NovelToon NovelToon
Sekretaris Kaku VS CEO Random

Sekretaris Kaku VS CEO Random

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rara_R

Raditya Baskara tahu cara mengelola bisnis mode bernilai miliaran, tapi dia sama sekali tidak tahu cara bersikap "normal". Dia adalah tipe bos yang bisa mendadak mengadakan lomba balap kursi roda di koridor kantor saat jam kerja hampir di mulai. Satu-satunya rem darurat dalam hidup Radit adalah Kirana, sekretarisnya yang super kaku dan selalu memandangnya dengan tatapan menghakimi.

​Namun, sebuah kesalahpahaman di hadapan media membuat mereka terjebak dalam rumor asmara. Demi reputasi saham perusahaan, mereka terpaksa mempertahankan sandiwara tersebut di luar jam kantor. Masalahnya, bagaimana cara menjalani hubungan pura-pura jika sang CEO selalu bertingkah ajaib, sementara sang sekretaris menanggapi gombalan romantis dengan analisis SWOT? Ini adalah kisah tentang lembur paling melelahkan, sekaligus paling membahagiakan dalam hidup Kirana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara_R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Langkah kaki Radit dan Kirana yang beriringan menuju area taman tebing disambut oleh ratusan pasang mata. Di bawah langit Uluwatu yang mulai menggelap dan sapuan lampu-lampu taman yang kekuningan, atmosfer pesta yang semula hangat mendadak terasa kaku di barisan kursi terdepan.

Di sana, duduk seorang pria paruh baya berambut klimis dengan garis wajah yang sangat mirip dengan mendiang ayah Radit. Hendi Baskara, sang penguasa faksi Surabaya. Dia duduk dengan menyilangkan kaki, ditemani oleh tiga pria sepuh berkapasitas sebagai Dewan Adat keluarga dari Solo. Di belakang kursi mereka, berdiri Herry, sang mantan pengacara yang kini mengenakan setelan jas mahal, mencoba memancarkan senyum kemenangan yang dipaksakan.

Ibu Sofia yang duduk di sisi lain altar kaca hanya menatap adiknya itu dengan pandangan sedingin es. Dia tidak bergerak dari posisinya, membiarkan putranya mengambil kendali penuh di atas panggung malam ini.

Begitu Radit dan Kirana tiba di tengah panggung altar, pembawa acara bersiap membuka sesi utama pertukaran cincin. Namun, sebelum mikrofon sempat menyala, Hendi Baskara bangkit berdiri dari kursinya. Ketukan tongkat jalannya yang berlapis perak terdengar nyaring di atas lantai kayu selasar.

"Tunggu sebentar," suara Hendi bergaung, berat dan penuh tekanan senioritas. Dia melangkah maju dua langkah, memosisikan diri di hadapan para tetua adat. "Sebagai perwakilan tertua dari garis darah Baskara yang masih aktif memegang kendali wilayah, saya merasa memiliki kewajiban moral untuk menghentikan prosesi ini sejenak. Dewan Adat harus mendengar sebuah fakta penting sebelum cincin warisan keluarga disematkan ke jari wanita ini"

Gumaman cemas langsung terdengar dari barisan tamu undangan kelompok kolega bisnis internasional.

Radit menghentikan langkahnya tepat di depan Hendi. Tubuh tegapnya yang menjulang menciptakan bayangan intimidasi yang langsung memotong dominasi pamannya. "Paman Hendi, ini adalah acara privat pertunangan saya. Jika Paman memiliki keluhan terkait operasional bisnis, hari Senin pintu ruang kerja saya selalu terbuka di Jakarta".

"Ini bukan tentang bisnis, Radit! Ini tentang kehormatan keluarga kita!" Hendi mendengus, lalu memberikan kode dengan tangan kanannya pada Herry.

Herry melangkah maju dengan membawa sebuah map kulit berwarna cokelat tua.

