Gracia Eliza wanita karir berusia 27 tahun yang mengalami kecelakaan mobil, hingga mengakibatkan dirinya meninggal di tempat.
Sebelum meninggal ia sempat membaca sebuah novel berjudul 'My Cool Boy'. Siapa sangka bahwa jiwanya akan bertransmigrasi ke dalam novel tersebut.
Lebih parahnya lagi ia menjadi tokoh antagonis yang mengharapkan cinta kepada tokoh utama Pria. Angelicia Marseilious, nama gadis itu.
Tapi dikarena sekarang jiwanya lah yang menggantikan. Ia akan memilih jalannya sendiri. Ingatlah, bahwa dia adalah Gracia Eliza. Wanita cerdas yang tak mudah ditundukkan.
"Tak ada lagi Angelicia si gadis bodoh dan kekanakan yang mengemis cinta. Sekarang hanyalah Angelicia si gadis pintar dan tak mudah ditaklukkan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani_putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jiwa yang Kembali
Zavierro memberi sebuah bukti atas apa yang Erland lakukan kepada Elicia hingga berakhir seperti sekarang ini. Sementara itu, Zavierro juga mengatakan dengan jujur bahwa dialah dalang di balik luka yang Erland dapatkan.
Gerald dan Maureen hanya diam membisu. Wanita itu tampak shock mengetahui perbuatan bejat putranya. Kenapa putranya bisa berbuat kejam seperti ini? Terlebih lagi kepada seorang gadis? Selain itu, kenapa pula Erland lebih memilih Ovy yang jelas tak ada apa-apanya dibanding Angelicia!
Sedangkan Gerald terdiam lantaran memikirkan betapa sakitnya menjadi sang putri. Dia merasa tidak becus menjadi seorang ayah karena tak tahu rasa sakit yang diderita oleh putranya. Pantaskah dia disebut sebagai seorang ayah?
Gerald sejujurnya sudah mengetahui bahwa Erland tak mencintai Elicia. Namun, melihat putrinya begitu memuja dan mengejar pemuda itu, mau tak mau Gerald akhirnya menyetujui permintaan Elicia yang ingin bertunangan dengan Erland. Tetapi, jika kenyataannya sudah seperti ini, Gerald harus mengambil tindakan.
"Nyonya Maureen, saya rasa apa yang dikatakan olehnya itu benar. Saya tidak bisa membiarkan putri saya disakiti oleh putra anda," ujar Gerald memecah keheningan di antara mereka.
Saat ini, ketiganya berada di kantin rumah sakit. Tetapi Zavierro memilih duduk di meja lain yang tak jauh dari keduanya setelah menyerahkan seluruh bukti kepada mereka. Hal ini dilakukan agar keduanya dapat berbicara tanpa harus diganggu oleh kehadirannya. Untung saja suasana di sini tidak terlalu ramai. Jadi mereka bisa leluasa dalam berbicara hal penting seperti tadi.
Maureen seketika menoleh, "Tapi, Tuan---"
"Maaf Nyonya, saya tidak bisa membiarkan putri saya disakiti lebih daripada ini. Jika saja dia bukanlah putra anda, saya pastikan dia akan membusuk di penjara atas apa yang dilakukannya. Namun, karena saya masih menghormati kedekatan keluarga kita, jadi untuk sementara ini saya akan membiarkannya. Saya mohon atas pengertian anda, Nyonya."
Gerald berucap dengan tegas yang membuat Maureen bungkam tanpa bisa berkata-kata lagi. Ini memang kesalahan putranya, jadi dia tak bisa membela apa-apa karena ia mengerti bagaimana perasaan Gerald.
"Baiklah, Tuan Gerald. Saya akan mencoba untuk mengerti. Selain itu, saya juga ingin minta maaf atas semua kesalahan yang telah putraku lakukan. Saya benar-benar menyesal karena tidak mengetahui ini sebelumnya."
