Bagaimana jika dua orang yang dulunya saling suka namun tidak pernah bisa bersama karna suatu hal akhirnya memutuskan untuk menjadi sahabat? Bisakah persahabatan mereka terjalin dengan erat dan tidak akan berubah menjadi cinta kembali?
Kepergian Rayden selepas SMA hingga sekian tahun lamanya membuat hubungannya dengan Kayshila dan Jovan menjauh. Disaat Rayden kembali dengan seorang gadis yang merupakan cinta pertamanya, saat itu juga Kayshila bertemu dengan seorang Profesor muda yang menyandang status duda dua anak yang membuatnya mau tidak mau selalu berurusan dengan Profesor tersebut.
Ketika Rayden mulai menyadari jika perasaannya untuk Kayshila tidak bisa hilang begitu saja, justru saat itu ia harus bersaing dengan Profesor muda tersebut yang sama-sama menginginkan Kayshila. Lebih tepatnya kedua anak duda muda tersebut yang menginginkan Kayshila untuk menjadi ibu sambungnya.
Sanggupkah Rayden memenangkan hati Kayshila kembali seperti dulu saat ia mulai menyemikan namun ia juga yang mematikan perasaan Kayshila untuknya? Atau justru Profesor sekaligus duda muda dengan kedua anaknya yang akan memenangkan hati Kayshila?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan memandang sebelah mata
Gadis tersebut kini terdiam sambil menatap intens kearah Jovan. “Jo, tidak selamanya aku bisa menemanimu disaat kau menjomblo. Lebih baik kau segera menikah daripada nanti aku yang meninggalkanmu karna menikah lebih dulu darimu. Jadi apa kau tanpaku disaat menjomblo begini? So, lebih baik mulai sekarang berhentilah bermain-main dan mulailah untuk memikirkan masa depan.” Ucap Shila serius.
Jovan mengerjapkan matanya beberapa kali begitupun dengan Mama alya. Mereka berdua seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja Shila katakan. “Kau masih waras Shil?” Jovan menempelkan punggung tangannya pada kening Shila. Gadis itu hanya membiarkannya dan menghembuskan nafasnya dengan kasar.
“Tentu saja aku masih sangat amat waras makanya aku bisa menasehatimu sedemikian rupa.” Jawabnya ketus.
“Memangnya kau mau menikah dengan siapa? Standarmu saja setinggi itu ditambah lagi kau masih melanjutkan studymu.” Ledek Mama Alya. Jovan yang mendengarnya ikut menganggukan kepalanya dengan cepat. Sependapat dengan apa yang dikatakan oleh Mama Alya barusan.
“Entah dengan siapa.” Shila mengedikkan bahunya acuh. “Berdasarkan apa yang pernah aku katakan dan apa yang pernah Mama katakan mengenai kriteria laki-laki yang bisa menjadi suamiku, aku sudah menemukan lelaki itu. Tapi aku harap jika bukan dia jodohku.” Ujar Shila terlihat sedang membayangkan wajah Kaisar saat ini.
“Hah?” Mama Alya dan juga Jovan memekik bersamaan. “Bagimana maksudmu Shil?” Lagi-lagi Mama Alya dan juga pemuda yang berstatus sahabatnya itu bertanya secara bersamaan.
“Aku pernah mengatakan mau memiliki kekasih jika orang tersebut bisa membantu menyelesaikan disertasiku bukan?” Tanya Shila kepada dua orang yang kini sedang memandangnya. Baik Jovan maupun mama Alya mengangguk bersamaan. “Dan Mama pernah berkata tidak masalah memiliki menantu seorang duda, iya kan?” Tanyanya lagi dan masih juga dijawab oleh Anggukan. “Aku sudah menemukan orang itu.” Lanjutnya lagi dengan santai.
“Siapa?” tanya Jovan dan Mama Alya yang lagi-lagi secara bersamaan. Shila terkekeh melihat itu semua, mungkin jika kakaknya ada disini maka akan ada tiga orang yang sama kompaknya saat bertanya kepada dirinya.
“Prof Kai.” Shila menjawab secara singkat, padat dan juga jelas.
“Prof Kai?” Beo Jovan
“Siapa dia?” Tanya Mama Alya penasaran.
“Dia Profesor muda dikampusku yang baru saja dilantik menjadi dekan di fakultasku. Usianya baru 37 tahun tapi dia sudah mendapatkan gelar guru besarnya.” Shila membayangkan Kaisar sambil menggelengkan kepalanya penuh kekaguman. Selain tampan, Kaisar juga mapan dan pintar. Terbukti diusianya yang belum sampai menginjak kepala 4 dirinya sudah mendapatkan gelar guru besar atau profesornya.
“Jarak usianya cukup jauh denganmu Shil, saat ini kau baru 26 tahun.” Tolak Jovan tidak setuju jika Shila sampai menjalin hubungan dengan profesor tersebut.
“Bagi Mama usia tidak masalah, justru bagus ketika jarak usianya denganmu terpaut beberapa tahun. Wanita itu butuh lelaki dewasa baik pemikiran maupun tingkah lakunya.” Mama Alya setuju, tidak masalah jarak umurnya dengan Shila sampai sebelas tahun. Usia hanya angka bukan.
“Jika kau bertemu dengannya pasti kau tidak akan percaya jika usianya sudah 37 tahun Jo. Memangnya siapa yang mau dengan Prof Kai Ma? Aku kan hanya mengatakan ada pria yang sesuai dengan kriteriaku dan kriteria Mama mengenai calon suamiku. Dia duda Ma dengan dua anak.” Jelas Shila
“Kau jangan memandang duda atau janda sebelah mata Shil.” Mama Alya memperingatkan.
Jovan terlihat diam sambil memikirkan sesuatu. Hal itu membuat Shila menyenggol kakinya beberapa kali. “Hey kau kenapa?” tanya sigadis.