PROLOG
Waktu itu aku masih kecil. Aku hanya tahu Ayah sering sakit dan aku selalu berdoa agar beliau sembuh. Aku tidak pernah tahu bahwa suatu hari, aku akan merindukan suara batuknya yang dulu begitu sering membuatku khawatir.
Seandainya aku tahu bahwa waktu bersama Ayah begitu singkat, mungkin aku akan memeluknya lebih lama.
Namaku Hitas. Ini adalah kisah tentang kehilangan yang datang terlalu dini, tentang seorang anak kecil yang belum mengerti mengapa orang yang paling disayanginya harus pergi, dan tentang perjalanan hidup yang dimulai setelah kehilangan itu.
Selamat membaca kisah perjalanan Hitas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hita Nurhidayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1 Jejak yang Dimulai dari Sebuah Luka
Setiap orang memiliki cerita tentang tempat ia memulai. Ada yang mengenangnya sebagai tempat penuh tawa dan kebahagiaan, tetapi ada pula yang baru menyadari betapa berharganya sebuah tempat setelah semuanya berubah. Bagiku, tempat itu adalah sebuah desa kecil yang menjadi saksi masa kanak-kanakku, tempat pertama kali aku mengenal keluarga, merasakan kasih sayang, dan tanpa kusadari mulai belajar bahwa hidup tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan.
Suara ayam yang saling bersahutan selalu menjadi pertanda bahwa pagi telah datang di Desa Arawa. Embun masih bergelayut di ujung dedaunan, sementara angin yang berembus pelan menyelinap melalui celah-celah dinding rumah kayu kami. Dari kejauhan terdengar suara orang-orang yang mulai berangkat ke kebun, disusul langkah kaki anak-anak yang berlarian di jalan tanah sambil membawa tawa kecil mereka. Desa itu tidak pernah ramai, tetapi selalu terasa hidup dengan kesederhanaannya.
Di desa kecil itulah kisahku bermula. Sebuah tempat yang mungkin tidak dikenal banyak orang, tetapi menyimpan begitu banyak cerita yang perlahan membentuk diriku hingga hari ini. Bagi sebagian orang, desa itu mungkin hanya sebuah tempat sederhana yang jauh dari keramaian. Namun, bagiku, Desa Arawa adalah tempat pertama kali aku mengenal arti keluarga, perjuangan, kasih sayang, dan kehidupan.
Namaku Hitas Nursyah. Aku lahir pada tanggal 1 Januari 2005 di Desa Arawa, di tengah keluarga yang hidup dengan penuh keterbatasan. Kami tidak memiliki rumah besar ataupun harta yang berlimpah, tetapi rumah sederhana itu selalu terasa hangat karena di dalamnya ada Ayah, Ibu, dan saudara-saudaraku. Aku adalah anak kelima dari tujuh bersaudara. Enam perempuan dan satu laki-laki tumbuh bersama dalam rumah kecil yang hampir setiap hari dipenuhi berbagai cerita. Ada suara tawa ketika kami bermain, tangisan kecil ketika terjadi pertengkaran, serta nasihat orang tua yang selalu mengingatkan kami untuk saling menjaga.
Saat itu aku belum memahami bahwa kehidupan sederhana yang kami jalani sebenarnya merupakan sesuatu yang sangat berharga. Bagiku, hari-hari tersebut hanyalah masa kecil yang biasa. Aku belum tahu bahwa waktu akan terus berjalan dan membawa sebagian dari kenangan itu menjadi sesuatu yang kelak sangat ingin kukembalikan.
Di balik kehangatan keluarga kami, ada satu hal yang sejak kecil perlahan mulai kukenal, yaitu perjuangan seorang Ayah yang berusaha tetap kuat meskipun tubuhnya sering kali tidak mampu mengikuti keinginannya.
Ayah sering sakit.
Aku masih mengingat suara batuk Ayah yang terdengar dari dalam rumah. Batuk itu terdengar berat dan terkadang membuatku berhenti bermain hanya untuk melihat keadaan beliau. Wajah Ayah sering terlihat pucat, tubuhnya lemah, dan ada saat-saat ketika aku melihat beliau menahan rasa sakit sendirian. Bahkan, aku pernah menyaksikan Ayah batuk hingga mengeluarkan darah.
