Rei, seorang remaja perempuan yang harus menjalani kerasnya hidup bersama neneknya. Saat merasakan kesulitan yang terus menghimpit, seorang pria tua menghampirinya, dan menawarkan pertolongan.
"Dengan satu syarat, jadilah istri kedua cucuku dan berikan dia keturunan, setelah itu berpisahlah!"
Apa yang akan dipilih oleh Rei? Bisakah dia menemukan kebahagiaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROZE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22 Makan Berdua
Rei perlahan meninggalkan pemakan itu, langkahnya terhenti dan menghadap dokter Agam yang tepat ada di belakangnya.
"Dok, terima kasih atas kebaikan Dokter. Kalau satu saat nanti kita bertemu lagi, aku ingin membalas semua kebaikan Dokter. Semoga Dokter sukses selalu."
Rei masuk ke mobil. Dokter Agam melihat Rei yang duduk di belakang, sedangkan Marva menyetir dan Viola duduk di sebelah Marva. Lalu dokter Agam pun melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah, karena hari ini dia shift malam.
🌺🌺🌺
Satu minggu telah berlalu, Rei masih berdiam diri di kamarnya. Dia tak lagi menyentuh buku-bukunya, bahkan tidak pergi ke sekolah.
Wajahnya sudah pucat dan tidak bertenaga.
Marva masuk ke dalam kamar Rei dengan membawakan makanan.
"Ayo makan, sudah satu minggu kamu seperti ini terus."
Tidak ada sahutan dari Rei, pandangannya masih kosong dan mengarah ke langit-langit kamarnya.
"Kalau kamu seperti ini terus, nanti nenek tidak akan tenang di sana."
Jiwa Rei seperti melayang entah ke mana, membuat Marva menghela nafas berat dan harus ekstra sabar.
"Perjalananmu masih panjang, masih ada cita-cita yang harus kamu raih. Bukankah kamu ingin membanggakan nenekmu?"
Kata-kata itu hanya seperti angin lalu di telinga Rei.
"Ayo makan, aku suapi."
Begitu sendok itu menyentuh bibir Rei, tangannya langsung menepis tangan Marva hingga sendok itu jatuh ke lantai.
Marva berusaha untuk tetap bersabar menghadapi istri keduanya ini. Rei lalu berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya yang bahkan isinya tidak ada.
Marva memijit tengkuk Rei dengan pelan.
"Mungkin asam lambungmu naik karena tidak makan. Aku akan memanggil dokter."
"Tidak usah, aku hanya ingin istirahat saja."
Kata-kata pertama yang ke luar dari mulut Rei, meski kalimat penolakan, setidaknya Marva bisa sedikit lega.
Rei membaringkan tubuhnya dan menarik sebuah selimut hingga menutupi tubuhnya hingga leher. Marva duduk di sofa, memandangi tubuh yang semakin kurus itu. Dia memijat keningnya, merasa pusing akan dengan keadaan hidupnya yang memiliki dua istri sekaligus.
Jika dia memiliki dua istri memang karena keinginan hatinya sendiri, mungkin keadaan bisa lebih baik, tapi dia melakukan semua ini karena terpaksa.
"Kamu dari mana?" tanya Viola begitu Marva masuk ke kamar mereka.
"Dari kamar Rei."
"Malam ini kamu tidur di sini, kan?"
"Aku akan tidur di kamar Rei."
"Tapi sudah satu minggu kamu tudur di kamar itu."
"Vi, aku kan harus menjaga Rei. Nanti kalau ada apa-apa sama dia bagaimana?"
"Tapi kalau yang ada apa-apa sama aku, bagaimana?"
"Memangnya kamu kenapa, kamu kan sehat."
"Dia juga sehat, Mar. Hanya mengurung diri saja di kamar."
"Sudah dong, Vi. Aku lelah, jangan membuatku semakin lelah dengan pertengkaran kita."
"Kamu lelah bukan karena kita bertengkar, tapi karena mengurus dirinya."
"Aku tuh gak hanya mengurus dirinya. Kamu kan tahu sendiri aku pergi pagi buat kerja, pulang kadang malam. Bagaimana bisa kamu bilang aku hanya mengurus dirinya?"
"Tapi kamu sudah bersikap tidak adil. Seharusnya kamu membagi waktu yang rata antara aku dan dirinya. Lagi pula kan dia hanya istri sementara sampai dia hamil dan melahirkan, itu juga kalau dia hamil."
