Anastasya zu Fürstenberg, Sang Pureblood Vampir yang langka. Jatuh ke dalam keputusasaan ketika Kekasihnya, yang merupakan Manusia di bunuh kejam oleh Werewolf.
Merasa setelah balas dendam dia tetap tidak akan pernah melihat Kekasihnya yang sudah meninggal, dia mulai tertidur.
Tidur panjang..
Sangat panjang...
Berhadap kesedihannya menghilang ketika dirinya bangun..
Peti mati itu, terkubur dalam kegelapan selama ratusan tahun, hingga suatu hari, Anastasya terbangun oleh suara dari seorang Werewolf kecil yang terluka parah, yang ternyata sedang di kejar oleh Werewolf lainnya, merasa sangat kesal dan prihatin, Anastasya mulai membantai Para Werewolf itu.
Itu adalah sebuah pertemuan yang akan membawa Anastasya zu Fürstenberg ke takdir yang tidak akan pernah dirinya duga.
Ketika suatu hari sekali lagi, dirinya bertemu dengan Calvin Drake, Sang Alpha Werewolf, Pemimpin dari Klan Drake. Pertemuan yang membawa ke arah cinta yang tidak terduga dan hasrat akan darah yang tidak tertahankan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Za L Lucifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22: Sekarang Giliranku
Setelah pertarungan segit itu, Calvin di bawa oleh rombongan teman-temannya untuk menuju ke Apartemen tempat Calvin tinggal.
Awalnya, Calvin yang masih terluka cukup parah tidak terlalu memikirkan ketika teman-temannya hendak membawanya ke apartemennya itu.
Namun segera ketika mereka sampai di depan pintu apartemen Calvin, Calvin baru saja ingat jika ada Anastasya didalam.
Astaga...
Bagaimana ini?
"Itu... Kalian bisa pulang saja aku bisa merawat diriku sendiri, bukan luka yang terlalu parah,"
Lucas yang kebetulan membantu Calvin berdiri itu jelas merasa protes.
"Kamu itu apa-apaan lihat berapa banyak darah yang hilang? Bahkan hampir kehilangan kesadaran mu dan kamu cukup kesulitan untuk berjalan, mana mungkin kamu meninggalkanmu seperti ini?"
"Tapi itu...."
"Sudah, Ketua, anda jangan keras kepala disaat seperti ini biarkan kami merawat mu,"
"Bukankah ada juga anggota kelompok kita yang terluka?"
"Kami sudah mengantar mereka ke rumah masing-masing, juga setiap tim dipastikan akan merawat mereka, jadi ketua tidak usah khawatir dan saat ini kami mengantar anda kesini agar kami bisa merawat anda segera,"
Mendengar semua itu, Calvin jelas saja tidak bisa mengelak.
Dirinya hanya bisa berharap, jika Anastasya bisa sembunyi dan tidak ketahuan.
Dan sayang beruntung, ketika Calvin sampai di kamarnya dirinya memang tidak melihat Anastasya.
Namun tiba-tiba dirinya menjadi cemas, bagaimana jika Anastasya benar-benar pergi dari sini ke tempat yang jauh di luar jangkauan nya?
Namun segera pikiran itu hilang ketika dirinya merasakan aroma dari Tanda yang dirinya buat di Anastasya, itu tidak jauh kira-kira ada di lemari.
Calvin menatap kearah almari itu tempat yang sepertinya digunakan oleh Anastasya bersembunyi.
Lucas yang membawa Calvin ke tempat tidur, segera mulai mengeluh,
"Astaga.... Kenapa tempat ini rasanya penuh dengan aroma Vampir?"
Mendengar itu, Calvin segera mengelak berkata,
"Itu mungkin hanya perasaanmu saja, kamu lihat sendiri aku terluka berkat serangan Vampir sialan itu, dan sekarang keperawatan darahnya sampai ke mana-mana dan mengenai tubuhmu, belajar jika ada aroma vampir di sini,"
Lucas anggap kata-kata itu cukup wajar dan tidak mengeluh lagi.
