Pertemuan yang tidak disangka antara Fatur dan Anggita menjadikan mereka yang awalnya saling membenci menjadi saling cinta. Anggita yang niatnya pergi ke Batam untuk liburan karena sedang patah hati karena kekasihnya dan bertemu dengan Fatur mahasiswa jurusan arsitektur.
Awalnya Anggita hanya menganggap Fatur sebagai teman namun lama-kelamaan mereka saling mencintai dan menjalin hubungan pasca hubungannya dengan Damar putus. Namun tiba-tiba Anggita harus menikah dengan Damar karena kedua orang tuanya yang sudah dekat. Anggita terpaksa harus berbohong kepada Fatur dan meninggalkannya tanpa kabar membuat Fatur trauma serta patah hati hebat.
Setelah perpisahan mereka selama 4 tahun akhirnya Fatur kembali bertemu dengan Anggita. Mereka bertemu saat Anggita mencari seorang arsitek untuk membuat sebuah rumah setelah pernikahannya. Luka dan trauma yang ditinggalkan Anggita masih Fatur rasakan tapi anehnya Fatur kembali jatuh cinta untuk yang kedua kalinya?
"Based On A True Story"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepatu Flat Shoes Pemberian Fatur
Sesuai janjinya Fatur mengajak Anggita ke toko sepatu, kurang lebih 30 menit dari hotel tempat Anggita menginap mereka sampai di toko langganan Fatur. Motor maticnya terparkir di depan toko yang berukuran sedang dengan bercat hitam pinggiran kota Batam. Mata Anggita menatap lekat sambil membuka helm ke arah bangunan yang terlihat minimalis dan nampak ramai di dalamnya, pikirannya menebak jika ini adalah toko sepatu yang diucapkan Fatur tadi.
"Ini toko sepatu?" tanya Anggita seraya menyerahkan helm kepada Fatur yang masih duduk di atas motornya.
"Bukan, ini toko makanan," balas Fatur dengan nada sedikit ketus dan yang mengambil helm yang diberikan oleh Anggita kepadanya.
Mimik wajah Anggita yang tadinya teduh mendadak sinis menatap Fatur, tidak bisakah lelaki itu bersikap baik kepadanya. Fatur bisa membaca raut wajah Anggita yang begitu kesal akan ucapannya, memang Fatur paling senang jika sudah menggoda Anggita apalagi membuatnya kesal.
"Udah tahu pake tanya lagi," sambung Fatur mengiyakan pertanyaan Anggita dan sejurus kemudian turun dari motor maticnya.
"Siapa tahu lo bawa gue ke tempat lain," timpal Anggita tidak mau kalah lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Fatur sendirian.
Hanya senyum manis yang terlukis di bibir Fatur saat Anggita berjalan pergi meninggalkannya. Langkah kaki Fatur mengikuti Anggita yang masuk lebih dulu dan mata indah Anggita menyisir isi sepatu di dalam sana, banyak sekali sepatu kets dengan berbagai motif dan model keren disertai warna yang membuat menarik perhatian mata. Seketika Anggita keheranan mengapa di dalam sini kebanyakan sepatu kets lelaki dan perempuan? Tidak ada sendal heels sejenisnya.
"Lo tinggal pilih yang mana lo suka." Fatur menyadarkan lamunan Anggita yang seakan terkesima melihat isi sepatu dalam toko itu.
"Kenapa di sini banyaknya sepatu? Nggak ada sandal apa?" tanya Anggita saat Fatur berdiri sejajar di sampingnya.
Fatur memasang wajah mengemaskan yang membuat Anggita ingin sekali mencubitnya, wajah itu yang saat ini membuat jantung Anggita berdegup sangat kencang dan kedua mata Anggita tak berkedip menatapnya.
"Tadi gue bilang mau ajak lo ke toko sepatu, bukan toko sandal," jelas Fatur mendekatkan wajah tampannya kepada Anggita yang masih terdiam menatapnya.
Deg, deg, deg, degup jantung Anggita kembali berdetak sangat cepat saat Fatur terus menggodanya. Mata itu yang sangat Anggita sukai. Binar matanya, cahayanya sangat teduh membuat Anggita terhanyut akan perasaanya.
"Tapi gue butuh sandal kaya punya gue, bukan sepatu kets!"
"Di sini juga banyak flat shoes perempuan," balas Fatur sambil pergi meninggalkan Anggita yang masih berdiri sendirian.
Bola mata Fatur mencari sepatu yang cocok untuk Anggita, jangan salah selain jago balapan ternyata Fatur adalah seorang lelaki yang sangat mahir mencari hadiah atau sesuatu untuk perempuan. Tidak lama kemudian mata Fatur tertuju kepada sepatu berwarna navy, flat shoes yang sangat cantik dan cocok bagi Anggita.
"Minta yang ini Mbak. Nomor 39," pinta Fatur kepada pegawai toko sambil menunjuk sepatu yang berada di rak atas.
Pegawai toko perempuan mengambil sepatu yang Fatur tunjuk, lalu mengambil sepatu sebelahnya yang berada di gudang. Tidak lama kemudian pegawai perempuan membawa sepasang sepatu dan memberikannya kepada Fatur yang sudah menunggu.
