Wen Sekar tidak pernah suka dengan keramaian.
Di usia 26 tahun, dia hanyalah karyawan administrasi biasa di Kota Angin — gaji pas-pasan, tidak punya teman dekat, dan lebih memilih menghabiskan waktu sendirian di kamar kos-nya. Satu-satunya kenangan berharga adalah kasih sayang Kakek dan Nenek Wen yang membesarkannya sejak bayi, setelah ia ditemukan di pinggir jalan oleh mereka.
Suatu malam, tusuk konde mutiara peninggalan Nenek tiba-tiba memberikannya kemampuan luar biasa: sebuah ruang penyimpanan ajaib di mana waktu berhenti, dan mimpi-mimpi yang menunjukkan bencana dahsyat yang akan melanda dunia.
Sekar tidak menunggu. Dia mulai menimbun — beras, minyak goreng, obat-obatan, alat pertanian, senapan berburu, empat buku panduan bertahan hidup. Semua disimpan dalam ruang ajaibnya. Ketika orang lain masih tertawa, Sekar sudah siap.
Dan bencana datang. Satu per satu: banjir besar, gempa dahsyat, pandemi global, dan akhirnya — letusan Supervulkan Yellowstone yang menyelimuti bumi dalam musim dingin vulkanik selama sepuluh tahun.
Sendirian di dataran tinggi Pulau Karang, lalu di kedalaman Hutan Damai di Kalimantan, Sekar bertahan. Dia belajar menanam singkong, berburu babi hutan, membuat tempe, membangun rumah dengan tangannya sendiri. Dia menghadapi perampok, binatang buas, dan kesunyian yang tak berujung — dan menang.
Tapi kisah ini bukan hanya tentang bertahan hidup.
Di usia 46 tahun, Sekar menemukan seorang bayi perempuan yang dibuang di depan gerbang kota. Dan saat itu, dia teringat dirinya sendiri — bayi yang pernah dibuang di pinggir jalan, lalu diselamatkan oleh cinta tanpa syarat.
Sekar mengambil bayi itu dan menamainya Anin.
Dari seorang gadis pendiam yang bertahan sendirian, Sekar menjadi seorang Mama — meneruskan warisan cinta yang dulu diterimanya dari Kakek dan Nenek Wen.
Ini adalah kisah tentang seorang perempuan yang tidak membutuhkan siapa pun untuk hidup — tetapi menemukan alasan untuk hidup demi seseorang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 023
Pulau Karang
Pagi itu, nama Pulau Karang masih tertulis kecil di sudut halaman.
Sekar tidak langsung membesarkannya.
Ia menyalakan ponsel dengan sisa baterai dari powerbank, lalu membuka peta offline yang sempat ia unduh sebelum sinyal menjadi seburuk sekarang. Layar ponsel bergaris halus karena lembap, tetapi garis pulau-pulau di timur masih terlihat.
Java tampak panjang dan padat.
Pulau Karang tampak lebih kecil, lebih jauh, dan anehnya lebih tenang di peta.
Sekar memperbesar bagian tengah pulau itu. Ada Kota Watu di pesisir. Dari kota kecil itu, beberapa jalan naik ke pedalaman. Garis kontur di peta bertumpuk lebih rapat, tanda tanah mulai menanjak. Di bagian tengah, nama Pegunungan Batu muncul seperti tulang punggung yang membelah pulau.
Ia membuka catatan lama yang pernah ia simpan dari artikel wisata dan laporan cuaca. Dulu ia menyimpannya hanya karena kebiasaan, karena ia suka membaca tempat-tempat jauh saat makan siang sendirian di kantor.
Sekarang catatan itu menjadi peta hidup.
Pulau Karang: penduduk tidak sepadat Java. Banyak wilayah berbukit. Tanah vulkanik. Beberapa mata air panas di lereng Pegunungan Batu. Musim kering lebih tegas, tetapi daerah tinggi masih punya sumber air dari mata air dan sungai kecil.
Sekar menulis setiap poin dengan tangan yang makin mantap.
Tinggi.
Sepi.
Tanah bisa ditanami.
Ada kemungkinan air hangat jika suhu dunia berubah dingin.
Jauh dari kota besar.
Ia berhenti di poin terakhir. Jauh berarti lebih aman dari kerumunan, tetapi juga berarti lebih sulit keluar jika salah pilih tempat. Jauh berarti tidak ada minimarket di tikungan, tidak ada apotek dekat, tidak ada tetangga yang bisa dipanggil sewaktu-waktu.
Jauh berarti ia benar-benar harus hidup dengan apa yang ia bawa dan apa yang bisa ia tanam.
Dari dapur, suara Bu Sari memanggil pelan.
"Sekar, kamu sudah makan?"
Sekar cepat menutup ponsel, lalu keluar dengan buku catatan di tangan. Bu Sari sedang membagi singkong rebus di piring kecil. Wajahnya lelah, tetapi ia tetap menyisihkan bagian yang paling empuk.
"Makan dulu, Nak. Dari tadi matamu menempel ke kertas terus."
"Terima kasih, Bu."
Sekar duduk di ambang pintu. Singkong itu hangat dan sedikit asin. Rasa sederhana itu membuat tenggorokannya lebih sempit daripada seharusnya.
Bu Sari melirik buku catatan. "Masih soal pergi?"
Jari Sekar berhenti di tepi piring.
"Saya belum bilang begitu."