Rei yang mendengar itu karena pintu kamar Vio tidak tertutup rapat, langsung kembali ke kamarnya. Tadinya dia ingin mencari Marva karena ponsel Marva ketinggalan di kamar Rei dan terus-menerus berbunyi.
Rei sadar tidak ada yang mengharapkannya di rumah ini kecuali kakek Frans, itu pun karena menginginkan seorang cicit.
Pintu kamarnya kembali terbuka, Marva masuk dan melihat Rei yang duduk di depan meja belajarnya.
"Tadi ponsel kakak berbunyi terus," beritahunya.
Marva mengambil ponsel itu dan melihat banyak panggilan masuk dari nomor tidak dikenal, namun bisa dilihat bahwa ini nomor dari luar negeri.
"Kamu belum makan, kan. Kamu mau makan apa, biar aku ambilkan."
Meski tidak berselera, tapi Rei sadar dirinya kalau dirinya tidak boleh sakit apalagi sampai menyusahkan orang lain. Sudah cukup tadi dia mendengar pertengkaran Viola dengan Marva, meski tidak sengaja.
"Nanti aku ambil sendiri, Kak. Sekarang aku mau belajar dulu."
Rei mengambil salah satu buku, meski matanya terarah pada tulisan-tulisan di buku itu, tapi pikirannya tidak di tempat.
Dia kemudian melihat buku sketsanya, membukanya lembar demi lembar. Melihat guratan-guratan yang berbentuk rumah minimalis.
Di mejanya banyak buku-buku design interior dan arsitektur, yang dia dapat dari salah seorang gurunya.
Impiannya untuk menjadi seorang arsitek dan membuat rumah untuk neneknya kini kandas sebelum sempat tewujud.
Marva memperhatikan Rei dari belakang. Rambutnya hitam, panjangnya sedikit di bawah pundak dan kini diikat asal.
"Ayo makan dulu, ini sudah malam."
Marva melirik jam, sudah dua jam lamanya mereka di posisi uang sama. Dengan Rei yang duduk di depan meja belajar namun tak membaca apa pun, sedangkan Marva yang duduk di sofa sambil mengamati istrinya itu.
Rei beranjak dari duduknya.
"Aku ke dapur dulu, Kak."
"Gimana kalau kita cari makan di luar saja, kebetulan aku juga ingin makan sate kambing dan tongseng."
Rei mengangguk, mereka berjalan menuruni tangga. Rumah itu sudah gelap, karena para penghuninya telah ke kamar masing-masing, bahkan mungkin telah tidur.
Vio melihat kepergian Marva dan Rei.
Mana yang katanya adil? Pergi tapi tidak mengajakku. Apa aku juga harus sakit dulu agar kamu lebih memperhatikan aku, Marva? Bukankah di sini aku kah yang paling tersakiti?
Kira-kira tiga puluh menit Rei dan Marva akhirnya menemukan penjual sate.
"Kamu pesan apa?"
"Samakan saja."
"Pak, sate kambingnya dua porsi, dan tongsengnya dua porsi, ya."
"Pakai nasi atau lontong?"
"Nasi."
"Lontong."
Marva dan Rei menjawab bersamaan.
Udara malam yang dingin terasa sejuk di kulit Rei yang selama ini hanya mendekam di dalam kamarnya. Sudah satu minggu ini dia tidak merasakan angin dan sinar matahari secara langsung.
"Minumnya apa?"
"Teh hangat manis," jawab Marva.
"Es jeruk."
Marva makan dengan lahap, sedangkan Rei makan dengan pelan.
"Pak, tongsengnya satu porsi lagi, ya," pinta Marva.
Rei mengernyitkan keningnya, heran dengan cara makan Marva.
"Lapar banget aku, Rei," tanpa ditanya Marva langsung memberi tahu Rei.
"Makan saja punyaku, Kak. Ini masih banyak."
"Jangan, itu punya kamu, harus kamu habiskan biar tenaga kamu ada. Sudah satu minggu ini kamu tidak makan dan minum dengan baik."
Marva benar-benar menghabiskan semua makanannya.
"Alhamdulillah, kenyang juga aku."
Marva melihat makanan Rei yang masih ada.
"Habisin, Rei."
"Sudah Kak, sudah kenyang aku."
Marva lalu mengambil makanan Rei dan menyuapkan ke mulutnya sendiri, membuat Rei tertegun dengan sikap Marva.
Itukan bekas aku, kenapa dimakan?