Fabian Putera, seorang CEO matang berusia 27 tahun. Sulung dari pasangan Pratama Putera dan Sinta Pitaloka ini pertama kali dalam hidupnya merasakan yang namanya jatuh cinta. Ia jatuh cinta dengan seorang gadis SMA berparas ayu yang namanya Ayu juga.
Ayu Putri Darmadi, anak tunggal kesayangan Teguh Darmadi. Gadis piatu berumur 17 tahun, bersekolah di SMA Pelita tahun kedua. Memiliki paras ayu dan bertutur kata lemah lembut. Banyak yang menyukai sifatnya, tapi tak jarang pula yang iri akan kecantikannya.
Pertama kali bertemu di pesta ulang tahun Ayah Ayu, akankah Fabian bisa mendapatkan Ayu, sang cinta pertamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tania I M, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Kamis. Jika satu hari lalu ia masih menyebutnya 'besok', kali ini berganti menjadi 'hari ini'. Lamaran. Ya. Fabian akan datang kerumah Ayu kamis ini, tepatnya malam nanti. Ah, dirinya sudah tak sabar. Padahal baru lamaran, atau mungkin pertunangan? entahlah. Segala keperluan untuk acara malam nanti sudah siap. Mental juga sudah siap, sedikit gugup, tetapi dapat diatasinya dengan baik. Menyibukkan diri dengan pekerjaan misalnya atau menghadiri meeting dengan client yang sebetulnya bisa diwakilkan, tetapi dirinya lebih memilih ikut terjun langsung. Nyelimur, istilah jawanya.
"Terimakasih atas kesepakatannya Pak Heru, semoga proyek kali ini bisa sesuai dengan ekspektasi." Fabian menjabat tangan lawan bicaranya dengan erat. Mengintimidasi. Pak Heru membalas dengan tak kalah erat, dengan senyum lebar yang terkesan dibuat-buat berlebihan. Menjilat.
"Sama-sama Pak Fabian, saya yakin kali ini berjalan dengan lancar." Balasnya.
Deal. Kesepakatan sudah terjalin, tinggal eksekusi. Semoga tidak mengecewakan lagi. Pembangunan yang sempat terhenti, karena ulah tikus-tikus kecil yang justru berasal dari bawahannya sendiri menjadikannya sangat berhati-hati kali ini. Ia tidak ingin gagal untuk yang kedua kali.
"Bram."
"Ya Tuan."
"Awasi dengan ketat kali ini, saya tidak ingin kecolongan lagi." Tegasnya sambil melangkah menuju mobil, kembali ke Gedung Putera Group setelah perjanjian alot tadi.
"Baik Tuan." Jawab Bram yakin.
Malam telah tiba, segala seserahan sudah siap dalam bagasi. Pratama dan Sinta tengah mengobrol mesra di ruang tamu, sambil menunggu pemeran utama yang tengah berdandan ria di dalam kamarnya. Galang menatap orang tuanya jengah. Tak tahukah mereka ada putranya yang kini sedang dirundung patah hati?
Cintanya, Ayunya, dalam beberapa menit kedepan akan berganti status menjadi calon kakak iparnya. Hahh. Membayangkannya saja sudah membuat hatinya berdesir pedih.
"Kamu kenapa Lang? nggak usah dibutek-butekin itu muka, udah jelek juga." Sinta menangkap ekspresi sedih di wajah putranya yang tampan. Meledek adalah cara menghibur yang efektif bukan? itu menurutnya.
"Lagi patah hati ya kamu? kenapa? habis ditolak ya? siapa ceweknya Lang? biar mama kasih tahu nanti kelebihan kamu yang bejibun itu, enak aja nyakitin anak mama yang gantengnya kayak zayn malik ini." cerocosnya.
Pratama ikut menatap putra keduanya, yang kini tambah tertekuk mukanya. Lalu tertawa pelan.
"Ma, jangan diledekin terus Galangnya. Nanti dia merajuk lho. Sudah ya." Pratama menengahi.
"Ya habis mama nggak tahan lihat mukanya si Galang, udah kayak nahan kentut yang diikuti ampasnya. hahahaha." ledeknya. Lagi.
"Huss, mama kok ngomong jorok sih. Galang nggak lagi patah hati ya. Emang lagi bad mood aja, ditambah lihat pasangan kawakan yang nggak ada habisnya mesra-mesraan, depan anaknya pula." Galang bersungut-sungut.
"Hahahahaaha, jomblo ngenes itu kamu Lang, makanya cari pacar sana. Yang bening dong, kayak si Ayu. Haahahaha." Fabian meledek adiknya sembari menuruni tangga. Galang menatap sang kakak, tajam.
"Ayu aja buat Galang gimana bang." Pintanya, sebenarnya tengah serius. Tetapi tidak begitu ditanggapi oleh Fabian.
"Jangann, kesayangan aku itu, nggak boleh. Cari yang lain sana. Abang kan bilangnya cuma kayak ya, bukan Ayunya. Enak aja kamu." balasnya sewot.
Pratama menatap pertengkaran kedua putranya, fokusnya tertuju pada putra keduanya yang semakin berwajah muram. Sepertinya ada yang tidak beres, apa mereka menyukai orang yang sama? pikirnya.
"Tapi aku maunya Ayu bang, gimana dong?" Galang masih mencoba memprovokasi kakaknya.
"Hehh Lang, saking nggak lakunya kamu ya, masak mau nikung abangmu sih." Sinta ikut nimbrung. Suasana makin panas. Pratama masih mengamati ekspresi putra keduanya.