"Selamat malam, Pak Radit, Ibu Sofia, dan para sesepuh Dewan Adat. Saya di sini membawa dokumen otentik dari arsip hukum negara terkait Hadi Hartono, ayah kandung dari Nona Kirana Larasati. Berkas ini membuktikan adanya keterlibatan kriminal jangka panjang yang berpotensi menyeret nama baik Baskara Group ke dalam pusaran skandal hukum jika pertunangan ini dilanjutkan. Dewan Adat memiliki hak veto untuk menolak restu berdasarkan__"

"Berdasarkan draf manipulasi yang Anda beli dari mantan staf administrasi saya, Pak Herry?" potong Kirana, suaranya yang jernih dan stabil bergema lewat pengeras suara nirkabel yang sejak tadi terpasang di gaunnya.

Kirana melangkah maju, bergeser dari belakang punggung Radit untuk berdiri sejajar. Tidak ada sedikit pun keraguan atau ketakutan di wajahnya. Dia menatap Herry dengan pandangan yang membuat sang pengacara refleks menahan napas.

"Anda mengira sisa berkas sepuluh tahun lalu itu bisa menjadi peluru?" Kirana tersenyum tipis, sebuah senyuman yang begitu tenang namun mematikan. Dia merentangkan tangannya ke samping, memberikan kode halus kepada Tika yang berdiri di dekat operator visual panggung.

"Mari kita bicarakan tentang dokumen hukum yang lebih segar. Dokumen dari triwulan pertama tahun 2026 ini".

Layar proyektor raksasa di belakang altar yang semula menampilkan kompilasi foto-foto pemandangan Bali, seketika berubah warna. Layar itu kini memuat manifes pengapalan dari dermaga komersial Tanjung Perak, Surabaya, lengkap dengan grafik aliran dana ekspor batubara yang ditandai dengan lingkaran merah tebal.

Wajah Hendi Baskara yang tadinya memancarkan keangkuhan senioritas, seketika berubah menjadi kaku. Genggamannya pada tongkat perak di tangannya mengeras hingga kuku-kuku jarinya memutih.

"Apa... apa-apaan ini?! Matikan layarnya!" bentak Hendi ke arah operator, namun Tika dan tim keamanan internal Radit sudah mengunci akses ruang kontrol.

"Ini adalah manifes kuota ekspor batubara ilegal sebesar dua ratus ribu ton, Paman Hendi," suara Radit mengambil alih, berat dan menekan setiap jengkal ruang terbuka itu. "Dikirimkan melalui kapal kargo milik Baskara Shipping Surabaya menuju perusahaan cangkang bernama Pacific Ventures di Panama. Tebak siapa yang memegang saham mayoritas tunggal di perusahaan cangkang tersebut? Nama Anda sendiri, Paman".

Kirana melangkah satu langkah lagi mendekati para tetua adat dari Solo yang kini mulai berbisik panik sambil menatap layar.

"Para sesepuh Dewan Adat yang terhormat," ujar Kirana dengan nada hormat namun tegas. "Jika kita berbicara tentang merusak nama baik Baskara Group, selisih kerugian negara akibat manipulasi pajak ekspor yang dilakukan oleh Paman Hendi ini bernilai empat ratus miliar rupiah. Berkas audit forensik ini telah divalidasi oleh divisi kepatuhan pusat sore ini, dan salinannya sudah berada di meja kerja Direktorat Jenderal Pajak di Jakarta".

Herry yang menyadari posisinya di ujung tanduk, mencoba mundur selangkah untuk menjauh dari Hendi Baskara. Namun, dua petugas keamanan bertubuh kekar dari tim Radit sudah berdiri tepat di belakang punggungnya, mengunci ruang geraknya.