"Tapi mukamu sudah bilang."
Sekar tidak bisa membantah. Di depan orang lain ia masih bisa mengunci wajah, tetapi Bu Sari sudah melihat terlalu banyak bagian rapuhnya sejak Sumiati datang dan sejak banjir.
"Saya mencari tempat yang lebih tinggi," kata Sekar akhirnya. "Bukan di sekitar sini."
Bu Sari mengunyah pelan. "Jauh?"
"Mungkin."
"Sejauh apa?"
Sekar menunduk pada singkong di tangannya. "Pulau lain."
Bu Sari tidak langsung bicara. Suara ayam dari halaman belakang terdengar terlalu keras di jeda itu.
"Kamu sendirian?"
Pertanyaan itu menusuk lebih tajam daripada larangan.
"Saya memang biasa sendirian, Bu."
"Biasa bukan berarti tidak apa-apa."
Sekar menelan potongan singkong yang terasa kering. Ia ingin berkata bahwa ia punya ruang penyimpanan, punya makanan, punya obat, punya semua persiapan yang tidak dimiliki orang lain. Tetapi semua itu justru alasan mengapa ia tidak boleh menjelaskan.
"Kalau saya tetap di Java," katanya pelan, "saya mungkin tidak bisa menjaga apa pun."
Bu Sari memandang halaman yang masih becek. Lama sekali, barulah ia berkata, "Kamu cari benar-benar. Jangan cuma karena takut."
Kalimat itu tidak menahan. Tidak juga melepas. Hanya meletakkan tangan hangat di punggungnya dari jauh.
Siang harinya, Pak Darman dan Mas Eko pulang dari melihat jalur kebun atas. Lumpur masih tebal, tetapi beberapa batang bambu yang menutup jalan sudah ditebang warga. Untuk mobil, mustahil. Untuk motor ringan, mungkin bisa pelan-pelan sampai jalan kecamatan, asal tidak hujan deras lagi.
Sekar menyimpan informasi itu dalam diam.
Ketika Pak Darman duduk di teras sambil membersihkan sandal dari tanah, Sekar memberanikan diri membuka peta Pulau Karang.
"Pak Darman pernah dengar Pulau Karang?"
Pak Darman mengangkat kepala. "Pernah. Saudara jauh saya dulu ikut kerja bangunan di sana. Kenapa?"
"Daerahnya seperti apa?"
Pak Darman menggosok dagunya. "Pesisirnya panas. Kota Watu itu kecil, tapi pelabuhannya lumayan. Kalau naik ke tengah pulau, jalannya berkelok. Banyak batu, banyak kebun. Katanya ada tempat yang tanahnya hitam, subur. Ada mata air panas juga. Orang sana tidak sebanyak sini, tapi kalau sudah masuk kampung atas, jarak rumah bisa jauh-jauh."
Jantung Sekar berdetak lebih keras.
Catatan lamanya tidak salah.
Mas Eko ikut melihat peta. "Kalau cari ramai, jangan ke atas. Kalau cari sepi, ya ke atas. Tapi jalannya bikin capek. Motor harus kuat."
"Ada kota besar?"
"Tidak seperti Kota Angin," jawab Mas Eko. "Paling Kota Watu. Setelah itu kecamatan kecil. Kalau ada masalah, bantuan juga lama."
Itu kelemahan.
Tapi bagi Sekar, kelemahan itu juga dinding.
Jika bantuan lama, orang luar juga tidak mudah datang. Jika jalan berkelok dan kampung tersebar, kerumunan tidak cepat berkumpul. Jika tanah subur dan ada mata air, ia bisa membangun tempat sendiri tanpa terlalu bergantung pada pasar.
Malamnya, Sekar kembali ke rumah Kakek Nenek dan masuk ke Ruang penyimpanan ajaib. Udara di dalam ruang itu tetap tenang, tidak berbau lembap seperti dunia luar. Rak makanan berdiri rapi. Tabung gas tersusun. Kotak obat, alat tani, panel surya, buku-buku, semua berada di tempatnya.
Ia berjalan melewati setiap zona dengan buku catatan terbuka.
Jika tujuan Pulau Karang, ia membutuhkan lebih banyak barang yang sulit dicari di pulau kecil.
Obat luka.
Vitamin.
Benih tambahan yang tahan panas dan dingin.
Tali, paku, baut, pisau cadangan.
Saringan air.
Kain tebal, jas hujan, plastik terpal.
Suku cadang motor yang sederhana.
Bahan makanan padat gizi yang tidak makan tempat.
Ia menulis sampai pergelangan tangannya pegal. Kali ini catatan itu bukan lagi daftar panik seperti di Kota Angin. Ini daftar keberangkatan.
Di luar ruang, radio kecil yang ia tinggalkan di meja menangkap suara berita putus-putus.
"...pembatasan pembelian mulai diberlakukan di beberapa pasar kecamatan... warga diminta tidak melakukan penimbunan... antrean bahan bakar..."
Sekar mematikan radio sebelum suaranya selesai.
Besok, jalur kebun atas mungkin masih bisa dilewati motor.
Lusa, belum tentu.
Ia menatap tulisan Pulau Karang di buku catatan. Kali ini ia tidak menaruhnya di sudut halaman. Ia menulisnya di tengah, menekannya sampai ujung pena hampir merobek kertas.
Tujuan: dataran tinggi Pulau Karang.
Sebelum pergi, ia harus turun sekali lagi ke kota.