Dua insan yang sama-sama masih memiliki hati yang terluka disatukan karena suatu keadaan yang mendesak.
Tak pernah terbayangkan oleh Lily, hamil di luar nikah dan menikah dengan pria lain yang bukan ayah kandung dari si janin. Pria itu bernama Azril.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gilva Afnida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 - Salah Kostum
Azril sudah bersiap mengenakan kemeja biru tua berlengan pendek yang dipadu dengan celana slim fit hitam polos. Tak lupa ia mengenakan sepatu slip on warna senada dengan celananya. Azril menengok waktu di jam tangan yang melingkar apik di pergelangan tangan kirinya. "Sudah jam 8 lebih lima menit," gumamnya sambil meraih ponsel. Ia harus menghubungi Damar, memastikan kalau pesanan Meyda sampai di tempat pada waktunya.
Minggu kali ini Azril akan mengunjungi acara khitanan keponakan Meyda. Malam sebelumnya, wanita itu sudah mengingatkan tentang pesanannya dan mengingatkan Azril untuk datang ke acara tersebut sebelum jam 9. Selain ingin memperkenalkan Lily, tujuan Azril datang ke acara tersebut adalah ingin bertemu dengan paman Meyda, Hardi. Dia adalah seorang pengusaha dan investor, Azril ingin membuka cabang restoran di lombok, jadi dia ingin Hardi menjadi investor di restorannya nanti.
Saat Azril keluar dari kamar, ia melihat Lily yang juga baru saja keluar dari kamarnya. Penampilan Lily membuat Azril menatapnya tajam tak suka. Matanya meneliti gaun Lily dari atas hingga ke bawah yang menurutnya tak pantas. Lily mengenakan dress longgar selutut bermotif bunga-bunga, rambutnya digerai panjang dan tubuhnya harum sampai menusuk lubang hidung Azril. "Kamu becanda? Memakai pakaian seperti itu di acara khitanan? Itu gak sopan."
Lily mematung, kembali memeriksa gaun yang menurutnya sudah terlihat pantas. Tak ada yang janggal, hanya sedikit terbuka di bagian leher tapi Lily yakin pakaian yang dikenakannya masih terlihat sopan. "Memangnya kenapa? Aku kan tidak memakai gaun yang minim. Ini masih keliatan sopan."
Tanpa banyak bicara, Azril mendekati Lily dan menarik pergelangan tangannya. Ia berjalan cukup cepat, membuat Lily sedikit terseret karena tak bisa mengimbangi langkah Azril.
"Lepas! Ini sakit, Azril!" protes Lily berusaha melepas cengkraman Azril.
"Diam!"
Saat mereka menuruni anak tangga, Aminah nampak terkejut melihat putranya yang tengah menyeret Lily dengan kasar. "Kamu mau kemana, Nak?" tanyanya.
"Aku mau pergi sebentar, Bu," jawab Azril tanpa menoleh ke arah ibunya sekalipun. Langkahnya semakin melebar saat Lily terus mencoba untuk melepas cengkramannya.
Aminah hanya bisa pasrah melihat wajah Lily yang seolah ingin meminta bantuannya. Kali ini Aminah memilih diam karena dia sudah bersiap diri akan menghadiri acara lain yang lebih penting. Biarlah persoalan itu menjadi urusannya nanti.
Saat sudah berada di depan mobil, Azril membuka pintu dan menyuruh Lily untuk masuk. "Masuk!"
Lily yang tidak mengetahui dimana letak kesalahannya hanya bisa pasrah menuruti perintah Azril. Wajah lelaki itu sudah dipenuhi oleh amarah, lebih baik baginya hanya menurut dan tidak memperpanjang masalah.
Dalam beberapa menit, gaun yang tadinya terlihat rapi, kini nampak kusut karena terus diremas oleh Lily yang nampak gelisah. Mobil Azril bukan berhenti di sebuah acara khitanan, namun malah berhenti di sebuah toko perbelanjaan gamis muslimah yang belum pernah ia datangi sebelumnya.
"Ayo turun!" titah Azril setelah membuka pintu mobilnya.
