Nadine adalah seorang wartawan yang gigih dan nekat meskipun dia memiliki fisik yang lemah. Kenekatan itu membawanya untuk meliput sebuah kasus besar dan berbahaya yang naasnya keberadaan gadis itu dicium oleh para penjahat yang dia liput. Dalam keadaan terdesak, Nadine memutar otaknya agar tidak ketahuan, yaitu dengan cara mencium sosok lelaki yang tiba-tiba muncul di depannya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Raja Iblis yang tengah menjalankan misi di dunia manusia.
Nadine pikir pertemuannya akan berakhir setelah Elliot, si Raja Iblis pergi, namun takdir berkata lain Raja Iblis yang anti manusia itu terus mendekati Nadine. Pertemuan mereka seperti benang merah yang terhubung di antara benang-benang kusut, berkesinambungan dengan cara yang tidak biasa.
Apa yang dimiliki Nadine hingga sang Raja Iblis terus mendekatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shamrock, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB XXII PULANG
Langit melepas atribut putih biru dengan sedikit sentuhan jingga berganti menjadi hitam pekat dengan aksesoris berbentuk sabit milik sang bulan. Selama pergantian itu Aileen masih belum juga mendapatkan kesadaran yang direnggut paksa darinya. Di samping Aileen ada Nadine yang kehilangan rona di wajahnya berkat kekhawatiran pada sang teman bertengkarnya. Rasa khawatir itu pun tampaknya semakin naik tiap pergerakan jarum panjang jam bahkan sekarang gadis itu tak ragu untuk mengumandangkan rasa takutnya. Takut, takut jikalau teman dekatnya itu akan pergi dari hidupnya.
"Nadine," panggil Elliot mengumumkan kedatanganya.
Nadine mengalihkan pandangannya pada atensi Elliot yang datang sendiri tanpa Fantasia. Sekarang di otaknya bertanya apakah Fantasia masuk ke dalam botol seperti Shadow atau Elliot memang belum menemukannya. "Bagaimana? Apa kau menemukan bajingan itu?" Sebuah gelengan membuat Nadine mengeratkan pegangannya pada jemari Aileen takut jikalau dia melepaskannya dia akan kehilangan si tukang marah-marah itu.
"Aku tak bisa merasakannya. Bisa jadi dia berdiam di dalam tubuh Aileen agar aku tak menemukannya." Elliot menatap Nadine yang tak luput pandangannya dari Aileen yang tergeletak mengejang.
"Lalu apa yang harus kita lakukan? Melakukan pengusiran arwah?" Elliot kembali menggeleng, dia tak senang saat Nadine terdengar begitu putus asa, dia tak suka gadisnya khawatir seperti ini.
"Itu akan butuh waktu lama dan mungkin temanmu akan mengalami rasa sakit ketika melakukannya.” Karena pada dasarnya tidak boleh makhluk immortal berkoneksi seperti itu dengan makhluk mortal.
“Lalu apa yang harus aku lakukan? Dia tak bangun. Bagaimana jika dia tak bangun lagi?" Nadine terus meracau, rasa khawatirnya memuhi ubun-ubun kepalanya. Bagaimana bisa orang yang dia peringatkan justru terjebak di tempat seperti ini.
"Nadine, tenanglah." Lagi dan lagi Elliot meminta Nadine untuk tenang dan tak termakan emosinya. Namun, hal itu tak cukup bagi Nadine yang sedang merasakan ketakutan.
"Bagaimana aku bisa tenang saat orang yang penting di hidupku sekarat? Kau tak akan pernah tahu rasanya!" Nadine terus mengucapkan kata-kata pedasnya pada Elliot tanpa sadar bahwa Elliot pun pernah merasakan itu.
"Aku juga merasakannya ketika kau hampir tiada," batin Elliot tak ingin memperkeruh suasana hati Nadine. Jika Sandra mengetahui hal ini saudaranya itu pasti akan kaget, bagaimana iblis angkuh itu kalah dalam berargumen dengan manusia lemah seperti Nadine.
"Jika dia memiliki keteguhan pikiran dia akan baik-baik saja." Nadine percaya bahwa Aileen punya pikiran yang kuat dan tak mudah dimanipulasi, tapi kenapa sampai sekarang kesadaran gadis itu belum juga kembali.
"Aileen orang yang sangat kuat pikirannya, tapi sampai sekarang dia … dia--"
"Kita tunggu jika dalam sepuluh menit jika dia tak bangun aku akan masuk ke dalam pikirannya dan membawanya pergi," Ujar Elliot menenangkan.
"Kenapa tak sekarang?"
"Aku masuk ke dalam tubuh manusia akan meninggalkan zat kegelapan dalam dirinya, aku tak ingin meninggalkan itu pada orang yang kau sayangi. Kita lakukan itu jika kita tak punya jalan lain." Sebenarnya Elliot tak ada masalah jika Aileen mati ataupun di dalamnya ada zat kegelapan, tapi lagi-lagi hubungan Nadine dengan gadis galak itu membuatnya harus peduli.
