Lebih dari 10 tahun Haris memendam rasa pada sahabatnya Elena, namun apalah daya rasa itu tak jua hilang meskipun Elena bersikeras menolak nya, bahkan setelah 8 tahun berpisah rasa itu tetap mengendap di hatinya.
hingga suatu kejadian membuat mereka dipaksa menikah oleh kedua orang tua mereka. Hal itu membuat Elena semakin frustasi, karena terus menerus menolak menerima fakta bahwa hatinya mulai lemah pada pesona sang calon suami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Setelah gaun pertama di lepas, berganti ke gaun kedua, gaun berwarna pastel, panjanya hanya sampai lutut, nampak simpel dan manis, tanpa banyak ornamen, yang lagi lagi memukau siapa pun yang melihat.
Hingga gaun ketiga, rona yang sama masih menghiasi wajah Haris, selama mengenal Elena inilah pertama kali dia benar benar merasa terpesona, Elena yang ia kenal, tak pernah berpakaian mewah, Elena yang selalu sederhana apa adanya, Elena yang selalu tampak manis walau hanya sedang menyunggingkan senyumnya, oh hati semoga kamu masih kuat bertahan.
Setelah selesai, Elena kembali memakai pakaian nya, ketika keluar dari ruang ganti, Elena mengeluarkan kartu debit dari dalam tas nya, "Mau apa?" tanya Haris terkejut ketika melihat Elena mengeluarkan kartu debit nya.
"Mau bayar" Jawabnya polos.
Ekspresi wajah Haris mendadak berubah, dia tak suka ketika Elena menolak pemberian nya "Aku yang bayar, simpan lagi kartu mu" Haris hendak berlalu menuju meja kasir ketika Elena menahan lengannya.
Elena menggeleng seraya tersenyum "Jangan begini, kita berteman, dan aku tidak mau merepotkan mu"
"Kamu tidak merepotkan, sama sekali tidak Elena, aku yang ingin memberi mu, bahkan jika bisa semua nya akan ku berikan padamu" Haris berucap tulus.
Elena kembali menggeleng "Aku akan merasa tidak nyaman, ayolah izinkan aku membayar nya"
"Tidak" Haris kembali menolak dengan tegas.
"Baiklah, fifty-fifty, iya atau tidak jadi beli" tawar Elena.
Dengan berat hati Haris mengangguk, mereka pun menuju meja kasir, dan menyelesaikan pembayaran.
Suasana sepi sepanjang perjalanan pulang, Haris yang masih dengan kecewanya, dan Elena yang sepenuhnya faham, akhirnya pun memilih diam, bahkan ketika Haris Menawarkan makan malam pun Elena menolak.
"Kamu marah?" tanya Elena ketika mobil berhenti di halaman rumah orang tua Elena.
"Sedikit" Jawab nya pelan.
"Maaf ya, kalau hanya sekedar traktir makan dan main, aku tak masalah, tapi tadi itu terlalu banyak, aku ga bisa menerima nya, seharusnya keluargamu, terutama wanita yaang kelak menjadi istrimu, berikan semua padanya, mereka yang berhak menerima semua itu"
Haris menatap lembut wajah gadis disampingnya itu.
Tapi hanya kamu yang ingin aku jadikan istri.
Ingin rasanya Haris meneriakkan kalimat itu, namun dia tidak ingin Elena menjauh, hanya karena dirinya salah berucap.
"Baiklah ini sudah malam, pulanglah, bawa saja mobilnya, besok jemput aku" pinta Elena.
Haris hanya mengangguk, tak lupa dia mengeluarkan paperbag yang berisi gaun milik Elena "Terima kasih untuk Hari ini"
"Hei ... aku yang harusnya berterima kasih" Balas Elena.
"Istirahat lah, nanti malam aku kirimkan copy boarding pass dan bukti pemesanan kamar hotel kita nanti, dan itu artinya kamu tidak boleh menolak"
Elena menaikkan alisnya "Kamar? hotel?" ucap nya refleks, tiba tiba membayangkan dirinya satu kamar dengan Haris "Apa nanti kita sekamar?" tanya nya polos.
"Boleh kalau kamu mau, tapi sebelum pergi kita ke KUA dulu" candanya.
plak
Sebuah pukulan mendarat di lengan Haris, dia pun meringis menahan sakit, suasana kembali mencair "Mana mungkin kita sekamar nona muda, bisa habis aku di cincang tuan Harun Sebastian" Haris tergelak.
...****************...
Airport siang itu.
Lalu lalang para calon penumpang memadati tempat itu, cuaca cerah membuat penerbangan dalam dan luar negeri berjalan lancar tanpa ada keterlambatan, Sudah 15 menit Haris diam mematung di tempat yang sama ketika dirinya turun dari taxi yang di ditumpangi nya menuju Airport.