Maureen sebagai seorang Ibu jelas merasa gagal dalam mendidik sang putra. Tak pernah terpikir dalam benaknya bahwa sang putra akan berbuat keji seperti ini kepada seorang gadis hanya demi gadis lain. Mengingat gadis itu, Maureen mendengus dingin. Dia tak akan melepaskan gadis itu.
Gerald hanya mengangguk, kemudian dia beranjak dan pergi dari sana setelah berpamitan kepada Maureen. Zavierro menatap kepergian Gerald dengan tatapan sulit. Kemudian Zavierro meminum jus yang dia pesan sebelumnya. Kenapa dia tidak ikut pergi? Karena dia menunggu Maureen untuk mendatanginya. Dia yakin wanita itu akan mendatanginya sebentar lagi.
Hanya menunggu hitungan detik.Benar saja, wanita itu kini duduk di depannya. Diam-diam Zavierro menarik sudut bibirnya.
"Apa kau tahu tempat tinggal gadis itu?"
...****************...
Gerald dan Celine duduk dengan cemas di kursi depan ruang rawat Elicia. Beberapa waktu lalu, keadaan Elicia tiba-tiba memburuk. Mereka segera memanggil Dokter. Ketika Dokter masuk, keduanya harus menunggu di luar.
Zavierro yang baru tiba di sana dibuat cemas. Melihat raut khawatir di wajah keduanya, serta ruang rawat Elicia yang tertutup rapat. Menandakan bahwa terjadi sesuatu kepada gadis itu. Dia tak banyak bertanya hanya diam menunggu bersama kedua orang tua Elicia.
Tak lama kemudian, Dokter dan beberapa perawat keluar. Kedua orang itu langsung berdiri menghampiri sang Dokter.
"Apa yang terjadi, Dokter? Apakah putriku baik-baik saja?" tanya Celine khawatir.
"Anda tenang saja, Nyonya. Keadaan Nona Angelicia sudah membaik, bahkan kalian bisa menjenguknya sekarang."
Mereka menarik napas lega. Dokter itu pamit undur diri bersama para perawatnya meninggalkan ketiganya. Celine segera masuk ke dalam. Tetapi Gerald tak mengikuti, dia lebih memilih menghampiri Zavierro.
"Ayo masuk. Aku tahu kau juga mencemaskan keadaan putriku." Gerald mengajak dengan ramah kepada pemuda itu.
Zavierro yang memang ingin mengetahui keadaan Elicia langsung mengangguk. Kedua lelaki berbeda usia itu masuk ke dalam.
"Kepala Angel sakit, Mama," keluh Angelicia memegang kepalanya yang diperban.
"Bahkan seluruh tubuhku juga sakit." Matanya berkaca-kaca. Saat bangun tadi, tubuhnya terasa remuk redam. Apalagi kepalanya yang sakit luar biasa.
"Sebenarnya apa yang terjadi padaku?" tanyanya.
"Kamu tidak ingat?" tanya Gerald yang baru masuk bersama Zavierro. Pria itu berjalan menghampiri ranjang Elicia. Sementara Zavierro terdiam di tempat, mengawasi seluruh gerak-gerik Elicia yang tampak asing di pandangan matanya.
Angelicia mencoba mengingat, "Ah, aku ingat!"
"Aku terjatuh dari tangga, bukan?"
Celine yang sempat cemas bertambah cemas mendengar jawaban putrinya. Dia melirik sang suami seolah menyampaikan rasa khawatirnya. Gerald hanya menyuruh Celine untuk tenang.
"Ini semua karena gadis sialan itu! Seharusnya dia yang jatuh! Kenapa malah aku yang kena!" geramnya dengan tangan mengepal.
Tanpa sengaja matanya bertatapan dengan Zavierro. Keningnya berkerut, "Siapa dia?" tanyanya yang membuat Celine ikut menoleh ke arah pandang sang putri.