Biasanya zat kegelapan itu akan mempengaruhi laku seseorang. Dipenuhi kegelapan dan rasa murung, tidak ada cara untuk membersihkan zat kegelapan itu selain dengan mati. Itupun jiwanya akan Elliot bawa.
"Kuharap kau tak perlu menggunakan cara itu." Elliot mengangguk, tapi jelas lelaki itu tahu bahwa manusia biasa tak akan pernah bisa sadar dari pengaruh Fantasia dan jikalau sadar orang itu akan gila.
“Aileen, bangun!”
“Aileen!”
Nadine terus merapalkan nama Aileen bak dukun yang tengah memanggil makhluknya dan ajaibnya Nadine berhasil membangunkan Aileen. Gadis itu akhirnya tersadar.
Mulutnya megap-megap seperti seseorang yang kehabisan napas. Tubuhnya yang masih lemas menatap Nadine. Aileen terbangun dengan sangat dramatis.
Namun, Aileen tidak sadar sendirian, berbarengan dengan kesadaran gadis itu kembali, ada sebuah asap kehitaman yang ikut keluar dari tubuh Aileen. Sosok itu terlempar ke sudut lain ruangan, jauh lebih tidak berdaya daripada Aileen.
"Aileen kau baik-baik saja? Apa ada yang sakit? Apa kau ingat aku? Aku Nadine teman serumahmu. Kenapa kau diam saja? Ah tidak … tidak kita harus ke rumah sakit," ujarnya dengan cepat bak rapper tanpa peduli ada sosok lain yang ikut keluar dari tubuh Aileen.
"Kau terlalu banyak bertanya dan aku baik-baik saja,” ujar Aileen sedikit parau.
"Syukurlah." Sementara Nadine sedang bergulat dengan kekhawatiran dan rasa lega, Elliot dilandang rasa kaget dan kebingungan. Ini kali pertama ada manusia yang bisa kembali setelah berhubungan dengan Fantasia dan jikalau dia bisa kembali sadar, manusia tak akan mempu membuat Fantasia teronggok sekarat. Elliot menatap refleksi Fantasia yang sudah tak berdaya. Mulutnya seperti terbakar, lehernya mengerut seperti habis dicekik sekuat tenaga. Tubuhnya yang serupa manusia normal, berubah menjadi kebiruan seperti membutuhkan udara.
Elliot mungkin jadi tak perlu repot-repot untuk memberikan Fantasia hukuman, dia hanya perlu membawa Fantasi untuk kembali pulang. Tapi, hal ini tidak biasa.
Jelas Aileen bukan manusia biasa. Fokus Elliot teralihkan pada Aileen. "Siapa kau?"
Aileen yang tengah menikmati raut wajah khawatir Nadine yang mulai surut kini disadarkan pada antensi raja iblis yang selalu menempel pada Nadine. "Apa maksudmu dengan siapa? Dia Aileen, temanku!" Dalam hati Aileen senang karena Nadine ketus pada Elliot, untuk kali ini dia menang dari si iblis menjengkelkan itu.
"Tidak ada manusia yang bisa keluar dari pengaruh Fantasia dan kau lihatlah dia!” Elliot menunjuk Fantasia yang tampak pingsan atau mungkin mati.
“Lihat apa yang dia lakukan. Manusia biasa tak bisa melakukan itu. Jadi, jelas sekali kau bukan manusia,” lanjut Elliot.
Elliot sangat yakin bahwa Aileen bukan manusia, tapi dia tak bisa mengkategorikan Aileen dalam jenis apa, baunya begitu samar.
"Bukan manusia? Bukankah kau bilang bahwa jika memiliki pikiran yang kuat dia akan lolos? Aileen punya itu." Sudahlah Elliot kalah, dia tak akan beradu argumen dengan Nadine. Saat Elliot kehilangan kata-kata, saat itulah rasa senang Aileen bertumpuk, sayang dia teralu lemah untuk merayakan kemenangannya, jika tidak dia akan menari bahagia di depan Elliot.
“Nadine,” panggil Aileen dan sebagai sahabat yang baik dia akan membalas panggilan itu dengan cepat.
“Apa? Kau butuh sesuatu? Ada yang sakit?” Dia menggeleng.
“Aku ingin istirahat, bisakah kau usir dia? Aku tak ingin berbagi oksigen dengan orang yang lubang hidungnya besar.” Elliot mendelik tak terima, dia bersusah payah ikut menungguinya—walaupun sebenarya untuk menunggui Nadine—dan sekarang dia diusir dengan alasan lubang hidungnya besar. Beruntung Aileen ada teman Nadine jika tidak Eliot akan menutup hidup Aileen.
“Elliot, Aileen butuh istirahat jadi—“
“Jadi menurutmu lubang hidungku besar?” Nadine menggeleng cepat sementara Aileen tersenyum mengejek. Sakit ini ada gunanya.
“Akh … pusing," erang Aileen sembari pura-pura memegang kepalanya. Elliot mencibir apa yang dilakukan Aileen.
“Elliot tolonglah Aileen memang butuh istirahat, kau bisa mengurus makhluk itu dan kau Aileen jangan bersikap seperti itu pada Elliot dia juga juga mencoba untuk menyelamatkanmu.”