Sebagai seorang anak kecil, aku tidak memahami penyakit yang sedang beliau lawan. Aku tidak tahu mengapa orang yang selama ini terlihat kuat di mataku bisa begitu lemah ketika sakit datang. Aku juga tidak tahu mengapa setiap kali batuk Ayah terdengar semakin berat, suasana rumah seolah ikut berubah menjadi lebih sunyi. Aku hanya tahu bahwa aku ingin Ayah sembuh.
Suatu hari, ketika aku sedang bermain di sekitar rumah, suara Ayah terdengar memanggil namaku dari arah dapur.
“Hitas...”
Aku menghentikan permainan dan segera menghampirinya. Ayah sedang duduk di dapur yang masih menggunakan kayu bakar. Wajahnya terlihat sangat pucat. Di dekatnya terdapat beberapa lembar daun sirih yang sedang digunakan sebagai salah satu ikhtiar untuk membantu mengurangi rasa sakit yang dirasakannya.
Ketika melihatku datang, Ayah seperti ingin segera meminta sesuatu.
“Hitas, tolong ambilkan beberapa lembar daun sirih lagi di belakang rumah.”
Aku langsung mengangguk.
“Iya, Yah.”
Aku berlari menuju halaman belakang rumah untuk mencari daun sirih. Saat itu aku tidak memikirkan apa pun selain keinginan untuk segera memberikan apa yang Ayah butuhkan. Aku mencari di sekitar pagar bambu sampai menemukan beberapa lembar daun yang masih segar. Setelah mengambilnya, aku segera kembali ke dapur.
Ayah masih duduk di sana. Aku melihat beliau berusaha menghangatkan daun-daun sirih tersebut, tetapi gerakannya tampak berat. Melihat Ayah kesusahan, aku tidak banyak bertanya. Aku langsung membantu menghangatkan daun-daun itu satu per satu, lalu menyerahkannya kepada Ayah.
Beliau mengambilnya dan menempelkan daun tersebut pada beberapa bagian tubuhnya, terutama di bagian dada. Aku duduk di dekatnya sambil memperhatikan Ayah dalam diam. Ada sesuatu yang membuatku tidak nyaman melihat wajahnya yang pucat, tetapi sebagai anak kecil aku tidak tahu harus berbuat apa selain membantu sebisaku.
“Kalau pakai daun ini, Ayah nanti sembuh, kan?” tanyaku dengan penuh harapan.
Ayah menoleh kepadaku. Meskipun wajahnya terlihat lelah, beliau masih berusaha tersenyum.
“Doakan saja Ayah cepat sehat.”
Aku mengangguk dengan yakin.
“Iya, Yah. Hitas akan selalu doakan Ayah.”
Tangan Ayah kemudian terangkat dan mengusap kepalaku perlahan. Aku masih bisa mengingat sentuhan itu sampai sekarang. Saat itu aku merasa tenang, seolah selama Ayah masih bisa tersenyum dan mengusap kepalaku, tidak ada sesuatu yang perlu kutakutkan.
Aku belum tahu bahwa di balik senyum Ayah ada rasa sakit yang tidak mampu kupahami. Aku juga belum mengerti bahwa seorang anak terkadang hanya bisa melihat sebagian kecil dari perjuangan orang tuanya. Yang kulihat hanyalah Ayah yang sedang sakit dan seorang anak kecil yang berharap daun sirih serta doa yang dipanjatkannya mampu membuat orang yang paling disayanginya kembali sehat.
Waktu terus berjalan hingga akhirnya keluargaku harus mengambil sebuah keputusan besar. Sebelum aku memasuki usia sekolah, kami meninggalkan Desa Arawa dan berpindah ke Desa Wanasari. Aku harus meninggalkan rumah, lingkungan, dan tempat yang sejak kecil sudah kukenal. Saat itu aku belum memahami sepenuhnya alasan perpindahan tersebut, tetapi aku tahu bahwa orang tuaku menginginkan kehidupan yang lebih baik untuk anak-anaknya, terutama agar kami bisa mendapatkan pendidikan dan memiliki masa depan yang lebih luas.
Meninggalkan Desa Arawa bukan berarti meninggalkan semua kenangan yang pernah ada. Desa itu tetap menjadi bagian pertama dari perjalanan hidupku, tempat aku mengenal kesederhanaan dan keluarga, sekaligus tempat yang menyimpan kenangan tentang Ayah yang masih sering sakit.
