NovelToon NovelToon
CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Tamat
Popularitas:554k
Nilai: 5
Nama Author: Ough See Usi

Adisti harus memutuskan pertunangannya dengan Prasetyo Anggoro, seorang pewaris Anggoro Putra Group, saat 30 hari menjelang pernikahannya. Rita Gunaldi, desainer sekaligus MUA baju pengantin yang merupakan, pemilik The Ritz “mengambil” tunangannya tepat di depan matanya.

Siapa yang menyangka tepat di hari H yang sudah dibatalkan, Adisti jatuh dari tebing dan justru bertemu dengan jodoh yang sebenarnya di tengah jurang, Bramasta Sanjaya seorang pewaris Sanjaya Group dan perintis B Group. Pertama kali mereka bertatap mata di tengah jurang, pertama kalinya mereka merasakan jatuh cinta. Dan huruf “G” kecil tulisan tangan Adisti semakin meyakinkan hati Bramasta.

Keluarga Anggoro dendam. Begitupula Rita Gunaldi. Dendam menguak aib dan kejahatan yang mereka lakukan. Melibatkan Interpol dan polisi di dalamnya.

Cinta dan Dendam, kepada siapa nasib akan berpihak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ough See Usi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 – MENDATANGI TKP

Sabtu pagi, usai sholat shubuh, Bramasta menganti baju koko dengan kaos dan celana pendeknya. Mulai melakukan body stretching, menaiki mesin treadmillnya sambil berjalan santai. Kecepatannya diatur untuk berlari santai 20 menit. Gawainya bergetar, ada panggilan masuk dari Anton.

“Assalamu’alaikum, iya Ton?” jeda.

“OK, thanks ya. Nanti biar Agung aja yang bawa, gak perlu driver.OK. Sampai ketemu nanti di site ya. Assalamu’alaikum.”

Ruangan terasa sunyi. Bramasta menekan smart remote di dekat treadmillnya, remote yang bisa dipakai untuk mengoperasikan aneka perangkat yang sudah diprogram. Diarahkannya ke TV, mencari saluran youtube, memilih murotal al ma’tsurat pagi. Sambil berlari, sesekali Bramasta mengikuti bacaan di layar TV. Peluh sudah membanjiri, Bramasta mematikan mesin treadmillnya. Membuka pintu dan jendela lebar-lebar dengan menggunakan smart remote juga tirai-tirai besarnya.

Berjalan ke arah balkon. Langit masih remang-remang. Peregangan otot dan body plank dilakukan di balkon hingga langit berwarna jingga. Memandangi langit dengan penuh kekaguman. Dia mengambil gambar awan jingga dengan latar langit campuran ungu hingga navy blue. Mengirimkannya pada Adisti. Dengan caption _Langitnya terlalu meriah untuk dinikmati sendirian_

Adisti yang baru saja meletakkan al Qur’an-nya terkejut dengan bunyi notifikasi pesan masuk. Bibirnya tersenyum lebar melihat nama pengirim pesan. Segera dibuka pesannya. Ternganga melihat foto langitnya. Tanpa sadar, jemarinya menekan tombol video call.

Bramasta mengernyit heran saat ada panggilan video call masuk. Ada nama Adisti di sana. Jantungnya mendadak berdebar keras. Gugup. Video call pertama dengan Adisti. Jemarinya gemetar saat menggeser tombol hijau.

“Assalamu’alaikum, Disti. Tumben Vicall..” Bramasta tersenyum.

Adisti tampak bengong menatap layar handphone-nya.

[Masyaa Allah, cantik banget sih pakai mukena. Imut banget sih dia bengong begitu..] Bramasta masih tersenyum.

“Disti..haloo…” tangan Bramasta digerak-gerakkan di depan layar.

Adisti mengerjap. Seperti tersadar sesuatu. Terkesiap sambil menutupi mulutnya. Bramasta tertawa melihatnya.