“Aku bisa menyelamatkan diriku sendiri aku tak butuh bantuan raja iblis bodoh,” gumam Aileen pelan tapi sebagai pemilik telinga yang tajam Elliot tentu mendengarnya.
“Benar dugaanku! Kau bukan manusia kan?” ujar Elliot sangat antusias sembari menunjuk Aileen.
“Elliot!” Nadine memperingatkan, gadis itu sekarang bagaikan orang tua dari dua anaknya yang hobi bertengkar.
“Nadine, dia tahu aku raja iblis aku mendengar dia mengatakan itu.”
“Aku tak mengatakan apa pun.” Menjadikan Elliot dan Aileen satu ruang cukup menbuat Nadine pusing. Dia harus mengusir salah satunya.
Namun, belum sempat dia mengusir Elliot sosok lelaki muncul bak sulap di dalam ruangan yang akses masuknya hanya dari pintu kamar saja. Jendela pun tertutup, lagi pula hanya orang gila saja yang menanjat hingga sepuluh lantai tanpa pengaman.
Sosok laki-laki itu berdiri di belakang Nadine, hingga Elliot menatap tajam ke arahnya. Siapa lagi makhluk immortal yang muncul di hadapannya inu.
“Found you, sister.” Suaranya yang berat dan dalam mengagetkan Nadine dan membuat gadis itu menoleh ke belakang punggungnya.
Mendapati seorang laki-laki berperawakan lebih tinggi dari Elliot. Rambutnya putih kebiruan, warna bola matanya biru terang, persis seperti warna lautan.
“****!” umpat Aileen dalam hati. Dia sudah tidak tahu berapa kali mengumpat hari ini.
Nadine berdiri dan mendekat ke arah Elliot seolah meminta penjelasan. “Elliot, dia temanmu?” tanyanya mengingat apa yang di depannya itu muncul tiba-tiba bak setan.
“Siapa kau?” tanya Elliot merasa bingung.
“Siapa aku itu tak penting, aku datang untuk menjemput saudara kembarku. Aileen ayo pulang.” Elian mengulurkan tangan hendak membawa Aileen, tapi Nadine dengan berani menghadangnya sekalipun dia tahu bahwa lelaki itu mungkin bisa menbantingnya kapan saja.
“Aileen tak punya saudara. Kau bukan saudaranya!” Nadine berteriak di depan wajahnya.
“Sepertinya kau punya teman yang setia sampai kau tak mau kembali pulang.” Sebuah suara terdengar diikuti dengan sosok lelaki berjubah hitam tiba-tiba muncul di belakang laki-laki yang mengkonfrontasinya pertama kali.
Dia memiliki rambut hitam legam yang sangat normal, warna matanya sama seperti manusia pada umumnya. Kedua tangannya dia masukkan ke dalam saku jubahnya.
Dan kedua orang itu membawa sebuah gagak masuk ke dalam satu ruangan itu. Dua gagak itu berterbangan di seluruh ruangan, membuat kegaduhan menjatuhkan gelas, sebelum akhirnya sunyi karena telah menemukan tempat bertengger yang pas.
Nadine melonggarkan tangannya dan agak meringkuk mendengar suara burung-burung berterbangan, dia takut burung-burung itu menggigitnya.
“Dream,” gumam Elliot kaget hingga sulit bagi otaknya untuk memprediksi maksud dari dewa minpi yang enggan untuk mencampuri urusan makhluk lain turun ke dunia mortal.
"Ayah." Laki-laki berambut putih biru itu memberikan hormat pada sosok yang baru saja menampakkan diri.
“Ada urusan apa dewa mimpi kemari?” tanya Elliot penasaran.
“Kau mengenalnya?” bisik Nadine.
Seseorang yang dipanggil Dream itu mendekatkan diri. Wajahnya dingin tanpa ekspresi seperti Elliot. “Aku yakin kita sudah sepakat untuk tak mencampuri urusan masing-masing. Aku tak akan menganggumu dan kucing manismu, aku hanya menjemput anakku, Nightmare.”
Hari ini harus dinobatkan sebagai hari penuh kejutan yang disponsori oleh Aileen. Pertama gadis itu bisa membuat Fantasia sekarat, kedua dia mengetahui identitas sang raja iblis dan ketiga dia adalah anak Dream. Di antara banyak entitas immortal yang ada, dia adalah anak Dream, dewa yang tak bisa dia abaikan begitu saja.
“Nadine, menyingkirlah," titah Elliot terdengar begitu final.
“Tapi—“
“Dia benar ayahnya. Dream tak akan berbohong untuk hal semacam ini. Aku mengenalnya.”
Nadine sangat tahu ada beberapa hal yang dia tak bisa ikut campuri. Meskipun jauh di dalam hatinya, dia bahkan tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Dengan berat hati Nadine menyingkir.
“Sekarang, ayo pulang, anakku.” Dream menempelkan tangannya di dahi Aileen.
Aileen melirik ke arah Nadine, memberikan seulas senyum kegetiran. Bibirnya berucap tanpa suara, sebelum menghilang bak dihapuskan oleh angin.
"Maaf."
...****************...