"Ini sepatunya, Kak." pegawai itu memberikan sepasang sepatu kepada Fatur.
"Makasih, Kak." Fatur mengambil sepatunya dan memperlihatkannya kepada Anggita yang berdiri disebelah Fatur.
"Duduk!" perintah Fatur kepada Anggita.
"Mau apa lo?"
"Cobain sepatu lo," jelas Fatur yang mencoba membantu Anggita duduk dengan menuntunnya.
Sesuai perintah Fatur, Anggita duduk dan melihat Fatur mengeluarkan sepatu yang ada di dalam box. Melihat sepatu flat shoes yang dikeluarkan dari dalam box membuat Anggita keheranan. Tidak sesuai dengan apa yang diharapakan oleh gadis yang memiliki wajah oval.
"Kenapa lo beli sepatu flat shoes?"
"Karena di sini nggak ada heels," jawab Fatur singkat sambil memakaikan sepatu barunya ke kaki Anggita.
"Tapi gue nggak suka pakai flat shoes!" protes Anggita dengan nada sedikit kesal menatap Fatur yang sibuk memakaikan sepatu baru kepadanya.
"Flat shoes itu cocok buat lo yang ceroboh."
Mendengar apa yang diucapkan Fatur membuat dirinya kesal, apa Fatur bilang jika dirinya ceroboh?
"Apa lo bilang gue ceroboh?"
"Iya. Kalau nggak ceroboh nggak mungkin heels lo sampai putus."
"Heels gue putus gara-gara lo!" Anggita semakin kesal dan tidak mau kalah.
"Maka dari itu gue bilang kalau heels nggak cocok buat lo."
Ingin rasanya Anggita menjambak rambut lelaki yang ada di depannya itu, atau mencakar wajah tampannya agar bisa meluapkan emosi dan rasa kesalnya selama ini.
"Lo tuh, ya!" bentak Anggita yang saat ini suaranya terdengar mulai meninggi.
Sadar akan suaranya terdengar oleh pengunjung toko membuat Anggita menghentikan amarahnya kepada Fatur. Saat ini gadis itu hanya bisa menahan amarah dan rasa kesalnya kepada Fatur yang masih sibuk memakaikan sepatu barunya di kaki Anggita.
"Cantik, kan? Dijaga sepatunya karena gue beli buat lo pakai uang tabungan gue. Gimana lo suka?" tanya Fatur yang tidak menghiraukan rasa kesal dan marah Anggita kepadanya.
"Nggak," jawab Anggita singkat membalas tatapan Fatur dengan sinis.
"Gue nggak suka pakai flat shoes, gue sukanya heels!" sambung Anggita menjelaskan keinginannya.
"Tapi flat shoes cocok buat lo," balas Fatur tidak mau kalah.
"Gue pengen beli heels bukan flat shoes!"
"Mulai sekarang lo harus pakai flat shoes biar gampang lari kalau ada apa-apa. Ok," kata terakhir Fatur sambil mencopot kan kedua sepatu yang tadi dipakai oleh Anggita dan memasukannya kembali ke dalam box.
"Kak. Aku mau ini satu." Fatur memanggil pegawai perempuan yang tadi dan menyerahkan sepatu untuk Anggita.
Melihat sikap Fatur membuat Anggita semakin kesal, mengapa Fatur begitu seenaknya kepada dirinya. Membeli sepatu yang tidak Anggita suka tanpa persetujuannya.
"Baik, Kak. Tunggu sebentar nota-nya dibuat dulu," ucap pegawai toko mengambil box berisi sepatu di tangan Fatur lalu pergi membuatkan nota-nya.
"Kenapa sih lo tuh maksa banget supaya gue pakai flat shoes?" tanya Anggita bangkit dari duduknya dan berdiri di depan Fatur.
"Biar lo aman dan nyaman kalau jalan, mulai sekarang lo harus biasakan pakai flat shoes," tambah Fatur menatap Anggita.
Entah mengapa Anggita merasa jika Fatur sepertu kekasihnya yang mulai mengatur kehidupan pribadinya.
"Kenapa gue harus ikutin perintah lo? Lo bukan cowok gue?"
"Jadi biar buat lo aman, gue harus jadi cowok lo dulu? Begitu?" Fatur balik bertanya memperjelas akan apa yang Anggita ucapkan.
Glek, sepertinya Fatur salah tangkap atas apa yang diucapkan olehnya. Atau Fatur yang tidak mengerti apa yang dimaksud oleh dirinya. Bukan seperti itu yang Anggita maksud, sepertinya Anggita terjebak dengan ucapannya sendiri.
"Bukan begitu maksud gue, tapi..." Anggita menggantungkan ucapannya karena bingung harus menjelaskan apa kepada Fatur.
"Tapi apa?" Fatur terus bertanya dan menatap Anggita dengan lekat.
"Kenapa juga lo mengatur gue?"
"Kalau gue bilang suka sama lo pasti lo nggak percaya, kan?" Fatur kembali menggoda Anggita dengan ucapannya.
awas dingin ka
semangat Thor 😘
Hanya sebatas komen no like..
Hadir berdasarkan rekomendasi 🥰
jangan lupa mampir juga ya