“Wa’alaikumussalam, Abang. Kenapa diangkat vicallnya?” suara Adisti berbisik.

“Lah..?”

“Ini gak sengaja kepencet..”

“Bukan karena kangen Abang? Kenapa bisik-bisik?” Bramasta ikut berbisik.

“Dih Abang.. Ngomongnya pelan-pelan aja. Takut kedengaran orang rumah. Gak enak.”

“Beneran nih gak kangen? Abang tutup nih vicall-nya.”

“Eh, Bang, tunggu. Lihatin langitnya dong, please..”

Bramasta mengubah setelan kameranya, menggunakan kamera belakang. Menggerakkan handphonenya perlahan, dari kiri ke kanan. Mengambil pemandangan langit fajar seluas jangkauannya untuk Adisti.

“Beneran kamu cuma pengen lihat langit? Gak pengen lihat Abang?”

“Lihat Abangnya nanti aja. Kan pagi ini kita ketemuan.”

“Ya udah. Udah puas lihat langitnya?”

“Ini Abang ada dimana? Kenapa bisa melihat langit seluas itu?”

“Abang di rumah Abang. Di Balkon.”

“Kata Kakak, tempat tinggal Abang itu apartemen. Kenapa disebut rumah?”

“Sama saja kan? Tempat kita pulang untuk beristirahat itu disebut rumah kan?”

“Iya sih..”

Bramasta tersenyum melihat Adisti yang tidak sadar Bramasta tengah mengamatinya. Mata Adisti terpaku melihat langit fajar sementara kamera handphonenya masih menyorot wajahnya.

“Disti..”

“Hmm?”

“Kamu cantik pakai mukena itu.”

“Eh?”

Disti memandang pantulan dirinya di kotak kecil pada layarnya.

“Issh.. Abang dari tadi ngelihatin terus? Dih.. kan Disti jadi malu, Bang. Disti kan lagi lihat langit..”

Suara pintu diketuk terdengar.

“Dek, lagi ngapain? Langitnya kenapa?” tanya Bunda sambil membuka pintu kamarnya, “Kirain belum bangun. Nanti buatin teh buat Ayah ya. Bunda mau ke pasar dulu,” Bunda balik lagi menghadap ke Adisti, “Tadi ngomong langit, emang langitnya kenapa?”

“Langitnya cerah, Bun. Alhamdulillah.”

Bunda mengangguk. Berbalik keluar kamar, “Bunda pergi dulu ya, assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam. Tiati Bun..”

Adisti menunduk ke arah layar handphone-nya. Kamera Bramasta sudah beralih ke kamera depan. Ada wajah Bramasta yang tengah tersenyum lebar ke arahnya. [Duh, pagi-pagi begini diberi senyuman cogan, meleleh nih hati..]

“Langitnya memang cerah ya.”

“Abang, ih. Deg-degan tahu.

[Iya, Abang juga deg-degan nerima vicall dari kamu]_Bramasta.

[Deg-degan tahu dipandangi terus oleh cogan serpihan bubuk gantengnya Nabi Yusuf Alayhissalam]_Adisti.

“Ya udah, sampai nanti ya, insyaa Allah.”

“Daaah Abang.. Assalamu’alaikum. Ma’af tadi salah pencet ya..”

“Wa’alaikumussalam, dima’afkan. Tapi Abang suka kok divicall Disti.”

“Gombal.. dah ah.. bye…”

Disti menyudahi vicall-nya.

Handphonenya diletakkan di dadanya untuk meredakan debaran hati yang tidak karuan semenjak memandang wajah Bramasta di layar handphonenya. Menarik nafas perlahan lalu dihembuskan lewat mulut. Berulang kali. Berharap debaran hatinya berangsur reda.

Bramasta masih tersenyum lebar. Matanya memandang langit fajar yang semakin terang.

[Terimakasih ya Allah untuk langit fajar pagi ini yang menakjubkan].

