Azalea Carolline, gadis lemah berusia 21 tahun tiba-tiba mendapatkan kesempatan untuk menikmati hidupnya kembali setelah membunuh dirinya sendiri di hadapan sang ayah dan para bangsawan.
Sebagai putri pertama di keluarga Grand Duke ia selalu mendapatkan siksaan dari ayahnya, lebih parahnya lagi ia dituduh melakukan pembunuhan terhadap sang adik dan dihakimi oleh para tamu di aula pesta. Setelah hidup kembali Azalea bertekad untuk membalas dendam kepada ayah dan adiknya dibantu oleh si putra mahkota dari kekaisaran Valcke.
Satu persatu kebenaran mulai terungkap, dari situlah keduanya memanfaatkan satu sama lain. Kini mereka mempunyai tujuan yang jelas yaitu membalaskan dendam kepada satu orang yang sama.
Apakah Azalea berhasil membalaskan dendamnya?
Apakah ia akan mendapatkan akhir yang bahagia?
Original writing by: Queen Neze
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Neze, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 22. Pemberkatan Pernikahan
Tak terasa mereka berdua akan menjadi sepasang suami istri, besok adalah hari dimana Azalea dan Lucas saling mengucapkan janji suci dihadapan para bangsawan. Para dayang sibuk mendekor kamar mereka berdua dengan taburan kelopak mawar merah di atas kasur berserta wewangiannya. Untuk menambah kesan romantis pada kamar tersebut.
Melihat para dayang sesibuk itu membuat Azalea gusar memikirkan malam intim nanti. Walaupun mereka tidak bersungguh-sungguh tetapi malam intim harus tetap dilaksanakan karena itu kewajiban seorang istri.
Hari ini Azalea dan Lucas akan pergi ke kuil suci untuk melakukan pemberkatan pernikahan. Gadis dengan gaun berwarna putih itu, menggandeng tangan calon suaminya dan berjalan mendekati kereta kuda yang sudah disiapkan.
"Kenapa mukamu tegang sekali?" tanya Lucas menatap Azalea yang berkeringat dingin.
"Tidak! Siapa yang tegang?" tukas Azalea.
"Silahkan, Yang Mulia Putri. Saya akan membantu and—"
Dion sang sekertaris sekaligus kesatria pribadi Lucas, ingin membantu Azalea naik ke kabin kereta kuda. Namun, sorot mata tajam tuannya membuatnya tidak jadi menuntun gadis itu.
"Cepat! Menyingkir dari Azalea." Lucas mengedipkan matanya seraya memberi kode kepada sekertaris tersebut.
Akhirnya Dion mengalah dan menyingkir dari mereka berdua yang akan berangkat ke kuil suci.
"Aku bisa sendiri tanpa dibantu."
"Tidak boleh! Kita naik sama sama!" ujar Lucas wajahnya menjadi tegas dalam sekejap.
Lalu ia bersama gadis itu naik ke kabin kereta kuda. Mereka memilih kereta kuda yang kelewat mewah karena ini adalah pertemuan penting dalam sejarah keluarga kekaisaran.
***
Sudah lama ia tidak ke kuil suci terakhir kali Azalea mengunjungi kuil untuk berdoa. Itupun ketika ia masih berhubungan dengan, Maximilian. Sejak saat itu Azalea tidak pernah lagi menginjakkan kakinya ke istana bernuansa serba putih tersebut.
Paus dan para pendeta lainnya menyambut kedatangan mereka. Lucas turun dari kabin kereta kuda mendahului Azalea kemudian membantu gadis itu turun bersamanya.
"Semoga kekaisaran Valcke menyertai anda berdua." mereka memberi salam hormat kepada kedua pasangan itu. Azalea tersenyum ramah menanggapi salam mereka.
"Sudah lama ya, Yang Mulia Putri. Saya sangat terkejut sekali anda dan Yang Mulia Putra Mahkota datang kemari." ucap Paus tersenyum.
"Apa kita bisa langsung mulai pemberkatannya?" tanya Lucas malas menanggapi senyuman Paus.
"Silahkan Anda berdua bisa berdiri di depan saya." kata Paus.
Mereka berdua menuruti perkataan Paus dan berdiri di hadapan pria itu. Paus memegangi kepala Azalea dan Lucas untuk mendoakan keduanya agar kedamaian selalu menyertai mereka. Pemberkatan pernikahan ini merupakan tradisi keluarga kekaisaran Valcke, sebelum menikah para putra-putri dianjurkan pergi ke kuil suci.
Setelah selesai berdoa, Paus memberikan sepasang gelang emas kepada Azalea dan Lucas, beberapa tahun lalu juga Paus memberikan Stiletto sebuah senjata keramat dari kuil suci tersebut.
"Semoga Dewi memberkati pernikahan kalian berdua." ucap Paus memasangkan gelang emas kepada keduanya.
"Terima kasih, Tuan Paus." balas pada Paus.
"Aku tidak terlalu suka emas." Lucas dengan santainya membuang gelang pemberian Paus di hadapan orangnya langsung.
"Lucas! Jaga sikapmu!" bisik Azalea pada Lucas ia memungut gelang berwarna emas itu.
"Tidak apa-apa, Yang Mulia Putri. Jika beliau tidak menyukainya anda bisa memberikannya, pada rakyat miskin yang membutuhkan." saran Paus. Gadis itu mengangguk mengerti.