Di Desa Wanasari, kehidupan kami perlahan berjalan seperti biasa. Beberapa minggu setelah kami tinggal di sana, musim tanam jagung tiba. Hampir seluruh anggota keluargaku setiap pagi pergi ke kebun yang letaknya cukup jauh dari kampung. Aku dan saudara-saudaraku ikut bersama mereka. Karena masih kecil, aku belum bisa membantu banyak. Aku lebih sering bermain di sekitar kebun, mengejar kupu-kupu, memetik bunga liar, atau sekadar melihat orang-orang dewasa bekerja.
Sore itu, ketika pekerjaan sudah selesai dan keluargaku bersiap kembali ke kampung, Nenek menghampiriku. Beliau mengusap kepalaku sambil tersenyum.
“Hitas, tinggal di sini dulu sama Nenek, ya. Temani Nenek di kebun.”
Aku langsung mengangguk karena saat itu aku merasa senang bisa tinggal bersama Nenek.
“Iya, Nek. Hitas mau temani Nenek.”
Sejak hari itu, aku tinggal bersama Nenek di rumah kebun yang sederhana. Hari-hariku di sana terasa menyenangkan. Setiap pagi aku menemani Nenek ke kebun. Beliau merawat tanaman, sedangkan aku bermain di sekitarnya dan sesekali membantu mengambil ranting atau mengumpulkan daun-daun kering.
Aku tidak pernah merasa bosan berada di sana. Kebun itu terasa begitu luas bagiku, sementara Nenek selalu menjadi seseorang yang membuatku merasa tidak sendirian. Ada banyak hal kecil yang kami lakukan bersama dan mungkin terlihat sederhana bagi orang lain, tetapi bagi seorang anak sepertiku, kebersamaan itu terasa sangat berarti.
Suatu hari aku bertanya kepada Nenek, “Nek, Nenek tidak capek kerja terus?”
Nenek tersenyum sebelum menjawab, “Kalau kita ingin makan, kita harus mau bekerja, Nak.”
Aku hanya mengangguk. Saat itu aku belum benar-benar memahami maksud perkataan Nenek. Namun, tanpa kusadari, dari kebun sederhana itu aku mulai belajar bahwa untuk mendapatkan sesuatu, seseorang harus mau berusaha dan tidak mudah menyerah.
Beberapa bulan berlalu. Suatu pagi sebuah mobil berhenti di depan rumah kebun. Ibu datang menjemputku karena tidak lama lagi aku akan memasuki bangku sekolah dasar.
“Hitas, ayo pulang. Sebentar lagi kamu sudah masuk sekolah,” ucap Ibu sambil memelukku.
Mendengar itu aku merasa senang karena akhirnya aku akan bersekolah. Namun, ketika melihat Nenek, perasaan senang itu tidak lagi terasa utuh. Aku mulai memikirkan bagaimana Nenek nanti jika aku pergi.
Aku mendekati Ibu dan berkata dengan suara yang penuh harapan, “Bu, Nenek ikut pulang saja sama kita.”
Ibu kemudian mencoba membujuk Nenek.
“Nek, ikut pulang bersama kami saja. Nanti tinggal bersama kami di kampung.”
Namun, Nenek menggeleng pelan sambil memandang tanaman yang selama ini dirawatnya.
“Tidak bisa. Nenek harus menjaga tanaman ini. Kalau Nenek pulang bersama kalian, siapa yang akan merawat tanaman-tanaman ini?”
Aku terdiam mendengar jawaban itu. Aku melihat kebun yang luas di sekitar kami, kemudian kembali memandang Nenek. Dalam pikiranku yang masih kecil, aku tidak ingin meninggalkan beliau sendirian di tempat itu.
Aku kembali meminta kepada Ibu agar membujuk Nenek.
“Bu, tolong ajak Nenek pulang. Hitas tidak mau Nenek tinggal sendiri di sini.”
Aku bahkan berharap Ibu terus membujuk sampai Nenek mau ikut bersama kami. Namun, Nenek tetap pada keputusannya. Tanaman-tanaman itu adalah tanggung jawabnya, dan aku akhirnya harus menerima kenyataan bahwa aku tidak bisa membawa Nenek pulang bersamaku.
Saat tiba waktunya meninggalkan rumah kebun, aku memeluk Nenek erat. Ada rasa berat yang memenuhi dadaku. Aku ingin tetap tinggal, tetapi aku juga tahu bahwa sebentar lagi aku harus sekolah.
“Nek, nanti Hitas pulang lagi.”
Nenek mengusap kepalaku dan tersenyum.
“Sekarang Hitas sekolah yang rajin. Jangan lupa belajar.”