Pagi ini, Bramasta menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini.

[Semoga kita bisa segera melihat langit fajar bersama-sama, berdua di sini].

Bramasta memakai mobil double cabin-nya menuju site. Dia puas melihat pintu gerbangnya, sama dengan gambar foto yang dikirimkan oleh Anton. Untuk site, ia menyerahkan urusannya pada Anton karena background Anton adalah arsitek. Anton membawahi divisi arsitektur dan lanskap di B Group.

Saat memarkir mobilnya, dia melihat mobil Indra memasuki site. Bramasta melambaikan tangannya. Jam 7 pagi, langit sudah terang benderang. Tetapi rumput masih basah sisa embun yang belum menguap. Indra mendekati Bramasta dengan langkah panjangnya.

“Assalamu’alaikum, Bos. Perasaan wajahnya sumringah banget. Lebih cerah dari kemarin. Sudah mirip bohlam LED 20 watt.”

“Wa’alaikumussalam. Lu ngomong apaan, Ndra..”

Deru mesin mobil yang menggerung karena sedikit menanjak di area parkir membuat mereka menoleh. Anton melambaikan tangannya, “Assalamu’alaikum”.

Berdua membalas lambaian tangan Anton, “Wa’alaikumussalam.”

Anton turun dari mobilnya menenteng gulungan kertas blue print. Gambar perencanaan site.

“Sudah datang semua Bos, materialnya,” Anton menunjuk pada tumpukan baja di tepi tebing yang menjulang. Dia melihat arlojinya, “Para pekerja akan datang sebentar lagi.”

Benar saja, beberapa kelompok pekerja memasuki site lalu mengisi daftar hadir di pos security. Mereka sudah memakai perlengkapan standar keselamatan kerja. Anton menyerahkan 2 helm proyek yang diambil dari dalam mobilnya. Ada logo B Group di samping helmnya. Bramasta dan Indra memakainya. Para pekerja berkumpul di bawah pohon ketapang. Mereka duduk-duduk di sana sambil mengobrol satu sama lainnya sambil menunggu briefing.

Bertiga mereka berjalan mendekati tempat berkumpulnya pekerja. Bersamaan dengan itu, mobil yang dikendarai Agung memasuki site. Agung menurunkan kaca jendela, melambai kapada mereka semua. Ayah turun lebih dahulu membukakan pintu untuk Bunda. Agung membukakan pintu untuk Adisti. Membantunya turun dari mobil. Mereka tampak terkesima dengan pemandangan yang ada juga dengan banyaknya orang di sana.

“Assalamu’alaikum,” sapa Ayah. Semuanya menjawab salam Ayah.

Bramasta, Indra dan Anton menyalimi Ayah dan Bunda.

“Kok banyak orang? Ada apa?” tanya Bunda.

“Hari ini awal mula pekerjaan di site ini, Bu,” Indra menjelaskan.

Para pekerja berdiri. Mereka membentuk tigaperempat lingkaran mengelilingi petinggi B Group. Agung mengarahkan keluarganya untuk berdiri di tepi lingkaran. Tetapi Indra menyuruh Agung dan keluarganya untuk tetap di dalam lingkaran.

Bramasta maju ke depan. Suaranya terdengar jelas dan berwibawa saat mengucap salam dan menyapa para pekerja. Mengucap terimakasih atas kesediaan para pekerja untuk bekerja sama dan memberi motivasi kepada para pekerjanya agar bekerja dengan sungguh-sungguh dengan tetap menomorsatukan keselamatan kerja. Bramasta menoleh kepada Ayah.

“Pak Gumilar,” panggil Bramasta.

“Iya Nak Bram. Ada apa?” Ayah datang menghampiri.

“Boleh minta tolong untuk memimpin do’a? Ini hari pertama pengerjaan site. Meminta do’a untuk dilancarkan dan dilindungi dari segala marabahaya terhadap para pekerja dan juga lingkungan site ini, Pak.”