Pernah dirinya mencoba mencari kotak obat disekitar sana.
Calvin menjadi panik ketika Lucas sepertinya ingin membuka Lemari itu.
"Tidak disana, itu ada di laci dekatnya meja,"
"Ah, begitu. Kupikir biasanya kamu mengatakan di lempari,"
"Kan Aku sudah bilang padamu sebelumnya jika aku sempat terluka setelah bertemu vampir,"
"Bener juga kamu pernah berkata begitu jadi apakah samper yang kamu temui berbeda dengan yang tadi?"
"Itu berbeda,"
"Hah, mungkin memang saking banyaknya jumlah vampir. Tapi aku merasa aneh belakangan ini populasi Vampir cukup banyak, biasanya mereka cukup diam dan tidak melakukan gerakan namun belakangan mereka menjadi begitu agresif,"
"Aku juga tidak tahu soal itu, udahlah aku terlalu pusing untuk memikirkannya. Baiknya kamu segera membantuku membersihkan luka luka ini aku ingin segera tidur setelahnya,"
Mendengar itu, Lucas segera melakukan tugasnya membantu Calvin membersihkan luka luka itu dan memerban mereka.
Tidak lama setelah semua itu selesai, Calvin membuat alasan agar Lucas cepat pergi, Karen Calvin merasa begitu lelah dan ingin tidur.
"Baiklah-baiklah, Aku akan segera pergi kamu baik-baik di sini,"
Telah setelah Lucas dan yang lainnya pergi, Calvin baru merasa lega, lalu segera menatap kearah lemari tempat Anastasya berada.
"Sekarang sudah tidak apa-apa kamu bisa keluar,"
Dari dalam Lemari itu, Anastasya segera keluar, dan langsung mendatangi Calvin, menatap Calvin dengan cemas.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa terluka begitu parah seperti ini? Apakah kamu benar-benar diserang oleh Vampir? Astaga, bukannya cukup parah dan cukup dalam apakah ini sakit?"
Calvin segera dibanjiri oleh pertanyaan Anastasya, membuat dirinya bingung harus menjawab dari mana.
"Aku baik-baik saja, tak luka ini memang cukup menyakitkan, aku memang diserang oleh Vampir, dan beginilah akhirnya,"
Anastasya lalu mulai menatap luka-luka di tubuh Calvin, dirinya merasakan ada aroma darah yang familir dari luka-luka itu.
"Calvin... Vampir yang menyerangmu...."
Calvin jadi teringat soal Vampir berambut Silver yang bertarung dengan dirinya sebelumnya.
"Vampir Berambut Silver, apakah kamu mengenalnya?"
Mendengar itu, wajah Anastasya segera menjadi pucat.
Jika hipotesis nya benar jelas aja Vampir yang menyerang Calvin adalah Nathan.
Luka-luka dari serangan Nathan jelas merupakan hal hal yang sangat serius, yang mungkin akan sangat lama untuk sembuh.
Anastasya merasakan Aroma darah Calvin dimana-mana, terutama bisa diantar root sebelah kiri yang sepertinya masih mengeluarkan darah sampai sekarang.
"Anastasya?"
Panggilan dari Calvin menyadarkan nya dari lamunan nya.
"Sudahlah itu tidak penting, paling penting adalah untuk menyembuhkan mu,"
Anastasya segera membuka lagi perban yang Lucas balut sebelumnya di perut Calvin, membuat Calvin merintih kesakitan.
"Awww... Apa yang kamu lakukan?"
Tepat setelah itu, Calvin melihat Anastasya melukai tangannya sendiri, lalu ada darah merah yang mengalir di sana, dan diarahkan ke luka Calvin.
Ketika darah itu tiba di luka Calvin, rasa perih karena teriris-iris dan di grogoti itu negara perlahan-lahan hilang, hanya rasa sakit biasa.
"Anastasya ini...."
