Amelia, gadis usia tujuh belas (17) tahun, harus kehilangan keluarga termasuk keluarga ayahnya, sampai hari ke lima bencana, tidak ada kabar tentang keselamatan keluarganya. Akibat bencana Banjir tersebut Amel diadopsi keluarga alfard melalui bibi murni tetangga satu kampung, dengan keunikannya memiliki ciri khas berbaju sweater besar sebagai pelindung aset tersembunyi ditubuhnya.
Celvin, anak kedua Tuan Alfard, memiliki tubuh sixpack berwajah tampan dan mempunyai sifat yang humoris serta penyayang.
Hendry, anak pertama Tuan Alfard, seorang pengusaha sukses dari Perusahaan ayahnya, mempunyai sifat yang berbeda dengan Celvin, lebih suka mempermainkan hati perempuan.
*****Hai, hai, reader Noveltoon, ini karya aku yang pertama AMELIA nama pena 5.13.13.1 mohon dukungannya memberikan like n comen, Mohon maaf jika terdapat banyak kesalahan dalam penulisan kata dan EYD, berikanlah kritikan yang membangun agar saya bisa menyelesaikan Novel pertama dengan baik*****
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 4.13.13.1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Deal
Amel mengikuti langkah Celvin menuju kamar nya dengan tangan yang saling menggenggam erat, setibanya didalam kamar, Celvin langsung memeluk tubuh Amel, menghujami ciuman dengan lembut, kemudian me**mat kembali bibir mungil Amel, seolah ciuman bersama Amel adalah hal yang selalu diinginkan dan dirindunya, mencium leher jenjang milik Amel, mulai memainkan jemari tangan merayap kesegala arah yang bisa dipegang dan diremas.
''Stoppp, Kak, kak Celvin, sadar kak,'' Amel menyadari Celvin yang mulai hilang kendali, dengan jarinya sudah merayap kesegala arah.
Amel melepaskan diri dari pelukan Celvin dan menjauhi nya menuju beranda kamar, kemudian memandangi suasana sore hari sedekit berawan seakan mewakili perasaan Amel saat itu, Amel menggigit kan kuku jarinya berpikir keras atas apa yang terjadi selama ini,
''Siapa aku sebenarnya dihati kakak?, Apakah aku terlalu murah dan mudah di jamah, aku memang menyukai kak Celvin, mencium nya, memeluk tubuhnya, beranda dekat dengan nya, namun ini perbuatan yang tidak benar, tanpa status, tanpa ikatan yang sah dimata hukum dan agama,'' gumam Amel dalam hati, buliran bening mulus meluncur dipipi tembem Amel
Sementara itu, Celvin tersadarkan atas penolakan Amel terhadap nya, menyadari kesilapan saat melakukan dengan sedikit hilang kendali saat mencumbu Amel,
Melihat Amel menjauhinya menuju beranda, Celvin datang menghampiri sosok tubuh kecil Amel yang berdiri mematung,
''Hi, Amel, kamu menangis sayang,'' Celvin terkejut saat menyadari bahwa Amel sebenarnya menangis berdiri diberanda,
''Apakah kakak terlalu memaksa ya?,
''Kakak minta maaf, telah melukai perasaan Amel, kakak janji tidak akan pernah melakukan nya sampai Amel yang meminta sendiri kepada kakak, Sumpah demi Mami,'', ucap Celvin menyadari kesalahannya sambil mengusap air mata Amel yang berjatuhan di pipi nya.
Amel semakin Melo, entah mengapa dia tidak bisa memilah mana yang benar dan yang salah, disatu sisi Amel tidak mau kebablasan dalam pergaulan bebas yang tanpa ada ikatan sah, disatu sisi keinginan bersama Celvin begitu besar tertanam dalam diri.
''Jangan terlalu cengeng sayang, nanti pipi nya tambah tembem,'' sambil mencubit pipi Amel dengan lembut
''Sakittt, lepasin nggak!,'' ucap Amel menurunkan kedua tangan Celvin dari pipinya
''Nah, begitu dong, senyum lebih baik dari pada nangis,'' ujar Celvin
''Kak Celvin yang memulai nya, emang Amel siapa nya kakak, enak-enak saja langsung nyosor,''
''Tapi kamu mau kan?,
Amel mengelengkan kepala nya,
''Kakak yang memaksa Amel!,'' jawab Amel lagi
''Udahhh, kakak ngaku salah, maafkan atas sikap kakak terhadap Amel tadi maupun sebelumnya, saat ini kakak mengganggap Amel adalah perempuan pertama dan terakhir untuk kakak, itu janji kakak, dan satu lagi,'' Celvin diam sesaat ditatapnya dalam-dalam mata Amel
''Bolehkah kakak,'' belum sempat Celvin mengutarakan nya langsung dijawab Amel
''Nggak boleh menyutuh Amel, sebelum ada ikatan yang sah,'' jawab Amel sambil tersenyum puas
''Yahhhh, Amel, berkarat kakak yang,'' Celvin pasrah, sebenarnya keinginan ingin bisa berciuman saja sudah cukup,
''Biarin, situ ada kamar mandi,'' jawab Amel mengarah mukanya kekamar mandi
''Bedalah Mel,
''Kalau yang ini bolehkan,'' sambil Celvin menekankan bibir nya dengan telunjuk
''Tergantung keadaan,'' jawab Amel
''Asik yes, janji kan?, nggak boleh nolak dan mengingkari janji!,''. Celvin tersenyum puas paling tidak masih bisa menyentuh Amel walau hanya di bibirnya saja, itupun seizin Amel, sambil menunjuk jari kelingking nya kearah Amel tanda perjanjian dimulai
Amel meraih jari kelingking Celvin dengan jari yang sama,
''Hari ini perjanjian dimulai,
''Siap,
''Oke, deal,,, '', Celvin tersenyum mengikuti aturan yang berlaku kepada mereka, sambil merangkul mesra Amel dan mencium pucuk kepalanya, sambil menikmati cuaca mendung,,,
''Kalau begini bolehkan,'' Amel mengganguk setuju, dibalas dengan pelukan erat oleh Celvin
''Kak, sakitt,'' Amel merasakan sesak saat Celvin mengeratkan pelukannya
''Kamu itu bikin kakak gemes,''
''Ihhhh, alasan,'' ujar Amel
''Amel!, maaf ya!, Kakak minta maaf sebelumnya, boleh kakak tau tentang kejadian tiga bulan yang lalu, maafff jika kakak memaksakan, jika Amel bersedia menceritakan silahkan, tapi jika tidak bisa, kakak masih bisa menunggu kesiapan dari Amel untuk menjelaskan nya,'' Celvin masih penasaran tentang rahasia Amel yang tidak mau dibawa kedokter dan memilih pulang ke apartemen Hendry.