"Kalau begitu kami pamit undur diri, jaga kesehatan anda, Tuan Paus." Azalea merunduk sopan pada Paus. Namun, tidak dengan Lucas.
Paus Alexander, adalah guru yang mengajari Azalea berpedang saat usianya menginjak 14 tahun, sebelum Alexander menyandang gelar Paus. Berkat itulah ia pandai menggunakan pedang dan belati yang diajarkan oleh Paus.
***
"Kau dekat sekali dengan si Paus Paus itu? Apa kalian punya hubungan spesial?"
Mereka dalam perjalanan kembali menuju istana kekaisaran Valcke tetapi tiba-tiba Azalea ingin mengunjungi istana kerajaan Flowering. Di dalam kabin Lucas terus menanyakan tentang hubungannya dengan Paus Alexander, ia tidak menghiraukan pertanyaan lelaki itu.
"Azalea, kau benar-benar tidak mau menjawab pertanyaan suamimu ini?" sekali lagi Lucas bertanya pada Azalea sambil menyandarkan kepalanya.
"Ya, kau benar." jawab Azalea memandangi gelang emas yang melekat di pergelangan tangannya.
Lucas terperanjat mendengar jawaban yang keluar dari mulut Azalea. Ia meraih tangan gadis itu lalu mencengkramnya sekuat tenaganya.
"Kau cemburu? Cemburu pada guruku?"
Seketika wajah Lucas memerah sampai ke telinga, ia melepaskan cengkraman tangannya dari pergelangan tangan Azalea. Lucas kembali ke posisi semula, duduk tenang sambil berdehem.
"A..pa tadi kau bilang? Cemburu?"
"Raut mukamu sendiri yang mengatakan itu."
Betapa malunya Lucas ia tak berani berbicara lagi, pasalnya laki-laki yang ia pertanyakan dari tadi adalah guru calon istrinya.
"Yang Mulia, kita sudah sampai." kata kusir kereta kuda.
"Baiklah kami turun sekarang."
Azalea menuruni kabin mendahului lelaki yang masih berada di dalam sana. Lucas terlihat malas keluar. Tapi, sesaat ia pun beranjak dan menyusul gadis itu.
"Selamat datang kembali, Yang Mulia Putri."
Desas-desus tentang hubungan Azalea dan Lucas sudah tersebar luas di ibukota, hingga pada akhirnya tidak ada lagi yang memanggilnya 'Putri Carolline' tetapi gelarnya sebagai pendamping putra mahkota kekaisaran Valcke. Para pelayan membuka barisan untuk memberi jalan kepada si tuan rumah.
Stefanus berjalan mendekati mereka berdua, anehnya di belakangnya ada seorang lelaki yang mirip sekali dengan kesatria pelindungnya itu.
"Aku sudah dengar kalian akan melangsungkan pernikahan, bukan?" tanya Stefanus mengonfirmasi.
"Benar, Yang Mulia." jawab Azalea pada Stefanus. Lelaki yang ada disebelahnya terus memandangi Azalea.
"Aku merasakan firasat buruk, apa kalian tidak bisa mengundur beberapa hari lagi?" pinta Stefanus.
"Apa-apaan itu?! Kami sudah mempersiapkan semuanya, tidak mungkin kami membatalkannya." Lucas menjawab dengan tegas. Ia tidak suka jika ada seseorang ikut campur dalam urusan pribadinya.
"Tidak ada salahnya, kan? Aku bilang begitu karena mengkhawatirkan kalian berdua."
"Omong kosong. Azalea, aku tunggu di kabin. Cepatlah selesaikan pembicaraan bodoh ini." kesal Lucas melangkah pergi meninggalkan Azalea bersama kedua tuan rumah.
Azalea mendengus kesal melihat kelakuan lelaki itu yang tidak bisa mengontrol emosinya. Sama seperti di kuil tadi ia bersikap tidak sopan pada Paus dan kali ini pun juga sama.
"Maafkan atas sikap Lucas."
"Aku memakluminya. Tapi, itu terserah padamu yang terpenting.. kau bisa menjaga dirimu." Stefanus tersenyum hangat.
"Saya pasti akan jaga diri, anda tidak perlu khawatir." Azalea meyakinkan Stefanus.
***
"Kau tidak sepatutnya bersikap begitu, Lucas." ucap Azalea yang baru saja tiba di kabin kereta kuda.
"Tidak sepatutnya katamu? Aya— maksudku si Stefanus sengaja berkata seperti itu, dia malah menyuruh kita untuk mengundurkan pernikahan." gerutu Lucas panjang lebar. Gadis itu menggeleng malas.
Mereka berdua berdebat tentang kejadian hari ini, sang kusir kereta hanya mendengarkan pertengkaran yang terjadi di dalam kabin. Sesekali mencuri pandang ke belakang. Azalea mencoba menenangkan Lucas dengan cara menyentuh wajah lonjongnya menggunakan jari-jemari lentiknya.
"Begini saja, besok ketatkan penjagaan. Ini hanya untuk berjaga-jaga."
Lucas mengangguk sambil menikmati sentuhan lembut di wajahnya.
"Bonekaku sekaligus penenang bagiku." batin Lucas.
ini bener kan?
jd Bapaknya jelas PSIKO kan?
kirain pas dia dilindungi itu jadi baik, malah ttp jahat gak ngaruh, wah
amit2 dah, mending jauh2 MC kita dari keluarga ngeri ini
ayo mampir di karyaku: Istri Diatas Kertas.
lanjut