"ini mungkin bisa sedikit membantu menyembuhkan kamu, Darah Vampir Murni, bisa membantu menyembuhkan luka ini memiliki banyak efek untuk Werewolf. Aku hanya sedikit menyingkirkan hal-hal buruk di luka itu, tidak benar-benar menyembuhkannya,"
Hal-hal yang Anastasya hilangkan adalah darah memakan Nathan yang masih tersisa diluka itu.
Jelas, tidak ada hal yang baik membiarkan darah kotor itu terus di sana, terkadang darah Vampir juga bisa menjadi berbahaya.
Dari sini, Anastasya juga melihat Calvin yang pucat, mungkin dalam perjalanan dia kehilangan lebih banyak darah daripada yang dirinya kira.
Belum lagi semua luka-luka mengerikan itu.
Sialan!!
Nathan!!
Dirinya tidak akan pernah mengira jika Calvin akan bisa bertemu Nathan jalan sebuah kebetulan yang tidak pernah diduga.
Benar-benar suatu kesialan.
"Calvin... Aku pikir luka kamu cukup parah,"
"Tenanglah ini tidak apa-apa,"
"Kamu pembohong lihat wajah pucatmu itu,"
"Mau bagaimana lagi, regenerasi Werewolf tidak secepat Vampir,"
Ketika mendengar itu, Anastasya lalu teringat sesuatu.
Keadian seberapa jam sebelumnya, dimana demi dirinya agar cepat pulih, Calvin juga membiarkan dirinya meminum darah Calvin.
Anastasya merasa, pasti sebelumnya dirinya juga mau minum darah terlalu banyak, belum sekarang Calvin terluka dan mengeluarkan banyak darah.
Hal-hal ini benar-benar tidak bisa dibiarkan.
Tepat setelah itu, Anastasya segera membuka kancing kemeja atasnya, membuat Calvin yang melihat itu menjadi bingung.
"Anastasya!! Apa yang kamu lakukan?"
"Calvin, minumlah darahku!"
"Apa? Aku bukan Vampir, yang suka minum darah,"
"Aku tahu, aku sudah bilang sebelumnya padamu, jika Darah Vampir memiliki banyak manfaat untuk Werewolf, anggap saja ini adalah balas budi ku, kamu membiarkan ku meminum darahnya sebelumnya, dan sekarang giliran aku yang membiarkannya untuk meminumnya,"
Kata-kata itu terlihat penuh tekat, membuat Calvin sedikit bingung dan masuk dalam sebuah dilema.
"Apakah ini benar-benar tidak apa-apa?"
Anastasya segera memeluk Calvin,
"Minumlah... Ini tidak apa-apa... Mungkin rasanya sedikit buruk, tapi ini benar-benar demi kesembuhan mu,"
Calvin segera mengeluarkan taring-tadingnya.
Ini sebenarnya cukup tajam, tapi taring-tadingnya ini tidak digunakan dengan cara yang sama seperti Vampir.
"Gigitan dari Werewolf mungkin akan lebih menyakitkan, jadi kamu tahan," kata Calvin lagi.
"Ya, Aku akan menahannya,"
"Aku akan melakukannya perlahan-lahan dan lembut,"
"Hmm,"
Calvin segera megigit leher Anastasya, dan darah keluar dari sana.
Ya, rasa darah itu tidak begitu Calvin sukai.
Rasanya aneh....
Namun entah kenapa energi yang hilang di dalam dirinya perlahan-lahan menjadi pulih.
Juga mulai merasakan luka di perutnya sedikit membaik, seolah-olah dirinya mulai beregenerasi.
Calvin lalu mulai merasakan perubahan di dalam dirinya.
"Calvin.... Ukhh... Pelan-pelan..."
Mendengar itu, Calvin sekarang mulai memperlambat dan melakukannya lebih pelan, agar tidak terlalu menyakiti Anastasya.
Anastasya merasa cukup senang karena dirinya bisa berguna juga untuk Pemuda dihadapannya itu.