Pak Gumilar mengangguk. Sebagai dewan penasihat di beberapa masjid tentu bukan hal yang asing buat Pak Gumilar untuk memimpin do’a. Do’a didaraskan dengan diawali salam, basmalah dan sholawat kepada Rasulullah Salallahu ‘Alayhi Wassalam dan diakhiri dengan bacaan al fatihah. Do’a yang diucapkan tidak panjang tetapi jelas karena mengunakan kalimat-kalimat yang mudah dicerna dan mencakup semuanya.

Kemudian Anton mengambil alih. Memanggil semua supervisor untuk mengumpulkan masing-masing mandor dan pekerjanya. Membuka blue print, menunjuk beberapa area sementara dan para supervisor mengangguk mengerti. Lalu mereka membubarkan diri. Setiap supervisor berpencar membawa pekerja yang dibawahinya ke tempat kerja masing-masing.

Agung dan Ayah terkagum melihat koordinasi yang baik. Semua teratur dan disiplin. Tidak terlihat pekerja yang tampak bengong ataupun bingung dengan pekerjaannya. Bramasta mengajak semuanya ke tepi tebing.

“Sewaktu saya datang, Adisti sedang berlutut di sana,” sambil berjalan Bramasta menunjuk tepian jurang dengan ibu jarinya, “Kemudian di berdiri sambil membersihkan tanah yang menempel pada lutut dan ujung celananya. Lalu mulai berjalan ke bawah, menuruni tepian dinding yang menonjol di bawah sini.”

Mereka tiba di tepian. Adisti memegang lengan Agung dengan erat. Agung menepuk-nepuk tangan Adisti.

“Disti takut?” tanya Bramasta. Dijawab dengan gelengan kepala.

Bramasta menunjuk bekas patahan batu di bawah tepian.

“Sepertinya Adisti menginjak batu yang lapuk di dinding itu,” Ayah dan Agung melihat sisa patahan batu yang gompal, “Saya mendengar bunyi keretak batu yang patah kemudian mendengar seruan Adisti yang meluncur ke bawah.”

Bunda memegang dadanya membayangkan adegan tersebut.

“Itu dahan pohon yang menahan tubuh Adisti,” semuanya menengok ke bawah. Dahan yang dimaksud berwarna coklat gelap, tidak terlalu besar, hanya sebesar paha orang dewasa yang kurus saja. Potongan kerudung Adisti tampak berkibar tertiup angin.

“Ternyata tidak besar dahannya ya,” kata Agung. Bramasta mengangguk.

“Itu sebabnya saya langsung berinisiatif turun tanpa menunggu bantuan datang. Khawatir dahan tersebut tidak kuat menahan tubuh Adisti.”

“Alhamdulillah Nak Bram mampu berpikir dan bertindak cepat. Alhamdulillah juga Nak Bram punya kemampuan rappelling dan membawa peralatannya.”

“Biidznillah_Atas kehendak Allah_, Pak,” kata Bramasta, “Disti, lihat, potongan kerudung kamu masih tersangkut di rantingnya.”

Beberapa pekerja mendekati tepian jurang. 2 orang memakai perlengkapan rappelling. Mereka membawa peralatan bor besar nirkabel. Saat mereka mulai menuruni tebing, Bramasta mengarahkan keluarga Agung untuk menjauhi tepian.

“Sebenarnya lokasi ini mau dibangun apa Nak?” tanya Ayah.

“Tebak..” Bramasta tersenyum kepada mereka semua lalu mengarahkan mereka ke arah mobilnya.