"Bukannya nggak laku ma, cuma belum sempat mengutarakan udah di embat orang lain." balasnya datar.
"Hahahahahaha, gercep dong makanya. Nih belajar sama abang." Fabian sambil menepuk dadanya bangga.
"Cih, pemaksaan aja bangga." balasnya menohok.
"Kamu kenapa sih Lang, kayaknya nggak suka banget kalo abangmu laku, kan Ayu juga satu sekolah sama kamu, pasti tau dong kelakuan Ayu itu gimana. Cocoklah. Yang satu petakilan yang satu kalem, dah cocok lah itu." Sinta kembali ikut nimbrung.
"Kamu nggak lagi cemburu sama abangmu karena laku kan? Atau jangan-jangan kamu juga suka sama Ayu? nggak kan?" perkataan Sinta begitu menghunus pas dalam jantungnya. Itulah kenyataannya. Persepsi Sinta mengalihkan fokus Fabian tertuju pada sang adik sepenuhnya. Apa iya?
"Ma-maksud mama apa?" Galang tergagap.
"Sudah, sudah, kenapa malah bertengkar sih. Ayo kita berangkat sekarang, sudah lewat kelima belas menit kita." Pratama menengahi. Sepertinya dugaan sang istri benar, ia ingin menyelamatkan situasi canggung yang tercipta beberapa saat yang lalu. Menyelamatkan putra keduanya dari bombardir pertanyaan mama dan kakaknya.
"Eh iya lo pa, ayo, ayo kita berangkat sekarang. Duh masa terlambat sih kita." Sinta panik.
Bergegas, rombongan keluarga Putera tersebut memasuki mobil, Fabian yang menyetir. Gugup? pasti. Akan tetapi tidak begitu ditampakkannya. Melaju dengan kecepatan sedang sambil sesekali bersenandung. Melupakan kejadian beberapa saat yang lalu dengan sang adik. Sedangkan Galang terdiam disamping kakaknya. Hening, suasana mobil benar-benar hening. Bahkan Pratama dan Sinta hanya memandang keluar jendela mobil, menatap kendaraan lain yang berlalu lalang membelah jalanan malam.
Mereka akhirnya tiba, setelah menempuh tiga puluh menit perjalanan, disambut oleh senyuman Teguh dan Ayu yang sedang berdiri sambil bergandengan tangan.
"Selamat malam, selamat datang di gubuk kami Pratama, Sinta." Sapa Teguh kepada sepasang suami istri tersebut.
"Malam Fabi, Galang." Sapanya juga kepada kakak beradik yang datang belakangan itu.
"Malam om." balasnya berbarengan.
"Hai sweety, kamu cantik malam ini. Banget!" Fabian menggombal. Ayu tersipu, menundukkan kepala. Ayu memang cantik, cantik sekali malam ini. Dengan gaun rose gold yang dibelinya bersama sang ayah.
Galang hanya menatap interaksi mereka dengan datar, tanpa senyum.
"Ayo semua, masuk kedalam, mari mari." Teguh mengajak tamunya untuk segera masuk kedalam huniannya yang begitu sederhana.
Semua orang sudah masuk, duduk di sofa dengan nyaman. Beberapa cangkir teh dan camilan sudah tersedia, Bi Suti yang menghidangkan. Suasana masih hening.
"Jadi begini." Pratama memulai pembicaraan.
"Kedatangan kami sekeluarga kemari adalah untuk semakin mempererat jalinan kekeluargaan diantara kita. Kami ingin meminang putri mu Ayu untuk putra kami Fabian. Fabian silakan nak." Pratama mempersilakan putranya berbicara.
"Om, hari ini saya datang, membawa serta kedua orangtua dan adik saya. Saya ingin meminang Ayu, menjadikan Ayu satu-satunya istri saya. Mencintai, mengasihi, serta menyayanginya selama sisa umur saya, dengan segenap hati dan raga saya. Mungkin saya tidak bisa memberikan Ayu seluruh isi dunia, tetapi saya sanggup, memberikan seluruh dunia saya kepada Ayu, perempuan yang kucinta kemarin, hari ini dan besok, selamanya sampai maut memisahkan kita. Jadi Yu, apakah kamu mau menjadi istriku? jadi ibu dari anak-anakku kelak?"
Airmata Sinta mengalir deras, begitupun Ayu. Tidak menyangka Fabian bisa semanis dan seromantis ini. Pratama menatap putranya bangga, ah putranya memang membanggakan. Teguh menatap penuh haru, bergantian, pada Fabian lalu kepada Ayu. Lain halnya dengan Galang, semakin murunglah dia. 'Apa sudah tidak ada kesempatan lagi untukku?' Batinnya sambil menatap Ayu yang begitu cantik dengan gaun rose goldnya.
"Bagaimana Yu? apa kamu mau menerima lamaran nak Fabian?" Teguh bertanya kepada putrinya yang masih sesenggukan.
"Iya." lirih. "Ayu mau." jawabnya, yang sukses membuat Fabian tersenyum makin lebar. Begitu pula para orang tua yang sudah berpelukan. Sedangkan Galang hanya tersenyum kecut.
'Statusku kini berubah menjadi calon istri orang.'
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Wowww, panjang banget kali ini, 1000 kata lebih lho😊😊😊😊
Terimakasih sudah membaca😊
Terimakasih like dan hadiahnya😀
Kritik dan saran sangat dibutuhkan ya man teman😍
Paii Paii❤️