Lily keluar dari mobil dan memasuki toko. Wajahnya terperangah memandang sekeliling dekorasi toko berlantai dua yang sangat apik dan mewah. Deretan gamis mewah juga terpajang di sepanjang dinding toko yang dominan dengan warna merah marun. Lily yakin, jika gamis yang terpajang itu adalah rancangan desainer ternama. Semuanya nampak bagus dan menarik di mata Lily. Hingga tak sadar jika Azril sudah berlalu duluan meninggalkannya, Lily segera mengejar dan mengekor di belakang Azril yang terlihat sudah beberapa kali datang ke toko tersebut. Terlihat dari para pegawai toko yang langsung menghampiri Azril dan menyambutnya dengan hangat.
"Assalamu'alaikum." Salah satu pegawai mendekati Azril, dia salam dengan menangkupkan kedua tangan di depan dada. "Selamat datang, pak Azril. Bagaimana kabarnya? Sudah lama anda tidak kemari, ada yang bisa saya bantu?" Wanita itu tersenyum ramah, ia nampak anggun mengenakan setelan gamis dan khimar panjang berwarna nude.
"Wa'alaikumsalam." Azril ikut menangkupkan kedua tangan di depan dada. "Kabar saya baik, bu Risha. Emm ... bisa tolong ambilkan beberapa gamis yang sesuai untuk istri saya. Dia ingin memakai gamis untuk acara penting hari ini." Azril menarik lengan Lily agar posisinya berada tepat disampingnya.
Risha membulatkan matanya, ia terkejut mendengar klien langganan yang sudah lama ia kagumi, ternyata sudah kembali menikah. Padahal sudah lama ia mengincar posisi ratu di hati Azril setelah kematian istrinya, Nina. Risha tersenyum manis di depan Azril, menyembunyikan luka yang timbul di dalam dada. "Selamat atas pernikahan anda dan ..." Risha beralih menatap Lily karena belum mengetahui namanya.
Lily langsung mengerti dan menjawab, "Liliana. Panggil saja Lily."
"Baik." Risha mengulurkan tangannya dan berjabat tangan dengan Lily. "Senang berkenalan dengan anda, Bu Lily. Saya Risha yang akan memandu anda berbelanja di toko kami. Mari, ikuti saya untuk memilih gamis yang sesuai dengan anda." Risha berjalan duluan, sedang Lily nampak ragu untuk mengikutinya. Ia masih terdiam di tempat, menatap Azril seperti sedang menunggu perintahnya.
"Ikuti dia!"
Lily yang sudah seperti bawahan Azril, akhirnya menuruti Azril untuk mengikuti Risha yang sudah berjalan mendahuluinya menaiki anak tangga.
Deretan gamis yang berada di lantai dua semakin membuat Lily terperangah. Jika gamis yang berada di lantai bawah dominan dengan warna kuat seperti merah tua, hitam, abu-abu dan biru tua. Di lantai dua ini warna gamis dominan dengan warna pastel. Desainnya pun lebih menarik dengan motif yang lebih bervariasi dibanding desain gamis yang berada di lantai bawah. Khimarnya pun ada berbagai macam bentuk, ada yang mengenakan pad dan non pad. Ada yang ujung khimarnya runcing dan bulat, ada juga banyak pilihan size yang bisa dipilih sesuai keinginan. Aksesoris pelengkap gamis juga terlihat lebih banyak ditemukan di sini.
"Saya sudah menemukan beberapa gamis yang cocok untuk anda. Silahkan anda coba gamisnya diruang ganti terlebih dahulu." Risha dan satu asistennya memberikan satu set gamis berwarna biru langit yang dipadu dengan motif abstrak berwarna biru tua di setiap tepi gamisnya. Sedang khimarnya mengenakan non pad yang berwarna biru langit.
Lily menuruti Risha untuk berganti baju di ruang ganti. Sebenarnya ini pertama kalinya Lily mengenakan gamis, meskipun ibunya dalam keseharian mengenakan gamis, namun dirinya selalu enggan untuk mencoba gamis karena selalu takut terlihat tua. Namun tampaknya ia sudah salah sangka, karena begitu ia mencoba gamis yang dipilihkan oleh Risha dan memandang pantulan dirinya di depan kaca, dirinya langsung jatuh cinta. Rupanya Risha sangat ahli dalam memilihkan gamis sesuai karakter pelanggannya. Buktinya aura Lily semakin terpancar, tidak membuatnya terlihat lebih tua. Justru menambah kesan imut dan menggemaskan, sesuai dengan usianya.
tolong donk,, kalo up yg banyak" 🤭😂😂
semoga tambah cinta ❤️❤️
semangat thor 💪💪💪
dasar kulkas so romantis...
cemburu tanda cinta,marah tandanya sayang 🥰🥰💃💃💃💃