1
Ough See Usi
gak di ACC pihak NT.

Sama dengan Mr. Architect, awalnya pakai foto Taehyung BTS, tapi disuruh ganti.
Niken Dwi Handayani
Awalnya pakai photo Chow Yun Fat, kok bisa ganti jadi Hyun Bin Thor?
Ough See Usi: waduh salah kolom sayanya.. 🙏🏼

karena gak di ACC pihak NT
Ya gitu deh...
total 1 replies
Ough See Usi
Eric masih 11 tahun
Alif 8 tahun
Abay 5 tahun
Andra 2 tahun
Sidney 15 tahun
Niken Dwi Handayani
Di novel ini Eric umurnya berapa ya? Sebab di novel nya Anton, umurnya sudah 11 tahun kalau ga salah baca.
Ough See Usi: maaf salah naruh komen.
Author juga salah nempatin umur 🙏🏼🙏🏼

Belum direvisi 🙏🏼🙏🏼
Mau nge-revisi udah kelewat jauh.

Semua novel, masih ditahun yang sama.
total 1 replies
Syaiful Leli
kapan munculnya naga2 dalam tubuh merwka thor
Ough See Usi: ada di bab-bab ataupun cerita berikutnya

Keempat novel Author itu twtralogi, saling menyambung jalinan ceritanya.

Selamat membaca, semoga suka ya. 😍😍😘
total 1 replies
Ulla Hullasoh
halahhhh....... lupa tuh Indra
Ough See Usi: qqqqqq 😁🤭
total 1 replies
Ulla Hullasoh
keluarga medusa emang keluarga bejad menyeramkan
Ough See Usi: jahara pokoknya..
total 1 replies
Ulla Hullasoh
Hadiah buat ayah mertua/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Ough See Usi: ofcourse... 😁😁🤭
total 1 replies
Ulla Hullasoh
wahhhhh ngebut nih Bram wkwkwk
Ulla Hullasoh
keren nih bang Bram tanjabbb tanpa basa basi...keren Thor
Ough See Usi: Bram gitu loh.... 🥰🥰
total 1 replies
Ulla Hullasoh
tamu nya Adisti pada kreatif wkwkwk
Ough See Usi: qqqqqq 🤣🤣🤣🤭
total 1 replies
Ulla Hullasoh
waduhhhh mama toh yang membocorkan
Ough See Usi: Mommy memang gak bisa nge-keep cerita... 😁😁🤣
total 1 replies
Ulla Hullasoh
semangat Thorrr
Ough See Usi: siyyyaaaap
(walau sambil meriang...)
total 1 replies
Ulla Hullasoh
Anton keren kumplit nih laporannya
Ough See Usi: selalu dong... Anton... 😁😁
total 1 replies
Ulla Hullasoh
lanjut Thorrr ceritamu selalu bagus. kerennn
Ough See Usi: Hatur nuhun, hatur tengkyu

🥰🥰🥰🥰🌷🌷🌷
total 1 replies
Ulla Hullasoh
kerennn Thor...saya malah sdh duluan baca cerita Anton yg sdh menikah. kerennn
Ough See Usi: Author baru nemuin Reader yang membacanya dengan urutan terbalik... 🤭

Kalem, gak akan jadi bingung.
Paling, "Ooh jadi begitu benang merahnya..."


Selamat membaca ya.... 🥰🥰🥰
total 1 replies
amelia Adwin
ttp setia deh...tenang za...😘
Ough See Usi: 🥰🥰🥰 iya... iya.... 😁😁😁😘
total 1 replies
Noni Diani
Luar biasa
Ough See Usi: Terima kasih banyak🥰🥰
Ayo capcus ke novel berikutnya supaya lebih kenal dengan para Babang Ganteng di Kuping Merah 😁😁😉🌺
total 1 replies
Noni Diani
Biasa
Ough See Usi: Terimakasih banyak
Jangan lupa baca novel selanjutnya ya.. 🌷
total 1 replies
Septi Lahat
aq nggk ush baling-baling apapun tuh kak thor,, aq pengen punya kendaraan yg bisa anter jemput ank2 qu dg aman terlindungi dri panas n hujan 😁😁😁
Ough See Usi: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!