Pagi tadi dia sudah berencana menjemput Elena terlebih dahulu sebelum menuju airport, namun gadis itu menolak, jadilah mereka putuskan untuk bertemu di airport sebelum keberangkatan.
Tak lama sebuah mobil berhenti tak jauh dari tempat Haris menunggu, dengan terburu buru sang sopir turun dari tempat ia duduk, kemudian membukakan pintu untuk nona muda nya, nona muda yang turun dari mobil nampak tersenyum, ucapan terima kasih terucap dari bibi mungilnya, seperti biasa tampilannya tampak cerah dan manis walau dia hanya memakai dress sederhana dan make up natural.
Haris berjalan menghampiri gadis itu, "Hai ... " sapanya.
senyuman hangat menyambut sapaannya, "hai juga, udah lama nunggu nya" balasnya tak lama setelah mobil yang di tumpanginya berlalu.
"15 menit lah ... tapi ga papa"
mereka pun berjalan beriringan menuju tempat check-in penumpang.
...****************...
2 jam penerbangan berlalu cepat, sepanjang perjalanan, Haris tertidur sementara Elena sibuk dengan drama yang sudah di download sebelumnya.
Perjalanan ke hotel tempat mereka menginap hanya memakan waktu 10 menit, karena sudah ada pihak travel yang siap mengantar mereka, ini adalah salah satu fasilitas yang di sediakan pihak penyelenggara, termasuk tiket pesawat dan hotel yang akan mereka tempati.
Sesuai janji, Haris memang meminta 2 kamar untuk mereka tempati.
"Mau makan siang dulu? atau mau jalan keluar hotel?" Haris menawarkan.
Elena nampak berfikir sejenak "kaya nya nggak deh, aku cape banget, mau istirahat"
"Baiklah, selamat istirahat"
Elena mengangguk sebelum akhirnya pintu kamarnya benar benar tertutup, dia mengedarkan pandangan ke seisi ruangan, walaupun bukan kamar VIP, tapi dekorasi kamar ini termasuk mewah dan luas, bahkan tempat tidurnya pun ukuran king size, Elena meletakkan koper di dekat sofa, kemudian dia pun merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Ting
Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel nya, bibir nya tersenyum sekilas ketika melihat nama pengirim nya.
acara dimulai jam 8 malam, sampai jumpa nanti jam 8 -Haris-
iya -Elena-
Jawab Elena singkat, karena dirinya sudah tak mampu lagi menahan kantuk nya.
Pukul 19.00.
Alrm pengingat berdering nyaring dari ponselnya, Elena menggeliat sesaat sebelum mematikan alrm yang mulai mengganggu pendengaran nya, perlahan Elena bangkit mencoba mengumpulkan kembali kesadaran nya, syukurlah sesaat tadi dia bisa memejamkan mata, karena Elena tak tau seperti apa dan berapa lama acara yang akan dia hadiri nanti malam.
Elena membuka koper nya, kemudian mulai mengeluarkan peralatan mandi, serta gaun yang akan dia pakai malam nanti, pilihannya jatuh pada gaun berwarna pastel, yang beberapa hari lalu dipilih Haris untuk nya, tak lupa peralatan make up pun dia siapkan.
Elena berjalan memasuki kamar mandi dan mulai menyalakan air hangat.
Sepuluh menit kemudian, Elena sudah keluar dari kamar mandi, masih mengenakan bartrobae mandi, dia menuju wastafel, karena di sana satu satunya tempat yang memiliki cermin besar dan pencahayaan yang memadai, mulai lah dia menyapukan make up ke wajahnya.
Selesai dengan make up, kini saat nya dia menata rambut, Elena membuat beberapa ikatan di rambutnya, kemudian menggulung nya, sentuhan akhir dia menyematkan jepit rambut agar gulungan nya tidak terlepas, beberapa sulur rambut di biarkan tergerai membingkai wajah cantiknya.
Bola matanya membulat sempurna, manakala dia selesai mempersiapkan dirinya, gaun berwarna pastel itu nampak makin menonjolkan warna kulit nya, sementara potongan dada rendah memperlihatkan leher jenjangnya.
Sungguh berdebar rasanya menantikan reaksi Haris ketika nanti melihat penampilan nya. tiba tiba dia merasa tubuhnya panas, wajahnya yang sudah di sapu make up semakin merona merah, lucu rasanya melihat reaksi dirinya.
Huft kini saat nya memakai gaun, kenapa aku deg deg an yah, ini pertama kalinya dia menghadiri sebuah acara bersama Haris, membayangkannya saja sudah membuat dirinya bahagia.
Dasar bodoh apa yang kamu harapkan, dia itu hanya temanmu. Gerutunya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
wah wah ada yang sudah berani bermain api 🔥🔥
.
awas kebakaran yah 😁😁
.
like like like and komen please...🥰🥰🙏🙏
suka hatimu thor
🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼
☕