Aku mengangguk meskipun air mataku mulai jatuh. Ketika mobil mulai bergerak meninggalkan kebun, aku terus memandang ke belakang. Rumah kecil itu perlahan semakin jauh, begitu pula sosok Nenek yang masih berdiri di sana.
Sepanjang perjalanan, pikiranku masih tertinggal di kebun. Aku membayangkan Nenek kembali berjalan di antara tanaman seorang diri. Tidak ada lagi anak kecil yang menemaninya bermain, bertanya, atau sekadar membuat kebun itu sedikit lebih ramai.
Untuk pertama kalinya, aku memahami bahwa seseorang bisa merasa kehilangan meskipun orang yang disayanginya masih ada.
Hari pertama sekolah akhirnya tiba.
Pagi itu Ibu mengeluarkan seragam merah putih yang baru saja dibelinya. Seragam itu masih rapi, lengkap dengan sepatu dan tas sekolah baru. Aku mengenakannya dengan perasaan bahagia yang sulit dijelaskan. Bagi seorang anak kecil sepertiku, seragam itu bukan hanya pakaian sekolah, tetapi tanda bahwa aku akan memasuki dunia baru.
Ibu kemudian mengantarkanku menuju sekolah. Tangannya menggenggam tanganku sepanjang perjalanan hingga kami sampai di depan gerbang.
“Hitas, belajar yang rajin, ya. Jangan takut. Dengarkan kata guru dan jangan nakal.”
Aku tersenyum dan mengangguk.
“Iya, Bu.”
Setelah itu aku berjalan menuju kelas.
Aku melihat beberapa anak masih digandeng oleh orang tua mereka. Ada yang dipeluk, ada yang menangis karena tidak ingin ditinggalkan. Sementara aku berjalan sendiri menuju ruang kelas. Anehnya, aku tidak merasa takut. Justru ada rasa bangga karena akhirnya aku bisa mengenakan seragam, membawa tas, dan duduk di bangku sekolah seperti anak-anak lainnya.
Sejak hari pertama, aku mulai menyukai sekolah. Aku belajar mengenal huruf, memegang pensil, membaca kata-kata sederhana, dan menulis. Setiap huruf yang berhasil kukenal terasa seperti sesuatu yang baru dan berharga.
Sesampainya di rumah, aku sering mengulang kembali apa yang kupelajari. Rumah kami sederhana dan lantainya masih terbuat dari bambu. Tidak ada meja belajar yang bagus ataupun ruangan khusus untuk membaca. Namun, lantai bambu itulah yang menjadi tempatku pertama kali mengenal dunia melalui tulisan.
Aku duduk sambil memegang pensil kecil dan mencoba menulis huruf yang kuingat.
A, B, C.
Tulisanku belum rapi. Beberapa huruf bahkan sering salah sehingga harus kuhapus dan kutulis kembali. Namun, aku tidak mudah menyerah. Rasa ingin tahuku membuatku terus mencoba.
Dalam proses belajar itu, kakakku Ucaluna yang saat itu sudah duduk di kelas dua sekolah dasar sering menemaniku.
“Hitas, bukan begitu caranya. Lihat, hurufnya seperti ini.”
Aku memperhatikan contoh yang diberikannya, lalu mencoba mengikutinya. Berkali-kali aku mengulang tulisan yang sama sampai akhirnya mulai bisa menulis dengan lebih baik.
Hari yang paling membuatku bahagia adalah ketika aku berhasil menulis namaku sendiri.
Aku memandangi tulisan itu cukup lama. Tulisan tersebut memang masih sederhana dan jauh dari sempurna, tetapi bagiku itu adalah sebuah pencapaian besar. Dari sebuah pensil kecil yang kugenggam di atas lantai bambu, aku mulai memahami bahwa aku bisa belajar sesuatu yang sebelumnya tidak kuketahui.
Saat itu aku hanya tahu bahwa aku ingin terus bersekolah. Aku ingin belajar membaca, menulis, dan mengetahui lebih banyak tentang dunia. Aku belum tahu bahwa perjalanan sekolah yang begitu sederhana itu akan membawaku melewati banyak hal yang tidak pernah kubayangkan.
Aku juga belum tahu bahwa setelah masa kecil yang penuh dengan kebersamaan bersama keluarga, akan ada sebuah kejadian yang membuatku kembali merasakan arti kehilangan.
Karena ternyata, perpisahan dengan Nenek di rumah kebun itu bukanlah perpisahan terakhir yang akan membuatku menoleh ke belakang dan berharap seseorang masih berada di sana.
...***...