru?" tanya Irwan yang kini masih menatap wajah wanita di hadapannya dengan lekat. Sella menggelengkan kepalanya.
"Yakin lo enggak tahu, siapa wanita itu?" tanya Irwan lagi.
Sella mencoba melepaskan pelukan Irwan. Ya, sebenarnya Sella tahu. Tetapi rasanya tak adil, jika Irwan tahu kalau dirinya sudah tak virgin lagi. Sella terus menggelengkan kepalanya lemah, tak terasa air matanya jatuh satu persatu.
"Wanita itu adalah kamu. Aku sudah jatuh cinta sama kamu. Mungkin menurut kamu, aku terlalu cepat mengungkapkan perasaan ini. Tetapi semua ini memang benar apa adanya. Aku mencintai kamu Sella, dan aku mau menjadi kekasih kamu," ucap Irwan sambil menghapus air mata di pipi mulus Sella.