''Amel tidak tau bagaimana menjelaskan nya, kakak mau berjanji tetap seperti ini dan tidak mencuekin Amel lagi jika Amel cerita,'' Amel melepaskan pelukan Celvin dan mulai menghadap tubuh dan menatap wajah Celvin dengan serius
''Apakah ini suatu penyakit berbahaya?,
''Tidak kata dokter,'' jawab Amel tanpa berbohong
''Amel sudah pernah berobat kedokter,'' ujar Celvin lebih serius
''Sudah, dan tidak berbahaya, cuma sering kambuh saja, apalagi kalau otak lagi error, hehehe,,,'', jawab Amel masih bisa bercanda, sedangkan Celvin sedikit binggung,
''Maksud ayang, tunggu ini tidak berbahaya, tapi sering kambuh,'' puas Celvin memikirkan penyakit apa yang mendekati dari ciri-ciri tersebut.
''Ayok Amel tunjukkan obatnya, kira-kira kakak bisa menebak atau tidak!,'' Amel meraih tangan Celvin mengiringi kedalam kamar
''Kak Celvin tunggu disini, duduk dulu tenangkan pikiran, jangan aneh-aneh, karena kakak udah janji sama Amel,'' sambil menyuruh Celvin duduk dan menunggu, Amel pergi kedalam kamar mandi,
Celvin bingung sambil mengerutkan keningnya, tak percaya Amel masih sama seperti tiga bulan lalu, kekamar mandi,
''Apa sebenarnya rahasia dikamar mandinya, aku rasa semua kamar mandi dirumah ataupun apartemen yang lain tetap sama, kamar mandi tetaplah kamar mandi,'' gumam Celvin didalam hati namun masih tetap setia menunggu penjelasan dari Amel
Pintu kamar mandi terbuka, keluar pucuk kepala Amel
''Janjikan, nggak boleh melanggar nya,''
''Apa an sih Mel, cepat keluar jangan bikin kakak penasaran, sakit kok bisa tersenyum begitu,'' Celvin seperti tidak sabar untuk mengetahui tentang rahasia penyakit Amel
Pintu terbuka dan Amel telah terlihat sexy, hanya memakai baju tali satu dan celana pendek diatas lutut
''Janji, tetap janji,'' ujar Amel berjalan sambil mendekati Celvin
''Maksud Amel apasih Mel,'' Celvin menelan ludah nya melihat pemandangan indah yang menggoda, kejadian hari itu sama persis, terpampang terlihat indah membentuk dihadapan nya sekarang.
Kemudian Amel menunjukkan alat yang disembunyikan di belakang tubuhnya
''Maaf jika ini bisa membuat kakak kecewa,''
Sekali lagi Celvin mengerutkan keningnya
''Alat ini kakak pernah lihat atau tau kegunaan nya?, Ujar Amel menunjukkan pompa ASI yang sering dipakainya
Celvin cuma menunjukkan alat kemudian ke arah gu*ung Amel, kemudian dianggukkan oleh Amel
''Oh Tuhan ku, ini maha karya yang langka,'' ucap Celvin beranjak berdiri mau menuju Amel,
''Stopp, udah janji,'' ujar Amel lagi
''Gila, kapan Amel seperti itu, pantas waktu Amel bangun dari tempat tidur kakak melihat, maaf sayang bukan maksud kakak, ahhh terserahlah, baju yayang basah diarah itu,'' sambil Celvin menunjuk kearah Gu*ung.
''Saat Amel SMA kelas tiga udah keluar,'' dengan santainya Amel menjelaskan seolah lega rasanya menceritakan rahasia yang ditakutkan Amel selama ini.
''Bi Murni juga Tahu hal ini,''
''Bibi yang bawa Amel checkup ke dokter,''
''Kejadian itu, kalau tak salah Amel, saat Mami dua bulan menjenguk kakak sakit,'' jelas Amel
Sorepun mulai beranjak meninggalkan siang, sinarnya mulai meredup pertanda malam akan menjelma dan ditemani bulan dan bintang yang bersinar, seperti halnya Celvin dan Amel sama-sama bersinar membawa kebahagiaan mereka masing-masing.
salam dari istri kecil dosen muda🙏