"Paman Hendi," Radit maju, menatap paman kandungnya dengan pandangan mata yang sedingin es. "Anda membawa peluru kosong untuk menyerang masa lalu wanita saya, sementara saya membawa bom waktu yang siap menghancurkan seluruh lini bisnis Anda di Surabaya besok pagi"

Hendi Baskara menelan ludah dengan susah payah. Bahunya yang tadinya tegap kini merosot layu. Dia tahu betul bahwa di bawah kepemimpinan Radit yang kejam dan analisis Kirana yang tanpa celah, faksi Surabaya tidak akan pernah menang dalam perang terbuka ini.

"Apa... apa maumu, Radit?" tanya Hendra dengan suara yang mendadak parau dan bergetar.

"Duduk kembali di kursimu, nikmati acara pertunangan ini sampai selesai tanpa membuka mulutmu lagi," jawab Radit ketat tanpa kompromi. "Dan besok pagi, serahkan surat pengunduran dirimu dari posisi Direktur Utama Baskara Shipping demi alasan kesehatan. Jika tidak, proses hukum Anda akan dimulai hari Senin pukul sembilan pagi".

Tanpa bisa membalas satu kata pun, Hendra Baskara berbalik dengan langkah gontai, kembali ke kursi barisannya dengan wajah pucat padam. Sementara itu, Herry langsung digiring keluar dari area resor oleh petugas keamanan tanpa menimbulkan kegaduhan lebih lanjut.

Tiga tetua Dewan Adat dari Solo saling berpandangan, sebelum akhirnya yang tertua di antara mereka mengangguk takzim ke arah Sofia Baskara dan Radit, tanda bahwa mereka sepenuhnya tunduk pada otoritas pusat yang baru.

Atmosfer ketegangan seketika mencair begitu pembawa acara kembali menyalakan musik instrumen yang syahdu. Prosesi pertukaran cincin pun dilanjutkan di bawah saksi gemerlap bintang malam Uluwatu.

Radit meraih tangan kiri Kirana, perlahan menyematkan cincin emas kuno bermata berlian emerald warisan keluarga itu ke jari manis Kirana. Begitupun sebaliknya, Kirana menyematkan cincin platinum polos di jari manis Radit.

"Eksekusi yang luar biasa di atas panggung, Jenderal Kirana" bisik Radit lembut saat mereka berdiri berhadapan, tangan mereka bertautan erat di atas altar.

Kirana mendongak, menatap mata kekasihnya dengan senyuman lepas tanpa beban lagi.

"Saya hanya memastikan bahwa tidak ada satu pun pasal atau pihak ketiga yang bisa merusak draf masa depan kita, Pak Radit".

Radit tersenyum hangat, lalu menarik Kirana ke dalam pelukan eratnya diiringi oleh tepuk tangan riuh dari seluruh tamu undangan. Badai dari faksi keluarga besar telah resmi mereka jinakkan, mengukuhkan posisi mereka sebagai penguasa mutlak Baskara Group yang baru.

1
paijo londo
q salut sama keterusterangan Kirana tentang masa lalunya yg kelam tnpa kebohongan untuk mengatakan yg sebenarnya pada Radit itu yg membuat mereka kompak dan kerjasama mereka jadi sukses💪💪💪
paijo londo
🤔🤔q yakin pasti itu paman Radit yg pengen depak Radit dari posisi ceo
paijo londo
ternyata oh ternyata sifat random Radit menurun dari nyonya Sofia y🤭🤭
paijo londo
tuh kan Radit bos yg benar2 ajaib sifatnya🤭🤭🤭paling2 yang setress sekertarisnya karena hidupnya yg teratur jadi jungkir balik kenak mental karna Radit 🤣🤣
paijo londo
mampir thor biasanya kalo q baca novel lainnya yg bersifat ksku kayak kanebo kering tuhosnya ya🤔🤔laaa ini kebalik yg sifatnya ajaib tuh malah bosnya yg kyak kanebo kering sekertarisnya unik banget moga ceritanya seunik sifat bosnya y yang penuh keajaiban🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!