"Dia orang yang telah menolongmu. Apa kau tidak mengenalnya?" jawab Gerald menatap putrinya, menelisik wajah itu.
Angelicia semakin berkerut, "Menolongku? Menolongku dari apa? Tentu saja aku tidak mengenalnya!"
"Cia--"
"Cia? Namaku Angel, Papa!" potong Angel dengan raut kesal.
Gerald mengurut pangkal hidungnya pusing. Kenapa anaknya tiba-tiba berubah, lagi?
"Baiklah, Angel. Kau tidaklah jatuh dari tangga, Nak. Kejadian itu sudah terlewat beberapa hari yang lalu."
"A- apa? Papa pasti bercanda, bukan? Jika aku memang tidak jatuh dari sana. Kenapa aku berada di rumah sakit?!" tanya Angelicia menuntut penjelasan.
Dirinya ingat jelas, bahwa saat itu tubuhnya jatuh dari tangga. Kenapa mendadak semua jadi aneh seperti ini?
"Beberapa preman berusaha melecehkanmu, tapi kau sempat melawan mereka. Beruntung saat itu ada Zavierro yang datang menyelamatkanmu. Jika tidak, mungkin keadaanmu akan lebih parah dari ini."
Penjelasan Gerald semakin membuatnya bingung. Dia terdiam dan mencoba mengingatnya. Namun, nihil. Tak ada satupun kejadian yang dia ingat tentang ucapan ayahnya itu selain dia terjatuh dari tangga. Kemudian dia menatap Zavierro, tak lama matanya kembali melirik orang tuanya.
"Dimana Erland, Papa?"
Rahang Gerald seketika mengeras. Wajah lembutnya berubah datar dan dingin. Nama itu membuat aliran darahnya meningkat.
"Jangan menyebut namanya lagi, Angel. Laki-laki itu sudah menyakitimu!"
Bukannya senang, justru Angelicia kesal terhadap respon sang Papa. "Kenapa Papa berbicara seperti itu?! Angel mau bertemu dengan Erland! Suruh dia ke sini! Bukankah aku ini tunangannya? Seharusnya dia menjengukku!"
"Oh, atau jangan-jangan gadis licik itu menahan Erland agar tak menjengukku!" sambungnya kala nama Ovy terlintas dalam benaknya.
"Pertunanganmu dengannya sudah Papa batalkan."
"Apa?! Kenapa Papa memutuskan hal itu tanpa mengatakannya lebih dulu padaku!" teriak Angelicia marah.
Namun, rasa pusing pada kepalanya membuat dia merintih. Zavierro yang sedari tadi diam berjalan menghampiri gadis itu.
"Jangan terlalu emosi. Kesehatanmu belum pulih sepenuhnya," ucap Zavierro datar. Dia tak menatap sedikitpun pada gadis itu. Dirinya sibuk menuang air lalu menyodorkannya ke arah bibir pucat tersebut.
Dia telah mengamati dan mengambil kesimpulan bahwa gadis di depannya ini bukanlah sosok yang dikenalnya. Angelicia ingin membalas ucapan Zavierro, tetapi tubuhnya tak cukup kuat untuk itu. Jadi dia membuka mulutnya menerima air yang diberikan oleh pemuda itu.
"Istirahatlah, aku harap kau cepat kembali, Elicia."
Zavierro meletakkan gelas itu di atas nakas setelah membantu Angelicia berbaring. Kemudian dia berbalik menghadap orang tua Angelicia yang sejak tadi mengamati perlakuannya terhadap putri mereka.
"Saya pamit dulu, Tuan Gerald dan Nyonya Celine."
"Terimakasih atas bantuanmu," ucap Celine dengan lembut dan tulus.
Zavierro hanya mengangguk seadanya. Setelah itu dia keluar dari ruang rawat Angelicia. Tujuannya saat ini adalah Villa terbengkalai milik keluarganya.
To be continued...
Gimana gimana jantung kau masih aman kan??!!!,🤣🤣🤣🤣